Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Pemakaman


__ADS_3

Tiga jam berikutnya, kantong darah Adam telah dibawa keruang ICU, dimana saat itu Andi masih terbaring tak sadar


Sementara Adam sedang mendonorkan darahnya, Nina dan Naura dengan sisa ketegaran yang mereka miliki berjalan ke kamar jenazah, dimana jenazah Laras berada


Dua orang petugas membawa mereka masuk ke kamar jenazah. Suasana tiba-tiba berubah seram dan sedikit mencekam


Dengan tangan gemetar Nina membuka kain penutup jenazah. Tampak wajah pucat Laras lebam biru kehitaman, banyak sekali goresan luka di wajah itu. Bahkan bibirnya pun pecah, menyisakan bengkak yang mengerikan pada mulutnya.


Kedua tangan Laras patah, bahkan bahunya remuk. Kepalanya pecah, dan mengakibatkan pendarahan yang hebat yang mengakibatkan dia tewas di lokasi


Kedua kakinya juga patah, bahkan jari jempolnya sampai remuk tak berbentuk


Nina ambruk di lantai melihat kondisi kakak perempuannya yang sangat mengenaskan tersebut


"Kalau sudah siap, kami akan membawa jenazah pulang, agar secepatnya dimakamkan"


Naura yang menangis menoleh kepada petugas jenazah


"Nanti dulu pak, kami beritahu keluarga di kampung dulu, agar menyiapkan liang lahat"


Naura mengangkat tubuh Nina, membawanya keluar dari kamar jenazah.


Nina masih terus terisak, sementara Naura menelpon mas Indra


"Pakde..." hanya itu yang dapat diucapkannya, selebihnya dia telah terisak


Suara tangisan Naura membuat mas Indra panik, dengan cepat dia menanyakan apa yang menyebabkan Naura menangis


"Buk Ning pakde, buk Ning.."


Mas Indra makin panik mendengar Naura menyebut nama istrinya


"Kenapa dengan buk Ning, Ra?"


"Buk Ning dan kak Mas kecelakaan, ayah di icu, dan buk Las meninggal, Pakde"


"Astagfirullah, Innalilahi.." teriak mas Indra.


Sementara Hanum yang mendengar langsung menangis histeris.


Dengan panik mas Indra berlari keluar, berteriak histeris sehingga membuat warga kampung yang akan berangkat ke kebun berlarian kearahnya


"Kenapa Ndra?, ada apa?" teriak mereka panik


"Istri dan anak saya kecelakaan, dan Laras meninggal" jawab mas Indra lemas


"Inalillahi..." jawab warga yang segera berhamburan ke rumah pak Hermawan


Karin dan ketiga adiknya yang saat itu berada di rumah langsung berteriak histeris begitu diberitahu jika ibu mereka meninggal dunia


Bahkan Raffa yang telah berangkat bekerja terduduk lemas dilantai mendengar kabar duka tersebut


Dengan cepat, berita kematian Laras disiarkan di masjid, yang membuat warga yang mendengar langsung terkaget


Dalam sekejap rumah pak Hermawan telah ramai, telah didirikan tenda kematian, kursi-kursi telah dikeluarkan.


Karin berpelukan dengan ketiga adiknya dalam tangis pilu. Bahkan ketika Raffa diantar pulang teman sekerjanya, momen haru kembali membuat warga meneteskan air mata. Berlima mereka saling rangkul.


Istri Dimas yan sedang hamil muda ketika diberitahu kabar duka tersebut langsung ambruk


Begitu sadar, dia terus memanggil nama suaminya. Ibunya dan saudaranya yang menungguinya berusaha menguatkan dan memintanya sabar


"Kabarnya Dimas dan ibu mertuamu hanya luka saja, yang parah itu Andi dan Laras" ucap ibunya berusaha membuat anaknya tenang


Beberapa warga sudah ada yang pergi ke kuburan, menggali liang lahat untuk tempat persemayaman terakhir Laras


Sementara yang di rumah menyiapkan tempat mandi dan juga menyiapkan bunga.


