Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Bersama Abang Part 2


__ADS_3

Tanganku makin menekan kepala Indah agar tidak menjauh dan menolak dari bibirku.


Tak kusangka dia juga membalas. Lidah kami saling memilin dan menyesap. Kuangkat tubuhnya tapi bibir kami masih bersatu dan kududukkan dia di atas kasur agar posisi dia bisa sejajar denganku.


Entah sudah berapa menit kami berciuman panas, rasanya ini sangat manis dan aku tidak mau melepaskannya.


Tanganku mulai bergerak nakal dan membuat Indah belingsatan, sampai akhirnya...


Bugh!!!


Aku terjatuh dari sofa. Aku segera tersadar dan mengumpat


"Shitt!!!"


Ternyata cuma mimpi. Aku menoleh kearah ranjang, Indah masih terlelap dalam selimut. Aku mengusap kasar wajahku.


Kulirik jam yang menempel di dinding, jam enam pagi. Dan Indah sepertinya belum ada tanda-tanda akan bangun. Aku bangkit, menyibakkan selimut dan menghalangi langkahku dan berjalan kearah ranjang.


Menatap Indah yang masih nyenyak. Rasanya aku tidak tega untuk membangunkannya. Kasihan jika dia aku bangunkan.


Selagi aku menatapnya, ponsel yang Indah letakkan di atas nakas berdering.


Aku bangkit dan meraih ponsel tersebut, di layarnya tertulis "My Beloved" aku tersenyum sinis


Aku membiarkan panggilan itu terputus. Lalu ponsel tersebut kembali berdering. Tetap kubiarkan tanpa aku angkat.


Aku meletakkan kembali ponsel itu ketika ponsel tersebut tidak berdering lagi.


Aku menoleh ke arah Indah dan segera berjalan masuk kekamar mandi.


...****************...


Aku membuka mata dan mengerjap-ngerjap mataku, menoleh kanan kiri dan segera duduk karena kaget.


Aku menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku dan bernafas lega karena aku masih berpakaian lengkap.


Seingatku aku semalam di rooftop dengan abang, kok sekarang aku di sini?


Aku segera merangkak dan duduk dipinggir ranjang.


"Hei, sudah bangun?" sebuah suara mengagetkanku


Aku segera mengangkat kepalaku dan melihat kearah abang yang sudah *fresh.


"Kok* aku bisa di sini bang?" tanyaku


"Kamu ketiduran lalu aku gendong kamu"


Aku terbelalak. Ya Alloh, aku digendong??


"Jangan negative thinking, aku tidak ngapa-ngapain kamu kok"


Aku memejamkan mataku menahan malu.


"Aku mau pulang bang" ucapku sambil berdiri


"Suamiku pasti mencari aku" tambahku lagi sambil meraih ponsel di atas nakas


Aku tercekat ketika kubuka ponsel ternyata ada lima panggilan tak terjawab tertera di sana.


Mati aku, batinku


"Jangan khawatir, suami kamu tidak akan berani macam-macam sama kamu" jawab bang Ari seperti faham kegelisahanku.


Aku tidak memperdulikan kata-katanya, aku langsung mendial nomor suamiku, menelponnya dengan khawatir


Panggilan tersambung, tapi tidak diangkat. Aku membuang nafas gelisah.


Ariadi hanya memperhatikan saja tingkah Indah.


Ku dial lagi nomor suamiku, kembali tersambung, tak lama karena aku langsung mendengar suaranya


"Bun..." suaranya tampak lemah


Aku mengernyitkan dahiku begitu mendengar suaranya


"Ayah?, Ehhmmm, ayah dimana? tanyaku ragu


"Harusnya yang bertanya itu aku bun, bunda dimana?"


Deg!!! jantungku rasanya mau copot mendengar pertanyaannya


"Ayah di rumah sakit, cepat sini" sambungnya


"Rumah sakit? sejak kapan?" tanyaku dengan khawatir

__ADS_1


"Cepatlah sini"


"Iya, iya, bunda kesana" tutupku lalu memasukkan ponsel kedalam tas lalu duduk di kursi memakai heels.


