Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Adam Menemui Andi


__ADS_3

Adam termenung menatap layar handphonenya, dengan pelan kembali Naura mengetuk


Refleks Adam menoleh, dan mengusap wajahnya


"Ayuk sudah dengar semua"


Adam membuang mukanya, dan mengerjap-ngerjapkan matanya


"Jangan diingat-ingat lagi masa lalu dek, kita sudah bahagia sekarang"


Adam menarik nafas dalam, menatap keluar jendela


"Jangan penuhi hati adek dengan prasangka-prasangka yang tak baik, kita sudah melewati masa itu dek, kita sekarang jauh lebih bahagia ketimbang ayah"


"Tapi adek perlu dengar jawaban dari ayah langsung yuk, apa penyebabnya ayah meragukan aku anaknya?"


"Nanti kamu sakit hati dek kalau mengetahui alasan ayah, biarlah itu menjadi beban ayah, adek jangan terbebani juga"


Kembali Adam diam, matanya terus menatap keluar jendela


"Kita nonton saja yuk, ada film horor bagus loh dek" ucap Naura mencoba mengalihkan perhatian adiknya


"Yuk, ayuk ingat nggak bagaimana masa kecil aku?"


"Maksudnya?"


"Bunda terlalu banyak menutupi kesalahan ayah pada kita, sehingga kita tahu dari orang lain."


Naura menarik nafas dalam. Bingung bagaimana menjawab pertanyaan adiknya.


"Bunda itu tak ingin kita membenci ayah dek, bunda ingin kita tetap menghormati ayah, itulah sebabnya segala keburukan ayah, bunda tutupi di depan kita"


"Aku mau ke trans yuk, mau menemui ayah. Aku harus tahu yang sebenarnya, Aku mau dengar sendiri dari mulut ayah"


"Ini sudah siang, perjalanan kesana jauh"


"Aku naik motor saja biar lebih cepat"


"Nggak usah dek"


"Kalau ayuk nggak mau ikut, aku bisa sendiri"


Naura yang melihat Adam mengambil jaket segera keluar dari dalam kamar Adam, berlari ke kamarnya


"Ayuk ikut dek" teriaknya saat dilihatnya adiknya telah menuruni tangga


"Bunda kami ke trans, adek mau nemuin ayah" begitulah voice note yang Naura kirimkan pada bundanya, selebihnya dia telah berlari menuruni tangga, menyusul Adam yang tengah mengeluarkan motor besar


Dengan cepat Naura mengunci pintu


"Pak, mungkin kami pulangnya agak sore, tolong jaga rumah ya"


Penjaga rumah hanya menganggukkan kepala ketika dilihatnya dua anak majikannya telah stand by di atas motor


Dengan memakai kaca mata hitam dan juga helm, Adam segera menghidupkan motor dan melajukannya dengan pelan


Saat motor tiba di jalan raya, kecepatan mulai agak sedikit dinaikkannya. Naura yang duduk di boncengan terus memberi nasihat agar Adam melajukan motor dengan hati-hati dan tidak ngebut


Satu jam berikutnya mereka sudah di jalan yang kanan kirinya dipenuhi pohon sawit.


"Ayuk masih ingat kan jalannya?"


"Iya..." teriak Naura


Kembali Adam melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Hingga setengah jam berikutnya motor telah berhenti di depan rumah mbak Ningsih


Dimas yang kebetulan sudah pulang sekolah, melihat Naura dan Adam datang segera keluar dan memeluk keduanya


Mbak Ningsih yang diberitahu istri Dimas jika ada Naura dan Adam segera keluar dan memeluk keduanya dengan erat


Setelah berbincang-bincang melepas kangen, Adam mengutarakan tujuannya datang kesini


"Aku mau menemui ayah, buk"

__ADS_1


Mbak Ningsih langsung menoleh pada Dimas. Dia merasa heran, karena dia sendiri juga tahu, jika selama ini Adam sangat dingin terhadap Andi


"Ayah ada kan buk?"


"Ada, biasanya dia meriksa kebun sawit kalian hanya pagi dan sore saja, sana Dim panggilkan oom mu"


Dimas segera berdiri dan berjalan keluar menuju rumah mbahnya. Tak lama berselang telah kembali bersama Andi dan juga Laras


Naura begitu melihat Laras langsung memasang wajah datar, begitupun dengan Adam


Naura langsung mencium punggung tangan Andi begitupun Adam, walau dia tak memberikan senyuman seperti yang dilakukan Naura


"Ngapain kalian kesini?"


Naura dan Adam diam mendengar pertanyaan Laras, beda dengan mbak Ningsih yang langsung membentak Laras


"Kamu jangan buat rusuh ya, kamu ingat bagaimana sopan dan berakhlaknya kedua anak ini saat kamu di rumah mereka?"


Laras mencibir mendengar ucapan Ningsih


"Ayah aku mau bicara"


Andi langsung menoleh dan menatap Adam yang wajahnya masih terlihat biasa saja


"Ayo kita semua pergi ke dalam, biarkan Adam dan Andi bicara berdua"


"Nggak usah buk Ning, kalian harus tetap disini, kalian semua harus dengarkan pembicaraan kami, biar kalian yang jadi saksinya"


Naura menarik nafas dalam mendengar ucapan adiknya. Mbak Ningsih terlihat bingung dan hatinya mulai merasa tak enak


Laras hanya diam tak perduli, sejak tadi dia terus memasang wajah masam


"Kamu ingin membicarakan apa nak?"