_Sementara di rumah sakit_


Dimas yang sudah ditangani hanya bisa diam tak bergerak karena seluruh tubuh dirasanya remuk redam.


Begitu juga dengan Ningsih yang terbaring di ranjang sebelah Dimas, matanya tak bisa dibuka karena rasa pusing yang teramat sangat apabila matanya tersebut dibuka


Adam yang telah selesai mendonorkan darahnya duduk diantara kedua orang tersebut sambil menekan bekas jarum yang tadi ditusukkan untuk mengambil darahnya


"Buk..." rintih Dimas


Adam mendekat, memegang tangan Dimas


"Adek disini kak..."


Dimas menggerakkan kepalanya, tampak olehnya Adam duduk didekatnya


"Ibuk mana?"


"Ibuk ada di sini, itu" jawab Adam memiringkan tubuhnya agar Dimas bisa melihat ibunya


Kembali Dimas merintih kesakitan. Disaat yang sama handphone Adam berdering


"Bagaimana kabar semuanya dek?" terdengar suara panik Mikail


Adam beranjak keluar, dia tak ingin jika Dimas dan buk Ning shock mendengar kabar jika Laras meninggal dunia


"Kak Mas dan buk Ning sudah sadar, tapi mereka luka parah"


"Ayah?"


Adam menarik nafas panjang


"Ayah di icu, sampai sekarang belum sadar"

__ADS_1


"Inalillahi... berarti ayah juga parah dek"


"Kata dokter paru-parunya luka akibat benturan, tangan, leher, dan kaki ayah patah"


Terdengar suara panjang Mikail menghembus nafas.


"Tadi sempat kurang darah juga"


"Terus?"


"Sudah, adek sudah berikan dua kantong darah adek untuk ayah"


Kembali terdengar suara nafas panjang Mikail


"Jika kakak ada di sana, ingin sekali rasanya kakak peluk kamu dek"


Adam tersenyum kecut


"Jangan lebay, adek melakukan apa yang seharusnya adek lalukan"


Mikail tersenyum


"Lucu ya kak, tiga anak ayah, cuma adek yang sedarah dengan ayah. Kakak sama ayuk sedarah sama bunda"


Mikail mengusap wajahnya


"Mungkin ini cara Alloh menyadarkan ayah dek..."


Adam kembali tertawa kecut


"Tapi adek ikhlaskan?"


Adam mendecak


"Kakak ngomong apa sih, jika itu bukan ayah yang mengalami kecelakaan pun adek tetap akan mendonorkan darah adek"


"Maa Syaa Alloh Adam, Kopassus bunda, kebanggan bunda, bungsu besar bunda...." ucap Mikail menirukan gaya bundanya bila memuji Adam


Adam terkekeh


"Bunda belum adek beritahu kak"


"Oh, beritahu lah bunda, biar bunda tidak khawatir"


"Adek yakin bunda tak akan khawatir jika mendengar ayah kritis, tapi jika mendengar yang kritis kak Mas atau buk Ning, adek yakin seribu persen bunda akan khawatir"


Kembali Mikail tersenyum, diapun memiliki keyakinan yang sama dengan adiknya


"Terus bagaimana dengan buk Las?"


"Buk Las meninggal di lokasi kak"


"Inalillahi..." pekik Mikail tertahan


"Jangan beritahu dulu dek, nanti jika buk Ning sudah dinyatakan dokter baik-baik saja, baru kalian kasih tahu"


"Siap kak"


"Ayuk mana?"


