Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Jujur kalau aku hamil


__ADS_3

Trimester pertama benar-benar sama seperti waktu aku mengandung Mikail. Setiap pagi aku morning sickness, lesu hingga menjelang siang, alhasil Mikail dan kewajiban mengajarku tidak maksimal.


Seperti pagi ini, tubuhku tidak bisa diajak kompromi. Adzan subuh sudah sedari tadi berhenti berkumandang, tetapi berat sekali rasanya aku buay bangun. Ku lirik Mikail dan Naura masih tertidur pulas, suamiku sejak lahir Mikail lebih sering tidur di kamar depan, ga bisa lasak katanya karena tidur berempat.


Dengan tubuh masih malas-malasan aku bangkit, segera ke kamar mandi lalu berwudhu. Sebelum sampai di ruang kamar yang kami pakai buat mushala, aku terlebih dahulu membangunkan suamiku mengajaknya berjamah


"Yah, bangun. Shubuh"


Tidak ada sahutan, suamiku masih tak bergeming dalam tidurnya.


"Sholat yuk" ucapku lagi kali ini dengan menggoyangkan badannya


"Hemmm" jawab suamiku


"Shubuh" kataku lagi


"Iya, nanti. Bunda duluan saja" jawab suamiku lagi


"Nanti shubuhnya lewat lagi seperti kemarin loh" kataku lagi


"Hemmm" hanya itu jawabannya.


Aku segera beranjak meninggalkan suamiku lalu masuk ke mushala dan sholat sendirian.


Sejak suamiku naik jabatan dan sering pulang malam, dia semakin jarang shalat shubuh. Dan sudah menjadi tugas ku tiap pagi membangunkannya, terkadang dia bangun, tapi lebih sering tidaknya. Aku terkadang kesal bila dia meninggalkan shubuhnya. Tapi mau apalagi, dari pada nanti ribut, mending aku nyari aman saja. Toh, dosa tanggung masing-masing.


...+++++++++...


Saat suamiku sarapan, akupun bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Mbak Dian yang kami minta buat menjaga Naura dan Mikail selama aku sekolah pun sudah datang.


"Ikut sarapan mbak" ajak suamiku ketika dilihatnya mbak Dian mengganti baju Naura yang tadi sudah aku mandikan. Sedang Mikail sudah selesai aku gantikan pakaiannya.


"Sudah tadi pak" jawab mbak Dian


"Kapan?"


"Di rumah" jawab mbak Dian tanpa mengalihkan perhatiannya dari Naura.


Suamiku terkekeh mendengar jawaban polos mbak Dian


"Jangan sungkan mbak, kalau lapar, pengen makan apa-apa tinggal ambil saja, jangan takut. Tenang saja, kalau Bunda ngomel ngomong saja sama saya" ucapnya bercanda


"Ayahhhhh... aku dengar loh" teriakku dari dalam kamar


Kembali suamiku terkekeh, kali ini mbak Dian juga ikut tertawa. Tak lama aku telah siap dan mematut diri di cermin sebelum keluar dari kamar dan sarapan.


"Yuk mbak kita sarapan" ajakku pula


"Nanti saja bun, kalau lapar saya ambil sendiri" jawabnya sambil meraih Mikail dari gendonganku.


Lalu mbak Dian mengajak kedua anakku ke ruang tamu dan bermain disana. Mikail dan sudah bisa tengkurap, sedari tadi tengkurap saja dia sambil memperhatikan ayuknya bermain boneka dengan mbak Dian.


Selesai sarapan aku dan suami lalu bersiap untuk berangkat kerja. Motorku sudah dipanaskan oleh suamiku berbarengan saat dia memanaskan mesin mobilnya tadi.


Setelah mencium pipi kedua anak kami, suamiku lalu berangkat setelah sebelumnya punggung tangannya aku cium juga. Sebelum masuk mobil dielusnya puncak kepalaku lalu segera dia mengeluarkan mobil dari garasi dan perlahan mobilnya berjalan.


