Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Bertemunya Abang Dengan Andi


__ADS_3

Pak Abraham telah memanaskan mobil Adam, sementara Naura yang telah sampai dari rumah neneknya, menghentikan mobil putih itu di sebelah mobil Adam


Aku yang masih dikamar, yang masih mematut diri ditunggui abang yang sedang membuka tablet, memeriksa pekerjaan yang ditinggalkannya.


Dari pantulan cermin, dapat kulihat wajah seriusnya.


Serkan dan Defne bersama Adam dan Naura. Rambut pirang Serkan di tata rapih oleh Adam, begitu juga dengan Defne.


Naura menata rapih rambut coklat kepirangan Defne, mengucirnya dan memakaikan jepit


"You are so beautiful, as like as aunty Canan"


Defne terkekeh


"Aunty Canan really beautiful, but I'm more than her"


Lalu kami berdua tertawa


...****************...


Naura mengemudikan mobil paling depan, karena dia yang tahu jalannya, dia bersama ketiga adiknya dan pak Tomo yang duduk di sebelahnya.


Sedangkan aku bersama abang di mobil yang dikemudikan pak Abraham, dengan pak Binsar yang duduk di sebelah Pak Abraham


Sepanjang jalan abang terus menggenggam tanganku, ah manisnya perlakuannya. Apakah dia masih cemburu? batinku


Setelah dua jam kami mulai memasuki wilayah mantan mertuaku. Tenda besar telah terlihat, suara musik pun terdengar menghentak.


Kulihat jam di tanganku menunjukkan angka lewat dari jam sepuluh.


Mobil yang dikemudikan Naura masuk ke area parkir yang memang disediakan pihak panitia. Pak Abraham yang dibelakang mengikuti.


Setelah mobil berhenti, kami semua turun. Abang kembali menggenggam tanganku dan kami mulai berjalan masuk.


Ketiga bodyguard kami berjalan mengiring di belakang dengan pandangan tanpa ekspresi


Saat kami masuk kedalam tenda, semua tamu menoleh kearah kami.


Mereka merasa heran dengan kedatangan tamu yang baru datang, terlebih ketika mereka lihat ada tiga lelaki besar yang mengawal mereka


Aku tak hentinya memasang senyum kearah para ibu-ibu yang melihat terus kearah kami.


Bahkan aku lihat ada sebagian dari mereka yang berbisik-bisik.


Para among tamu mulai mengarahkan kami untuk duduk di barisan depan. Di tengah tenda aku berhenti, menatap keatas panggung dimana kulihat mbak Ningsih turun dengan berlinang air mata.


Dimas pun ikut turun, padahal saat itu dia sedang duduk di pelaminan.


Aku segera mendekap mbak Ningsih yang menyongsong kedatanganku. Ozkan tetap berdiri di sebelah istrinya sambil menatap kearah Indah yang sedang berpelukan sambil berurai air mata


Tak hentinya mbak Ningsih menciumi wajahku, dan berulang-ulang mendekap ku. Musik dari orgen tunggal yang tadi mengalun kencang berubah menjadi lagu shalawatan.


Seisi tenda menatap kearah kami, Dimas yang turun segera mencium punggung tangan abang lalu memeluk Naura.


Di sebelah pelaminan, mata pak Hermawan dan bu Mira memandang tak suka pada Ningsih dan Dimas yang begitu antusias menyambut kedatangan Indah dan keluarganya


Bahkan Laras yang duduk di bagian prasmanan memasang wajah murka.


Aku mencium punggung tangan mas Indra yang menyusul turun, lalu mbak Ningsih dan mas Indra menyalami abang


"Kenalkan mbak, ini suamiku, Ozkan Yilmaz, dan ini anak kembar kami, Serkan dan Defne"


Twins mengulurkan tangan mereka yang disambut mbak Ningsih dengan pelukan hangat


"Kalian naiklah, harusnya jangan turun. Aku jadi nggak enak sama yang lain"


Mbak Ningsih tersenyum sambil menghapus air matanya.


Sebelum naik mbak Ningsih berbisik di telingaku dan aku jawab dengan anggukan kepala


Abang dan Adam beserta tiga bodyguard kami duduk di bagian depan, bersebelahan dengan perangkat desa.


