
"Maafkan saya ibu Mira, jika ibu meminta saya untuk menyembelih kambing ini karena nazar anda terkabul akibat perceraian anak anda, saya tidak bisa" ucap pak Ustadz ketika pisau telah siap di tangannya
"Loh, kenapa tidak bisa pak ustadz?" tanya bu Mira bingung
"Tidak baik bernazar tentang yang buruk bu, apalagi ini tentang perceraian. Harusnya ibu dan bapak sebagai orang tua itu menengahi perselisihan diantara anak dan menantu bapak ibu, bukannya malah senang begini" lanjut pak Ustadz
Ibu-ibu dan bapak-bapak yang saat itu mendekat karena melihat ustadz akan menyembelih kambing mengangguk-anggukkan kepala mereka.
"Saya dari awal memang menentang hubungan mereka pak. Saya tidak suka sama menantu saya itu. Makanya begitu tahu Andi telah mentalak istrinya saya senang sekali pak ustadz" jawab bu Mira tanpa malu
Orang yang ada disana geleng-geleng kepala
"*Tak kiroki ngopo mbeleh wedus meneh, laahh tibakno kerno anak e pegat"
"He eh, wis edan kae bu Mira. Anak e pegat kok senenge pol*"
Bu Mira langsung menoleh kearah ibu yang tadi mencibirnya
"Menengo..kowe ni ra usah milu-milu, kowe ki ratau urusane"
"uwis lah yu, dewe lungo neng mburi meneh, marai duso wae nengkene"
Akhirnya para ibu-ibu itu pergi sambil masih saling berbisik
"Jadi bagaimana ini pak ustadz? tanya bu Mira lagi
"Ibu suruh siapa sajalah yang bisa nyembelih kambing ini sesuai syariat Islam. Kalau saya, sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak bisa"
"Tolonglah pak ustadz" pak Hermawan buka suara
Pak ustadz tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Andi terlihat berjalan kearah mereka.
"Ngopo buk?" tanyanya
"Saya menolak menyembelih kambing ini mas" pak ustadz menjawab
"Kenapa ustadz?" tanya Andi bingung
"Karena ibu mas menyuruh saya menyembelih ini untuk membayar nazar atas keputusan mas yang telah mentalak istri mas"
Wajah Andi berubah merah. Malu sekali rasanya dia saat itu. Dia tidak menyangka jika ibunya akan melakukan perbuatan memalukan seperti ini
"Selesaikan baik-baik mas jika ada masalah dalam keluarga. Jangan terlalu mudah mengucapkan talak. Sesal diakhir itu tiada guna" ucap pak Ustad sambil menepuk bahu Andi.
"Saya sangat bersyukur anak saya cerai dari istrinya pak Ustadz. Seperti yang saya bilang tadi, saya dari awal tidak suka menyukai mantan istrinya itu" Bu Mira berkata dengan nada tinggi
__ADS_1
"Baiknya ini kita bicarakan di dalam saja bu, jangan disini. Malu" ajak Andi sambil meraih tangan ibunya untuk dibawa masuk
"Ayo pak ustadz" ajak pak Hermawan
Pak ustadz mengikuti langkah tiga orang itu masuk kedalam rumah Ningsih.
Di dalam terlihat Ningsih dengan mata sembab. Melihat ustadz masuk, buru-buru dia mengusap wajahnya yang penuh airmata
"Monggo pak ustadz" ucapnya ramah
Ustadz langsung duduk di sebelah pak Hermawan.
"Begini mas Andi, tadi ibunya mas Andi meminta saya untuk menyembelih kambing sebagai rasa syukur beliau atas perceraian mas dengan istri mas"
"Astaghfirullah buk" mbak Ningsih berteriak spontan
Bu Mira melengos mendengar Ningsih berteriak kaget
Andi diam, tidak menjawab apa-apa
"Maaf mas Andi, jika saya ikut campur dalam urusan rumah tangga mas Andi. Tapi apakah mas Andi sudah berfikir matang saat mentalak istri mas?
Andi menganggukkan kepalanya.
"Sekitar seminggu yang lalu ustadz"
Ustadz tampak tersenyum.
