
Mikail membawa Akmar naik ke lantai tiga, ketika melewati kamar Naura yang pintunya terbuka, Mikail segera menarik pelan Akmar agar mempercepat langkahnya
"Maaf itu kamar ayuk saya, saya tak ingin anda melihatnya tak berhijab"
Akmar tersenyum mengerti, dan mempercepat langkahnya. Lamat-lamat didengarnya Naura sedang mengobrol dengan Defne
Mikail membawa Akmar ke balkon, dan segera dia menarik dua kursi
"Tempat favorit bunda saya" ucapnya berbasa basi
Lagi-lagi Akmar tersenyum kaku
"Maaf sebelumnya jika saya lancang mengajak kakak kesini"
Kening Mikail langsung berkerut ketika didengarnya Akmar menyebutnya dengan sebutan "kakak"
"Ehm, maaf, saya rasa usia kita tak jauh berbeda, lebih baik panggil nama saja, saya Mikail" ucap Mikail sambil mengulurkan tangannya
"Akmar" sambut Akmar
"Saya sering mendengar Bunda dan yang lain memanggil anda dengan sebutan kakak, oleh karena itulah saya ikut-ikutan"
Mikail tersenyum
"Itu panggilan sayang mereka pada saya, ehmm by the way, saya baru lihat anda, sepertinya anda bukan orang sini"
"Benar, saya dari Pekanbaru"
Dengan cepat Mikail menoleh dan menatap dalam pada Akmar
"Pekanbaru?"
Akmar mengangguk pelan
"Apa anda orang yang ketika tamat SMA mau mengajak ayuk saya taaruf???"
Kembali Akmar mengangguk pelan. Wajahnya langsung berubah tegang demi mendengar pertanyaan Mikail
"Kok kamu bisa tahu?" tanya Akmar ragu
Mikail tersenyum setengah tergelak
"Semua yang berhubungan dengan ayuk saya, saya tahu. Karena adek yang memberi tahu"
Akmar tertawa malu sambil menundukkan wajahnya
"So, jadi saya harus panggil apa nih?, abang?"
"Akmar saja nggak apa-apa"
"Ah, tidak sopan itu"
Keduanya lalu tertawa.
Naura yang berada di dalam kamar seperti mendengar suara tawa dari arah balkon yang memaksanya turun dari tempat tidur dan mengintip
__ADS_1
Dengan cepat Naura membalikkan badannya kembali ketika dilihatnya Mikail tampak mengobrol dengan Akmar
"Mau apa Akmar bicara sama kakak" gumamnya
"What's wrong ukhti?" tanya Defne yang tahu-tahu telah berdiri di sampingnya
Dengan cepat Naura menarik tangan Defne, mengajaknya kembali masuk ke kamar dan langsung mengunci pintu kamar
Sementara Akmar dan Mikail masih tampak mengobrol santai sampai akhirnya Akmar mengutarakan niatnya
"Sebenarnya saya ingin membicarakan sesuatu sama kamu"
Mikail langsung memasang wajah serius demi dilihatnya jika wajah Akmar juga serius dan sedikit tegang
"Sebenarnya sejak hampir lima tahun yang lalu, saya dan keluarga saya pernah mengajak Naura taaruf, bahkan saat itu mama papa saya ngomong langsung sama bunda dan nek nang, tapi saat itu Naura menolak dengan alasan dia masih ingin mengejar cita-citanya menjadi bidan"
"Dan saat itu juga saya berjanji jika saya akan terus menunggu sampai dia siap untuk saya ajak taaruf"
"Waktu grand opening kliniknya kemarin, saya datang. Dan saya juga berkesempatan mengobrol dengan almarhum ayah kalian"
Wajah Mikail langsung terkesiap demi mendengar jika Akmar juga sudah bicara sama ayahnya
"Saat itu pak Andi menyerahkan semuanya pada Naura, dan apapun keputusan Naura beliau akan mendukung dan beliau juga pernah berkata pada saya, jika beliau ingin ketika Naura menikah nanti, beliau yang menjadi walinya"
"Dan sekarang karena beliau sudah meninggal, dan anda adalah anak lelaki tertua di keluarga ini, makanya saya kembali meminta izin dan restu anda untuk mengizinkan saya mengajak Naura taaruf kembali"
Lama Mikail terdiam mendengar ucapan Akmar. Secara lelaki, dia mengakui sikap gentle Akmar yang berani meminta restu pada ayahnya dan juga padanya
Apalagi setelah dia mendengar sendiri jika hampir lima tahun ini Akmar menantikan persetujuan Naura
"Tapi saya disini hanya sebagai saudara, orang yang akan terus melindungi dan mempertaruhkan nyawa demi ayuk kami, jika menyangkut urusan hati, apalagi itu urusan masa depan untuk berumah tangga, semuanya saya serahkan pada ayuk Naura"
