Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Mertua Idaman


__ADS_3

"Anne Indah masuk rumah sakit..."


"Apa??, kenapa bisa? kamu apakan menantu anne??!"


Ozkan langsung menjauhkan handphone dari telinganya demi mendengar annenya marah


"Indah bukan sakit, tapi..."


"Nggak ada tapi-tapian, anne langsung ke Jeddah sekarang, awas kamu!!"


Ozkan menatap bengong handphone di tangannya, aku yang melihat jadi penasaran


"Kenapa bang?"


Abang Ozkan mengangkat bahunya sambil kembali mendekatiku


"Baru juga abang mau ngasih kabar gembira, ehh anne malah marah"


Aku terkekeh


"Abang sih, bilangnya aku di rumah sakit, ya jelas anne khawatir"


Abang Ozkan menggenggam tanganku


"Mulai sekarang, kamu tidak boleh kerja lagi. Kerja kamu cukup mengandung anak abang dan melahirkan mereka"


Mulutku ternganga, dan aku langsung cemberut


"Kehamilan mu ini berisiko sayang, abang tidak mau terjadi apa-apa sama kamu"


"Tapi kan aku sehat bang!" jawabku cepat sambil cemberut


"Iya abang tahu, tapi kita tunggu keputusan dokter dulu ya"


"Apa karena aku sudah tua makanya abang bilang jika kehamilanku ini berisiko?


"Bukan begitu sayang, maksud abang bukan itu"


Aku cemberut


"Bilang aja aku tua"


"Baru mau 39, belum tua, masih seperti ABG kok"


"Nggak lucu!"


Aku cemberut, abang Ozkan lalu membelai kepalaku dan kembali mencium keningku


Perawat masuk membawa kursi roda, lalu aku segera turun dari brankar dan duduk di kursi roda.


Perawat tadi mendorong kursi roda dan abang berjalan di sampingku sambil menggenggam jariku


Sampai di ruangan dokter, perawat tadi keluar dan abang duduk di depan dokter yang tampak tengah menulis


"Kontrol lah minimal empat kali selama kehamilan, dan karena ini masih trimester awal, saya harap ibu jangan terlalu capek dan banyak beban pikiran"


"Dan lagi anda sebagai suami harus jadi suami siaga buat istrinya"


Abang Ozkan mengangguk seperti faham, dan aku karena ini adalah kali keempat kehamilanku jadi biasa-biasa saja


"Ehmm, kalau tentang..." Ozkan tampak ragu melanjutkan kalimatnya, dia menoleh pada Indah yang ada di sampingnya


Aku menggeleng, karena aku tahu arah pertanyaannya


"Iya?" jawab dokter


"Itu dokter, tentang... ehmm" Ozkan masih tampak ragu


Dokter yang faham segera tersenyum dan cepat menjawab


"Boleh berhubungan intim, tapi jangan terlalu sering, karena ini masih awal, masih berisiko jika terkena guncangan hebat"


Aku memalingkan mukaku menahan malu, sedangkan abang Ozkan tampak tersenyum bahagia, mengetahui jika dia masih diperbolehkan bercinta dengan istrinya


"Ini resep obatnya, silahkan ambil di bagian apotik"


Abang segera mengambil secarik kertas yang diberikan dokter, lalu mendorong kursi rodaku, berjalan di koridor rumah sakit menuju kebagian farmasi


Setelah mendapatkan obat yang diresepkan dokter, abang lalu kembali mendorong kursi roda, membawaku ke parkiran mobil.

__ADS_1


Setelah aku masuk kedalam mobil, kulihat abang melambaikan tangannya kearah perawat yang segera datang membawa masuk kursi roda yang tadi ku gunakan


...****************...


"Kamu mau kemana sayang?" tanya tuan Yilmaz ketika melihat istrinya menarik koper


"Sayang, suruh pilot menyiapkan jet pribadi kita, aku mau ke Jeddah" jawab anne


"Ke Jeddah? Mau apa kesana?"


"Indah masuk rumah sakit, dan kamu tahu kan sayang betapa khawatirnya aku sama dia"


Tuan Yilmaz menarik nafas dalam


"Ozkan bilang istrinya sakit apa?"


Nyonya Aylin diam, tadi Ozkan tidak sempat menjelaskan karena sudah keburu di marahinya


"Tidak, entah apa yang telah dia lakukan pada istrinya itu sampai dia di bawa ke rumah sakit"


"Bisa jadi dia kecapekan, tidak harus kan sayang kamu kesana?"


"Tidak bisa, aku harus kesana!"


"Oke, oke, saya telpon dulu pilot kita ya" jawab tuan Yilmaz cepat karena istrinya sudah keras kepala


"Siapkan pesawat sekarang, nyonya Aylin mau ke Jeddah"


Nyonya Aylin tersenyum menatap suaminya. Lalu setelah tuan Yilmaz mengecup keningnya, dia berjalan menarik kopernya


Sampai di luar, tiga bodyguard segera mengawalnya. Bahkan ketika dia masuk mobil, dua bodyguard semobil dengannya dan yang satu lagi masuk mobil yang sudah terisi empat bodyguard


Tak butuh waktu lama, mobil yang dikemudikan bodyguard keluarga Ozkan sudah masuk kawasan bandara.


Lima orang bodyguard yang mengawal nyonya Aylin ikut masuk kedalam jet pribadi, sedangkan yang dua lagi pulang membawa mobil yang mereka pakai untuk mengawal dan mengantar nyonya Aylin tadi.


...****************...


