
Setelah kelahiran anaknya Joni, otomatis mertuaku makin menyayangi Maria sebagai menantu kesayangannya. Mungkin manusiawi jika ada rasa iri di hatiku. Apalagi setiap hari raya idul fitri, setiap kami kesana, tidak ada perubahan sikap mertua dan iparanku terhadap ku dan anakku.
Berbeda jika yang datang Joni dan anak istrinya, maka mereka seakan begitu disanjung-sanjung, terlebih Nicholas, anak mereka, akan menjadi cucu emas buat kedua mertuaku.
Aku harus tahu diri, dari awal memang mereka tidak menyukaiku. Jadi seperti apapun mereka memperlakukan aku dan Naura, aku memendamnya. Seperti lebaran tahun 2002 kali ini, lagi-lagi rantang yang kubawa tak disentuh sama sekali dengan mertuaku. Dan akan berakhir di tong sampah atau jika tidak maka aku sendiri yang akan memakannya. Mungkin aku begitu bengal, ini bukanlah kali pertama, harusnya aku kapok, tapi tidak, aku masih membawakan rantang itu. Karena itu adalah adat dalam suku kami.
Sikap Mariapun tidak bersahabat padaku. Kentara sekali kebenciannya terhadapku. Bahkan ketika kami sampai dan turun dari motor dia langsung masuk ke dalam kamar dan tidak keluar-keluar sampai jam makan siang.
Joni dan suamiku bersikap dingin, rupanya masih ada perang dingin diantara mereka. Tidak ada tegur sapa diantara mereka. Bahkan untuk bermaaf-maafan karena ini momen lebaran pun tak ada.
Kedatanganku di rumah mertuaku hanya disambut gembira oleh ayuk iparku Ningsih dan Nina. Mereka berdualah yang sangat antusias jika kami datang. Dimas akan selalu meloncat-loncat jika Naura datang, dia begitu menyayangi Naura.
Jam makan siang, ibu mertuaku mengetuk kamar depan, yang biasanya kami tempati jika kami datang. Rupanya Maria dan Nicholas ada di dalam sana.
"Maria, ayo makan siang nak, ini sudah jam satu. ayok keluar nak, Nicho pasti sudah lapar juga. Apa tidak akan kamu dulangi?"
Tak lama pintu kamar terbuka, Maria keluar dengan menggendong Nicholas. Dia mengekor di belakang bu Mira menuju meja makan.
Aku tersenyum padanya begitu melihat dia berjalan menuju meja makan. Tapi wajahnya masam kearahku. Aku tidak mempermasalahkan itu. Mungkin dia belum terbiasa denganku, jadi mungkin karena itulah dia tidak ramah padaku.
Aku sengaja mengambilkan piring dan menyodorkan padanya. Tapi balasannya membuatku begitu melongo dan kaget.
"Ga usah sok baik, aku bisa ambil piring sendiri" ucapnya ketus menepis piring yang kusodorkan. Aku melongo diam.
"Cari muka itu te" sambut Laras
Ya Rabb, aku melirik tajam kearah Laras. Awas kamu ucapku dalam hati.
Maria terkekeh mengejek. ibu
mertuaku segera mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk lalu memberikan pada Maria.
"makan yang banyak, ibu sengaja masak ini untuk kamu. Begitu tahu kamu mau datang, ibu dan Laras langsung masak khusus buat kamu" ucapnya sumringah.
Aku diam saja. Dengan perlahan aku makan. Sungguh suasana ini begitu canggung. Lagi-lagi aku harus dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan buatku.
"Lauk yang kubawa tadi mana mbak, sekalian saja letakkan di meja ini, biar kita makan sama-sama" ucapku pada Laras
"Yang mana ya?" tanyanya.
"Rantang yang aku bawa tadi mbak" jawabku
"Ohhh rantang ijo itu. Ku kira makanan basi, sudah aku buang tu ke belakang" jawabnya santai
Nyesssss rasanya nyesak banget. Aku bela-belain beli daging sapi, aku buat rendang dengan bumbu yang banyak agar lezat ehh malah berakhir di tempat sampah.
Maria spontan terbahak. Aku menoleh kearahnya. Suamiku pun melakukan hal yang sama.
"Kasihan deh lo" ucapnya kearah ku.
"Kalo ga suka, mbok yo jangan dibuang toh yuk, Indah sudah susah masaknya kok malah dibuang" ucap Andi
"Salahnya, tahu kami ga suka dengan masakan istri kamu, masih saja bandel bawain masakan. Kalau mau itu, bawain ibuk uang, pasti diterima"
Aku tetap diam. Rasanya pengen banget nangis. Tapi harus aku tahan, apa kata mereka kalau melihat aku nangis. Mereka akan makin senang jika melihat aku nangis.
Segera aku sudahi makan siang itu, dan membawa piring kotorku kebelakang dan mencucinya.
"Hoi, piring-piring kotor kami kamu juga yang cuci" sentak Laras
Aku tak menggubrisnya, aku berlalu dari dapur dan membawa nasi untuk menyuapi Naura yang bermain di teras dengan Dimas.
