
"Malam ini kita semua makan malam dengan ceo" pak Alam bersuara ketika kami makan siang di restoran yang juga ada di hotel ini.
"Beliau sudah datang pak?" tanya Afdal.
"Belum, masih di Jakarta. Tapi sore ini beliau akan tiba dengan jet pribadinya"
"Semua laporan sudah siap kan mas?" tanya suamiku pada Afdal
"Siap pak"
"Alhamdulillah"
"Kami juga ikut?" tanyaku
"Oh, tentu mbak, seluruhnya. Bukan cuma kepala cabang dan supervisor pilihan, tapi juga istri masing-masing kepala tersebut" pak Alam yang menjawab
"Karena aku masih single, makanya aku tidak membawa pasangan mbak" Afdal menjawab sambil diikuti senyum simpul diwajah tampannya.
Aku membalas senyum ramahnya. Andi langsung mengerling saat melihat aku tersenyum ramah pada Afdal.
"Jam delapan kita harus sudah ada di ruangan" lanjut pak Alam.
Karena beliau kepala cabang senior, jadi suamiku menurut saja apa katanya.
"Ayo kita nikmati makan siang ini, setelah ba'da dzuhur kita periksa semua dokumen laporan kita, jangan sampai apa yang diminta perusahaan tidak ada"
Suamiku dan pak Afdal mengangguk. Jadilah kami berlima menikmati makan siang kami dengan lahap.
"Mbak Indah bawa make up lengkap?" tanya bu Suryati ketika kami menikmati desert.
Aku menggeleng.
"Mama bawakan?" tanya pak Alam
"Oh, tentu pa" bu Suryati menjawab dengan bangga
Aku tersenyum kecut mendengar jawabannya.
"Tapi di rumah ada kan mbak?" tanyanya lagi
Aku menggeleng lagi.
"Ya ampun mas Andi, apa istrinya tidak dibelikan make up?" tanya bu Suryati sambil tertawa
"Istri saya tidak suka dandan bu" jawab Andi
"Setiap wanita itu suka dandan mas, setiap wanita itu ingin selalu cantik, tinggal dananya lagi ada apa tidak" jawaban bu Suryati menohok.
Aku menundukkan kepalaku. Aku tak ingin kekurangan suamiku jadi konsumsi publik.
Afdal tersenyum samar ketika bu Suryati berbicara seperti itu.
"Benar kan bun kalo bunda tidak suka dandan?" Andi berbicara sambil meraih tanganku.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum canggung.
Bu Suryati tersenyum menyeringai, tampak sekali perubahan tak suka dari raut wajahnya.
"Royallah pada istri, jangan sama orang lain" katanya
Andi langsung menatap bu Suryati.
"Maksud ibu?"
"Sudah-sudah" lerai pak Alam
"Benar kan Pa apa yang mama bilang?" bu Suryati minta dukungan suaminya
Pak Alam mengangguk setuju.
__ADS_1
"Itulah makanya seluruh gaji Papa, Mama yang pegang, sampe atm juga mama yang pegang"
Bu Suryati tersenyum senang.
"Kamu mbak?" tanyanya
"Maksud ibuk?" tanyaku balik
"Seluruh gaji dan atm suami mbak Indah, mbak juga kan yang pegang?"
Aku mengangguk. Jelas aku berbohong.
Andi tampak lega saat istrinya menjawab demikian, setidaknya kartu dia tidak diketahui dengan kepala cabang lain.
Tapi berbeda halnya dengan Afdal, dia lagi-lagi tersenyum menyeringai.
"Nah, kalo mbak pegang uang, kenapa tidak pakai buat shopping, buat ke salon, buat senang-senang" lanjut bu Suryati
"Kebutuhan kami banyak bu, dan seperti kata suami saya, saya itu tidak suka dandan dan tidak suka shopping" jawabku
Bu Suryati tertawa. Di elusnya punggung tanganku.
"Kamu perempuan hebat mbak, tidak banyak perempuan seperti kamu" ucapnya
Aku tersenyum kaku kearahnya.
"Kebahagiaan istri itu nomor satu, jika istri tidak bahagia maka serumah tidak akan bahagia. Bahagiakanlah istrimu, maka kebahagiaan akan mengikutimu. Tapi jika kau buat istrimu sakit hati, berduka, menangis, maka setiap langkahmu akan dikutuk oleh malaikat" pak Alam berbicara
Wajah Andi tampak gelisah saat mendengar omongan pak Alam.
"Jadi kita harus adil ya pak sama istri?" tanya Afdal
"Bukan cuma adil, tapi juga disayang, jangan cuma pas butuh saja sayangnya"
Kami tertawa mendengar jawaban pak Alam, tapi tidak dengan Andi. Dia hanya diam saat pak Alam sibuk memberi nasehat
"Jadi saya dapat ilmu gratis ini pak, tentang bagaimana memperlakukan istri dengan baik" pak Afdal bersuara.