"Aku mau pulang bang, terima kasih untuk semuanya" ucapku tanpa menoleh padanya karena aku sedang memasangkan heels kekakiku.


"Kamu baru bangun, belum cuci muka, belum sarapan, belum mandi kok sudah mau pergi"


Aku menghembus nafas berat lalu menatapnya.


"Abang tidak tahu bagaimana suami aku" jawabku sendu


"Mandilah dulu, selesai sarapan baru kamu pulang"


"Tidak bisa bang. Aku pasti dimarahinya" tambahku


"Sarapan sudah abang pesankan" tunjuknya dengan mata tajamnya kearah atas meja


Aku menoleh kearah yang ditunjuknya. Memang telah ada makanan dan minuman yang tersaji di sana.


Aku berdiri, masuk kekamar mandi dan keluar lagi.


"Tidak mandi?" tanyanya


Aku menggeleng. Dia tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Aku terpana melihat senyum manisnya. Ya Tuhan batinku. Meleleh adek bang



"Kenapa kamu berhenti jalannya?, saya tampan ya? godanya


Aku tercekat malu karena terpergok mengaguminya. Aku membuang mukaku untuk membuang rasa malu.


"Ayo sini duduk" ajaknya yang telah duduk duluan.


Aku kembali berjalan dan duduk dihadapannya. Mataku terbelalak melihat begitu banyak menu sarapan yang tersaji di meja.


Menu sarapan ala American Breakfast. Yang terdiri dari roti panggang, butter, selai cokelat sebagai preservednya, 2 buah telur ayam ceplok, daging asap, wafel dan donat lengkap dengan sirup, buah dan sebagai beveragenya.


"Ini untuk sarapan apa makan siang bang?" tanyaku bengong


"Makan saja jangan bawel. Lama berteman dengan Jennifer kamu jadi ikutan bawel kaya dia" jawabnya


Aku terkekeh. Jennifer??


Bang Ari diam, tetap dengan gaya coolnya tidak menjawab pertanyaannku. Ah sudahlah fikirku, tidak penting juga dia kenal atau tidak dengan kak Jen. Mungkin memang benar kata kak Jen jika dia terkenal sejagat Pekanbaru.


Aku dengan cepat memakan roti panggang dan menghabiskan susu segelas dalam sekali tenggak.


Ariadi hanya memperhatikan saja, dia bahkan belum menyentuh sarapannya sama sekali.


"Aku pulang ya bang" ucapku sambil bangkit dan mengelap mulut pakai tissue.


Ariadi hanya menatap apa yang dilakukan Indah.


"Makasih banyak ya bang untuk semuanya" tambahku


"Yakin pulang?" tanyanya


Aku mengangguk cepat


"Sebentar, saya telpon bodyguard untuk mengantarkan kamu" ucapnya sambil mengambil ponsel yang terletak di sebelah sarapannya


"Nggak usah bang" cegahku


Dia memberikan kode padaku untuk kembali duduk sementara dia berbicara di hp.


"Setengah jam lagi mereka sampai, kamu tunggu saja"


"What? setengah jam bang?" keluhku


"Mandilah dan ganti bajumu. Kamu tidak mungkin pergi dalam keadaan begini" sambungnya


"Pulang.., aku mau pulang.." rengekku


Rengekan Indah membuat Ariadi semakin gemas padanya.


"Iya pulang, tapi tidak dengan berpakaian seperti ini kan?" jawabnya pelan seperti membujuk


Aku cemberut. Memang benar apa yang dikatakan abang, tidak mungkin aku ke rumah sakit dengan dress pesta seperti ini. Bisa makin marah suamiku bila melihatnya


"Mandilah dulu, pakaianmu telah abang siapkan. Lengkap. Semoga pas" tambahnya


"Abang belinya kapan?" tanyaku

__ADS_1


"Tadi" jawabnya singkat


Aku bangkit dari kursi lalu beranjak ke arah lemari, membuka dan melihat dress casual terbungkus rapi


Mataku terbelalak begitu melihat bahwa ada pakaian dalam juga, lengkap.