Adam menatap mata Andi, dada Andi seketika bergemuruh ditatap oleh anaknya sendiri


Sebelum berkata, Adam menarik nafas dalam, suasana menjadi hening dan makin membuat tak nyaman


"Ayah, saya mau tanya mengapa ayah meragukan aku sebagai anak ayah?"


"Karena kamu memang bukan anak Andi, kamu itu anak hasil dari selingkuhan bundamu itu!!!"


Seketika Naura menoleh dan menatap tajam Laras


"Kamu pergi dari sini, atau gelas ini saya lempar ke kepala kamu" geram mbak Ningsih


"Tutup mulut kamu buk Las, sekali lagi kamu memfitnah bunda saya, tempatmu di penjara" ucap Naura menahan emosinya


Laras sekali lagi mencibir


"Hasil DNA menunjukkan jika aku anak ayah bukan anak orang lain" jawab Adam masih berusaha tenang


"Jawab ayah!"


Andi masih diam


"Ayah tidak punya jawaban selain diam?"


Andi menarik nafas panjang


"Karena kamu berbeda dengan dua saudaramu, dan ayah termakan hasutan mbah wedokmu dan buk Las"


Naura menggeleng-gelengkan kepalanya


"Apa karena saya hitam maka ayah meragukan ku?'


Andi mengangguk. Adam tertawa kecut


Naura berdiri, pindah duduk di sebelah adiknya.


"Sudah dek ya, adek sudah tahukan jawaban ayah"


Adam menggeleng

__ADS_1


"Ayah mencurigai bunda berselingkuh, padahal yang berselingkuh adalah ayah sendiri, iya kan?"


Andi menundukkan kepalanya


"Ayah memang berselingkuh, tapi begitu melihat kamu lahir dan kamu berbeda dengan ayuk dan kakakmu siapa saja pasti akan berpikir jika kamu bukan anakku, nak"


"Terima kasih ayah atas jawaban ayah. Jadi, jawaban bunda yang mengatakan jika ayah bahagia ketika aku lahir, ayah sayang sama aku itu bohong"


Andi menggelengkan kepalanya


"Tidak nak, ayah bahagia kamu lahir, ayah bangga. Tapi ayah terlalu bodoh mempercayai hasutan orang"


"Ayuk kita pulang sekarang, adek sudah dapat jawabannya"


Naura berdiri mengikuti Adam yang telah lebih dulu berdiri. Lalu keduanya menyalami Mbak Ningsih dan Dimas.


Naura memeluk Andi sedangkan Adam terus keluar sedikitpun tak menoleh lagi pada Andi yang menatapnya dengan sedih


...****************...


Naura menempelkan kepalanya di pundak Adam yang melajukan motor dengan kecepatan sedang


Handphonenya yang berdering di dalam tas tidak didengarnya. Dia terus saja membisikkan doa dipunggung adiknya


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ ، وَالأَعْمَالِ ، وَالأَهْوَاءِ


Allohumma Inni A’udzu Bika Min Munkarootil Akhlaaqi Wal A’maali Wal Ahwaa.


Artinya:


“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak, amal, dan hawa nafsu yang jelek.”


Dia tahu hati adiknya sedang dibisiki setan sehingga membuat hatinya tak tenang.


Satu setengah jam berikutnya, mereka sudah sampai di depan rumah. Di dalam rumah telah ada Nina dan Alan.


Naura dan Adam segera masuk, jika Naura bergabung dengan Nina dan Alan, Adam memilih naik ke kamarnya


"Kata satpam kalian ke trans?, ngapain?"


"Adek pengen bertanya sama ayah apa alasan ayah meragukannya sebagai anaknya" jawab Naura sambil menarik nafas dalam


"Astaghfirullah, terus apa jawaban mas Andi?"


"Karena adek beda dari aku dan kakak, juga karena ayah termakan hasutan mbah wedok dan buk Las"


"Nauzubillah, mereka bertiga benar-benar ya..."


Naura tersenyum kecut. Tiba-tiba kembali handphonenya berdering


"Ya bunda?"


"Ngapain kalian ke trans?"


"Adek yang pengen kesana, ya ayuk ikutlah, kan ayuk khawatir jika adek pergi sendiri"


"Apa hasilnya?"


Lalu Naura menceritakan semuanya. Kejadian di trans dan alasan Andi


Gemuruh di dadaku rasanya tak terbendung lagi, sesak rasanya dadaku. Tapi tak apalah, setidaknya anakku mengetahui dan mendengar sendiri alasan ayahnya


Ingin sekali rasanya aku menghubungi Adam, menguatkannya dan mengatakan berjuta-juta sayangku padanya tak perduli jika dia tak mirip dengan kedua saudaranya


Tapi aku tahu, saat ini dia pasti sedang tak ingin diganggu


Mikail, iya, hanya Mikail yang dekat dengan adiknya itu. Hanya Mikail satu-satunya orang yang bisa mereda kesedihan di hati adiknya itu


Dengan segera aku mengirim pesan singkat pada Mikail


*Kak, adek sedang sedih karena dia dengar langsung dari ayah kalian alasan mengapa ayah kalian meragukannya sebagai anak kandungnya.


Bunda bisa tolong tidak kak? tolong kakak hibur adek ya. Bunda bukan tak ingin menghiburnya, kakak tahu sendiri, bunda baperan

__ADS_1


Nanti belum adek cerita, bunda sudah nangis duluan


Tolong bunda ya kak. Terima kasih sebelumnya ya kak. Selamat berdinas, bunda sayang kalian semua*


__ADS_2