Aku dan anak-anak kami duduk di bagian perempuan. Aku fokus menatap ke depan ke arah Dimas dan mbak Ningsih yang masih terus melihat ke arahku


Pandanganku tertumbuk pada bekas mertuaku yang melihat ke arahku. Lalu aku mengalihkan pandanganku dan fokus karena acara kembali dilanjutkan


Saat acara sambutan tuan rumah, mbak Ningsih berbisik pada orang tersebut, sehingga ketika beliau memberikan sambutan beliau mengucapkan selamat datang untukku dan keluarga besar ku yang kami jawab dengan anggukan takzim


Di tempat lain, kasak-kusuk tentang kehadiran Indah dan keluarganya membuat Andi yang sedang sibuk di belakang mengintip kedalam tenda

__ADS_1


Dadanya serasa mendidih saat melihat Ozkan yang duduk santai sambil mengobrol dengan perangkat desa


Tapi kemudian jantungnya langsung menciut demi melihat ketiga bodyguard yang tatapannya dingin lurus ke depan


"Jadi Indah dan suaminya membawa bodyguard mereka kesini" desisnya


Defne yang duduk persis di sebelahku sibuk bertanya karena dia heran, begitupun dengan Serkan, dengan sabar Adam menjelaskan padanya


Saat acara selesai, dan sesi foto keluarga, seorang mc memintaku dan keluargaku naik.


Kembali dengan sigap ketiga bodyguard kami berdiri dan mengawal kami sampai naik ke atas panggung


Kembali pandangan seisi tenda terpaku pada Indah dan keluarganya. Aku sedikitpun tidak menyapa mantan mertuaku, sedangkan Naura menyalami mereka.


Setelah fotografer menyusun formasi yang bagus untuk diambil gambar selesai, ketiga bodyguard kami mundur.


Kembali Naura dan Adam memeluk hangat Dimas. Pada istrinya Dimas, Naurapun melakukan hal yang sama, sedangkan Adam menangkupkan tangan kearahnya


Saat kami hendak turun, kulihat Andi naik. Dia segera menghentikan langkah Naura dan Adam


"Foto sama ayah dulu, nak"


Naura menoleh pada Adam, Adam tak bereaksi. Andi memandang pada Indah.


Melihat itu Ozkan yang berdiri di belakang segera maju dan menatap tajam kearah Andi


"Kamu minggir, bos kami mau turun!" ucap pak Tomo dingin


Andi langsung menelan ludahnya, segera berkelebat di ingatannya bagaimana dulu tiga orang ini membabi buta menyiksanya


Dengan cuek aku segera menggenggam tangan abang, membawanya menuruni tangga panggung


Naura menganggukkan kepalanya pada Andi, lalu segera Andi berjalan dengan Naura, berdiri di sebelah pengantin, foto bersama


Mbak Ningsih dan mas Indra secara langsung membawa kami kemeja prasmanan, wajah Laras tampak masam ketika memberikan piring padaku, aku tersenyum dalam hati melihatnya cemberut


"Ini sayang piringnya" ucapku pada abang


"Ini suami kamu ya Ndah?"


Aku menoleh kearah seorang ibu yang berdiri di sebelah Laras


Aku menganggukkan kepalaku


Aku diam, berusaha mengingat


"Ayuk loh yuk Esi, masa lupa"


Aku segera menoleh pada Adam yang tepat berdiri di belakangku


"Oh mbak Esi, iya mbak saya ingat. Oh iya mbak, mana mbak-mbak yang lain, ini saya mau memperkenalkan, ini Adam anak saya yang dulu kalian hina"


"Mbak masih ingat kan?, saya ingat loh bagaimana dulu kalian mengatai anak saya" lanjutku sambil tersenyum


"Dan ini suami saya, orang Turkiye, dan ini Naura gadis tertinggi saya, dan ini anak kembar kami" sengaja aku mengatakan itu dengan penuh penekanan agar Laras makin panas


Seketika wajah perempuan itu dan wajah Laras berubah tegang


Adam mengelus bahuku. Lalu kami segera meninggalkan meja prasmanan diikuti mata iri dari Laras dan juga mata takut dari Esi


Acara terus berlanjut, abang duduk pindah kedekatku, ketiga bodyguard kami duduk tepat di belakang kami


Dapat kulihat jika Andi sejak tadi mencuri-curi pandang kearah kami, tapi aku sedikit pun tak memperdulikannya


Segerombolan ibu-ibu muda dan bahkan ada yang seusiaku mendatangi meja kami


"Boleh minta selfi nya Ndah?"


Aku tersenyum dan mengangguk pada mereka, mulailah mereka sibuk berswafoto, melihat keadaan seperti itu ketiga bodyguard kami segera berdiri sigap.


Kembali abang paling laris. Aku tersenyum saja melihat abang dikerubungi ibu-ibu itu


"Kapan neh iso foto-foto karo bule" ucap mereka yang makin membuatku terkekeh


Aku tak menyadari jika Defne yang duduk di sebelahku memasang wajah murka saat melihat daddynya dikerubungi wanita


"Who are they Mama, why they are take the pictures with Daddy, I dislike"


Aku segera menoleh dan menyadari jika dia marah. Wajahnya ditekuk, tangannya dilipat di dada.