Handphone Ozkan berdering ketika dia sedang membuatkan makanan untuk istrinya


Mendengar handphone abang berdering, aku yang sedang berbaring di sofa segera duduk dan meraih handphone abang yang diletakkannya di atas meja


"Abang... anne nelpon"


"Angkat saja sayang"


Aku segera menyentuh tombol biru mengangkat panggilan anne


"Anne sudah tiba di bandara, cepat jemput anne!"


Aku yang mengangkat panggilan anne segera menarik handphone yang tadi menempel di telingaku, ku pindahkan ke depan wajahku


Bengong, tapi cuma sebentar, selanjutnya aku segera kembali menempelkan handphone abang ke telingaku


"Atau biar anne dan lima bodyguard naik taksi saja?, kirimkan alamat lengkap rumah sakit tempat istrimu dirawat"


"Anne...?" jawabku pelan


Nyonya Aylin yang sejak tadi nyerocos segera menghentikan ocehannya dan terdiam


"Anne di bandara mana?" tanyaku


"Ya Alloh sayang, kamu baik-baik saja?, ini kamu sayang?" suara nyonya Aylin berubah drastis dari yang tadi marah-marah berubah lembut


"Kami di apartemen anne, dan alhamdulillah saya baik-baik saja"


"Anne sudah di bandara King Abdul Aziz, kirim lengkap alamat apartemen kalian, anne dan lima bodyguard akan kesana"


Aku langsung bengong. Ozkan yang telah selesai dengan masakannya dan sekarang sedang meletakkan semangkuk makanan sehat untuk istrinya segera menatap wajah bengong istrinya


"Kenapa sayang?" tanyanya


Aku memberikan handphone ke tangan abang


"Ya anne?"


"Ozkan, kirim alamat lengkap apartemen kamu, anne sudah di bandara King Abdul Aziz sekarang"


"Anne serius??" Ozkan kaget

__ADS_1


"Kapan annemu ini pernah bohong?"


Ozkan lalu menyebutkan alamat lengkap apartemennya, baru setelahnya dia menyuapi istrinya


"Mulai sekarang, segala urusan perut abang yang handle, begitu juga urusan rumah. Tau abang kamu bed rest, mau minta apapun tinggal bilang, mau kemana juga tinggal ngomong, pokoknya apapun itu bakal abang penuhi"


Aku yang mengunyah makanan yang disuapi abang tertawa dalam hati


"Kira abang aku ini penyakitan, apa?" batinku


Tak lama terdengar suara bel, aku dan abang saling tatap


"Anne?" desis abang


Aku mengangkat bahuku, abang bangkit sebelum berjalan kearah pintu, abang mengecup keningku


"Askim..."


Aku segera menoleh kearah pintu ketika kulihat anne masuk menarik koper.


Abang yang hendak memeluknya dicuekin, malah tangan abang ditepisnya


Aku menahan tawa melihat abang diabaikan kali ini. Tak biasanya, padahal abang adalah anak kesayangan anne


"Kamu sakit apa?" anne langsung memeluk dan mencium keningku


Aku menurunkan kakiku yang tadi aku letakkan di atas sofa, tersenyum menatap anne yang melihat ke arahku dengan wajah khawatir


"Istriku tidak sakit anne, dia hanya..."


"Diam kamu!!, anne tidak tanya kamu!"


Abang kaget, begitu juga aku. Aku sampai menahan tawa melihat abang yang begitu kaget


"Yang mana yang sakit?, kan anne sudah bilang, kamu jangan nyuruh-nyuruh istrimu capek, kamu seperti kurang uang saja!" lanjut anne sambil menggenggam tanganku


"Sakitnya disini!" ucapku menyentuh kepalaku


Anne refleks memegang kepalaku yang saat itu tanpa hijab, lalu mengusap-usap rambutku


"Pusing?"


Aku mengangguk. Abang Ozkan yang melihat itu membuang wajahnya. Aku makin tertawa dalam hati


"Kamu diapakan Ozkan sampai kamu sakit, kamu dipaksa terus sama dia?"


Aku langsung terbahak, tawa yang sejak tadi aku tahan, meluncur dari bibirku


Melihatku terbahak, anne menoleh menatap heran kearah Abang Ozkan


"Istriku hamil anne..." lirih abang yang sukses membuat anne menoleh ke arahku dan dengan cepat memelukku


"Serius kamu hamil?"


Aku mengangguk


Anne menciumi kepala, wajah dan tanganku berkali-kali


"Ya Alloh sayang, ini adalah kabar yang paling indah buat anne"


Aku terharu, dan memeluk beliau dengan sendu


"Terima kasih anne" lirihku


Belum pernah aku melihat kebahagiaan mertua mendengar menantunya hamil seperti ini. Dulu jangankan bahagia, mendengar aku hamil saja mertuaku marah-marah dan mengatakan aku kucing beranak


Sekarang semuanya seakan terbalik, anne sangat bahagia mendengar kehamilanku, bahkan dia mengeluarkan segepok uang dari dalam tas branded nya dan memutar uang itu di atas kepalaku


"Semoga cucu babane sehat dan lahir sempurna" ucapnya ketika memutar uang tersebut


Aku tersenyum begitu juga dengan abang


"Kalau begitu, anne akan stay disini, menunggui kamu"


"Serius anne?" wajahku berbinar bahagia


Anne mengangguk, sedangkan Ozkan menarik nafas dalam


"Kamu kenapa?, tidak senang anne disini?"

__ADS_1


Ozkan gelagapan mendengar pertanyaan anne, aku kembali tersenyum, aku tahu mengapa abang begitu. Itu karena jika ada anne maka abang tidak bisa bebas bermain dengan ku.


__ADS_2