Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Bentrok


__ADS_3

Karena kecapaian aku bangun kesiangan. Aku membuka mata saat jam telah menunjukkan pukul tujuh lewat.


Aku segera turun dari ranjang langsung menuju dapur dimana telah ada ibuku yang berjibaku di sana.


"Anak-anak belum bangun mak?" tanyaku sambil meraih gelas lalu mengisinya dengan air putih


"Belum" jawab umakku tanpa menoleh dari wajan


"Bagaimana di Pekanbaru?" tanyanya


"Seru mak" jawabku dengan mata berbinar


Tentu saja yang membuatku senang adalah karena ada abang. Selama di sana aku sangat bahagia saat bersamanya.


Aku seperti teringat dengan sesuatu. Aku segera beranjak dan mengambil tas yang semalam aku gantungkan di kamarku.


Segera kubuka tas dan mengambil amplop coklat yang diberikan pak Michael kemarin.


Aku segera keluar kamar dan kembali di dapur.


"Lihat ini mak" pamerku


"Apa itu nak?" tanya ibu


Aku segera duduk dan membuka amplop yang masih kuat terekat lem.


"Duit mak" jawabku tanpa menoleh pada ibuku karena aku sedang membuka amplop itu


Setelah amplop tersebut sobek, aku segera mengintip isinya


"Maa Syaa Allah" ucapku tercekat


"Kenapa nak?" umakku segera mendekat dan duduk di sebelahku.


Dengan tak sabar aku mengeluarkan isi amplop itu. Seluruh isinya uang berwarna merah dan juga baru-baru semua. Sepertinya baru dipotong oleh bank. hahaha


Aku mulai menghitung uang yang ada ditanganku.


"Seratus lembar mak" ucapku kegirangan pada umakku yang juga tersenyum


"Sepuluh jutaaaa!!" lanjutku sambil memeluk umakku dengan gembira seperti anak kecil


"Alhamdulillah" ucap umakku


"Iya mak, Alhamdulillah" jawabku


Lalu aku bercerita panjang lebar bagaimana aku dua kali jadi MC dievent besar kemarin.


Umakku sangat bangga padaku. Dielus-elusnya pundakku dan aku tersenyum manis padanya.


"Ini untuk umak" ucapku sambil menyerahkan sepuluh lembar padanya


"Tidak usah, untuk apa nak?" tolak beliau


"Buat beli bakso" jawabku sambil tersenyum


"Sama gerobak-gerobaknya dong" jawab beliau juga sambil tertawa


Tak lama terdengar suara gradak gruduk


"Bundaaaaa" teriak ketiga anakku


Segera mereka berebutan memelukku.


Aku memeluk erat mereka bertiga. Si bungsu langsung aku pangku, dan di kakak tak mau kalah. Dia juga ikut duduk dipangkuanku. Jadilah mereka aku dudukkan di paha kanan kiriku.


"Kangen bunda" ucap si kakak sambil berkali-kali menciumiku.


Aku mengelus sayang kepalanya dan mencium pipinya.


"Oleh-oleh buat kalian sudah bunda siapkan, itu" tunjukku pada sekantong besar aneka kue dan buahan yang aku beli di Bengkulu sore kemarin


Si ayuk langsung berlari kearah kantong kresek besar itu dan kedua anak lelaki yang tadi dipangkuanku merosot ikut berlari juga


Mereka mulai rebutan membuka makanan dan aku hanya tersenyum senang melihat tingkah laku mereka.


"Punya umak juga sudah saya siapkan, nanti dibawa pulang ya mak" ucapku pada umakku sambil memberikan sekantong besar oleh-oleh


"Kamu kok repot-repot Nak, habis uang suami kamu kalau kamu belikan oleh-oleh sebanyak ini" jawab umakku


"Nggak papa mak, sekali-sekali" kataku


"Terima kasih ya mak karena telah menjaga anak-anak" lanjutku

__ADS_1


Umakku mengangguk dan bersiap untuk pulang karena sudah jam delapan lewat.


Aku mengantarkan ibuku sampai teras, setelah ibuku pulang aku menutup pintu dan kembali kedapur tempat dimana ketiga anakku masih anteng makan.


...****************...


Tiiinn....


Suara klakson mobil disiang bolong mengagetkanku yang sedang duduk santai di teras belakang dengan ketiga buah hatiku.


