Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Buah Bibir Orang Sekampung


__ADS_3

Gelas tepat mengenai kening Adam, airnya yang masih hangat berceceran tumpah bahkan juga ada yang tumpah di baju Adam


Naura refleks memegang kening Adam yang berdarah, sedangkan Adam hanya tersenyum kearah mbahnya yang menatap benci kearahnya


"Bapak!!!" pekik Ningsih dan Nina


Naura langsung menangis sambil mengelap darah di kening adiknya.


Raffa dan Dimas spontan berlari kearah Adam dan langsung ikut mengelap darah yang terus mengalir


BRAKKKKK!!!!


Spontan yang ada di dalam langsung menoleh kearah pintu yang diterjang


Naura dan Adam langsung tercekat demi melihat uwak mereka, kak Andri yang telah masuk dan langsung melayangkan tinju besarnya ke wajah pak Hermawan


"Bukan ponakan saya lawan kamu, saya lawan kamu!!" ucap kak Andri tanpa henti melayang tinju ke kepala pak Hermawan


Joni dan mas Indra kelabakan menarik tangan kak Andri yang kalap


Hingga tanpa sadar tinju juga melayang kearah wajah mereka berdua. Joni langsung memegangi wajahnya yang terasa sakit akibat terkena tinjuan kak Andri, sedangkan mas Indra langsung terhuyung, dan mengelus-elus wajahnya


Raffa segera berlari keluar dan membawa motor dengan ngebut. Naura dan Adam ikut berteriak menghentikan uwaknya yang terus mengamuk


"Sudah wak, sudah!!!"


Nina sudah tak tahu lagi apa yang harus diperbuat, dia dan mbak Ningsih hanya bisa tersedu-sedu


"Hentikan keributan di sini!!!"


Kak Andri langsung menoleh kearah seorang pria paruh baya yang diketahui adalah kades.


Kak Andri menghempaskan kerah baju pak Hermawan, dan beliau langsung ambruk di lantai


Kak Andri menoleh dengan mata berkilat kearah Joni yang dipegangi Maria


"Ada apa ini?, astaghfirullah...!


Kak Andri mendengus dan segera menarik kepala Adam, melihat lukanya


"Pak Indra, ada apa ini?"


Mas Indra diam, begitupun yang lain


"Naura, bilang sama pak kades apa yang sebenarnya terjadi disini!!" bentak kak Andri


Naura yang takut mendengar bentakan uwaknya langsung menjawab


"Mbah melempar gelas ke kening adek"


"Masalahnya apa?"


"Nggak tahu, tahu-tahu mbah marah"


"Apa masalahnya pak Hermawan, dia cucu anda"


"Bukan cucuku!"


Kak Andri kembali bergerak dan langsung tangannya ditarik Adam


"Dia memang bukan cucumu, karena ketiga keponakan saya tidak punya mbah macam kamu. Kamu itu binatang!!!"


Wajah pak kades terkesiap mendengar ucapan kasar kak Andri


"Kalau tidak ada masalah, tidak mungkin sampai ribut seperti ini" sambung pak kades


"Semua ini bermula dari uang Naura yang terpakai pak kades" jawab mbak Ningsih

__ADS_1


Tanpa disangka ternyata ada beberapa warga yang masuk, mereka heran karena tadi mendengar suara keributan di rumah pak Hermawan


"Ono opo toh jane, ribut terus" komentar mereka


Nina dan mbak Ningsih menunduk malu.


"Selesaikan secara kekeluargaan jangan pakai kekerasan"


"Saya tidak akan melakukan kekerasan jika dia tidak memulai pak kades" geram kak Andri


"Lihat ini kening keponakan saya, bocor akibat dilemparnya dengan gelas"


Mulailah pak kades dan warga beristighfar


"Apa sih pak Hermawan yang membuat anda tega sekali pada cucu anda, terserah walau anda mengatakan dia bukan cucu anda, karena sampai akhirat pun dia tetap cucu anda"


Wajah pak Hermawan yang babak belur, cemberut. Dia makin tak suka karena pak kades membela Adam


"Tadi Ningsih bilang masalah uang, kenapa dengan uang itu?"


