
"Silahkan pilih motornya sendiri, mau type apa terserah" ucapku pada kedua keponakanku yang sudah beranjak dewasa
"Aku boleh juga cik?" tanya Zahra anak tertua kak Angga yang sudah gadis, yang saat itu sudah kelas dua SMA.
"Boleh" jawabku
Bertiga mereka langsung melesat masuk kedalam showroom motor. Beberapa orang spg segera mendekat kearah kami yang berkumpul di dalam showroom
"Ada yang bisa kami bantu?" ucap salah seorang dari mereka ramah
"Ketiga keponakan saya mau motor, tolong dampingi mereka" ucapku
Tiga orang spg itu langsung berjalan kearah ketiga keponakanku yang sedang sibuk memilih dan melihat-lihat motor
"Cik, yang ini boleh?" teriak Albert anak tertua yuk Yana
"Aku mengangguk"
Dia memilih motor sport khusus untuk cowok
"Motor biasa saja, yang itu mahal" teriak ayukku tak setuju
"Malu-maluin teriak disini" jawab kak Andri
Kami langsung terkekeh mendengar ucapannya
"Aku yang matic" jawab anak kedua yuk Yana
"Aku juga" jawab Zahra
"Terserah mau yang mana" jawabku sambil ikutan melihat-lihat motor
"Motorku masih ada kan pak?" ucapku pada bapakku yang juga ikutan melihat motor bersamaku
"Masih, jarang dipakai, jadi masih bagus" jawab bapakku sambil memegang sebuah motor bebek keluaran terbaru
"Bapak suka?" tanyaku sambil memegang tangannya
Refleks bapakku melepaskan tangannya yang tadi memegang motor yang masih terbungkus plastik lalu menggeleng kearahku
"Mas...." panggilku pada seorang spg yang berdiri agak jauh dariku dan bapak
"Iya bu?" jawabnya
"Yang ini satu" jawabku
Bapakku melongo menatap kearahku
"Apa bapak tidak suka warnanya?, bisa pilih warna lain kok" jawabku sambil memegang pundak bapakku
"Tidak usah sat, bapak hanya memegang-megang saja, bukan berarti bapak ingin" jawab bapakku menolak
"Apa bapak mau mobil?, ah iyaaa, kita beli mobil saja" ucapku kearah bapakku yang makin melongo
"Kalau begitu ini untuk aku saja" jawab Kak Angga cepat
Aku tersenyum kearahnya
"Ya ampun kalian ya, habis uang adik aku" yuk Yana mengomel
Alu terkekeh mendengar ucapannya
"Mbak Dian, Iyan sudah on the way kesini kan?" tanyaku pada mbak Dian yang juga kami ajak belanja
"Iya bunda, katanya sebentar lagi"
Aku melirik jam di tanganku. Hampir jam lima
"Showroom tutup jam berapa?" tanyaku pada spg yang masih berdiri di dekatku dan bapak
"Karena ini week end, kami buka sampai jam sepuluh malam bu" jawabnya
"Mobil sama?" tanyaku
"Sepertinya sama bu" jawabnya
"Kak, bisa kita ke showroom mobil" ucapku pada kak Andri
"Bisa" jawab kakakku cepat
"Sudah dapat nak motornya?" tanyaku pada ketiga keponakanku
"Sudah cik" jawab mereka
"Bayar sendiri!" godaku
Mereka langsung terkekeh mendengar jawabanku dan dengan manja mereka memelukku
"Ihhhh, minggir!! bunda aku ini" ucap Mikail tak senang karena ketiga kakak sepupunya memelukku
Aku tertawa melihat muka sewotnya
"Maaf saya terlambat" ucap Iyan anak mbak Dian yang masuk dengan tergopoh
"Salim sama bunda" jawab mbak Dian tak suka karena anaknya langsung berdiri di sebelahnya tidak menyalamiku
"Bunda?" ucapnya sambil mengerutkan keningnya
"Iya, itu bunda. Ayo cepat salim" dorong mbak Dian pada pundak anaknya
Iyan maju kearahku dengan canggung
"Ini serius bunda?" ucapnya sambil mencium punggung tanganku
"Kenapa?, tidak kenal lagi ya sama bunda?" jawabku
"Sumpah aku pikir tadi ini siapa, bunda manglingin" jawabnya sambil nyengir
Aku tersenyum kearahnya
"Berhubung kamu sudah sampai sini dan bunda mau jemput adikmu Naura, maka cepatlah kamu pilih mau motor apa" ucapku
Mbak Dian menutup mulutnya tak percaya. Sedangkan Iyan tampak kaget dan menoleh bingung kearah ibunya
"Malah nangissss..." protes kak Andri begitu melihat mbak Dian sudah terisak
__ADS_1
Kami semua kembali terkekeh mendengar ucapannya.