"Insha Alloh masih bisa diperbaiki" jawabnya
"Saya tidak setuju jika Andi kembali lagi sama istrinya!" timpal bu Mira cepat
"Apa yang membuat ibu sangat membenci menantu ibu itu?, saya rasa kita satu kampung ini tahu, jika menantu ibu itu jarang sekali kesini. Saya heran kok ibu bisa benci sekali sama beliau?" tanya pak Ustadz heran
"Dia itu tidak selevel sama kami ustadz, apalagi suku kita berbeda"
"Astaghfirullah. Di dalam Al-Qur'an surah Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja'alnākum syu'ụbaw wa qabā`ila lita'ārafụ, inna akramakum 'indallāhi atqākum, innallāha 'alīmun khabīr"
Yang artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Bu Mira memasang wajah masam.
"Bapak juga tidak menyukai menantu bapak itu pak?" tanya pak ustadz yang membuat pak Hermawan gelagapan.
__ADS_1
Pak ustadz tersenyum, tanpa diberitahu jawabannyapun, beliau sudah tahu jika suami istri itu memang tidak menyukai menantu mereka
"Bapak Hermawan, menantu anda itu adalah perempuan yang melahirkan penerus anda. Memang bapak ada cucu-cucu dari mbak Ningsih, mbak Laras dan mas Joni. Tapi perlu bapak ketahui, jika anak lelaki dari mbak Ningsih dan mbak Laras adalah keturunan suami mereka dan penerus dari bapak mertua mereka"
"Ada anak lelaki mas?" tanyanya lagi pada Andi
"Dua, ustadz"
"Nah, apalagi dua. Itu artinya penerus bapak ada dua pak"
"Tiga, satu anak Joni" potong bu Mira
"Ah, iya maaf. Saya lupa, tiga dengan anak Joni. Tapi kita semua tahu kan pak, jika Joni tidak seakidah dengan kita" ucap ustadz pelan
Wajah bu Mira dan pak Hermawan terkesiap. Maria yang juga ada di ruangan itu langsung memasang wajah marah.
"Bimbing anakmu mas Andi. Karena jika anak-anakmu menjadi sholeh, bukan cuma mas yang akan bangga, tetapi anda pak Hermawan, bapak akan bangga pula karena penerus anda menjadi anak yang sholeh"
Andi tertunduk.
"Ah, sudahlah pak ustadz, jika bapak tidak mau menyembelih kambing kami tidak apa-apa, masih banyak orang yang mau, jadi ustadz tidak usah koar-koar depan kami. Sampai kapanpun kami tidak akan pernah menyetujui Andi untuk kembali pada perempuan ****** itu" ucap bu Mira marah
"Astaghfirullah" pak Ustadz mengelus dada
"Saya hanya memberi nasehat dengan orang yang meyakini adanya hari pembalasan bu. Karena karma itu nyata, dan hari pembalasan itu ada" sambung pak Ustadz sambil berdiri
"Saya pamit mbak Ningsih, Insha Alloh malam nanti pas kenduri saya kesini, assalamualaikum"
"waalaikumusalam, enggeh pak ustadz"
Sepeninggal pak Ustadz Ningsih langsung duduk menghadap ibunya
"Ya Alloh buk, kok bikin malu buk. Sampe beli kambing hanya untuk bayar nazar karena ibuk senang Andi pegat" ucapnya marah
"Jangan kurang ajar kamu Ning" bentak bu Mira
"Ibuk ini tidak sadar, ibuk itu salah buk. Ingat buk, ibuk ada anak perempuan tiga, Nina belum menikah, kita tidak tahu bagaimana nasib Nina nanti. Karma pasti berlaku buk. Dan kamu Andi, jangan sampai keputusan kamu ini membuatmu menyesal seumur hidupmu!" ucap mbak Ningsih dengan mata merah menahan marah
"Kalau bukan karena aku masih nifas, sudah aku jemput Indah" lanjutnya sambil kembali berlinang airmata.
"Kalian ingat, jangan karena Indah sekarang sedang lemah tidak berdaya seenak kalian menghina dan merendahkannya. Jika Alloh berkehendak, dia bisa jauh lebih sukses dari kalian, dan nanti kalian malu sendiri" lanjutnya
Laras tertawa mengejek
"Mimpiii" katanya sambil berdiri meninggalkan Ningsih yang menangis
__ADS_1