Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Khawatirnya Adam


__ADS_3

Dokter yang bersama Naura di ruang ICU segera memeriksa Andi, dan Naura terus membisikkan kalimat Alloh di telinga Andi


Kembali air mata Andi mengalir, dan dengan sabar Naura menghapusnya.


"Kenapa ayah saya masih belum merespon dok?"


"untuk pemulihan kesadaran pada pasien koma tidak terjadi secara tiba-tiba, biasanya terjadi secara bertahap, ada sebagian dapat sembuh total tanpa ada kecacatan adapun yang tersadar namun fungsi otak ataupun tubuhnya mengalami penurunan bahkan kelumpuhan, mbak Naura sabar ya, pada kondisi bapak Andi saya rasa beliau masih perlu pemulihan dan adaptasi sehingga beliau bisa merespon atau bahkan sembuh total"


Naura kembali menatap dalam wajah ayahnya, besar harapannya agar sang ayah bisa sembuh seperti sedia kala


"Saya boleh ajak dia bicara terus dokter?"


"Boleh"


Naura kembali memanggil ayahnya, karena masih tak ada respon lalu Naura membaca ayat Al-Qur'an dengan lirih


Karena Naura yakin ayahnya bisa mendengar jelas suaranya walau dia tidak bisa merespon


Lalu Naura kembali mengajak ayahnya berkomunikasi


"Apa ayah tahu, sakit itu sebagai penggugur dosa seperti yang tertuang dalam beberapa hadits, diantara hadits tersebut adalah


"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya". (HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).


"Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanaan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya". (HR. Bukhari no. 5641).


"Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya". (HR. Muslim no. 2573).


"Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya". (HR. Tirmidzi no. 2399, Ahmad II/450, Al-Hakim I/346 dan IV/314, Ibnu Hibban no. 697, disahihkan Syeikh Albani dalam kitab Mawaaridizh Zham-aan no. 576).


"Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan penyakit, sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya". (HR. Al-Hakim I/348, dishohihkan Syeikh Albani dalam kitab Shohih Jamiis Shoghirno.1870).


"Yakinlah ayah, sakit yang sedang ayah rasakan ini adalah cara Alloh menggugurkan setiap kesalahan dan dosa yang selama ini ayah perbuat"


Air mata Andi kian mengalir deras, dan itu makin membuat Naura sedih


"Naura telah memaafkan semua kesalahan dan dosa ayah, tapi ayah harus sehat ya, ayah harus kuat"


"Nanti jika ayah telah sehat, kita temui setiap orang yang telah ayah zalimi, kita minta maaf sama mereka"


Kembali air mata Andi mengalir deras


"Dokter, apa boleh ayah saya ditemui dengan keluarga yang lain selain saya?"


"Boleh, tapi bergantian masuknya tidak boleh ramai-ramai"


Naura mengangguk


"Ayah, ayuk bakal nelpon adek dulu, meminta adek untuk datang kesini, karena ayuk yakin adek bakal senang mendengar kabar jika ayah telah sadar"


Jari tangan Andi bergerak, dan Naura tersenyum bahagia


"Iya, ayuk akan meminta adek untuk kesini, ayah senang kan jika adek datang?"


Kembali jari tangan Andi bergerak


Naura segera keluar dari dalam ruang ICU dan segera menelpon nomor Adam


Adam yang setelah shalat Isya melanjutkan kegiatannya dengan merujoaah segera menghentikan kegiatannya ketika handphone yang diletakkannya di sajadah berdering


"Assalamu'alaikum, ya yuk?"


"Waalaikumussalam dek, dek Alhamdulillah ayah kita telah sadar"


"Alhamdulillah"


Naura mendengar jelas dari nada suara Adam jika dia juga terdengar bahagia mengetahui ayahnya telah sadar


"Ayah ingin ketemu adek, adek kesini ya?"


Adam melihat layar handphonenya, melihat jam yang telah menunjukkan angka 20:25, itu artinya jam besuk akan segera habis"


"Tidak bisa yuk, jam besuk akan habis, lagian jika adek sampai rumah sakit, juga bakal tidak boleh masuk lagi oleh security"


Naura melihat layar handphonenya dengan sedikit kecewa. Benar yang dikatakan Adam, jam besuk akan segera habis

__ADS_1


"Terus dek?"


"In Syaa Alloh besok adek ke rumah sakitnya, lagian ayuk juga harus pulang kan?, nggak ingat apa dengan perkataan uwak sore tadi?"


Naura menggaruk keningnya yang tak gatal karena tersadar jika tadi uwaknya hanya memberinya izin sebentar


"Okelah dek, ayuk juga bakal pulang, berpamitan pulang sama ayah. Ayuk juga nggak mau jika uwak kembali marah"


Adam terkekeh


"PR kita masih belum selesai yuk"


"PR?"


"Meminta maaf sama bunda"


"Oh itu nanti kita nelpon papa, ayuk yakin jika papa bisa membantu kita"


Adam mengangguk. Lalu obrolan mereka terputus. Naura menarik nafas panjang lalu kembali masuk kedalam ruang ICU menemui Andi


Naura kembali duduk di dekat Andi, menggenggam tangannya dengan sayang


"Ayah, kata adek, adek belum bisa kesini, besok adek besuknya. Nggak papa ya Yah?, kasihan adek yah kalau harus kesini sekarang, karena nggak bakal dibolehin masuk juga"


"Lagian adek juga butuh istirahat, adek pasti capek tadi dari rumah mbah, apalagi setelah kejadian hari ini"


Naura menarik nafas panjang, memandang wajah ayahnya yang masih tampak pucat


"Kenapa sih yah mbah masih membenci kami?, padahal kami telah berusaha menjadi cucu baik buat mbah"


"Ayuk sedih yah lihat mbah melukai kening adek, karena adek tidak salah sama sekali"


"Gara-gara kami nolong mbah, sekarang kami dimusuhi bunda. Ayah tahu, ayuk dan adek sangat terpukul yah karena dimusuhi bunda. Kami bagai orang buta kehilangan tongkat, tidak tahu arah"


Air mata Naura menetes.


