
"Kita pulang wak, ayuk nggak mau disini lagi"
Kak Andri melirik kearah Andi yang tertunduk dalam lalu kearah mbak Ningsih
"Masuk dulu mas, istirahat" mas Indra menawari
Kak Andri mengangguk lalu masuk. Suasana masih mencekam, belum ada yang berani bersuara
"Bagaimana? masih ingin memaksa bundamu rujuk sama dia?" ucap kak Andri pada Naura sambil melihat kearah Andi
Air mata Naura kembali mengalir
"Saya bawa Naura pulang dulu ya mbak Ning, terima kasih karena telah menjaga dia selama di sini, saya bisa pastikan jika hubungan kalian dengan anak-anak adikku tidak akan putus, karena saya tahu kalian baik"
"Lalu dengan saya bagaimana kak?" Andi bersuara
Kak Andri tersenyum segaris
"Itu semua ada di tangan anak-anakmu, mereka sudah besar"
"Pokoknya ayah jangan temui aku, awas kalau ayah temui aku"
Andi dengan sedih menatap Naura
"Maafkan ayah nak"
"Memaafkan itu mudah yah, tapi aku terlanjur kecewa sama ayah"
Andi menarik nafas panjang
"Ayok wak, pulang" kembali Naura merengek
Setelah menghabiskan teh hangat yang tadi disuguhkan mbak Ningsih kak Andri segera berdiri
Naura memeluk erat mbak Ningsih, kembali mereka berdua bertangisan, begitupun ketika memeluk Lena dan Mia, air mata Naura tak kuasa luruh kembali
Ketika dia memeluk Dimas, dengan sayang Dimas mengusap pundaknya
"Luaskan maaf mu ya dek..." lirih Dimas
Naura diam, dia tahu maksud perkataan kakaknya itu
"Ayuk pulang ya Hanum" ucapnya ketika memeluk Hanum
Lalu dia mencium takzim punggung tangan mas Indra.
Ketika Andi berdiri ingin memeluknya, Naura menolak dengan mendorong dada Andi. Air mata Andi mengalir deras saat mendapat penolakan dari anaknya.
Dengan diiringi isak tangis mbak Ningsih, Naura akhirnya masuk mobil.
Suara klakson pertanda pamit yang dibunyikan oleh kak Andri memancing pak Hermawan yang ada di dalam rumah membuka sedikit gorden dan mengintip keluar
"Sudah pulang dia" katanya
"Baguslah, nggak ada guna dia disini" jawab Laras
...****************...
Diperjalanan pulang Naura terus terisak. Kak Andri membiarkannya, dia ingin Naura menangisi seluruh penyesalannya dan melegakan hatinya
"Wak, minjam hp" ucap Naura tiba-tiba
Kak Andri melihat keponakannya melalui kaca spion
"Mau nelpon bunda, boleh?"
__ADS_1
Kak Andri mengangguk. Lalu memberikan handphone yang sejak tadi diletakkannya di atas dashboard.
"Jam berapa sekarang?" tanya kak Andri sambil kembali melirik keponakannya melalui spion
"Delapan malam wak"
"Oh, berarti bundamu kemungkinan masih di kantor atau di jalan pulang karena di sana jam empat"
"Jadi, aku boleh nelpon kan wak?"
Kak Andri mengangguk
"Siapa nama bunda wak?" tanya Naura
"Cari saja Pisat"
Dengan cepat Naura mencari kontak bundanya. Ketemu
Segera dia menekan tombol hijau dan terdengar suara tuuuttt panjang yang berarti panggilan terhubung
Aku yang baru saja keluar dari dalam kantor segera merogoh tas ketika mendengar hp ku berdering
Ozkan yang mendorong kursi roda terus saja melakukan tugasnya tanpa bertanya pada istrinya
"Assalamualaikum kak?" buka ku
"Bunda, ini ayuk"
Aku mengernyitkan dahi ketika mendengar suara Naura yang serak. Aku yakin dia habis nangis. Aku mendongakkan kepalaku kearah abang
Abang menaikkan alisnya lalu aku kembali menatap lurus ke depan
"Ya nak?"
"Bunda...." hanya itu yang terdengar olehku, setelahnya aku mendengar Naura terisak
"Ayuk sudah tahu semuanya" lanjut Naura setelah cukup lama terisak
Aku diam, aku sibuk menebak hal apa yang sudah diketahui anak perempuanku itu
Kejahatan bekas mertuaku kah, muka dua Laras kah, atau malah kebusukan Andi?
"Tahu apa nak?" tanyaku pelan
Sementara kursi roda sudah sampai di dekat mobil, aku segera turun, dan abang membukakan aku pintu. Aku segera naik, sementara abang melipat kursi roda dan memasukkannya kedalam mobil
"Semuanya"
"Iya semuanya itu apa nak?"
Ozkan masuk kedalam mobil, sebelum menghidupkan mobil dia mengelus perut istrinya dan mengecup pipinya
Aku hanya tersenyum sekilas kearah abang. Meminta pengertiannya. Ozkan menganggukkan kepalanya lalu dengan pelan dia mulai memundurkan mobil
Aku dengar Naura menarik nafas dalam lalu dia mulai menceritakan semuanya.
