
Tak puas hanya dengan memposting, Zahra melakukan siaran langsung.
"Hai guys, ini aku lagi dengan adek aku, kenalin nih adek aku"
Zahra menarik tangan Naura yang saat itu masih mengagumi rumah barunya
"Apa yuk?"
"Ayuk lagi live, sana kamu lambaikan tangan kamu"
Naura menurut dan melambaikan tangannya
"Hai, assalamualaikum"
Viewer live streaming Zahra langsung melonjak ketika Naura muncul
"Tu siapa Ra, tinggi banget" ada yang berkomentar
"Ini tu adek sepupu aku, jelas tinggi lah wong dia atlit renang"
"Salamin Ra sama dia, btw da punya pacar belom"
Zahra menoleh pada Naura sambil menaik turunkan alisnya. Naura terkekeh
"Sudah ada yang ngajak taaruf"
Langsung penuh dengan komentar patah hati begitu Naura menjawab
"Syarat jadi calon adik ipar aku harus hafidz, karena adek aku ini Hafidzah"
Kembali komentar kekaguman memenuhi siaran langsung Zahra. Sementara Zahra sibuk memamerkan seluruh anggota keluarga dan rumah baru adik-adiknya, Naura segera mengajak ketiga adiknya naik. Sedangkan aku segera menuju dapur, tempat dimana para tetanggaku masak
"Bunda di depan saja" tolak mereka
Tentu saja aku menggelengkan kepalaku, aku ini orang biasa, menggiling cabe dengan ulekan, memotong ayam dan membersihkannya bukanlah hal asing bagiku.
Mungkinlah mereka sungkan karena aku cukup berada sekarang, tapi itu malah membuatku tak nyaman, aku tetaplah Indah yang dulu, anak petani yang biasa bekerja di dapur, yang biasa bekerja kasar.
Naura dan kedua adiknya yang naik kelantai atas segera sibuk melihat seluruh ruangan besar ini
Mereka seperti anak kecil, langsung berlari dan melompat-lompat di ruangan yang sangat luas ini.
"Kakak, ayuk, siniiii...." teriak Mikail yang sudah berdiri di pinggir balkon
Naura dan Mikail segera berlari kecil kearah adik bungsunya
"Lihat kak" tunjuk Mikail kearah bawah
Di bawah terbentang sebuah kolam renang yang cukup luas, Naura dan Mikail saling pandang, wajah Naura langsung berubah sedih dan segera dia menangis, Mikail cepat memeluk ayuknya dan mengusap-usap pundak ayuknya
"Kakak ingat tidak dengan khayalan kita dulu kak?, waktu kita kecil, waktu kita dikontrakan?" ucap Naura sambil menatap dalam Mikail
Mikail diam berusaha mengingat
"Ayuk ingin punya kamar di lantai atas, kamar ayuk yang banyak bonekanya, ranjangnya bagus seperti punya frozen, banyak lampu kelap-kelipnya, temboknya berwarna ungu" ucap Naura mencoba mengembalikan memori Mikail
"Kamar kakak juga luas, ada ranjangnya dan temboknya ada gambar spiderman" lirih Mikail
Adam memandang bingung kedua saudaranya yang saling meneteskan air mata.
Segera Naura dan Mikail kembali berlari, mereka membuka setiap ruangan berharap jika itu kamar mereka.
Di lantai dua mereka menemukan ada tiga kamar, kamar pertama hanya berisikan ranjang mewah dan lemari pakaiannya.
Kembali keduanya membuka kamar di sebelahnya yang ternyata isinya sama seperti tadi, tak putus asa keduanya kembali berlari menuju satu ruangan yang tertutup
"Bismillah..." ucap Mikail membuka pintu tersebut
Mulutnya langsung ternganga, kamar itu adalah kamarnya, dia langsung mengenali itu kamarnya karena ada gambar spiderman di temboknya.
Ranjangnya besar dan luas, dan ranjangnya jauh lebih mewah ketimbang ranjang di dua kamar tadi.
