
Aku merasa asing saat membuka mataku. Butuh sekian detik untuk aku beradaptasi. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan mulai sadar jika ini adalah kamar hotel tempat aku selama di Pekanbaru.
Aku menggerakkan tubuhku, tapi segera tercekat begitu rasa nyeri langsung menjalar di seluruh tubuhku. Aku meringis menahan sakit.
"Ahh, yeay sudah bangun" Jennifer langsung menghampiri dan duduk di sebelahku
"Aku kenapa kak?" tanyaku
"Adduuhhh, harusnya eyke yang tanya yeay kenapa" jawabnya
Aku diam dan mulai mengingat kejadian semalam dan pagi ini.
Mataku langsung berembun dan dengan segera aku memeluk Jennifer. Aku menangis dipelukannya, sedih, marah, kecewa campur aduk jadi satu.
Jannifer mengelus bahuku. Aku terus saja menangis di pelukannya hingga beberapa menit. Baru setelah tenang aku melepaskan pelukanku dan menghapus air mata yang membanjir di wajahku
"Kok kakak bisa disini?" tanyaku
Jennifer membantuku duduk dengan menyandar pada sebuah bantal di belakangku.
"Eyke disuruh bos buat kesini"
"Bos?" tanyaku dengan dahi mengernyit
"Iya, bos. Dia bilang aku harus datang secepatnya kekamar kamu. Kalau tidak salon saya dibakarnya"
Aku diam mendengar jawabannya. Siapalah orang yang dimaksud Jennifer dengan bos ini ya? apa dia orang yang Andi tuduhkan? Tapi tidak mungkin, terus dia siapa? tanyaku pada diriku sendiri
"Terus kak?"
"Yaa eyke langsung datang, karena saat dia nelpon, suaranya khawatir banget, dan begitu eyke sampe sini, eyke lihat yeay tergeletak di lantai, pingsan"
"Pingsan?" tanyaku kaget
Jennifer mengangguk.
"Dan karena khawatir, eyke telpon lagi si bos ngasih tahu kalau yeay pingsan dan tak lama dokter sampai, langsung deh kita gantiin baju yeay yang basah dan kita pindahin deh kemari, baru setelah itu yeay diperiksa sama dokter
Aku ingat, saat Andi memecutku dengan ikat pinggang aku masih memakai baju basah. Itu artinya kak Jennifer.... aku cepat memeluk selimut dan menatap tajam Jennifer
"Ihhh,,, yeay nggak usah kegeeran deh, eyke nggak nafsu sama yeay" ucapnya seperti faham tatapan mataku..
"Tapi kakak lihat tubuh aku kan?" tuduhku
__ADS_1
"Ihh males bange. Dokter semua yang gantiin yeay baju"
"Dokter semua yang gantiin yeay baju"
"Dokternya laki-laki apa perempuan kak?"
"Laki"
Degg!!! mataku langsung terbelalak.
"Seriusan kak?" tanyaku dengan degup jantung yang cepat
Jennifer terbahak, sampai memegang perutnya saking tertawa geli
"Kaakk?"
"Ya nggak mungkinlah dokternya laki-laki, bisa mati tu dokter ditembak bos. Orang aku yang mau permak yeay aja nggak dibolehin"
Aku langsung lega mendengar jawaban darinya. Alhamdulillah batinku dengan langsung melemparkan bantal pada Jennifer
Tapi aku segera meringis, saat kurasakan nyeri kembali di tubuhku. Aku kembali bersandar dan menarik lengan bajuku.
Kulihat merah biru lebam bahkan disana. Aku dengan menahan sakit juga menarik celanaku keatas, dan sama dengan di tangan, disana juga merah lebam bekas cambukan Andi semalam.
Jennifer menatap iba pada Indah yang meneliti tiap inci tubuhnya yang membiru bekas pukulan.