"Nggak tahu, kayanya ngurus jenazah buk Las untuk segera dibawa pulang, dari tadi ayuk nangis terus lihat kondisi ayah"


Mikail menarik nafas panjang


"Diantara kita bertiga, ayuk lah yang sangat dekat dengan ayah dan mempunyai banyak kenangan dengan ayah dibanding kita berdua, dan kita juga tahu, bagaimana sayangnya ayuk dengan ayah"


Adam kembali tertawa kecut


"Dek, adek ikut pulang ke trans ya, kakak yakin di trans sekarang semua telah siap, adek imami shalat jenazah buk Las, adzan di liang lahatnya, dan doakan dia di malam tahlilan"


Adam mendecak


"Kenapa harus adek sih kak?, Mas Raffa kan ada"


"Adek, kakak yakin mas Raffa pasti sangat shock, dan pasti dia nggak akan kuat"


Adam diam, sementara dilihatnya Naura dan Nina berjalan kearahnya


"Iyalah kalau itu perintah kakak"


Mikail tersenyum


"Ikhlas ya dek..."


"Iya kak, iya..."


"وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ


Artinya: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. Al-Nur: 22)" Jelas Mikail


وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ...


Artinya: "Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun" jawab Adam


"Pinteeerrr...."


Adam tersenyum, setelah mengucap salam, dia menutup obrolannya pada Mikail


"Bagaimana, jenazah siap dibawa pulang?"


Nina dan Naura mengangguk serempak, mata keduanya terlihat sembab.

__ADS_1


"Adek akan ke trans sesuai dengan perintah kakak, nanti malam selesai tahlilan adek pulang lagi"


"Tante ikut Dek, karena cuma tante adik mbak Las yang bisa membantu memandikannya, jelas orang kampung juga bakal ikut memandikan, tapi mereka tak kan mau nyeboki mbak Las"


Adam menoleh pada Naura


"Ayuk tunggu di sini saja, nanti kalau buk Ning atau kak Mas nanyain buk Las jangan ngomong kalo buk Las sudah meninggal"


Naura mengangguk. Adam kembali memeluk ayuknya, mengelus-elus pundak ayuknya


"Kita yang tabah, tak ada cobaan yang Alloh berikan kepada hambaNya melebihi kemampuan hambaNya tersebut"


لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ


Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.


...****************...


Sirine ambulance yang meraung membuat semua pelayat yang memadati rumah pak Hermawan menoleh dan berdiri serta memberi jalan untuk ambulance masuk


Adam yang menaiki mobilnya bersama dengan Nina dan Alan mengiring di belakang.


Ketika ambulance berhenti dan pintunya dibuka, Raffa dan keempat adiknya berhamburan berlari sambil menangis meraung-raung


Kelimanya berebutan memegangi jasad ibunya, Hanum yang juga menangis terisak berusaha menahan Karin yang terlihat sangat terpukul.


Setelah jasad diletakkan dalam rumah, kembali Raffa dan adiknya meraung-raung.


Nina yang melihat kelima keponakannya menangis meraung tak kuasa menahan tangisnya.


Dirangkulnya kelima keponakannya. Adam yang melihat itu ikut menyusut air matanya.


Perlahan ditepuknya pundak Raffa. Merasakan ada tepukan dipundaknya, membuat Raffa menoleh dan segera menubruk Adam, menangislah dia tersedu-sedu di pelukan Adam


"Yang tabah mas..." hanya itu kalimat yang bisa diucapkan Adam


Ibu-ibu pelayat yang telah siap memandikan Laras segera meminta pada Nina dan Karin untuk bersiap. Bertiga dengan Hanum, mereka ikut memandikan Laras


Sekuat tenaga Karin berusaha tegar memandikan jasad ibunya. Dan Nina tanpa sungkan menggosok seluruh tubuh Laras yang tampak jelas biru kehitaman tersebut. Bahkan tanpa rasa jijik, dia menceboki dan membasuh seluruh bagian inti Laras.


Selesai memandikan Laras, Raffa dibantu Adam dan lelaki keluarga dekat mereka mengangkat tubuh Laras untuk segera dikafani.