"Saya pakai yang ada saja bu" tolakku
"Oh no, kamu tidak faham mbak bagaimana ibu-ibu kepala cabang nanti malam"
"Maaf kalau ibu lancang, bisa ibu kekamar kalian, ada yang mau ibu bicarakan" pintanya
Aku melirik kearah Andi, minta persetujuannya. Seperti faham dengan kodeku, Andi menganggukkan kepalanya.
"Yuk bu" ajakku yang berdiri duluan
Kami lalu meninggalkan ketiga lelaki yang sepertinya masih betah duduk di resto itu.
Setibanya di kamar, aku dan bu Suryati duduk di kursi yang ada di balkon.
"Mungkin mbak pintar saat di dalam kelas, tapi mbak tidak pintar untuk berbohong" ucap bu Suryati setelah kami duduk dan diam beberapa saat
"Maksudnya bu?" tanyaku bingung
"Ibu tahu rumor tentang suami kamu mbak"
Deg!! jantungku langsung berdegup kencang. Aku diam tidak menjawab.
Lalu bu Suryati mulai menasehatiku. Aku dengan patuh mendengar setiap nasihatnya. Hampir setengah jam beliau mewajangiku. Dengan gaya santai dan santunnya ketika menasehatiku, aku jadi tidak tersinggung malahan merasa sangat bersyukur.
"Bawa gaun?" tanyanya
Aku menggeleng.
"Sudah ibu duga" jawabnya sambil tertawa.
"Ayo kita shopping, kita beli gaun untuk acara nanti malam" ucapnya sambil berdiri
__ADS_1
"Tapi bu?" jawabku ragu
"Halah sudah, jangan banyak pikir. Seumur hidup kamu menikah sama suami kamu pernah tidak kamu memakai uangnya untuk shoping atau kesalon? tidak pernah kan? katanya
Aku diam
"Ayo" tariknya
Mau tidak mau aku menurut dan mengikuti langkahnya keluar menemui suami kami yang sedang membuka laptop dan tampak serius menatap layar yang menyala.
"Papa, Mama mau ajak mbak Indah shopping"
Pak Alam langsung menoleh pada istrinya dan tersenyum sambil mengangguk.
"Atm nya adakan Ma?"
"Ada Pa" jawab bu Suryati setelah mengecek dompetnya.
"Atm kamu ada kan mbak?" bu Suryati menoleh padaku
Aku gelagapan mendengar jawabannya. Aku tersenyum kaku
"Mungkin mbak Indah biasa cash Ma"
Aku kembali tersenyum kaku. Isi dompetku saat ini hanya gaji mengawas ku ketika ulangan semesteran kemarin, itupun junlahnya hanya dua lembar uang merah dan itupun sudah berkurang saat aku memberikan nya selembar pada ibuku untuk ketiga anakku jajan.
"Bawa atm saya saja mbak" Afdal sepertinya cepat tanggap. Karena sedari tadi suamiku hanya fokus pada laptopnya dan tidak sedikitpun menoleh padaku yang kebingungan.
"Nggak usah mas" tolakku
Afdal segera membuka dompetnya dan menyerahkan atm miliknya padaku.
"Yah?" ucapku sambil menarik tangan suamiku.
Sontak suamiku langsung menoleh
"Ya, ada apa bun?
"Bu Suryati mau ngajak jalan"
"Oh, silahkan" jawabnya singkat
Tampak pak Alam, bu Suryati dan Mas Afdal saling toleh.
"Sudah Ma, Mama traktir saja mbak Indah. Isi atm banyak kan Ma?" suara pak Alam terkesan menyindir
Faham arah omongan pak Alam, Andi segera membuka dompetnya dan memberikan atm miliknya pada Indah.
"Kalau kurang, punya ku ada mbak, tiga empat juta buat mbak tidak rugi buat saya" ujar Mas Afdal sambil tertawa
"Makasih mas" jawabku
"Isi atm ku juga banyak kali mas" Andi segera memotong pembicaraan kami
"Yakin?" sindir mas Afdal
Wajah Andi langsung berubah tak senang.
"Unlimited kan Pa, Mama belanjanya?"
Pak Alam mengangguk.
"Yuk mbak, nanti keburu waktu kita habis, padahal kita harus ke salon juga" bu Suryati menarik tanganku
Aku mensejajari langkah kakinya.
Andi tampak gusar menatap Afdal. Moodnya seketika hilang. Ditutupnya laptop dan dia menyulut sebatang rokok dan menghisapnya dalam.
Pak Alam dan Afdal tidak memperdulikan Andi, mereka berdua kembali sibuk berkutat dengan laptop mereka masing-masing.
__ADS_1
Hati Andi panas ketika dia mendengar Afdal menawari istrinya atm tadi, itulah sebabnya dia menjadi badmood untuk melanjutkan mengecek laporannya