Lalu aku masuk lagi kedalam rumah mencium pipi kedua anakku dan mengambil kunci motor lalu berangkat setelah sebelumnya menitipkan anak-anakku pada mbak Dian.


"Nitip anak-anak ya mbak" ucapku


"Iya bunda"


"Dagh ayuk, dagh adek" ucapku sambil menciumi mereka.


...++++++++++...


Tak sampai sepuluh menit jarak tempuh yang ku lalui, aku telah sampai di halaman sekolah menengah pertama swasta tempatku mengabdi. Karena aku ada di jam ketiga, jadi aku punya waktu untuk bersantai dulu di kantor, mengobrol ringan dengan teman sekantor dan para staff tata usaha.

__ADS_1


Tak terasa jam pelajaranku pun sampai, dengan semangat aku berjalan menuju ke kelas 7c.


"Assalamualaikum" ucapku saat masuk ke dalam kelas


"Waalaikumussalam" jawab mereka kompak.


Segera aku berjalan masuk dan duduk di kursi. Sebelum memulai pelajaran aku mengabsen mereka satu persatu.


"Who is absent today?" tanyaku


Mereka mulai gaduh menyebutkan nama teman mereka yang tidak masuk. Aku jadi bingung sendiri jadinya saking gaduhnya mereka.


"Okey enough, miss will call you one by one..ok? now keep silent please" ucapku melerai kegaduhan mereka.


"Ok miss" jawab mereka lagi.


Setelah mereka tak gaduh lagi aku mulai memanggil mereka satu persatu. Setelah selesai mengabsen, aku memulai materi hari ini.


"Ok, before we start our lesson, miss will ask you about our last lesson, our last lesson about letter writing, right?" tanyaku.


"Yes miss" jawab mereka


"Ok, last lesson miss tell you what is a letter,do you remember what is different of formal letter and informal letter?" tanyaku pada mereka.


Mulai anak-anak membuka catatan mereka dan berebutan menjawab. Aku mengangguk -anggukkan kepala mendengar jawaban mereka. Walaupun mereka melihat catatan saat menjawab, itu sudah membuatku semangat untuk memulai pelajaran.


"Ok, thank you all. Thank you for your answer, and then, let's we start our lesson today about example and analize formal letter" lanjutku sambil membagikan kertas materi kepada mereka.


Setelah semua mendapatkan kertas materi, aku lalu memulai pelajaran pagi ini. Semua anak-anak antusias mengamati dan menganalisa materi yang kubagikan.


Tak terasa, sembilan puluh menit sudah berlalu, terdengar bel pergantian jam dan akupun menutup pertemuan ku hari ini.


"*Time is enough, t*hank you for attention, see you next week, happy all day, and keep healthy, love you" ucapku sebelum beranjak meninggalkan kelas.


"Thank you so much too miss, love you full" balas mereka kompak.


Lalu aku meninggalkan kelas dan anak-anakpun mengikutiku keluar karena saat itu jam istirahat dan mereka akan ke kantin.


...++++++++...


"Makasih ya mbak" ucapku pada mbak Dian ketika dia mau berpamitan pulang karena aku sudah pulang ke rumah.


"Sama-sama bunda" jawabnya.


Mbak Dian memang hanya bertugas mengasuh kedua anak ku, dan ketika aku pulang mengajar, dia bisa pulang ke rumahnya. Tetapi mbak Dian memang baik hati, ketika kedua anakku tertidur, dia tak segan untuk membereskan rumah apabila saat ku tinggalkan masih berantakan. Itulah sebabnya setiap tanggal gajian kami selalu melebihi gajinya.


"Bun" terdengar Naura memanggilku. Aku segera beranjak ke kamar dan melihatnya. Naura menuruni ranjang dan berlari memeluk ku.


"Sudah bangun yuk?" tanyaku sambil menciumi pipinya.


Dia menggangguk dan ku lihat Mikail masih pulas.


"Yuk, kita kedepan, kita nonton" ajakku.