Aku segera menoleh kepada abang. Fikiranku sudah menerawang aneh.


Ariadi buru-buru membuang wajahnya begitu Indah menoleh padanya.


Aku segera menutup pintu lemari dan melepas heels.


"Abang jangan ngintip" ucapku.


Tak ada jawaban


Lalu aku melepas hijab di kepala, menggerai rambut dan berniat melepas resleting dress yang melekat di tubuhku.


Dengan susah payah aku membuka resleting dressku. Tanganku sudah melintir-lintir berusaha tapi tetap tidak bisa.


"Perlu bantuan?" tawar Ariadi karena sedari tadi dia melihat Indah kesusahan membuka dressnya.


"Abang hadap sana lagi" teriakku kaget dan berhenti menarik restleting dress


Ariadi kembali memutar badannya dan kembali membelakangi Indah.


Aku kembali berusaha menarik resleting, sudah turun sedikit dan tidak mau turun lagi.


SREEETTTT....


Resletingnya turun sempurna. Aku diam terpaku seperti patung. Karena yang menariknya bukanlah tanganku melainkan abang Ariadi.


Dengan gugup aku membalikkan badanku dan menghadap kearahnya.


Mataku melotot


"Hanya menolong" ucapnya memberi alasan.


Dengan cepat aku menarik selimut dan menutupkannya kebadanku.


"Seluruh belakangmu merah lebam semua" ucapnya tanpa merasa bersalah


Aku tidak menjawab. Rasanya aku malu sekali.


"Apa itu bekas pukulan suamimu?" tanyanya makin mendekat kearahku. Aku memundurkan langkahku karena abang makin mendekatiku.


"Akan kuhancurkan siapa saja yang menyakitimu" lanjutnya sambil memainkan anak rambut yang terjuntai di keningku


Aku mendongak dan merasa tersanjung.


"Mandilah" ucapnya lembut


Aku segera berlari masuk ke kamar mandi dengan selimut yang masih menempel di tubuhku


Ariadi tersenyum melihat wajah Indah yang merah merona menahan malu


Cukup lama aku di dalam kamar mandi, setelah selesai aku segera keluar dengan memakai handuk di badanku


"Abang hadap sana!" ucapku begitu melihat abang menoleh ketika pintu kamar mandi terbuka


Ariadi kembali memutar badan dan aku dengan cepat mengganti pakaianku.


"Sudah selesai bang, aku pulang ya" ucapku


Ariadi bangkit lalu berjalan mendekat kearahku.


"Jika suamimu menyakitimu lagi, beritahu aku, aku akan membunuhnya" ucapnya dingin


Aku bergidik demi mendengar ucapannya. Aku tidak menjawab hanya menganggukkan kepala saja


"Aku kali ini benar-benar pulang bang" ucapku


Bang Ariadi mengangguk dan mengantarkan ku sampai depan bodyguard yang telah menunggu di luar.


"Jaga dia, jangan sampai terjadi sesuatu sama dia kalau kalian mau selamat" ucapnya dingin pada ketiga bodyguard itu


"Siap bos" jawab mereka


Aku mengulurkan tanganku berniat menyalaminya.


Tanganku disambutnya dan dengan takzim aku mencium punggung tangannya. Di luar dugaanku, Abang Ariadi mengelus kepalaku saat aku mencium punggung tangannya.


Lalu aku berjalan meninggalkannya yang masih terpaku berdiri di tempatnya.


Setelah sampai di luar hotel, kami lalu masuk kemobil dan si supir mengantarkanku menuju rumah sakit yang tadi nama rumah sakitnya telah disebutkan oleh suamiku.

__ADS_1


Ariadi menutup pintu dengan malas. Dia berjalan gontai menuju meja tempat sarapan masih terhidang. Dia duduk lalu meraih segelas jus, meminumnya lalu menoleh keranjang tempat dimana Indah tidur semalam


"Indahhh...." gumamnya lirih


__ADS_2