Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Tiba Di Pekanbaru


__ADS_3

Kami sudah tiba di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu satu jam sebelum take off. Tiket sudah ada di tangan dan kami tinggal menunggu jadwal penerbangan ke Pekanbaru.


Kami duduk di waiting room setelah semua check -**i**n selesai. Aku berusaha tenang walau sebenarnya aku deg-degan.


Andi yang duduk di sebelahku segera meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku menoleh padanya.


"Takut?" tanyanya begitu aku menoleh padanya.


Aku menganggukkan kepalaku. Andi menepuk-nepuk tanganku yang digenggamnya. Aku jadi sedikit lebih tenang dan membiarkan tanganku di dalam genggaman tangan Andi.


Bu Suryati kulihat sedang menelpon dan berbincang-bincang, sedangkan pak Alam membaca koran. Mereka duduk bersebelahan dengan kami.


Tak lama terdengarlah announcement yang menyatakan bahwa pesawat tujuan Pekanbaru akan segera take off.


Segera kami berdiri dan berjalan menuju dimana pesawat yang akan kami tumpangi akan terbang.


Suamiku yang mengetahui kegugupanku dak melepaskan genggamannya. Saat kakiku akan menapaki tangga pesawat barulah dia melepaskan genggamannya.


Sementara aku mencari kursi tempat dudukku sesuai dengan nomor tempat duduk, suamiku meletakkan koper besar kami di bagasi. Aku segera duduk di kursi sesuai dengan nomor tempat dudukku begitu aku mendapatkannya.


Suamiku meletakkan tas nya yang berisi laptop dan dokumen ke dalam kabin, lalu dia duduk di sebelahku. Kembali diraihnya tanganku yang semakin dingin, lalu digenggamnya lagi.


Seorang pramugari mulai memberikan announcement pada para penumpang, lalu aku menuruti instruksinya. Aku mulai mengencangkan sabuk pengamanku, begitu pula yang dilakukan oleh suamiku. Selesai dengan seat belt, suamiku segera mematikan ponsel kami berdua.


Tak lama pesawat mulai akan take off, wajahku makin menegang. Keringat mulai keluar di keningku. Dan aku segera meremas baju suamiku. Menyadari hal itu suamiku segera menggenggam tanganku dan membawanya kedadanya. Sesekali diciuminya tanganku. Jika tidak karena tegang mungkin aku akan bahagia dengan perlakuan suamiku kali ini, tapi karena kondisi sedang ketakutan, maka semua perlakuannya biasa-biasa saja menurutku.

__ADS_1


Aku memejamkan mataku saat pesawat mulai akan naik, mulutku komat kamit membaca doa dan membaca ayat Kursi. Andi yang melihat wajah istrinya yang sangat pucat tersenyum geli. Andai bukan di dalam pesawat ingin sekali dia mencium wajah pias istrinya itu agar merah merona.


"Positif thinking saja sayang, semuanya kita serahkan sama yang Diatas" ucapnya menghibur istrinya yang masih ketakutan.


"Aku phobia sama ketinggian yah, sama aku takut kecelakaan" jawabku jujur


"Bismillah, ya?"


Aku mengangguk. Andi lalu mengelus pipiku, aku tersenyum kearahnya.


"Teruslah jadi istriku, karena aku sangat menyayangimu" lirihnya


Aku tersipu malu dan menarik tanganku dari genggamannya.


Andi tersenyum, dia senang akhirnya istrinya bisa tenang.


Aku menerima minuman itu dan menyeruputnya. Ini adalah penerbangan pertamaku, dan tentu saja aku sangat nervous. Tapi karena suamiku begitu sabar menghibur dan mengajakku mengobrol, akhirnya ketakutannya sedikit hilang.


Sekitar satu jam dua puluh menit akhirnya pesawat yang kami tumpangi landing di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II.


Para penumpang mulai berdiri dari kursinya masing-masing, begitupun dengan aku. Dengan perasaan lega dan mengucap syukur aku turun dari dalam badan pesawat, diiringi oleh suamiku yang berjalan di belakangku.


Suamiku dan pak Alam yang selesai mengambil koper kami dari bagasi segera menemuiku dan bu Suryati yang telah berjalan terlebih dahulu ke dalam bandara.


Kami berlima dengan pak Afdal segera naik mobil yang ternyata telah disediakan oleh kantor untuk menjemput kami. Mobil tersebut segera meninggalkan bandara dan membawa kami ke Grand Jatra Hotel yang mewah.

__ADS_1


Aku berdecak kagum saat melihat kemewahan hotel tersebut. Begitu juga dengan bu Suryati, beliau juga sama halnya dengan ku.


Suamiku dengan ketiga temannya segera menuju resepsionis untuk memesan kamar. Dan lagi-lagi ternyata kamarpun telah disediakan oleh pihak kantor. Suamiku dan temannya hanya mengambil kunci dan segera berjalan menuju lift untuk sampai kekamar kami. Porter yang membawakan koper kami segera membuka pintu kamar dan segera memasukkan koper yang dari tadi ditariknya.


Setelah selesai sang porter segera keluar dari kamar kami setelah sebelumnya diberikan tips oleh suamiku.


Aku segera merebahkan tubuhku di atas kasur setelah porter tersebut pergi . Suami membasuh mukanya di kamar mandi dan membuka kemejanya dan menggantinya dengan baju kaos. Aku hanya memperhatikannya sambil tiduran.


"Kabari ibuk bun kalau kita sudah sampai, takutnya ibuk khawatir" ucapnya


Aku segera bangkit dan mengambil hp yang ada di dalam tas, lalu mengaktifkannya dan menelpon ibuku.


"Mak, kami sudah sampai Pekanbaru" ucapku begitu sambungan telepon tersambung


Terdengar ucapan syukur dari ibuku. Setelah mengobrol sebentar, panggilan telepon kami akhiri.


"Lapar?" tanya suamiku


Aku menggeleng dan memilih merebahkan tubuhku lagi.


"Capek sekali apa bun?" lanjutnya


"Takutnya itu yang buat aku lemas" jawabku


Suamiku terkekeh. Dia ikutan rebahan di sebelahku, memiringkan tubuhnya sambil memeluk pinggangku.

__ADS_1


"Istirahat saja dulu, nanti jika lapar baru kita keluar" bisiknya.


Aku mengangguk dan mulai menutup mataku.


__ADS_2