Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Undangan Dari Kantor Pusat


__ADS_3

Sejak kejadian aku ke kantor Andi waktu itu, hubungan kami makin dingin. Kita akan bersikap manis dan pura-pura tidak terjadi apa-apa ketika di depan anak-anak, tapi akan berubah seperti dua kubu yang berseberangan ketika sudah berdua.


Hubungan kami makin lama makin hambar, dan rasa cintaku pada Andi kian hari kian berkurang. Ditambah lagi dengan segala laporan dari Rian yang membuat hatiku makin terluka dan semakin melemahkan cintaku padanya.


"Ada undangan dari kantor pusat mbak" siang ini sms Andi membuyarkan lamunanku ketika aku sedang termangu di kantor. Celotehan dan gurauan teman sekantor ku tanggapi sekenanya saja.


"Undangan apa Yan?" balasku


"Ramah tamah akhir tahun bersama ceo SAL** GROUP" balas Rian


"Undangannya untuk siapa?"


"Kepala Cabang dan Istri, disini tertulis "Tuan Andi Wijaya dan Ny. Indah Yuliani"


Berarti itu undangan buatku dan Andi gumam ku. Tumben aku mendapatkan undangan dari perusahan besar nomor satu di Indonesia ini batinku. Mimpi apa aku mendapatkan undangan ini.


"Kapan itu Yan?" balasku setelah lama berfikir


"Akhir tahun mbak, tanggal 30 Desember sampai 01 Januari 2007"


Berarti itu dua pekan lagi batinku.


"Makasih Yan buat infonya. Oh iya, posisi kamu aman kan di kantor?" balasku menanyakan keadaannya. Aku khawatir Rian tertekan oleh Andi karena waktu aku kesana aku mengobrol dengan Rian, bisa dipastikan jika Andi menaruh curiga pada Rian.


"Aman mbak, Insha Alloh"


Aku lega mengetahui jika Rian baik-baik saja. Aku tidak ingin gara-gara membantuku posisi Rian jadi tak aman. Bagaimanapun Rian telah membantuku, aku tak ingin hal yang tak diinginkan terjadi padanya.


"Mbak Indah jam nya habis ya?" suara kepala sekolah mengagetkan ku.


"Ehm eh, iya pak" jawabku gugup


"Bisa keruangan saya sebentar? ada yang mau saya bicarakan" sambung pak kepsek


"Iya pak" jawabku makin gugup.


Waduh mati aku, mengapa aku dipanggil ya? batinku.


Aku memberi kode bertanya dengan mengerutkan dahi dan mengangkat kepalaku pada buk Ani dan buk Murni. Tapi mereka berdua kompak mengangkat bahu.


Seumur-umur aku mengabdi di sini, baru kali ini aku dipanggil bos, dan itu membuatku takut sekaligus bertanya-tanya ada apa gerangan sampai aku dipanggil. Perasaan aku tidak pernah absen walau masalah ku setinggi gunung yang membuatku lelah.


Karena tidak ingin membuat bapak kepala sekolah menunggu lama, maka dengan agak takut-takut aku melangkahkan kakiku menuju ruangannya.


Begitu sampai di depan pintu ruangan kepala sekolah, aku mengetuk pintu dan mengucap salam.


"Masuk mbak" jawab suara bapak kepala sekolah.


Karena sudah ada jawaban maka aku melangkah masuk dengan pelan dan ragu-ragu aku duduk di kursi tepat di hadapan beliau.


"Maaf pak?" ucapku pelan


"Iya mbak?"


"Kalau boleh saya tahu, kenapa ya pak saya dipanggil?" tanyaku takut-takut


Bapak kepala sekolah tidak langsung menjawab, beliau diam sesaat dan menatapku. Ditatap demikian aku makin deg-degan dan takut. Dudukku makin gelisah.


"Harusnya bapak yang bertanya sama kamu mbak" akhirnya pak Joko, bos ku bersuara


Aku mengangkat kepalaku dan menatap beliau dengan bingung.