...+++++++...
Setelah shalat Isya, aku berniat hendak tidur. Segera ku cari tas yang kami bawa dari rumah.
"Dimana yah tas kita" tanya ku pada Andi
"Di kamar belakang mungkin bun"
Aku segera beranjak hendak ke kamar belakang. Tapi langkahku terhenti karena itu adalah kamarnya mertuaku. Aku segera memutar badan dan kembali lagi ke ruang tengah tempat suamiku duduk dengan ayahnya.
"Tapi itu kamar bapak sama ibuk Yah, aku ga berani" jawabku.
Andi berdiri dan berjalan menuju kamar belakang. Tapi belum sampai di depan pintu, pintunya sudah terbuka. Muncul wajah ibu mertuaku.
"Mau apa kalian?" tanyanya
"Cari tas pakaian kami buk" jawab Andi
"Lah tadi habis mandi kalian letakkan dimana?"
__ADS_1
"Di dapur buk, dekat gudang. Karena aku ganti pakaiannya di gudang" jawabku
Andi terbelalak mendengar jawabanku.
"Kamu ganti pakaian di gudang? kenapa tidak di kamar? tanyanya heran
"Kamar mana? kamar tempat biasa kita ada Maria dan anaknya. Ga mungkinkan aku kesana" jawab ku
"Oh iya ibu lupa ngomong kalau kamar depan ada Maria, malam ini kalian tidur di ruang tamu saja ya. Kamar depan dipakai Joni dan anak istrinya." ucap mertuaku.
Lagi-lagi aku diam, karena itulah yang bisa aku lakukan.
"Kamar di rumah ini ada empat kan buk?, masa kami di ruang tamu?" Andi protes.
"Kamar depan Joni dan anak istrinya, dua kamar tengah di pakai Laras sama anak suaminya, satunya kan kamar Nina, kamar belakang kan kamarnya bapak ibuk" jawab mertuaku santai
Tampak sekali kekecewaan di wajah Andi atas perlakuan ibunya terhadap mereka.
"Dan tas kalian tidak ada di kamar ibuk, jangan-jangan di gudang" jawabnya
Tanpa menunggu lebih lama aku dan Andi langsung berjalan menuju gudang dan membuka pintunya. Benar saja, ternyata tas kami ada di sana. Segera aku bawa keluar tas pakaian kami dan mengambil selimut untuk segera tidur.
Andi mengambil tikar dan menggelarnya untukku. Yang lain sudah tidak terlihat, mungkin sudah tidur karena jam hampir menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Loh kok tidur di sini? ucap Nina yang tiba-tiba muncul
Aku hanya tersenyum ke arahnya sambil terus menepuk-nepuk pantat Naura agar dia terlelap.
"Ga papa" jawab ku
"Ayok mbak tidur sama saya saja di kamar, biar mas Andi saja yang tidur di sini, kasihan Naura. Pasti dia kedinginan tidur di lantai" ucapnya iba.
"Biarlah ga papa Nin. Toh Naura sudah nyenyak kok" jawabku
"Mas?" tolehnya pada Andi
Andi diam sebentar dan menoleh kearahku.
"Tidur sama Nina saja bun, kasihan Naura"
"Biarlah Yah, ga papa, Naura sudah nyenyak, nanti kalau pindah-pindah tempat malah dia terbangun dan rewel" alasanku
Aku tersenyum dan menggeleng kearahnya. Nina berjongkok disebelah Naura dan mencium pipinya.
"Mesakno tenan kowe nduk" ucapnya lalu bangkit dan berjalan ke belakang.
Sepeninggal Nina, aku memejamkan mataku.
...++++++++...
"Cucu kesayangan embah" ucap bapak mertuaku sambil menggendong dan menciumi Nicholas.
Aku sedang menyapu halaman saat melihat itu. Aku tersenyum melihat keakraban mertuaku dengan cucunya.
"Bun, Naura bangun" panggil Andi
Segera aku meletakkan sapu lidi dan masuk kedalam mengambil Naura. Segera ku gendong Naura dan berjalan kehalaman ketempat Bapak mertuaku. Naura hampir dua tahun.
Layaknya dengan anak kecil lain, Naura begitu antusias begitu melihat Nicholas.
"Dedek dedek" ucapnya
Aku mengarahkan tangannya untuk menyentuh tangan Nicholas. Tapi segera bapak mertuaku menepisnya dengan cara segera meminggirkan tubuh Nicholas agar tidak tersentuh Naura.
"Ndak boleh pegang-pegang" ucapnya. Aku tentu saja kaget mendapat perlakuan mertuaku.
Segera ku tarik lagi tangan Naura.
"Naura belum mandi, jadi ga boleh pegang adek Nicho" ujarku.
Bapak mertuaku cuek saja dan pergi meninggalkan kami. Aku menarik nafas dalam.
"Ya Rabb, sebenci itukah bapak sama kami?" ucapku dalam hati.
...++++++++...
Jam sepuluh pagi, setelah aku selesai memandikan Naura aku segera melakukan pekerjaan yang lain. Laras kulihat mengobrol dengan Maria di teras belakang. Tampak sekali keakraban mereka.