"Saya tidak bisa memutuskan menyetujui taaruf yang abang sampaikan jikalau ayuk saya menolak, dan saya juga tidak bisa langsung menolak mentah-mentah tidak setuju karena saya belum mengetahui dan mendengar langsung jawaban ayuk saya"
"Jadi maaf abang Akmar, saya belum bisa mengambil kesimpulan, semuanya akan saya tanyakan dengan ayuk Naura, dan mungkin nanti In Syaa Alloh kami akan berembuk keluarga dulu"
"Jadi sekali lagi, saya minta maaf ya bang, bukan saya menolak, tapi saya harus bicara dulu dengan ayuk saya"
Akmar mengangguk takzim, dia pun menyadari jika semua ini harus dibicarakan terlebih dahulu, terutama pada Naura, karena semua keputusan iya dan tidak ada pada Naura
"Kalau begitu terima kasih banyak kak, karena kamu sudah mau meluangkan waktu untuk mengobrol dengan saya"
Mikail mengangguk seraya tersenyum
"Oh iya, saya dengar kakak Tentara, ya?" tanya Akmar untuk mencairkan suasana hatinya
"Iya" jawab Mikail sambil tersenyum
"Semua cita-cita kami adalah perwujudan khayalan kami ketika kami kecil" sambung Mikail sambil menatap lurus ke depan
"Kalau abang sendiri kegiatannya apa?"
"Saya kerja di kantor papa, ya itung-itung bantu papa lah"
"Wah hebat dong, bisa kerja bareng orang tuanya, tidak jauh seperti saya"
__ADS_1
Keduanya lalu kembali tertawa
"Maaf, kalau saya boleh tahu, abang kerja dimana?"
"Di pemerintahan, karena kebetulan papa adalah orang nomor satu di Pekanbaru"
"Wow..." jawab Mikail refleks
"Itu artinya abang orang politik dong?"
Lagi keduanya tertawa.
Naura yang mendengarkan tawa mereka kian penasaran, niatnya yang sejak tadi ingin tidur sampai terbengkalai karena saking penasarannya dia
"Besok sebelum subuh saya sudah harus pulang lagi ke Jakarta, dan kemungkinan obrolan kita malam ini akan saya sampaikan sama keluarga besar lewat video call, nggak papakan?"
Akmar mengangguk
"Saya juga pulang besok karena saya cuma dikasih izin tiga hari oleh papa"
"Bagaimana kalau besok kita pulangnya bareng saja?, abang pulangnya lewat Jakarta, bagaimana?"
Akmar tampak berfikir sejenak, karena planning awalnya adalah dia pulang lewat Bengkulu lagi
"Ayolah, sekalian biar kita bisa akrab" bujuk Mikail
Akmar tersenyum dan segera menyetujui dan disambut tawa terkekeh dari Mikail
"Ngomong-ngomong, ayuk saya itu seorang hafidzah, jadi tentu kriteria suami idamannya adalah seorang hafidz juga dan ilmu agamanya haruslah jauh lebih tinggi dibanding dia"
Sebenarnya Mikail sengaja mengucapkan kalimat itu karena dia ingin tahu lebih dalam lagi bagaimana karakter agama lelaki yang ada di depannya saat ini.
Dia tak ingin ayuknya salah memilih pendamping
"Alhamdulillah ketika kita sama-sama di pesantren dulu saya dan Naura adalah santriwan dan santriwati lulusan hafidz terbaik"
Senyum langsung mengembang di bibir Mikail, setidaknya satu point sudah didapat Akmar untuk membuat Mikail mempertimbangkan bagaimana kelanjutannya nanti
"Baiklah, jika tidak ada lagi yang akan abang sampaikan sama saya, kita turun sekarang, atau kita langsung istirahat? saya yakin abang lelah"
Akmar tak menjawab ucapan Mikail, dia segera berdiri
"Tunggu sebentar" ucapnya sambil segera berlari masuk kamar Adam yang tak jauh dari balkon
Mikail menatap bengong saat dilihatnya Akmar masuk kedalam kamar adiknya
Tak lama Akmar telah muncul lagi dengan membawa sebuah kotak kecil di tangannya
"Tolong besok atau kapan-kapan, kakak kasih ini sama Naura" ucap Akmar memberikan kotak berwarna putih transparan layaknya seperti kristal ke tangan Mikail
"Ini apa?"
"Hadiah untuk ulang tahun Naura, saya tahu tanggal 13 tadi dia berulang tahun"
Mikail tampak mengangguk dan bergantian menatap kotak kecil itu dengan memandang kearah Akmar yang kembali berwajah tegang
__ADS_1