Bagaimana bencinya embah mereka pada ketiga anakku, bagaimana sikap manis mereka hanyalah kamuflase belaka agar memuluskan rencana Andi untuk kembali padaku, bagaimana mereka berencana untuk menguasai hartaku.
Mendengar itu dadaku turun naik, aku langsung emosi. Nafasku tersengal karena emosi yang memenuhi dadaku.
Ozkan yang sedang menyetir menoleh kearah istrinya yang wajahnya tampak marah
Tangan kanannya digunakannya untuk mengelus perut Indah, itu dia lalukan agar istrinya sadar jika ada dua nyawa dalam badannya yang akan ikut bereaksi ketika moodnya buruk
Aku menghembus nafas kasar ketika abang mengusap perutku. Air mataku langsung mengalir ketika aku dengar bagaimana Naura mengetahui kejahatan ayahnya yang telah berselingkuh di belakangku, menalak ku, mengusir kami, dan kejahatannya pada Lena
__ADS_1
Saat dia menyebut nama Lena dan menceritakan bagaimana perempuan itu menyumpahinya kembali dadaku naik turun, kembali emosi memenuhi dadaku. Hingga gerakan menendang dari dalam perutku mengembalikan kewarasanku yang marah mendengar sumpah serapah Lena
"Alhamdulillah jika ayuk sudah tahu, sebenarnya bunda mau cerita apa alasan bunda sakit hati sama embah dan ayahmu nak, tapi bunda rasa belum waktunya apalagi ketika mengetahui jika ayuk ingin sekali bunda kembali ke ayahmu"
Ozkan langsung menoleh kearah istrinya, dan tatapan matanya langsung menyiratkan kecemburuan. Aku yang saat mengatakan itu sambil melihat kearah abang langsung mengambil tangannya dan meletakkan tangannya di atas perutku
"Maafin ayuk ya, bun" Naura kembali terisak
Tak urung air mataku juga mengalir
"Bunda sayang sekali nak sama kamu" lirihku pilu
Aku dengar Naura terus terisak.
"Bunda pulanglah, ayuk mau minta maaf"
Aku mengangguk
"Iya nak, nanti bunda akan pulang, bunda pasti pulang"
Air mataku semakin deras mengalir, terlebih ketika kudengar Naura menyesali segala perbuatannya padaku.
Mobil yang dikendarai abang berhenti di depan apartemen, dan aku segera turun, tapi obrolanku dengan Naura belum juga selesai
"Sayang tunggu disini, abang mau memarkirkan mobil dulu" ucap abang setelah mengeluarkan kursi roda
Aku hanya mengangguk dan menunggu abang di lobi apartemen. Tak lama abang muncul dan segera membawaku naik ke lantai apartemen kami
"Bunda dimana?"
Aku tergagap mendengar pertanyaan Naura
"Memangnya kenapa nak?"
"Tidak, karena aku dengar ada suara orang berbicara sama bunda"
Kami yang sudah berjalan masuk kearah apartemen kami membuatku mendongak kearah abang
"Emmmm, jika Bunda ada teman lelaki spesial apa ayuk marah?" tanyaku takut-takut
Diam, tidak ada jawaban
Aku yang telah turun dari kursi roda segera meletakkan tas di atas meja, sedangkan abang masuk dan tak lama telah keluar dengan membawakan ku air putih
Aku tersenyum kearah abang dan segera meminum air putih yang diberikannya.
Ozkan segera duduk di samping istrinya dan kembali mengelus-elus perut besar istrinya. Bak seperti merasakan siapa yang saat ini sedang mengelusnya, perutku terus saja menendang. Aku yang menantikan jawaban Naura sampai kaget saking kuatnya gerakan anakku yang ada dalam perut
"Ayuk marah?" lirihku
Aku dengar Naura menarik nafas panjang
"Tidak bun, bunda juga berhak bahagia. Bunda juga sudah lama sendiri, kerja banting tulang untuk kami. Ayuk akan jadi anak durhaka jika melarang bunda untuk menikah lagi, karena sekarang ayuk sudah tahu alasan sebenarnya mengapa bunda tidak mau kembali sama ayah"
"Jika ada lelaki Arab yang mau menikahi bunda, ayuk ikhlas. Semoga lelaki itu benar-benar mencintai bunda dan bisa menjaga bunda" sambil mengatakan itu air mata Naura terus mengalir
Kak Andri yang di depan kemudi menarik nafas lega mendengar ucapan ponakannya itu.
Aku langsung menangis sesenggukan mendengar ucapan tulus Naura
Ozkan yang melihat istrinya menangis sesenggukan segera merengkuh bahu istrinya dan mengusap-usap kepalanya
Diciumnya kepala istrinya berkali-kali. Dia ingin memberikan kekuatan pada wanita yang sangat dicintainya itu
"Menikahlah bunda, bawakan kami ayah yang baik" sambung Naura dengan suara pilu
__ADS_1
Aku semakin menangis sejadi-jadinya.
Naura lalu memutus panggilan dan memberikan handphone kepada uwaknya, lalu dia kembali terisak