Naura segera memeluk Mikail yang terpaku tak bisa berbuat apa-apa. Adam yang masih bengong segera masuk dan membuka jendela. Dari tempatnya berdiri dia melihat pemandangan hamparan sawah dan juga bukit menghijau di kejauhan
__ADS_1
Mikail segera melihat sekeliling kamar, dan menemukan sebuah sapu lidi tergeletak tak jauh dari pinggir ranjang, segera diambilnya sapu lidi tersebut, mengibaskannya keatas ranjang sambil membaca sholawat dan surah An-Nas. Lalu dia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang tersebut diikuti Naura dan Adam
Keduanya tertawa sambil berlinang air mata sedangkan Adam tetap bengong tak mengerti apa yang ditangisi kedua saudaranya
"Kita harus naik lagi yuk, kita cari kamar ayuk dan adek"
Naura setuju dan segera dia bangkit lalu mereka bertiga berlari kecil keluar dari kamar tersebut, naik kembali ketangga yang dibuat berliku
Sepertinya di atas sini ada dua kamar, karena Naura melihat ada dua pintu yang tertutup
Naura segera menuju kesebuah kamar yang terletak tepat di sebelah ruangan luas
"Kakaaakkk...." lirihnya tercekat
Adam dan Mikail mendekat, membuka lebar pintu kamar tersebut. Ada sebuah ranjang yang sangat indah dan mewah terbuat dari ukiran berwarna emas, temboknya berwarna ungu muda kombinasi biru muda, ada lemari kaca besar penuh berisikan boneka, ada lampu kristal mewah tergantung di langit-langit kamar, dan ada lampu hias berukir kan namanya tertempel di tembok.
Naura memeluk erat Mikail sambil menangis sesenggukan
"Khayalan kita kak, ini khayalan kita"
Mikail menganggukkan kepalanya.
"Ini sebenarnya ada apa sih?, kok kalian sejak tadi nangis?" Adam yang masih penasaran membuka suara
Naura mengusap kasar wajahnya yang penuh air mata. Lalu dia menceritakan bagaimana dulu ketika sebelum tidur mereka berdua berkhayal tinggal di rumah besar dan memiliki kamar yang bagus persis seperti yang mereka lihat sekarang ini
"Lah aku dimana waktu itu?, kok aku nggak ingat?"
Mikail dan Naura kompak tertawa
"Adek tidur" jawab mereka serempak
"Lah, jadi aku nggak punya kamar?"
"Bisa jadi" goda Mikail
Kembali ketiganya tertawa. Naura berjalan kearah lemari, membuka lemari besar yang penuh dengan boneka.
Lalu matanya turun kebagian bawah, tampak olehnya boneka berbentuk hati warna pink yang diberikan Akmar. Bibir Naura tersenyum melihat itu
"Ayo yuk, kak cari kamar adek, masa kakak sama ayuk ada kamar adek tidak"
Kembali Naura dan Mikail terkekeh. Dengan sayang, Naura memegang tangan adiknya dan memiringkan kepalanya agar bisa diletakkannya di atas kepala Adam
"Makanya jangan terlalu jangkung" ucap Adam yang menggerakkan kepalanya karena keberatan ada kepala Naura di sana
Naura tak perduli, dia terus meletakkan kepalanya di sana sambil terus berjalan kearah satu ruangan
Adam membuka pintunya, Naura langsung membetulkan posisi kepalanya.
Isi kamar ini persis seperti milik kamar Mikail, cuma bedanya di temboknya tidak ada gambar spiderman.
Ranjang besar dan mewah, lemari kaca besar dan sama seperti kamar Naura, di sini juga ada lampu warna warni berukir kan nama Adam
"Bunda mewujudkan mimpi kita semua" lirih Mikail
Ketiganya saling toleh dan segera berebutan keluar kamar, berlari cepat dan saling mendahului.
Kelokan tangga tak mereka hiraukan, mereka terus berlomba ingin mencapai lantai bawah tempat dimana tadi ada bunda mereka
Bu Siti yang sedang duduk dengan pak Ahmad begitu melihat ketiga cucunya berlarian menuruni tangga segera berdiri dan berteriak panik.