"Kami sudah berjauhan dengan bunda sejak kecil ayah, tapi hati kami tetap dekat. Dan sekarang, bukan hanya jarak kami yang jauh tapi hati kami juga jauh"


Air mata Andi ikut mengalir


"Untuk itu ayah harus sadar dan sehat seperti dulu, biar ayah jelaskan semuanya pada bunda bagaimana rapuhnya kami tanpa bunda"


"Sekarang bunda hanya menyayangi kakak"


Kembali jari tangan Andi bergerak, dan Naura yang menggenggamnya merasakan gerakan itu


"Iya, makanya ayah cepat bangun, bilang sama bunda untuk memaafkan kami, kami nggak mau jadi Malin Kundang"


Dokter yang terus memeriksa kondisi Andi tersenyum mendengar cerita Naura


"Paling mudah meluluhkan hati seorang ibu itu mbak Naura"


Naura mengangkat kepalanya


"Caranya dokter?"


"Ambil hatinya"


Naura diam, selama ini dia tidak mengerti bagaimana cara mengambil hati bundanya, karena selama ini hubungannya dengan sang bunda selalu baik-baik saja


"Hubungi orang terdekat bundamu, minta bantuannya"


Naura tersenyum, dan melintas di kepalanya wajah sang Papa sambung


"Hanya papa yang bisa meluluhkan hati bunda, atau jika tidak aku minta bantuan sama adek twins" batinnya


Diluar terdengar pengumuman jam besuk habis, Naura kembali menatap wajah ayahnya


"Ayah, ayuk pulang ya. Besok ayuk janji bakal kesini dengan adek"


Jari tangan Andi kembali bergerak. Naura lalu mencium kening ayahnya setelah sebelumnya menghapus sisa air mata Andi yang mengalir


"Dokter titip ayah saya, hubungi saya segera jika ada apa-apa"


Dokter mengangguk dan tersenyum. Kembali Naura menatap wajah ayahnya, membelainya lembut sambil tersenyum

__ADS_1


"Ayuk pulang ya Yah, assalamualaikum"


Jari tangan Andi bergerak dan dokter menjawab salam Naura


...****************...


Ozkan yang telah diberitahu Naura dan Adam jika istrinya memblokir nomor mereka, pagi ini menatap istrinya yang sedang berdiri di atas ranjang memasangkan dasi ke lehernya dengan senyum mengembang


Aku yang melihat senyum abang bersikap biasa saja, tidak membalasnya


"Kok jutek?"


Aku mendecak, dan segera merapikan dasi suamiku sebelum akhirnya aku turun dari ranjang


Ozkan segera menangkap tubuh istrinya yang telah bersiap turun, mendekapnya sambil mengelus-elus kepalanya


Aku yang mendapat serangan tiba-tiba dari abang agak merasa kaget


"Ada apa?"


Ozkan memundurkan sedikit tubuh istrinya, menatapnya sambil terus tersenyum


"Naura dan Adam menghubungi abang"


Aku segera mendorong dada abang lalu memalingkan wajahku


"Bilang apa mereka?"


Ozkan menarik tubuh istrinya, mendudukkannya di atas ranjang dan dia berjongkok di depan istrinya


"Maafkanlah mereka sayang, mereka sedih karena kamu blokir"


Aku tersenyum sinis


"Bukan hanya aku blokir teleponnya, tapi semua keuangan mereka aku blokir"


Ozkan menarik nafas dalam, seumur hidup dia mengenal dan menikah dengan Indah baru kali ini dia melihat istrinya sangat murka


"Jadi kamu tidak mau memaafkan mereka?"


"Tidak!" jawabku menggeleng cepat


"Ya sudah jika itu mau kamu, abang akan bilang sama mereka" ucap Ozkan sambil mengeluarkan handphone dari saku jasnya


Lalu dia segera mendial nomor Adam karena dia yakin anak lelakinya saat ini pasti tak sesibuk Naura


"Dimana dek?" tanya Ozkan ketika wajah Adam tampil


"Lagi istirahat pa"


"Kamu dimana?"


Aku yang masih duduk di atas ranjang tetap berwajah datar mendengar suamiku mengobrol dengan Adam


"Di toko yah, mulai sekarang adek bantu-bantu di toko"


Ozkan langsung melirik kearah istrinya. Dan aku memalingkan wajahku


"Itu kening kamu kenapa dek?"


Adam memegang keningnya yang masih dibalut plester


"Oh, ini kecelakaan kemarin yah"


Mataku langsung menatap tajam dan jujur saja sebagai seorang ibu mendengar anakku celaka tentulah aku khawatir


Melihat perubahan wajah istrinya Ozkan yakin jika istrinya masih perduli pada kedua anaknya


"Kecelakaan dimana dek?"


Adam tertawa sambil menggelengkan kepalanya


"Loh?, kenapa dek?"


"Dilempar mbah dengan gelas Pa"

__ADS_1


Dengan cepat aku menyambar handphone suamiku begitu mendengar jawaban Adam


Wajah Adam seketika terlihat panik melihat wajah bundanya, dia yakin bundanya akan marah lagi


__ADS_2