
"Abang serius dengan ucapan abang tadi?" tanyaku ketika kami sudah di dalam kamar
Ozkan yang sudah berbaring segera mengulurkan tangannya kearah Indah
Dan aku segera meraih tangan abang dan menelungkupkan kepalaku di dadanya
"Kapan kamu melihat abang tidak pernah menepati omongan abang"
Aku mengangkat sedikit kepalaku melihat ke matanya
"Setidaknya abang ingin menebus kesalahan abang sama Andi karena dulu abang pernah memukulnya"
Aku terkekeh sampai menyembunyikan wajahku di ketiaknya
"Kalau waktu itu memang abang wajar hajar dia, aku aja dukung"
Ozkan ikut terkekeh dan mengelus kepala Indah
"Besok agendanya apa sayang ?"
Aku kembali melihat wajah abang
"Selesaikan segala urusanmu pada keluarga pak Hermawan, baru setelah itu kita pulang"
Aku merebahkan tubuhku di sebelah abang dan menatap langit kamar dengan bimbang
"Selesaikan semuanya, jangan ada yang tersisa"
Aku mengangguk
"Abang ingin kamu jadi Indah yang dulu"
Aku menoleh tak faham maksud abang. Tapi abang malah membalas senyumku
"Jadilah Indah yang pertama kali abang temui"
Aku menatap tajam mata abang
"Indah yang itu sudah mati, Indah yang dulu sudah aku buang jauh-jauh. Sekarang yang ada hanyalah Indah yang penuh dendam dan akan menuntut semua ketidakadilan nya dulu"
Ozkan menarik nafas panjang, lalu menarik kepala istrinya, didekapnya erat dan diciuminya puncak kepala istrinya tanpa henti
Dadaku bergemuruh mengingat bagaimana bodohnya aku dulu, yang nangis-nangis karena diselingkuhi Andi, yang percaya jika Andi baik-baik saja, ya Rabb...
Aku memejamkan mataku, sakit hatiku kembali timbul saat aku ingat bagaimana penghinaan keluarga Andi padaku dulu
"Besok semuanya akan aku selesaikan"
Ozkan terus mengusap lengan istrinya ketika mendengar suara Indah menggeram marah
...****************...
Naura telah siap ke klinik ketika aku keluar dari belakang
"Nak, ajak dulu tante kamu keliling rumah ini, baru setelah itu kamu berangkat!"
Naura menoleh kearah bundanya
"Tante?, tante Maria?"
Aku mengangguk
Mbak Ningsih menatap Indah dengan tegang. Dia yakin akan terjadi apa-apa ini. Karena kemarin memang Indah yang memintanya membawa Maria kesini dan meminta padanya untuk menyuruh Maria menginap juga
Aku hanya melirik sekilas pada mbak Ningsih yang menatap tegang ke arahku.
Aku tahu, walau mbak Ningsih sedang menyapu, tapi dia jelas mendengar permintaanku pada Naura
Naura segera berjalan ke kamar depan, mengetuk beberapa kali pintu sampai akhirnya Maria keluar
"Yok tante lihat-lihat rumah kami dulu"
Maria menatap kearah Indah dan aku melengos
"Nggak usah Ra, tante sama oom sebentar lagi juga akan pulang"
"Lihatlah dulu istana ketiga anakku Maria!" sentak ku
Wajah Maria langsung menegang. Naura refleks menoleh kearah bundanya yang berteriak. Pikirannya sama seperti Ningsih, dia yakin akan terjadi hal yang tak diinginkan
"Bawa dia Naura, lihat kan padanya seluruh bangunan rumah kita. Biar nanti ketika dia pulang, dia tidak penasaran lagi"
__ADS_1
Maria menelan ludahnya dengan susah payah. Joni yang mendengar teriakan Indah ikut keluar, dan memandang curiga pada perubahan wajah istrinya
"Joni, ajak istrimu berkeliling rumah ini!"