"Makasih bunda" ucap mbak Dian yang menangis sambil berjalan kearahku, memeluk tubuhku erat, aku mengusap-usap pundaknya
"Hadiah ini tidak sebanding dengan kasih sayang yang mbak berikan kepada ketiga anakku" jawabku
"Dian, kira-kira kalau kamu saya tabok, kamu bakal ngadu kepolisi nggak?" tanya kak Andri
"Memangnya kenapa wak?" jawab mbak dian menoleh sambil mengusap wajahnya
"Dari tadi kerjanya nangis terus, kesal saya lama-lama" jawab kakakku bercanda
Kami kembali terkekeh, lalu aku dan kak Andri berjalan menuju kasir
"Lima buah motor ya bu, dua matic, dua motor sport cowok, satu motor bebek" ucap perempuan cantik itu ramah.
Aku menganggukkan kepalaku.
"Mau request nomor plat tidak?" tanyaku pada kak Angga yang berdiri di sebelahku
"Nggak usahlah, nambah-nambahin biaya" jawabnya
"Syukurlah kalau sadar" canda kak Andri lagi yang dibalas kak Angga dengan meninju lengannya
"Bapak dan ibu ini bersaudara?" tanya kasir itu kembali
"Iya mbak" jawabku
"Wah, enak ya akur" jawabnya lagi
"Sekarang mbak akur, dulu waktu kecil ya tinju-tinjuan" jawab kak Angga yang disambut kami dengan tertawa
"Total yang harus dibayar 112.000.000 ya bu" jawab kasir tersebut sambil menyerahkan struk bukti pembayaran ketanganku
Aku melihat sekilas pada struk tersebut lalu menoleh kearah kak Angga
"Ayo, bayar!" godaku
Kak Angga berlagak membuka dompet dan mengeluarkan KTP lalu diberikannya kearah kasir tersebut
Aku dan kak Andri langsung terbahak sedangkan kasir itu melongo kaget
"Untuk nulis identitas di STNK" jawab kakakku beralibi
"Oh iya, benar-benar" jawab kasir tersebut sambil tersenyum
"Ini mbak" ucap kak Andri sambil menyerahkan atm kehadapan kasir tersebut
Aku melambaikan tanganku kearah ketiga keponakanku dan Iyan. Kompak mereka berjalan kearahku
"Ya cik?" tanya Zahra
"Ayuk belum ada ktp, tapi kartu pelajar ada kan?, ini untuk ngisi form STNK dan BPKB" ucapku
Tanpa diminta mereka berempat segera mengeluarkan ktp dan kartu pelajar masing-masing.
"Jangan sampai tertukar" ucap kak Angga
"Nanti motor bebekku jadi motor sport" lanjutnya
"Pinnya tanggal lahir kamu sat" jawab kak Andri ketika kasir memintaku memasukkan kode pin atm
Aku memandang haru padanya
"Ck, ketularan Dian!" jawabnya tak senang melihatku haru
Lalu aku menekan kode tanggal lahirku, dan transaksi lancar. Setelah semua selesai dengan form stnk dan bpkb, kami pergi dari showroom tersebut
Berhubung pihak dealer mau mengantarkan motor, kak Angga, yuk Yana dan mbak Dian beserta yang lain pulang lebih dulu.
Sedangkan aku dan umak bapakku, kak Andri dan anak istrinya beserta Zahra menuju showroom mobil.
Saat itu sudah mau maghrib, kak Andri membelokkan mobil ke masjid, lalu kami menjalankan kewajiban kami terlebih dahulu baru setelahnya kami menuju keshowroom mobil.
"Ayo pak" ucapku sambil menggandeng tangan kanan bapakku ketika kami berjalan masuk kedalam showroom mobil
Zahra menggandeng tangan umakku
"Eh, bos Andri, selamat datang bos" ucap seorang lelaki berpakaian rapi begitu melihat kami masuk
Orang tersebut langsung menyalami kak Andri dan bapakku.