Naura berlari kedepan, dan tak lama dia sudah kembali lagi ketempatku


"Bunda, ada embah" ucapnya


Aku segera berdiri dan berjalan terburu-buru kedepan, membukakan pintu.


Belum sempat pintu terbuka lebar, ibu mertuaku langsung mendorong pintu yang membuatku kaget.


Dia langsung menerobos masuk dan tidak memperdulikan tanganku yang terulur hendak menyalaminya.


"Dimana Andi?" tanyanya ketus, dari nadanya aku tahu beliau marah


"Kamar depan" jawabku


Lalu beliau masuk kedalam, aku biarkan saja.


Bapak mertuaku masuk disusul Laras. Wajah Laras sama seperti ibu mertuaku, sinis.


Aku menyalami bapak mertuaku dan Laras, dengan wajah masam diterimanya uluran tanganku.


Raffa langsung berlari bergabung dengan ketiga anakku. Sedangkan aku kembali kedapur, membuatkan teh dan menyediakan kue tart khas Bengkulu.


Aku letakkan teh dan kue di meja depan, dan menyusul masuk kedalam kamar tempat mertua dan iparanku.


"Tehnya pak buk, sudah ada di depan" ucapku menawari mereka


"Kamu apakan anakku, hah?! ibu mertua langsung membentakku begitu aku selesai berkata


Aku bengong tidak faham arah omongannya


"Hebat kamu ya hingga anakku babak belur" lanjutnya


Aku masih diam, jujur aku tidak faham apa maksud ibu mertuaku


Mataku berubah marah demi mendengar ucapannya. Aku menoleh marah padanya. Dia melengos membuang wajahnya


Mertuaku kembali mengelus wajah suamiku sambil menangis tersedu. Kulihat suamiku pun memasang wajah memelas seakan-akan dia benar-benar kesakitan. Padahal waktu keluar dari rumah sakit, dia sudah bisa berjalan sendiri walau masih pelan, begitu pula ketika pulang kemarin, dia tampak sehat-sehat saja


Tapi kok sekarang dia kembali seperti semula sewaktu aku membesuknya ya??


Aku ikut duduk di sebelah suamiku mencoba memegang tangannya. Tapi tanganku segera ditepis oleh ibu mertuaku.


"Nggak usah sok baik" bentaknya


"Kamu kemana saat anakku babak belur begini hah? kamu pasti sedang bersenang-senangkan?


Aku diam. Aku tidak mau memperpanjang masalah, percuma aku menjelaskan toh ujung-ujungnya aku tetap akan dimaki


"Suami di rumah sakit, bukannya ditungguin malah ditinggal sendiri" kali ini bapak mertuaku yang berkata


"Aku tidak tahu buk kalau kak Andi di rumah sakit" jawabku pelan


"Halahhhh kok bisa nggak tahu, memang kamu dimana?" Laras yang menjawab


"Ada di hotel" jawabku


Mereka tersenyum sinis mendengar jawabanku


"Yang ini buk" suamiku menunjuk kearah punggungnya saat ibu mertuaku sibuk mengelus badannya


Segera ibu mertuaku membantu Andi untuk memiringkan badannya, tangannya mengelus belakang suamiku.


Andi meringis seperti menahan sakit sontak ibu mertuaku menghentikan gerakannya lalu dengan cepat dia mengangkat baju suamiku


"Astaghfirullah" pekiknya


Di pandangnya aku dengan mata menyala.


Laras ikut melongokan kepalanya melihat belakang Andi. Dia segera membekap mulutnya


"Kamu apakan adikku hah, lo**e?? teriaknya


Aku segera berdiri begitu dia menyebutku dengan sebutan lo**e.

__ADS_1


"Jaga mulut mbak, jangan bilang aku lo**e!" jawabku dengan mata yang juga sama marahnya


"Kalau bukan lo**e apa namanya hah??" bentaknya


Dadaku turun naik mendengar omongannya.


"Siapa yang memukuliku kemarin?" Andi bertanya pelan


Aku menoleh padanya dengan dada yang masih panas menahan marah


Aku mengernyitkan dahi, bingung.


