Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Kuatkan Aku Ya Rabb


__ADS_3

Akhirnya mobil sampai di bandara. Begitu mobil yang dikemudikan kak Andri berhenti, kelima bodyguard turun dan langsung membuka bagasi mobil, mengeluarkan kardus oleh-oleh


Selesai di mobil bapakku, kelimanya menuju mobil Adam. Kami semua turun, dan aku masih menggandeng erat umak bapakku


Kelima bodyguard yang telah selesai memasukkan segala kardus dan koper pakaian kami kedalam pesawat segera turun dan berdiri siaga di belakang kami


Kembali aku harus menarik nafas panjang ketika pesawat mulai berputar-putar mengelilingi bandara. Itu artinya pesawat siap untuk dinaiki


Kembali aku menangis kencang dan sedikit meraung ketika umakku memelukku


"Berjanjilah untuk terus sehat ya mak..." raungku


Kulihat bapakku menyusut matanya melihatku memeluk erat umakku. Perasaanku kian hancur ketika kulihat air matanya yang mengalir


"Ya Alloh mengapa takdir ini yang Kau berikan pada hamba?" lirihku


Bapakku ikut merangkulku, dan aku kembali menangis kencang dalam dekapan umak bapakku


Perasaanku sudah sangat jauh melayang, aku merasa bahwa ini adalah dekapan terakhirku pada mereka


"Pulanglah nak, kuatkan hati kamu, kami ikhlas melepas mu pulang"


Aku menggeleng kuat ketika bapakku mengucapkan kalimat itu


"Maafkan aku pak... Maafkan aku..." hanya itu kalimat yang bisa aku ucapkan


"Sayang.....?" abang menyentuh pundakku


Aku tak memperdulikan sentuhan abang, aku tahu itu adalah kode jika abang mengajakku segera naik pesawat


"Pulang lah nak, kasihan anak dan suamimu" ucap umakku melepas pelukannya


Aku kembali menghembus nafas panjang dan menatap kedua orang tuaku dengan mata basah


Kedua kakakku mendekat, segera aku mendekap erat keduanya. Dan kembali menangis meraung


"Mengapa takdirku harus jauh dari kalian kak...?"


Kedua kakakku mengusap wajah mereka, kulihat keduanya juga menangis


"Semuanya telah digariskan Alloh padamu Sat, kamu harus ikhlas menerimanya" jawab kak Angga


Aku menunduk dalam dengan bahu berguncang. Adam merangkul pundakku, dan mengelusnya berkali-kali


"Segala ketentuan yang terjadi di dunia ini merupakan rencana Alloh Swt. Tidak ada yang bisa mengubahnya, kecuali hanya Dia.


Alloh Swt berfirman:


...بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ...


سَبِّحِ اسۡمَ رَبِّكَ الۡاَعۡلَىۙ‏


الَّذِىۡ خَلَقَ فَسَوّٰى

__ADS_1


وَالَّذِىۡ قَدَّرَ فَهَدٰى


"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan (semua mahluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)" (QS. Al-A’la 1-3).


"Takdir Allah sudah ditetapkan jauh sebelum manusia ada. Mulai dari jodoh, rezeki, pekerjaan, dan maut, semua telah diatur dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, umat muslim harus meyakini bahwa rencana Alloh yang terbaik.


"Ketetapan Allah tidak akan membawa manusia pada kesesatan. Justru sebaliknya, akan membawa manusia pada kehidupan yang aman dan tentram" jelas Adam sambil terus mengelus pundakku


Allah SWT berfirman pula


...وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ...


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah yang mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah 216)


Dan seperti yang dikatakan Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma:


“Bahwasannya barang siapa yang bersandar pada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengharapkan sesuatu selain keadaan yang Allah pilihkan untuknya. Inilah Batasan sikap selalu ridha terhadap segala sesuatu ketentuan takdir dalam semua keadaan yang Allah berlakukan bagi hamba-Nya.


Kita sebagai manusia hanya dapat berencana, akan tetapi semua apa yang telah direncanakan oleh manusia, Allah lah yang nantinya akan menentukan, karena pilihan Allah adalah yang terbaik bagi hamba-Nya, maka janganlah berharap terhadap rencana manusia, belum tentu yang direncanakan menjadi yang terbaik baginya, berharap lah kepada Sang Pencipta alam ini"


Syaikh Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:


“Janganlah setiap dari kalian membenci sesuatu yang telah Allah SWT tentukan, karena sejatinya Allah SWT telah menentukan sesuatu kemaslahatan besar yang kalian tidak mengetahui darinya.”


