
Malam ini suamiku pulang jam 11 malam lagi. Karena dia punya kunci cadangan, jadi dia tidak perlu lagi membangunkan ku.
Mengetahui suamiku pulang, aku segera keluar dari dalam kamar dan menemuinya yang baru duduk di ruang tamu.
Begitu melihatku buru-buru dia menyimpan ponselnya dalam saku. Aku memasang senyum terpaksa padanya.
"Sini" ucapnya sambil melambaikan tangannya kearahku.
Aku mendekat dan duduk di sebelahnya.
Diluar dugaanku, begitu aku duduk suamiku langsung merengkuhku dalam pelukannya. Aku diam dalam dadanya. Tidak ada rasa apa-apa, hambar.
Dikecupnya puncak kepalaku. Dan aku masih saja diam.
"Maafin aku ya bun" ucapnya
Aku mendongak, melihat manik matanya. Mencari tahu maksud dan arah omongannya.
Aku melepas pelukannya dan menatapnya dengan masih diam.
Terdengar dia menghempaskan nafas berat. Lalu dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Dan menatap langit rumah dengan tatapan kosong.
Aku masih diam, dan berusaha untuk menutupi kecewaku. Aku harus berpura-pura tidak tahu dengan perselingkuhannya. Aku harus membuktikan sendiri perselingkuhan suamiku, aku harus membongkarnya sendiri.
"Mau makan?" tanyaku pelan.
Dia menggelengkan kepalanya. Dan kembali dia meraihku dalam pelukannya. Aku heran dengan perlakuannya padaku. Apakah dia menyesal karena telah membohongiku?
Berkali-kali dia mencium puncak kepalaku.
"Ayah kenapa?" tanyaku
Dia diam, masih terus memelukku erat.
"Ada masalah?" tanyaku lagi.
"Diam bun, diamlah sebentar. Biarkan aku memelukmu untuk menenangkan hatiku" jawabnya.
Aku menuruti perkataannya. Aku diam dalam dekapannya. Aku menitikkan airmata. Apakah ini adalah pelukan terakhirnya Rabb? apakah setelah ini dia bakal meninggalkan aku dan anak-anak kami?
"Astaghfirullahal adzim" lirihku
Dijauhkannya tubuhku dari dekapannya. Dan suamiku menatapku heran.
"Kenapa bun, kenapa istighfar?" tanyanya
Aku menggeleng cepat dan berusaha menutupi gugupku.
"Sudah malam, kalau mau mandi, aku bisa masak air panas" ucapku
Suamiku menggeleng dan kembali merebahkan kepalanya kesandaran kursi.
Aku beranjak meninggalkannya dan masuk ke kamar depan, membersihkan ranjang dan menyemprotkan anti nyamuk. Setelah itu aku kembali kekamar kami lalu mengambil pakaian ganti buat suamiku lalu meletakkannya di atas kasur kamar depan.
Aku kembali keruang depan, suamiku masih di sana. Melamun.
"Bajunya sudah aku siapkan Yah kalau mau ganti baju"
Suamiku menoleh dan menganggukkan kepalanya.
"Aku tidur lagi" lanjutku.
Lalu aku meninggalkan suamiku sendiri. Aku pura-pura tidur saat dia masuk kekamar kami dan menciumi ketiga anaknya. Setelah itu suamiku masuk kekamar mandi yang ada di kamar tidur dan membasuh mukanya.
Lalu dia keluar dari kamar kami dan menutup pintu kamar. Aku kembali membuka mata dan membuang nafasku.
__ADS_1
Pikiran berkecamuk dalam kepalaku. Aku heran dengan perlakuan suamiku malam ini. Ah sudahlah, siapa tahu memang dia sudah berubah dan meninggalkan selingkuhannya.
...++++++++++...
Suara adzan Shubuh membangunkan ku. Kulihat ketiga anakku masih pulas. Lalu aku bangkit dan berjalan menuju kamar depan untuk membangunkan suamiku untuk shalat.
"Yah, shubuh"
"Hemmm"
"Shubuh"
"Hemm"
"Ayo bangun"
Hening
"Ayo yah, ayah sekarang tidak pernah shalat Shubuh lagi"
"Iyaa"
Aku duduk ditepi ranjang menunggu suamiku sampai dia benar-benar terbangun.
Lima menit berlalu tapi suamiku belum ada tanda-tanda akan bangun.
Kembali aku menggoyangkan tangannya.
"Yah?"
"Nanti"
"Tapi nanti lewat lagi"
Karena suamiku masih belum juga bangun, akhirnya aku ikutan rebahan di sebelahnya.
Kulihat wajahnya yang hanya berjarak beberapa centi saja dariku. Tanpa sadar aku membelai wajah itu. Ada rasa perih saat aku membelai wajah itu. Kembali terngiang-ngiang obrolan mereka yang aku dengar malam kemarin.
Teringat itu refleks aku menjauhkan tanganku dari wajah suamiku. Aku segera duduk dan menjauh dari dirinya.
Tak lama ponsel suamiku berbunyi. Karena dia masih tidur, jadi panggilan itu terlewatkan. Tapi tak lama kembali ponselnya berbunyi. Aku segera meraih ponsel yang terletak tak jauh darinya.