"Nyari model yang mana bos, kami siap melayani" sambungnya ramah pada kak Andri.
Kak Andri menepuk pundak lelaki yang sekira umurnya tak jauh darinya itu
"Ini, adikku mau membelikan bapakku mobil. Jadi biar bapak saja yang milih, kamu tolong bantu ya" jawab kak Andri
"Siap bos" jawabnya
"Pak Andri ini teman saya waktu SMA pak, jadi khusus untuk bapak, saya sendiri yang akan mendampingi bapak memilih mobil" lanjut lelaki itu pada bapakku
Bertiga mereka masuk dan memilih-milih mobil. Lelaki tadi menjelaskan spesifikasi kelebihan dan keuntungan berbagai model mobil. Bapakku dan kak Andri tampak menganggukkan kepala mereka
Pilihan bapakku jatuh pada mobil Toyota Avanza berwarna hitam. Setelah mengisi berbagai formulir lalu kembali kakakku memanggilku untuk membayar.
"190.000.000" jawab kasirnya
Aku memberikan atm dan kembali menekan pinnya.
"Selamat ya pak, terima kasih atas kepercayaannya" jawab lelaki itu sambil kembali menyalami bapakku
"Terima kasih bos, sering-seringlah mampir kesini" ucapnya pada kakakku
"Hadiahnya satu buah kulkas, apa kami kirim bersama mobil atau bos bawa langsung?" tanyanya pada kak Andri
"Antar bersama mobil saja, sekarang kami mau menjemput keponakanku dulu" jawab kakakku
"Ini adik yang sering bos ceritakan itu?" tanyanya menoleh padaku
Kak Andri mengangguk
"Ya Alloh dek, Andri cerita panjang lebar tentang kamu" ucapnya sambil menyalamiku
Aku tersenyum kearahnya
__ADS_1
"Tidak menjelek-jelekkanku kan pak?" tanyaku
Kak Andri dan lelaki itu kompak tertawa
"Andri sangat menyayangimu dan ketiga anakmu, sampai dia pernah berkata tidak mau menikah karena ingin mengurus ketiga anakmu" jawabnya
Aku langsung memeluk kakakku dengan haru, dan kak Andri mengelus kepalaku
"Maafkan aku.." lirihku menahan tangis
"Mulut kamu lemes banget sih Feb" ucap kakakku melotot pada temannya yang tadi berkata padaku
"Keceplosan bos" jawabku ngeles
"Platnya kalau bisa BG 411 MAD" ucapku saat kami akan beranjak pergi
"Siap diatur dek" jawab teman kakakku yang ternyata bernama Febri
...****************...
"Saya bundanya Naura ustadzah, jika selama ini ustadzah hanya mengenal kakak dan kedua orangtuaku, sekarang Alhamdulillah saya bisa menjenguk Naura di sini" ucapku pada kepala asrama putri saat kami kepesantren sehabis dari showroom mobil
"Alhamdulillah bunda akhirnya kita bisa bertemu, saya yakin ananda Naura pasti sangat senang mengetahui ibundanya sudah pulang"
Aku tersenyum kepada kepala asrama itu.
"Bagaimana keadaan Naura selama disini ustadzah?" tanyaku ingin mengetahui bagaimana perkembangan anak gadisku
"Alhamdulillah Naura baik bunda, dia juga anak yang cerdas, selalu juara di kelas, dan yang membanggakan kami murojaahnya sangat cepat berkembang. Jika yang lain dalam satu semester bisa hafal paling banyak tiga juz, ananda Naura bisa hafal lima juz, dan sekarang sudah hafal lima belas juz, itupun karena kami ulang dari awal. kalau tidak, bisa dipastikan lebih dari dua puluh, karena waktu masuk kesini ananda Naura sudah hafal tujuh juz, benar-benar menakjubkan"
Mataku langsung berkaca-kaca mendengar jawaban ustadzah itu. Tak terasa airmataku mengalir
"Niatnya ingin menyusulku ke Arab ustadzah, makanya dia nekad menghafal Al-Qur'an" jawabku sambil menghapus airmata di wajahku
Ustadzah tersebut mengelus tanganku, mungkin ingin menenangkanku
"Tujuh tahun ustadzah saya meninggalkannya, dan sekarang saat saya pulang dia sudah SMP, dulu waktu saya tinggalkan dia baru kelas 1 SD" lanjutku masih dengan airmata berlinang
"Semua ada hikmahnya bunda" jawab ustadzah itu kembali
Aku mengangguk.