Selesai dikafani, jasad Laras segera dimasukkan kedalam banduso. Dan Adam segera berdiri paling depan memimpin shalat jenazah.


اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ اِمَامًا| مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى


Usholli 'ala hadzahihil mayyitati arba'a takbirotin fardho kifayatin imaman lillahi ta'ala


Raffa yang ada dibarisan makmum terus terisak sepanjang shalat.


Selesai dishalatkan, dan jenazah siap dibawa ke kuburan, kembali Karin dan ketiga adiknya menangis meraung-raung


Kembali Nina berusaha tegar menghibur keponakan-keponakannya.


Selesai dengan acara lepas jenazah dari perwakilan keluarga, jenazah Laras mulai dibawa. Adam dan Raffa mengusung di depan, sementara yang mengusung di belakang pihak keluarga yang lain.


Karin sambil memeluk ketiga adiknya ikut berjalan ke kuburan. Hanum dan Nina terus berdiri di dekat mereka


Begitupun ketika sampai di kuburan, kembali Adam turun ke liang lahat, menyambut jenazah bersama Raffa dan dua lelaki lainnya


Setelah jasad Laras disemayamkan, Raffa dan dua lelaki lain naik, sementara Adam tetap berdiri di liang lahat, bersiap mengumandangkan adzan


Suara merdu adzan yang dilantunkan Adam, mampu membuat suasana sedih kian haru biru.


"Itu siapa sih, dari tadi saya lihat dia terus yang aktif?" bisik seorang perempuan paruh baya pada perempuan di sebelahnya


"Anaknya Andi..."


Perempuan tadi hanya bisa ber O panjang


"Ingat tidak, dulu kita pernah mengatainya hitam saat kita main ke rumah Ningsih pas lebaran"


Spontan perempuan tadi membekap mulutnya


Selesai adzan, Adam naik dan mulailah orang-orang menimbunkan tanah menutupi liang lahat


Setelah nisan terpasang dan gundukan tanah telah bertabur bunga, para pelayat mulai pulang ke rumah duka bahkan ada sebagian pulang ke rumah mereka


Raffa dan keempat adiknya kembali menangis terisak di atas gundukan tanah merah makam ibu mereka


Adam mengangkat kedua tangannya


Allāhummaftah abwābas samā'I li rūhihī, wa akrim nuzulahū, wa wassi' madkhalahū, wa wassi' lahū fī qabrihī.


Artinya: Dengan nama Allah dan atas agama rasul-Nya. Ya Allah, bukalah pintu-pintu langit untuk roh jenazah, muliakanlah tempatnya, luaskanlah tempat masuknya, dan lapangkanlah alam kuburnya"


Kembali Adam menepuk pundak Raffa, sambil menganggukkan kepala.


Dengan langkah berat Raffa dan keempat adiknya, Nina dan Hanum berjalan meninggalkan Laras yang kini terbaring seorang diri sampai nanti dibangunkan dihari akhir


...****************...


Selesai tahlilan, Adam pulang. Istri Dimas dan mas Indra ikut. Mereka berdua ingin mengetahui bagaimana keadaan suami dan istri mereka masing-masing


Nina tinggal di rumah sampai waktu yang belum bisa dipastikan, karena dia tak tega meninggalkan kelima keponakannya yang masih tampak shock


Sebelum naik ke mobil kembali Adam memeluk Raffa berusaha menguatkannya


"Maafkan semua kesalahan ibuk saya ya Dek.." isak Raffa saat memeluk Adam


Adam mengangguk

__ADS_1


"In Syaa Alloh saya sudah memaafkannya jauh sebelum buk Las meminta maaf pada saya Mas"


Raffa makin mengeratkan pelukannya dan makin menangis terisak mengingat seluruh kejahatan ibunya pada Adam dan saudara-saudaranya, terlebih kejahatannya pada bunda mereka


__ADS_2