"Gusti"
Kembali nama itu yang tampil di layar.
"Yah, Gusti nelpon" ucapku
"Hemmm"
"Gusti nelpon" ulangku.
Dengan cepat suamiku duduk dan gelagapan mencari ponselnya. Aku cepat tanggap, lalu aku menyodorkan ponsel itu padanya.
"Nih"
Dengan cepat diraihnya ponsel lalu dia menjawab telepon itu.
"Iya pak, besok sore saya akan ke Bengkulu, bapak tunggu saja, laporannya sudah siap"
Lalu suamiku memutuskan panggilan tersebut.
"Pak Gusti, kepala unit di Bengkulu" ucapnya tanpa kuminta.
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
__ADS_1
"Ya sudah, shalat dulu. Nanti tidurnya lanjut lagi" jawabku
Suamiku mengangguk dan turun dari ranjang lalu menuju mushala dan shalat.
Selagi dia shalat, aku merebahkan tubuhku ditempat suamiku tidur tadi. Aku mencium aroma tubuhnya pada bantal itu. Aku tersenyum, aku tahu betul aroma maskulin suamiku.
Kembali ponselnya berbunyi. Aku segera meraih ponsel tersebut dan sama seperti tadi, di layar itu tertera nama Gusti.
Apakah benar Gusti itu kepala unit seperti kata suamiku tadi? Kalau iya, bukankah tadi suamiku sudah bilang kalau dia bakal ke Bengkulu sore ini. Terus kenapa masih nelpon, apa ada hal penting?
Panggilan terputus tapi tak lama berbunyi lagi. Dengan memberanikan diri aku mengangkat panggilan tersebut.
"Mas, mas tadi ngomong apa sih, aku nggak faham"
Duar!!! serasa ada petir tiba-tiba menyambar tubuhku. Tubuhku bergetar mendengar suara perempuan diseberang sana.
"Mas nanti sore benaran jadikan kita chek in, aku sudah beli banyak pengamannya, jadi mas nggak usah khawatir, aku bakal buat mas klepek-klepek" Lalu terdengar perempuan itu terkekeh.
Hatiku makin bergemuruh mendengarnya. Otakku sudah tidak mampu berfikir lagi.
"Mas kok diem aja sih, masih tidur ya? ya sudah, mas tidur lagi ya. siapin stamina buat malam nanti. Aku nggak mau kalau kita mainnya sebentar" Kembali dia terkekeh
"Dagh mas, love you"
Panggilan terputus. Aku terhenyak dengan ponsel masih di tanganku.
Segera aku membuka pesan masuk. Disana penuh dengan isi sms dari Gusti. Dengan tangan gemetar aku mulai membuka pesannya satu persatu.
"Sayang, maaf ya malam ini aku nggak bisa nemuin kamu, aku lagi keluar sama teman-teman aku"
Itu isi sms yang pertama aku baca, itu dikirim jam 20.15 malam tadi. Apa karena ini suamiku malam tadi begitu aneh?
"*Sayang kerjanya semangat ya, jangan lupa makan"
"Sayang, hp barunya mana? katanya mau beliin aku hp baru. ah mamas bohong"
"Sayang, malam ini aku pengen banget peluk kamu"
"Sayang jangan lupa jemput aku ya pagi ini. aku tunggu di tempat biasa"
"Sayang, besok pulang cepat ya. Aku sudah bersih, jadi kita bisa main*"
Tes tes tes... air mataku berjatuhan tanpa bisa aku tahan. Aku begitu sakit mengetahui jika suamiku telah tidur dengan perempuan lain.
Diliputi penasaran, aku terus membaca isi sms-sms itu.
"*Sayang, seandainya aku sudah sah jadi istri kamu,aku janji tiap saat aku bakal layani kamu"
"Sayang, aku pengen....."
"Sayang, sumpah. kamu benar-benar luar biasa, aku sampai ketagihan ingin lagi dan lagi. Besok kita check in lagi ya*"
Aku sudah tidak kuat lagi membacanya. Aku meletakkan ponsel tersebut dan berlari kekamar kami dan kembali membenamkan wajahku kedalam bantal, menangis.
Aku tak menyangka jika suamiku berbohong selama ini. Mengapa dia begitu tega padaku. Apa salahku? Apa kurangku?
Bantal telah basah oleh air mataku. Aku tak bisa berhenti menangis, terlebih ketika kulihat wajah ketiga anakku yang tertidur pulas. Airmataku kembali mengalir deras.
"Apa salahku Andi sampai kau tega mengkhianatiku?" ucapku lirih.
Ingin sekali rasanya aku berteriak dan memaki-makinya. Bertanya apa kesalahanku, bertanya mengapa dia tega menyakitiku, bertanya apa kurangnya aku.
Kurangku? tentu aku banyak kurangnya. Terutama aku kurang cantik. Mungkin karena ini Andi mencari perempuan lain.
Airmataku kembali jatuh mengingat isi sms tadi. Ya Rabb beri aku kekuatan ucapku sambil mengelus dadaku. Aku memeluk lututku dan menenggelamkan wajahku disana sambil terus menangis dan merutuki keadaan.
__ADS_1