Joni mengangguk
"Dulu bu Mira dan Laras juga sudah pernah berkeliling rumah ini, jadi ketika mereka mati, mereka tidak penasaran lagi ingin melihat bagaimana rumah ketiga anakku"
Naura menunduk, dia merasa tak enak hati pada Joni dan Maria
"Ayo oom, sama Naura juga"
Joni menurut dan membawa istrinya berjalan melewati ku
Naura mulai mengajak keduanya menaiki tangga, aku hanya melihat mereka melalui ekor mataku
Mulailah Naura mengajak keduanya kelantai dua, menunjukkan kamar Mikail, menceritakan semua detailnya yang membuat Maria hanya bisa terdiam
"Kamar ini khayalan kami dulu tante, semuanya. Ketika dulu kami tinggal dikontrakan"
Wajah Maria langsung terkesiap, dia ingat bagaimana dulu Indah pernah berkata akan ku bangunkan istana untuk ketiga anakku
Joni menangkap jelas mimik wajah istrinya. Selesai di lantai dua, Naura kembali mengajak keduanya naik kelantai tiga
"Ini kamar saya tante, oom"
Maria menelan ludahnya ketika dilihatnya bagaimana mewahnya kamar Naura
"Ini juga khayalan Naura?" tanya Joni ketika matanya berkeliling melihat seisi kamar
Naura mengangguk sambil tersenyum
"Warna ungu, banyak boneka, ranjangnya mewah seperti milik Frozen" jawabnya sambil terkekeh
Naura tak tahu jika saat dia tertawa justru makin membuat ciut nyali Maria
"Dan ini kamar adek" lanjut Naura ketika mereka sampai di kamar Adam yang tak ada bedanya dengan kamar Mikail, bedanya cuma tidak ada gambar Spider man di tembok
"Dari balkon kamar adek kami bisa melihat pemandangan yang menyejukkan mata"
Joni mengangguk setuju, memang benar yang dikatakan Naura, dari atas balkon sini hamparan luas sawah dan kolam terbentang juga bukit-bukit makin menambah keindahan
"Dan di kolam renang sana" tunjuk Naura kebawah yang diikuti Maria dan Joni
Joni tersenyum dan mengusap kepala Naura
"Pantesan kamu jadi atlit, hobinya berenang terus"
Kembali Naura terkekeh
"Yok kita turun tante, oom, Naura juga mau berangkat ke klinik"
Keduanya mengangguk setuju, dan membalikkan badannya. Wajah Maria kembali terkesiap ketika dilihatnya Indah telah berdiri di tengah ruangan menatap kearah mereka bertiga
Kembali perasaan Naura tak enak ketika dilihatnya bundanya berdiri mematung menatap mereka
"Naura silahkan berangkat ke klinik nak"
Naura mengangguk dan ketiganya berjalan mendekat ke arahku
"Kalian berdua tetap disini!"
Langkah kaki Joni dan Maria yang sudah hendak berjalan minggir sontak terhenti. Begitupun dengan langkah Naura
"Kamu turunlah nak, biarkan bunda bertiga sama oom dan tante mu!"
Naura bergeming di atas tangga, menatap bingung antara tangga dan bundanya yang tetap tampak tenang
"Tapi bun?"
"Turunlah!"
Naura menarik nafas panjang dan dengan ragu dia menuruni tangga
Maria menundukkan kepalanya sedangkan Joni menatapku tak mengerti
"Kamu tahu Joni apa alasan saya menyuruh Naura mengajak istrimu berkeliling rumah ini?"
Joni diam dan menggeleng pelan, aku tersenyum sinis kearahnya
"Kamu pasti tahu kan Maria apa alasanku?"
__ADS_1
Maria terus menunduk tak berani menjawab
Aku maju selangkah ke hadapannya, dan Maria makin menunduk takut
"Ingat apa yang kalian katakan dulu padaku?!"