Kak Angga dan kak Andri yang melihat juga tampak khawatir, ketika tiba di bawah, mereka langsung terbungkuk-bungkuk batuk dengan nafas yang ngos-ngosan
"Mana bunda nek?" tanya Naura yang masih tampak tersengal
"Di belakang"
Mendengar jawaban neneknya kembali mereka berlari menuju belakang. Mereka hampir bertabrakan dengan anak kedua kak Angga yang saat itu membawa nampan berisi kopi dan teh
"Maaf..."
Hanya kalimat itu yang mereka teriakkan.
__ADS_1
"Bunda....!!! teriak ketiganya
Aku yang sedang menyusun sayur ayam kedalam mangkuk besar segera mengangkat kepalaku
Naura yang langkahnya panjang segera meninggalkan kedua adiknya.
Aku dengan terburu meletakkan kuali yang tadi kupegang begitu melihat Naura berlari melompati sisa sayuran yang berserakan di lantai.
Naura segera memelukku erat menangis sesenggukan. Tiba pula Mikail dan Adam, mereka merangkul ku dan Naura
Ketiganya menangis, aku yang bingung melihatnya ketiganya menangis hanya bisa terdiam
Para ibu-ibu yang ada di dapur hanya bisa memandang bengong kearah kami, wajah mereka tampak sedih melihat ketiga anakku menangis
Bergantian ketiganya menciumi wajah dan keningku.
"Terima kasih bunda, terima kasih" hanya kalimat itu yang keluar dari mulut ketiganya
Aku menganggukkan kepalaku tapi tetap saja aku tak faham apa maksud mereka
"Ada apa nak?"
"Bunda mewujudkan khayalan kami kecil dulu...." jawab Naura yang kembali hilang suaranya berganti dengan isakan
Aku tersenyum tapi mataku langsung berkaca-kaca
"Bunda kan sudah janji nak sama kalian, bahwa bunda akan mewujudkan apapun mimpi kalian" jawabku sambil menghapus air mata yang mengalir
"Kamar kami persis seperti yang dulu kami khayalkan" jawab Naura
Aku mengangguk
"Terima kasih kak Andri, kau menuruti semua permintaanku" bisikku dalam hati
"Kalian suka kamarnya?"
Ketiganya mengangguk. Dan kembali dengan sayang mereka merangkulku.
"Sudah lihat kolam renangnya?"
Naura dengan cepat melepas pelukannya padaku, lalu dia segera menoleh pada mbak Dian
"Jalan ke kolam renang lewat mana mak?"
"Lewat sana" mbak Dian menunjuk kearah samping
Naura segera berjalan cepat kearah yang tadi ditunjuk Mbak Dian, tak mau kalah Mikail segera menyusul.
Adam balik lagi ke depan dan tak lama telah muncul dengan tiga anak yuk Yana yang sudah bujang, dua anak kak Angga yang sudah gadis dan dua anak kak Andri yang juga beranjak gadis
"Kami mau renang bunda" ucapnya ke arahku yang tersenyum menatap mereka
Aku lalu duduk di kursi, menatap mbak Dian yang sudah berlinangan air mata
"Akhirnya aku bisa mewujudkan mimpi mereka mbak, aku bisa membuatkan mereka rumah seperti impian mereka, memberikan kamar seperti khayalan mereka dan juga membuatkan kolam renang seperti yang dulu mereka khayalkan"
Mbak Dian mendekat, memelukku dari samping sambil terisak
"Aku wujudkan mimpi mereka mbak" lirihku dengan berlinang air mata sambil meletakkan kepalaku ditangan mbak Dian yang terus memelukku
#salam hormat para readers, aku mau buat part keluarga Andi, Kira-kira menurut kalian balasan apa ya, yang setimpal untuk Andi dan keluarganya?
Author sudah ada idenya, tapi takut tidak sesuai dengan harapan readers semua, takut karmanya kurang ekstrim🤭🤭
Untuk ide, para readers bisa komen ya🙏🙏
Salam Hormat selalu
Jazakumullah Khairan
Thank You So much
Çok teşekkürler
__ADS_1