__ADS_1


"Mbak ada masalah apa?" beliau langsung ke pokok permasalahan kenapa beliau memanggilku.


Sekarang giliran ku yang diam, aku kembali menunduk bingung mau menjawab apa.


"Mbak?"


"Eh, iya pak" jawabku gugup


"Bapak lihat sejak habis lebaran kemarin mbak jadi banyak diam, jadi banyak melamun, ada masalah apa? maaf kalau bapak lancang"


"Tidak ada apa-apa pak, saya minta maaf jika saya ada salah dalam mengajar, jika selama dua bulan ini performa saya mengajar menurun" jawabku pelan


"Are you sure you okay?"


"Insha Alloh I am okay sir" jawabku pasti.


"Jika ada apa-apa, jangan sungkan buat berbagi dengan teman, jangan dipendam sendiri, memang teman belum tentu bisa menyelesaikan, tapi setidaknya setelah berbagi, beban sedikit hilang" Pak Joko menasihati ku


Aku mengangguk takzim.


"Makasih banyak pak buat nasihat dan suportnya" ucapku


Setelah dirasa cukup aku berpamitan pada beliau lalu keluar dari ruangannya dan kembali bergabung dengan bu Murni dan bu Ani yang sedang menyiapkan lembar soal buat ujian semesteran minggu depan.


...****************...


Seperti dulu, Andi kembali kekebiasaan lamanya. Dia pulang malam terus sekarang. Dan aku tak mempedulikan hal itu lagi. Aku tidak bertanya dia kemana dengan siapa berbuat apa, sekarang semuanya terserah. Karena aku sudah tahu jika dia selalu dengan pacar gelapnya.


Dan seperti malam ini, jam sebelas malam dia baru pulang kerumah. Aku selalu terjaga tiap kali dia pulang, dan aku pura-pura tidur biar dia mengira jika aku sudah terlelap.


Malam ini adalah tepat dua bulan setelah kami pulang dari mudik lebaran kemarin. Dan selama ini pula kami perang dingin dan tentu saja aku tidak menjalankan kewajiban ku sebagai istrinya.


Andi tentu saja biasa-biasa saja tidak aku layani, toh diluar dia mendapatkan kehangatan dari selingkuhannya.


Walau mataku terpejam tapi aku bisa mendengar kegiatan yang dilakukan suamiku. Mulai dari dia membuka lemari, masuk ke kamar mandi, mandi, berganti pakaian semuanya aku dengar. Bahkan ketika dia merebahkan badannya tepat di belakangku pun aku tahu.


"Bun?" panggilnya


Aku diam dan makin merapatkan mataku. Jangan sampai dia tahu jika aku terjaga.


"Bun?" panggilnya lagi


Andi mulai merapatkan badannya ke tubuhku dan memelukku. Ingin sekali rasanya aku membuang tangan yang melingkar di perutku itu. Tapi itu ku urungkan, jika itu kulakukan, maka dia tahu jika aku tidak tidur.


Andi mulai menciumi tengkukku, dan aku mulai merasakan gelagat tak menyenangkan. Dengan cepat aku berbalik dan mendorong tubuhnya.


"Apa apaan kamu?" ucapku kasar


Andi diam dan duduk. Ditatapnya mataku dengan tajam, akupun balik menatap tajam juga padanya.


"Jalankan tugasmu!"


Aku tersenyum mengejek kearahnya.


"Tugas? tugas yang mana?"


"Layani aku sebagai suamimu!"


Aku sontak tertawa, lebih mirip tertawa yang dipaksakan.


"Andi, andi... Kamu belum tidur kok sudah mimpi" jawabku masih dengan tertawa sambil meraih selimut dan kembali berbaring membelakanginya.

__ADS_1


Belum sempat aku membenarkan selimutku Andi sudah membalikkan badanku dan mengunciku dengan tangannya.