"Pasti sangat sakit ya Ndah" katanya sendu
Aku menghela nafas dalam, nyeri itu sudah pasti, tapi yang lebih sakit itu adalah kata-katanya semalam. Aku berusaha untuk turun dari ranjang, dengan menahan sakit aku melangkah kearah cermin. Aku membelakangi cermin dan mengangkat sedikit blouse yang kupakai.
Aku mendekap mulutku. Di sana, penuh dengan tanda cambukan. Dengan sedikit kesusahan aku mengangkat agak tinggi lagi, dan benar, banyak sekali bekas cambukan di sana, bahkan nyaris belakang ku penuh dengan luka.
Aku menatap wajahku di cermin, pipiku tampak lebam biru keunguan. Kusentuh, dan aku meringis kesakitan. Ternyata masih sakit bekas tamparannya.
"Kamu sering disiksa seperti ini?" Jennifer bertanya sambil terus menatapku yang membelakanginya
Aku menggeleng
"Tidak mungkin, laki itu kalau tangannya sudah melayang ketubuh perempuan, akan jadi kebiasaan. Tiap ribut dia akan melakukan kekerasan"
"Tidak kak, ini kali pertamanya Andi memukulku" jawabku
"Tapi sampai yeay babak belur gini? keterlaluan" ucapnya geram
__ADS_1
Aku duduk di kursi, Jennifer masih di ranjang. Kami sama-sama diam. Tiba-tiba aku teringat suamiku. Sejak tadi aku tidak melihatnya
"Suamiku mana kak?" tanyaku
"Mana eyke tahu, pas eyke kesini eyke cuma ngeliat yeay tergelatak di lantai. Eyke kira yeay metong, ehh taunya pingsan"
"Eyke saranin lebih yeay pisah deh sama laki yeay, kalau yeay terusin yeay bisa metong di tangan dia"
Aku menunduk, menggigit bibirku. Memikirkan tiap kata yang terlontar dari bibir Jennifer. Benar apa yang dikatakannya, untuk apa aku bertahan dengan lelaki tukang selingkuh dan sekarang juga melakukan KDRT padaku.
Tapi aku teringat dengan ketiga anakku yang masih kecil. Bagaimana dengan mereka jika kami berpisah?
"Tidak semudah itu kak" jawabku
"Loh kenapa?"
"Anak-anakku masih kecil, mereka masih butuh sosok ayahnya"
"Aduuhhhh, berhentilah berfikir kaya gitu beb, yeay lama-lama mati di tangan dia deh kalau terus bertahan sama dia"
"Aku bertahan demi anak-anakku kak"
Jennifer mendengus kesal.
"Kalau sudah begini masih terus mau bertahan?" tanyanya dengan wajah kesal
Aku diam tak menjawab. Batin dan logikaku sedang berperang sekarang. Jujur, aku sudah tidak tahan lagi dengan Andi. Apalagi dengan perselingkuhannya, belum ada sekarang dia sudah bersikap sangat kasar padaku.
"Aku kok ngantuk lagi ya kak?" kataku
"Mungkin itu karena efek obat yang tadi disuntikkan dokter. Sini kamu istirahat lagi" katanya sambil bangkit dan membimbingku kembali ke ranjang.
Dengan telaten Jennifer menyelimutiku dan merapikan bantal di sebelahku agar aku tidak kesakitan lagi.
"Istirahatlah, eyke akan ngawasi yeay, yeay nggak usah takut lagi" katanya
Aku mengangguk dan mataku kian berat dan tak lama aku terpejam, tak ingat apa-apa lagi"
"Dia sudah tidur bos. Iya, saya akan jaga dia seharian ini." Jennifer berkata melalui panggilan di hpnya.
"Iya siap, yang penting bayarannya" ucapnya lagi sambil tertawa centil.
Setelah itu panggilan berakhir. Jennifer segera meletakkan hp dan duduk di pinggiran ranjang sambil terus menatap iba pada Indah
__ADS_1