Maria memejamkan matanya dengan takut ketika Indah berbicara seperti itu. Joni menoleh kearah istrinya yang menunduk dalam
Joni menarik nafas panjang, dia yakin istrinya pasti mengatakan sesuatu yang menyakitkan bagi Indah, jika tidak, tidak mungkin Indah begitu sinis menatap istrinya
"Ayo jawab Maria!"
Maria masih diam
"Mengapa kamu hanya diam dan menundukkan wajah kamu?, dulu kamu begitu berani menatap mataku, bahkan begitu berani juga menghinaku, ayo sekarang tatap mata aku!!"
Maria mundur selangkah karena Indah berteriak tepat di wajahnya
Aku kembali maju selangkah
"Dulu kalian bilang jika saya bermimpi akan membangunkan istana untuk ketiga anakku, iya kan?, ingat kamu Maria?!"
"Sekarang kamu lihat!!!"
Dengan kasar aku menarik tangannya
"Kamu lihat sekarang Maria, aku wujudkan ucapanku saat itu, aku bangunkan mereka istana, dan kamu ingat bagaimana dulu kalian mengatai ku???"
"Bahwa aku bermimpi!!"
Aku lalu terbahak dengan emosi. Joni hanya bergeming melihat Indah meneriaki istrinya
"Kalian bilang aku harus jual diri jika ingin menghidupi ketiga anakku!!!"
Joni menggelengkan kepalanya tak percaya mendengar ucapan Indah
"Tidak Maria, aku tidak jual diri seperti yang kalian tuduhkan padaku semua yang kuberi pada ketiga anakku adalah hasil jerih payahku, hasil keringatku, bukan hasil jual diri seperti yang kalian tuduhkan!!!!"
"Dan kamu lihat ini!!!"
Kembali aku menarik kasar Maria masuk ke kamar Naura
"Ini semua ucapan anakku ketika mereka mau tidur, dan kau lihat, semua keinginannya aku wujudkan, dan apa kamu tahu apa kata mereka?"
"Bunda aku mau jadi bidan, bunda aku mau jadi tentara, bunda aku mau punya klinik, bunda aku mau punya mobil"
"Kau tahukan sekarang Maria, semua itu aku wujudkan, aku jadikan Naura bidan dan ku bangunkan klinik untuknya, Mikail ingin jadi tentara, dan sekarang ku jadikan dia tentara, dia ingin mobil, aku belikan juga!"
"Semua aku wujudkan Maria, semuanya!!!"
"Mengapa aku sampai rela bertahun-tahun meninggalkan mereka???, mau tahu kamu apa alasannya?"
"Mau tahu kamu???!!!"
Maria sudah terisak-isak karena Indah terus berteriak di depan wajahnya
Aku mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata
"Karena penghinaan kalian!!!" geram ku
Lalu aku membuang kasar wajah Maria
"Sakit aku Maria kalian hina, kalian sudah kelewatan batas menghina dan mencaci ku" sambil berkata begitu mengalir lah air mataku
"Kita memang berbeda keyakinan, tapi aku yakin di agamamu juga mengajarkan kebaikan, tidak boleh menghina dan merendahkan orang lain"
"Aku yakin agamamu juga mengajarkan bagaimana caranya memperlakukan sesama, tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan Maria, tapi cuma hati kamu saja yang kotor"
Maria terus terisak
"Dan kamu Joni, kenapa kamu hanya diam?!"
Joni menarik nafas panjang
"Saya ikhlas jika mbak mau memarahi istri saya, karena jika saya mengetahui semua perbuatannya pada mbak, sudah sejak dulu saya memarahinya"
Aku tersenyum sinis dan menggelengkan kepalaku
"Satu, satu hal yang tak bisa aku maafkan dari mu Maria!!!" kembali aku berteriak histeris
Dengan kasar aku tarik tangannya menuruni tangga. Dan Joni hanya bisa mengikuti tanpa berniat menolong Maria
__ADS_1
Wajah seluruh penghuni rumah menegang ketika mereka lihat Indah menarik kasar Maria yang menangis