"Lepaskan aku!" ucapku geram


"Tidak akan sampai kau melayaniku!" Andi menjawab dengan geram pula


"Najis aku melayani kamu!" bentakku


"Kamu tidak ingin dikutuk Malaikat sampai pagi kan?" ucapnya licik


Aku diam, jujur saja aku merasa jijik melayaninya. Apalagi aku tahu dia sering tidur dengan selingkuhannya, makin meremang lah bulu romaku membayangkan kejijikan ku tersebut.


Aku tidak ada respon saat Andi mulai menggerakkan tangannya dengan liar pada tubuhku. Dalam hati aku menjerit, aku mengutuk perbuatannya padaku saat ini. Dengan rasa jijik yang teramat sangat aku terpaksa melayaninya malam ini.


Jika tidak takut dengan dosa, sudah aku tolak apapun yang akan dia lakukan padaku saking aku tak sudi disentuhnya.


...****************...


"Kita ada undangan dari kantor pusat bun" suara Andi pagi ini menyapa ku saat aku memakaikan Naura seragam.


Aku diam tak merespon. Aku terus saja merapikan seragam Naura dan menyisir rambut panjangnya.


"Kita wajib datang, jadi aku harap bunda bersedia menemani aku saat meet and great akhir tahun ini" lanjutnya


"Ini undangannya" Andi meletakkan undangan yang terkesan mewah buatku di atas meja.


Aku cuma melirik undangan tersebut dan terus saja dengan aktifitasku yang sekarang mengepang rambut Naura.


"Sudah selesai, cantiknya anak bunda" ucapku sambil mengecup pipi Naura


Naura bangkit dari duduknya dan mengambil tas yang sudah aku sediakan lalu dia mencium punggung tanganku dan menyusul ayahnya yang sudah menunggunya di luar.


"Dagh bunda" teriak Naura saat motor yang dikendarai suamiku berjalan pelan.


Aku membalas lambaian tangannya lalu masuk ke dalam rumah.


Aku meraih undangan yang tadi diletakkan Andi di meja, ternyata benar seperti yang Rian sampaikan kemarin, di amplopnya tertulis untuk Tn. Andi Wijaya dan Ny. Indah Yuliani di Lubuklinggau, ku buka lalu ku baca isi undangan tersebut.


"Rapat dan evaluasi kinerja akhir tahun dan silaturahmi antar kepala cabang se Sumatera" gumamku membaca perihal undangan tersebut.


Aku mengerutkan keningku. Sesumatera?? waduh akan banyak sekali itu. Bagaimana dengan penampilanku? Aku kan tidak modis dan tidak mengerti fashion kekinian. Nanti suamiku malu saat membawaku, batinku.


Lalu aku melanjutkan membaca sampai akhir. Pekanbaru? Hadeh kenapa harus di Pekanbaru sih? kenapa tidak di Bengkulu saja yang dekat sesalku.


Aku meletakkan undangan tersebut dan duduk di kursi dengan menerawang.


"Siapkan bun?" tanya Andi yang tahu-tahu ada di depanku


"Apanya?" jawabku enggan


"Ikut ke Pekanbaru nya" katanya


"Insha Alloh" jawabku


Sejujurnya aku tak yakin kalau aku sanggup untuk ikut, karena pakaianku saja jelas tidak akan sama seperti ibu-ibu yang lain. Mereka pasti modis-modis. Sedang aku? aku mengerucutkan bibirku manyun.


"Ayah berangkat kerja ya" ucap suamiku sambil mengulurkan tangannya padaku. Punggung tangan yang sudah dua bulan tidak pernah aku cium. Dengan enggan aku meraih tangan itu lalu mencium punggung tangannya.


Andi mengelus puncak kepalaku lalu dia keluar dari pintu dan masuk kedalam mobilnya.


Sepeninggal Andi, aku jadi bingung sendiri memikirkan kira-kira pakaian apa yang pantas aku pakai saat acara nanti.

__ADS_1


Karena belum menemukan jawaban yang pasti aku memilih untuk masuk ke kamar dan memandikan kedua jagoanku lalu bersiap-siap berangkat mengajar


__ADS_2