"Mereka tidur di ruang tamu mbak" ucapnya yang tertangkap oleh telingaku
Langsung mereka berdua terbahak-bahak.
__ADS_1
"Syukurin" sambung Laras sambil tak henti tertawa.
Aku tak menggubris mereka. Aku terus mencuci piring dan menyapu dapur. Maria dan Laras masih asyik mengobrol sementara aku keluar masuk dapur, depan, belakang, dan memutar pakaian. Setelah pakaian ku keringkan aku melewati mereka berdua karena hendak menjemur baju.
"Sepertinya kamu memang berbakat jadi babu" ucap Maria ketika dilihatnya aku membawa pakaian yang sangat banyak.
"Bekerja di rumah mertua bukanlah bekerja seperti di rumah majikan, sudah sewajarnya kita bekerja membereskan rumah, sama seperti di rumah kita sendiri" jawabku
"Tapi gaya kamu itu memang mirip pembantu" lanjutnya.
Laras terkekeh.
"Terus gaya kamu seperti apa?" tanyaku sambil berlalu
"Gaya ku ya gaya anak bos lah" ucapnya nyaring karena aku sudah menjauh dari mereka.
"Sudah te, ga usah diurusin perempuan norak itu" timpal Laras
Selesai menjemur pakaian aku segera masuk ke dalam rumah. Tapi langkahku terhenti ketika lagi-lagi Laras dan Maria mengejekku.
"Kesian banget sih yang tidur di lantai semalem" lagi Maria berkata ketus
Aku tersenyum menyeringai kearah mereka dan meninggalkan tempat itu.
"Kita pulang bun" ucap Andi ketika aku sampai di dapur
"Kok cepat, katanya dua hari?"
"Ga jadi"
Aku mengangkat bahu dan segera masuk kamar mandi dan menyiramkan air ketubuhku. Dirasa telah selesai dengan ritual mandi, aku segera keluar kamar mandi dan masuk ke dalam gudang dan berganti pakaian di sana.
Kulihat suamiku telah memanaskan motornya. Aku segera menyerahkan tas pakaian padanya. Naura bermain dengan Nina.
"Kita pamitan dulu dengan yuk Ningsih" ucap suamiku ketika aku meletakkan tas di sebelahnya
Aku mengangguk dan suamiku segera mengambil Naura pada Nina dan menggendongnya. Aku mengikuti langkah kakinya menuju rumah mbak Ningsih yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah mertuaku.
"Nanti ambilin pakaian kita yang kamu jemur, kita jemur saja begitu sampai di rumah"
"Iya" jawabku
Sesampai di rumah mbak Ningsih kami langsung berpamitan pada mereka. Mbak Ningsih dan aku saling memeluk dan cipika cipiki.
Dimas menangis begitu tahu kalau kami mau pulang.
"Kapan adek Naura kesini lagi?" tanyanya sambil sesenggukan.
"Pasti kami kesini lagi kak, ga lama pasti kesini lagi kok" jawabku sambil membelai kepalanya.
"Kapan tante?" tanyanya
"Ehmm, hari minggu" jawabku.
"janji?" tanyanya
Aku mengangguk. Lalu Dimas menciumi pipi Naura. Melihat kasih sayang Dimas pada Naura aku begitu terharu. Anak sekecil Dimas, yang baru berumur enam tahun saja sudah mengerti dengan kasih sayang dan hubungan kekeluargaan. Lalu kenapa mertuaku begitu bencinya pada Naura?
Setelah selesai berpamitan dengan mbak Ningsih dan mas Indra kami lalu kembali kerumah mertuaku dan berpamitan dengan mereka semua.
Kucium punggung tangan mertuaku dan memeluk hangat Nina. Laras, Joni dan Maria tidak terlihat batang hidungnya. Mungkin mereka masih di belakang.
"Sampaikan salam mbak sama mbak Laras dan Maria ya Nin, mbak pamit" ucapku
Nina menganggukkan kepala dan mencium pipi Naura.
"Salim sama Mbah sayang" ucapku pada Naura ketika kami mau keluar dari rumah.
Naura menjulurkan tangannya dan disambut acuh dengan kedua mertuaku.
"Dadah mbah" Naura melambaikan tangannya begitu motor berjalan pelan meninggalkan halaman.
Nina membalas lambaian tangan kami. Tapi tidak dengan kedua mertuaku. Aku tersenyum kecut
"Yang sabar ya bun" ucap Andi
"Hemm" jawabku
Motor kian melaju jauh. Perjalanan panjang dan sangat melelahkan buat kami. Naura sudah tertidur di motor dan aku menyelimutinya dengan selimut yang sudah aku siapkan agar dia tidak kedinginan di jalan.
Sepanjang jalan aku banyak melamun, mengingat semua perlakuan mertua dan ipar-iparanku. Ahh aku menghembuskan nafas kasar. Aku yakin pasti akan indah pada saatnya. Tidak mungkin mereka akan memperlakukan aku seperti ini terus
__ADS_1