Apabila yang kita inginkan belum menjadi yang terbaik dalam hidup kita, janganlah membuat kegundahan dalam hidup, Dan putus asa terhadap segala urusan sehingga kita melalaikan tugas sebagimana umat muslim. Ibnul Jauzi rohimahullah berkata:


“Rencana Allah yang telah ditentukan kepadamu adalah sebaik-baik rencana. Terkadang Allah SWT menghalangi rencanamu untuk menguji kesabaranmu, maka perlihatkanlah kepada-Nya kesabaran yang indah. Tak lama kamu akan melihat sesuatu yang menggembirakan mu.” sambung Naura yang menggenggam erat tanganku


Aku menarik nafas panjang mendengar nasihat kedua anakku. Ku elus kepala keduanya


Aku kembali menengadahkan wajahku ke langit yang dipenuhi bintang, mencoba berdamai dengan suasana hatiku yang sangat berat meninggalkan umak bapakku


Kembali aku menatap kedua anakku bergantian.


"Ya Rabb, Kau buatkan dari apa hati kedua anakku ini, sampai mereka sangat ikhlas menerima Qadha dan Qadar Mu, sementara aku yang fakir ilmu ini masih sangat sakit menerimanya" batinku sambil menatap keduanya bergantian


Pesawat kembali berputar-putar karena kami masih belum naik, dan kulihat abang masih berdiri di depanku, menatapku dengan wajah sedih


"Pulanglah bunda, In Syaa Alloh tak sampai dua tahun lagi kita bertemu" ucap Adam menguatkan ku


Aku menarik nafas dalam, berbalik merangkulnya dan aku ciumi seluruh wajahnya.


"Jaga kesehatan ya nak, doakan bunda agar kuat berpisah dengan kalian"


Adam mengangguk dan mencium keningku dengan dalam


Bergantian Naura yang memeluk dan menciumi wajahku, kulihat air matanya mengalir deras, sama derasnya seperti air mataku


"Ikhlas ya bunda...."


Aku hanya bisa mengangguk. Lalu Adam dan Naura menggandeng erat kedua tanganku, mengajakku berjalan kearah tangga pesawat


Langkahku kian terasa berat ketika hanya selangkah lagi kakiku sampai di depan tangga

__ADS_1


Suami dan kedua anakku telah naik, dan berdiri membalikkan badan mereka ketika berdiri di depan pintu pesawat


Aku menengadahkan kepalaku menatap mereka bertiga


"Ya Alloh...." lirihku sakit sambil memejamkan mataku


Di atas aku melihat mereka bertiga, suami dan anak kembarku, sementara di dekatku berdiri ada dua anakku, kedua orang tuaku, dan dua kakakku


Pilihan yang sangat sulit ya Alloh, batinku


Kembali bapakku mengelus kepalaku, berusaha menguatkan ku. Beliau menganggukkan kepalanya, begitu juga dengan umakku.


Beliau mengusap kepalaku dan menciumi seluruh wajahku


"Doa umak selalu menyertaimu nak..."


Aku hanya bisa mengangguk, dengan menghembus nafas panjang akhirnya aku melangkahkan kakiku menapaki tangga.


Ketika sampai di depan pintu aku menoleh dan kulihat umak bapakku tersenyum


Ya Alloh sedihnya hatiku melihat senyum mereka, rasanya jantungku remuk saat ini.


Kembali air mataku mengalir deras. Dan kurasakan sentuhan di jari tanganku, aku menunduk, kulihat tangan Serkan dan Defne


"Please dont't cry Mama, Nenek will be fine"


Air mataku kembali mengalir mendengar ucapan Defne


"Ayo sayang..." ucap abang menyentuh pundakku pelan


Ku tatap lekat-lekat wajah keluargaku. Mereka semua tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku


Dengan berlinang air mata aku melambaikan tangan kearah mereka lalu dengan menghembus nafas panjang aku membalikkan badanku, masuk kedalam pesawat


Dengan sabar abang dan kedua anakku membimbingku duduk.


Aku sengaja duduk di dekat jendela, agar aku masih bisa melihat keluargaku yang masih melambaikan tangan padaku


Dengan pelan namun pasti kurasakan pesawat mulai bergerak berputar, dan aku terus menggerakkan kepalaku melihat keluargaku di bawah


Bahkan ketika pesawat berputar aku bangkit dari kursi dan berlari kesemua jendela agar aku bisa melihat keluargaku


Dan pada akhirnya kurasakan pesawat mulai naik dan aku kian tak bisa lagi melihat keluargaku


Kembali aku menangis kencang sambil terus meletakkan tanganku ke jendela


Ozkan kembali harus menarik nafas panjang melihat kesedihan istrinya. Dengan pelan dia berjalan mendekati Indah dan memeluknya dari belakang


Aku segera membalikkan badanku lalu memeluk abang dan menangis kencang


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2