Mbak Ningsih menatap pada seluruh keluarganya seakan meminta pendapat


"Kenapa Ning?" tanya pak kades karena mbak Ningsih hanya diam


"Biaya ibuk di Palembang kemarin semuanya memakai uang Naura, dan kami telah sepakat akan mengganti uang tersebut"


"Ehh kok ini malah bapak nggak suka, karena rencananya kami akan menjual rumah ini untuk mengganti uang tersebut"


"Bapak mengatakan jika Naura adalah cucunya, jadi wajar jika Naura membantu"


"Membantu palak anda peyang!!!, enak aja, nggak bisa!!! emangnya itu uang jatuh dari langit, itu uang adik saya yang diberikannya pada anak-anaknya, bukan untuk kalian!!!" kak Andri membentak


Warga langsung saling berbisik


"Adik saya marah besar pada Naura dan Adam, saking marahnya segala bentuk uang di stopnya, mereka tidak dapat jatah lagi"


"Terus kalian malah enak-enakan membebankan semuanya pada ponakan saya?, kemana otak kalian?"


"Anda tahu, sehari saja anda tidak mengasuh dan membesarkannya, jadi anda tidak punya hak untuk menyakitinya"


"Saya tidak mau tahu, yang saya tahu kembalikan seluruh uang ponakan saya bagaimanapun caranya, saya kasih waktu satu minggu!"


Seluruh mata keluarga pak Hermawan terbelalak


"Seminggu kak?" cekat Nina


"Rumah ini telah kami tawarkan sejak sebulan lebih kak, itupun tidak ada yang menawar sampai hari ini"


"Bukan urusan saya!!!"


Kembali warga saling bisik dan saling sikut


"Sebenarnya kalau saya boleh tahu, berapa uang Naura yang terpakai?"


"205 juta pak kades"


"Astaghfirullah!!!" ucap pak kades dan warga sambil geleng-geleng kepala


"Nah itu pak kades dan bapak ibu sekalian kalau kalian mau tahu, uang keponakan saya dipakai, terus keponakan saya disakiti, kira-kira kalau posisi saya ada posisi bapak ibu sekalian bakal emosi tidak?" tanya kak Andri


"Emosi pak, malah kalau saya langsung tak pateni" geram seorang warga


Kak Andri tersenyum sinis kearah pak Hermawan mendengar jawaban seorang bapak-bapak paruh baya


"Naura!! telpon bundamu sekarang, bilang sama bundamu, uwak ada di trans sekarang"


Naura menggeleng

__ADS_1


"Kenapa nggak mau?"


"Nomor aku sama adek diblokir sama bunda"


Kak Andri menarik nafas panjang


"Nah itu kalau kalian mau dengar, saking marahnya adik saya sama kedua anaknya, nomor anaknya sampai dia blokir"


"Jelas marahlah adik saya, dia yang banting tulang cari uang, ehhh kok malah enak-enakan uang hasil keringat dia dipakai untuk orang yang membencinya"


Seluruh keluarga pak Hermawan menunduk.


"Naura, Adam, ayo kita pulang, urusan ini biar uwak yang tangani. Oh iya Ningsih, saya minta surat rumah dan surat penting lainnya sebagai jaminan, agar bila adik saya bertanya, saya bisa menjawabnya"


Dengan cepat Nina kembali masuk kedalam dan keluar dengan membawa sebuah map tua


"Ini kak"


Kak Andri membuka dan membacanya sebentar


"Nah pak kades, anda dan seluruh bapak ibu yang ada disini sebagai saksinya, jika rumah ini sekarang telah tergadai pada adik saya, dan urusan surat menyuratnya tolong diurus pak kades, bila sudah selesai saya yang akan mengambilnya langsung"


Pak Hermawan tak bersuara sedikitpun ketika surat rumah dan tanah miliknya dipegang kak Andri


"Jika dalam satu minggu, uang adik saya belum kalian kembalikan, bukan hanya rumah ini yang akan saya ambil, tapi seluruh barang yang ada di rumah ini dan mobil rongsokan anda juga saya sita!!"