Naura mengangguk dan menggandeng tanganku berjalan keruang depan. Sesampai di ruang kekuarga, aku segera menghidupkan televisi dan mencari channel film anak-anak. Naura tampak antusias melihat film kartun yang ditontonnya, sesekali dia tertawa.


"Nih yuk" ucapku menyodorkan segelas susu padanya. Naura langsung meraihnya dan segera menenggaknya hingga tandas.


"Mau makan?" tanyaku


Dia menggeleng dan kembali fokus ke arah televisi.


Aku segera masuk kembali ke kamar dan mengambil benda mungil dalam tas yang baru dibelikan oleh suamiku seminggu yang lalu.


Alhamdulillah, Merasi sudah ada tower handphone. Jadi sekarang aku tidak susah lagi jika mau berkomunikasi dengan suamiku.


Memang yang menggunakan handphone masih jarang saat ini. Selain harganya mahal juga masih dirasa belum terlalu penting untuk sebagian orang.

__ADS_1


Iseng aku membuka menu pesan. Lalu aku mengetik sms yang akan aku kirimkan ke suamiku.


"Assalamualaikum Yah. Bunda sudah di rumah dan lagi nyantai sama ayuk, adek lagi tidur" ketikku. Lalu aku mencari nomor suamiku dan mengirimkan pesan tersebut. Tak lama ada notifikasi pesan terkirim.


Tidak ada balasan, mungkin suamiku sibuk pikirku. Jadi aku teruskan untuk menemani si ayuk menonton.


...+++++++++...


"Ini apa bun?" tanya suamiku malam ini ketika dia mau berganti pakaian selesai mandi


"Apa?" tanyaku balik


Suamiku mengangkat hasil testpack yang aku sembunyikan. Jantungku langsung derdetak kencang


"Nemu dimana yah?" tanyaku lagi


"Disini" tunjuknya pada lemariku.


"Ga tau itu apa?" kilahku


"Ini hasil testpack bun?" selidiknya


Aku menelan ludah. Mati aku, ucapku dalam hati.


"Bukan kok" elakku


"Bunda hamil lagi?"


"Apa sih yah?" aku masih mengelak


"Lah ini apa?" tanya suamiku sambil menunjukkan hasil testpack di tangannya.


Aku makin gugup dan merasa tersudut.


"Jujur deh sama ayah, bunda hamil lagi kan?, karena akhir-akhir ini ayah lihat bunda lesu terus"


"Kurang darah kali yah?" aku lagi-lagi mengelak.


"Oh Ya?" ucapnya seperti meragukan jawabanku.


Aku mengangguk dan segera keluar kamar menemui kedua anakku di ruang keluarga yang sedang bermain.


"Bundaaaa" suamiku berteriak mengagetkanku yang sedang memberi asi Mikail.


Aku segera beranjak ke arah kamar setelah sebelumnya melepaskan Mikail dulu.


"Apa sih yah, kok teriak-teriak?" tanyaku


"Apa ini?" ucapnya sambil mengangkat kertas hasil USG ku minggu lalu.


"Mati aku" batinku. Aku semakin gugup dan bingung mau menjawab apa lagi.


"Benarkan bunda hamil lagi?" tanyanya.


Dengan takut aku menganggukkan kepalaku seraya menunduk. Aku sudah siap jika akhirnya suamiku akan marah saat itu.


"Alhamdulillah" ucapnya sambil memeluk erat tubuhku.


Aku kaget dan segera mengangkat kepalaku melihat matanya. Tampak kebahagiaan dari mata suamiku.


"Terima kasih ya Rabb atas kepercayaanMu pada kami" lanjut suamiku masih dengan memeluk ku.


"Ayah tidak marah?" tanyaku.


Suamiku terkekeh.


"Justru ayah sangat bahagia bun" jawabny

__ADS_1


Alhamdulillah bisikku dalam hati. Ada kelegaan begitu tahu kalau suamiku tidak marah saat mengetahui kalau aku hamil lagi


__ADS_2