"Jika ustadzah mengizinkan, boleh tidak Naura saya ajak pulang dulu nanti senin pagi kami antar lagi kesini, kebetulan ini malam minggu, aku ingin besok hari liburnya dia bisa seharian penuh bersamaku" ujarku mengatakan niatku kesini
Ustadzah itu tampak menganggukkan kepalanya.
"Tapi jam segini santri kami masih Murojaah bunda" jawabnya sambil melihat kearah jam di tembok
"Karena setelah isya sampai jam sepuluh malam seperti itu kegiatannya" lanjutnya
"Saya bersedia menunggu ustadzah" jawabku cepat penuh harap
"Baiklah kalau begitu, kami izinkan Naura pulang" jawabnya
Aku langsung menggenggam tangan ustadzah tersebut saking bahagianya.
"Bunda kalau mau melihat-lihat kompleks pesantren silahkan, dan kebetulan untuk santri putri, mereka murojaah di aula di sana" tunjuk beliau kearah sebuah bangunan aula yang memang dari tadi terdengar suara anak mengaji
Aku dengan cepat segera berjalan kearah sana, dengan keluargaku yang lain aku mengintip melalui jendela.
Santri di sana sangat banyak, sehingga aku kebingungan mencari yang mana Naura.
Umakku menarikku sambil menunjuk
"Itu Naura" ucap umakku sambil menunjuk kesalah satu santri yang duduk disudut, sedang membuka dan menutup Al-Qur'an berulang kali sambil sesekali menutup matanya.
Airmataku seketika mengalir deras, ingin sekali rasanya aku berlari saat itu juga. Tapi aku harus sabar, tinggal setengah jam lagi, batinku
Setengah jam rasanya begitu lama untukku, selama menunggu Naura, sedetikpun aku tidak mengalihkan perhatianku darinya.
Akhirnya tanda selesai murojaah berbunyi, dan seluruh santri keluar berdesak-desakan. Aku yang tadi sudah diberitahu jika Naura harus menghadap kepala santri putri dulu memilih untuk bersembunyi di dalam ruangan khusus kepala santri. Kami ingin memberikan kejutan untuknya
"Assalamualaikum" ucap sebuah suara
"Waalaikumussalam" jawab ustadzah
Aku yakin jika yang datang itu adalah Naura karena aku mengenali suaranya
"Maaf ustadzah, mengapa ya aku dipanggil" ucap Naura takut-takut
"Malam ini Naura harus pulang dulu"
"Mengapa ustadzah?" suara Naura berubah panik
"Karena terjadi sesuatu di rumah Naura, jadi malam ini Naura harus pulang"
Aku dengar Naura mulai menangis, jahat sih sebenarnya aku, karena menjahilinya. Tapi aku ingin dia suprise dengan kepulanganku
"Ustadzah tahu tidak ada apa di rumah nenek saya?" tanya Naura masih terdengar panik
"Ustadzah dengar kalau bundanya Naura...."
"Kenapa dengan bunda saya ustadzah?, bunda saya baik-baik sajakan ustadzah? potong Naura makin panik
"Bundanya Naura...." ustadzah menggantungkan ucapannya
Naura spontan menangis histeris
"Bunda nggak boleh pergi, bunda janji bakal pulang, bunda janji bakal sama-sama kami" ucapnya histeris
Aku yang tak tahan mendengarnya menangis histeris segera membuka pintu kantor tempatku bersembunyi
"Naaaakk..." ucapku tertahan
Naura mengangkat kepalanya, langsung berdiri dan kembali berteriak histeris
"Bundaaa" teriaknya menghambur kedalam pelukanku.
Kupeluk anak gadisku erat, kuciumi berkali-kali, umak bapakku menyusut mata mereka ketika melihat kami bertangisan.
"Adek dipeluk juga" ucap Adam manja, sedang Mikail juga terlihat menangis
Aku dan Naura menoleh padanya, lalu kami berempat berpelukan haru.
Ketiga anakku menangis haru dalam pelukanku. Ustadzah yang melihat kami berpelukan sambil menangis ikut menyusut matanya.
__ADS_1