"Tiga bodyguard yang kemarin ada di bandara dan satu orang lagi yang memakai topeng" jelasnya


Aku terduduk lemas di lantai. Jujur aku tidak tahu, jadi bagaimana aku mau menjawab


"Lihat, dia tidak bisa menjawabkan?" ucap Laras


"Mereka memukuliku dan mereka mengancamku" lanjut Andi


"Kakak bilang, kakak kemarin kecelakaan ditabrak mobil" jawabku bingung


"Jangan sok polos kamu!" ibu mertuaku membentak


Andi menggeleng.


"Aku dipukuli empat orang. Mereka berkata jika ini balasan untuk aku"


Aku diam dan semakin bingung. Pikiranku menerawang, apakah benar ini yang dikatakan Andi. Aku jadi teringat dengan Abang Ari. Dia pernah berkata "mulai sekarang suamimu tidak akan berani macam-macam sama kamu"


Apakah ketiga bodyguard itu suruhannya? Ah aku ingat, sewaktu aku kerumah sakit bodyguard itu datang berkat abang yang menelpon.


Jangan-jangan memang Andi babak belur karena ulah abang. Ah, tapi aku tidak yakin, abang orang yang baik kok. Tidak mungkin dia menyuruh bodyguard untuk menghajar Andi


"Kamu bayar berapa mereka, hah?" tanya Andi dingin


Aku menatap tak percaya padanya.


"Atau kamu bayar pakai tubuh kamu" Laras berkata sinis yang membuatku kembali berdiri dan berjalan kearahnya dengan marah.


"Jaga mulut mbak, atau aku lupa kalau mbak itu ipar aku" jawabku dengan gigi gemeletuk


"Kenapa? kamu tidak terima? dasar lo**e! kembali dia menghinaku


PLAAAKKKKK!!!!


Kutampar wajahnya dengan keras. Ku jambak rambutnya dan aku dorong hingga ketembok. Aku sudah kalap, ku bentur-benturkan kepalanya ketembok


Mertuaku langsung berdiri dan menarikku memisahkan dariku yang memukuli Laras


"Dasar orang dusun!" bentak ibu mertuaku setelah Laras bisa lepas dari amukanku


"Ibu selalu bilang aku orang dusun kan?, nah inilah kalau ibu mau melihat orang dusun. Selama ini aku diam, tapi kalian semakin ngelunjak. Dan kamu Andi, tega kamu ya menuduhku" tatapku tajam pada suamiku


"Kamu cepat ceraikan lo**e ini Ndi. Kami lihat sendirikan bagaimana dia memukuli mbak, dia tidak sungkan padahal ada ibu bapak disini" Laras berkata sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


Andi diam. Aku menatap tajam kearahnya


"Kamu memang pantas Ndi mendapatkan ini" jawabku


"Dasar kurang ajar!!" maki ibu mertuaku


"Jadi kamu anggap ini pantas untuk Andi, hah!" bentaknya lagi


"Iya, Andi pantas mendapatkan itu. Bahkan jauh lebih dari itu dia pantas mendapatkannya" teriakku


"Kalian lihat ini!! lihat!!! bentakku tak kalah marah


Aku menaikkan lengan bajuku, dan mengangkat rok ku


"Ini, ini luka biru lebam bekas Andi menyiksaku. Dan ini juga kalian lihat!!! bentakku


Tanpa malu aku membuka resleting gamisku.


Memamerkan merah biru lebam bekas cambukkannya.


"Jika kalian berfikir aku bersenang-senang sementara anak kalian sendiri di rumah sakit, kalian salah. Justru aku hampir mati dan pingsan sewaktu Andi meninggalkanku setelah dia puas menyiksaku"


"Apa aku mengadu pada keluargaku Andi, seperti yang kau lakukan sekarang? tidak!!!"


"Karena aku tidak ingin keluargaku tahu kalau aku juga babak belur karena kamu siksa. Karena jika keluargaku tahu, kamu bisa jadi mayat, mati kamu dicincang oleh kakakku!!" kataku dengan marah


Keluarga Andi diam. Mereka tidak berkata apapun saat mereka melihat jika aku juga sama babak belurnya seperti Andi akibat disiksa anak mereka.

__ADS_1


"Silahkan kalian disini, aku mau pergi. Dan jangan lupa telepon keluarga kalian untuk menyiapkan kuburan untuk kalian" ancamku dengan mata penuh emosi.


__ADS_2