__ADS_1


"It's okay sweety, today Daddy be a artist" jawabku mencoba membujuknya


"But, I dislike Mama"


Aku mengelus-elus pundaknya dan menempelkan wajahku di kepalanya. Naura, Adam dan Serkan terkekeh


"Abi, tell of them to stop taking pictures with Daddy" ucapnya dengan mata berkaca-kaca ke arah Adam


Adam segera berdiri


"Maaf ya ibu-ibu semua, foto-fotonya selesai ya, adik saya nangis"


Kompak mereka menoleh kearah Defne yang memandang tajam kearah mereka


Abang nyengir melihat ke arahku dan Defne.


"Makasih ya Ndah" ucap mereka lalu bergegas pergi karena takut Defne menangis


Abang segera berjalan kearah Defne dan berniat menggendongnya. Tapi tangan abang ditepis Defne dan wajahnya kian ditekuk


Tentu saja hal ini membuat kami menahan tawa. Abang memandang nelangsa ke arahku yang ku jawab dengan mengangkat bahu


...****************...


Sementara acara terus berlangsung hingga sore, selesai makan siang, mbak Ningsih mengajak kami masuk ke rumahnya


Di dalam telah ada mantan mertuaku, Laras dan Andi yang duduk di ruang tamu


Kembali wajah Andi berubah tegang saat melihat abang dan ketiga bodyguardnya.


Naura yang kukira akan duduk bergabung dengan mereka ternyata memilih meninggalkan mereka. Padahal tadi Andi telah memasang wajah manis padanya


"Tidakkah kau ingin memperkenalkan keluargamu pada kami Indah?"


Aku menghentikan langkahku menoleh kearah bu Mira. Aku tersenyum tipis


"Ini papa kami, namanya Ozkan Yilmaz, crazy rich asal Turkiye, dan ini adik kembar kami, Serkan Yilmaz dan Defne Yilmaz, dan ini tiga bodyguard papa"


"Ketiga bapak bodyguard ini yang menjaga aku, ayuk dan kakak saat kami di Jawa dan bapak bodyguard ini pulalah yang menjaga kami saat kami ke Jeddah"


Mereka semua terdiam mendengar penjelasan Adam


"Ada yang mau ditanyakan lagi?"


Mereka bergeming, aku makin sinis menatap mereka


"Sepertinya kita pernah bertemu" lirih Andi


Abang tersenyum tipis


"Iya, dulu di Pekanbaru" jawab pak Tomo yang membuat Andi langsung terdiam


"Kalau kita sudah cukup sering ya, bukan hanya di Pekanbaru, bahkan saat di persidangan, dan juga saat di Pondok Hijau" sambung pak Abraham


Wajah Andi kian memucat mendengar jawaban pak Abraham. Dia teringat bagaimana dia babak belur dan dilarikan oleh Afdal ke rumah sakit saat dia habis dipukuli pak Abraham di Pondok Hijau


"Sudahlah, kalian jangan bikin ulah. Indah dan keluarganya ini adalah keluargaku, kalau kalian mau buat onar, mending pulang saja!" geram mbak Ningsih


Tanpa memperdulikan mereka yang terus menatap pada kami, mbak Ningsih mengajak kami masuk


"Ula dan adik-adiknya kalau mau istirahat di kamar adek Hanum saja, ya?"


Naura mengangguk. Sementara kami segera duduk di atas karpet. Kembali abang menggenggam erat tanganku dan meletakkan tanganku di atas pahanya


Aku tersenyum penuh cinta padanya. Hati Andi yang melihat itu menjadi sakit, apalagi ketika dilihatnya jika kedua anak kandungnya jauh lebih dekat dengan Ozkan ketimbang dirinya, terlebih lagi Adam


"Mbak, mana Nina?"


Wajah bu Mira langsung berubah tegang ketika telinganya mendengar Indah menyebut nama Nina


"Kamu serius mau bertemu Nina?"


Aku menatap heran kearah mbak Ningsih mendengar pertanyaannya


"Kok mbak nanyanya gitu?, tentulah mbak aku mau bertemu Nina. Lima belas tahun aku tidak bertemu dengannya. Aku sangat rindu padanya"


Laras dan bu Mira saling pandang, dan segera mereka berdiri ketika mendengar Ningsih berjalan


"Stop mbak, jangan mbak tunjukkan Nina pada dia!"

__ADS_1


Wajah Ozkan langsung merah begitu melihat Laras menunjuk kearah istrinya.


Aku segera menggenggam erat tangan suamiku, aku tahu saat ini dia sedang marah.


__ADS_2