Pak Hermawan tak berani mengangkat kepalanya, Joni pun demikian, dia tak berani bersuara sejak tadi


"Maaf pak, saya yakin dalam satu minggu pak Hermawan belum akan sanggup mencari uang sebanyak itu, berilah waktu lagi" mohon pak kades


"Maaf pak kades, bukan sekali ini kami bertoleransi pada keluarga ini. Dari dulu, hingga sampai bosan kami toleransi sama mereka"


"Dulu kami masih sabar saat adik saya babak belur dipukuli Andi, kami masih sabar saat dia mengusir dan menceraikan adik saya, masih sabar lagi saat keluarga ini mengatai adik saya yang bukan-bukan"


"Jadi saya mohon maaf pak Kades bukan saya tidak menghargai saran anda, tapi saya sudah bosan dan tak mau berurusan dengan keluarga ini lagi"


"Dan iya, satu lagi. Itu Andi yang koma di rumah sakit, mulai sekarang kalian yang ngurusin nya ya, keponakan saya akan fokus dikerja mereka masing-masing. Dan yang paling penting, carilah oleh kalian biaya untuk Andi, karena atm dan buku tabungan keponakan saya telah berada di tangan saya"


"Jadi walaupun nanti kalian nangis darah memohon keponakan saya untuk membiayai Andi, tidak bisa"


"Karena kembali harus saya tekankan, seluruh uang keponakan saya adalah pemberian bunda mereka, dan adik saya sangat membenci Andi"


"Jadi mulai berpikirlah kalian sekarang, carilah dana untuk membiayai Andi"


"Ayo yuk, dek, kita pulang. Dan jangan pernah injakkan kaki kalian lagi di rumah ini"


Naura dan Adam langsung mengikuti langkah kak Andri yang lebih dulu berdiri


"Kak...?" kejar Nina ketika kak Andri telah sampai teras


"Nasib saya bagaimana kak?, apa saya dipecat dari klinik?" tanya Nina pelan sambil menatap takut pada kak Andri


"Yang menunjuk kamu kerja di klinik adalah Indah, jadi keputusan kamu ada di tangan Indah, tapi saya yakin Indah akan terus mempekerjakan kamu, karena kamu baik dan Indah sayang sama kamu"


Selesai berbicara begitu kak Andri segera naik ke motornya, menyusul Naura dan Adam berboncengan


Dengan cepat kabar bahwa pak Hermawan melempar Adam dengan gelas menyebar di seluruh desa


Dalam sehari telah menjadi topik hangat obrolan warga, tak tua tak muda, tidak laki-laki tidak perempuan, semua mengghibah keluarga besar itu


"Dasar keluarga laknat tidak tahu terima kasih, jadi wajar jika Indah dan keluarga besarnya benci pada mereka"


"Dasar mbah-mbah tak tahu diuntung, sudah dibantu bukannya terima kasih, malah maksa minta diikhlaskan, tidak ingat apa dia dengan dosanya pada ketiga anak Indah"


"Jangan saja nanti Andi mati anak-anaknya tidak ada yang boleh datang sama Indah, mau ngomong apa mereka"


"Jika aku jadi Indah, huhhh aku akan melakukan yang lebih, aku akan memaki pak Hermawan bukan malah memarahi anak-anaknya"

__ADS_1


"Saya yakin ini jika Laras dan bu Mira habis digebukin malaikat di dalam kubur, habisnya sepanjang hidup mereka nggak pernah jadi orang baik"


"Iya, mungkin sekarang mereka berdua sudah dilempar ke neraka"


__ADS_2