
Setelah lebih dari sembilan jam dalam pesawat, akhirnya pesawat landing di bandara internasional King Abdul Aziz. Saat itu sore hari
Aku yang ternyata tertidur di pelukan abang tidak merasakan guncangan ketika pesawat akan landing.
Aku membuka mataku ketika terdengar suara penumpang lain yang bersiap turun.
Aku kaget ketika sadar jika aku di dada abang. Dengan canggung aku menarik tubuhku dan berdiri mengikuti penumpang lain yang akan turun.
Sampai di luar pesawat, aku kembali bergabung dengan keempat temanku.
"Gila, aku dikelas VVIP say" ucap Mita yang sebelum pindah kelas duduk di sebelahku
"Kok kamu bisa pindah sih?" tanya yang lain
"Mana aku tahu, tiba-tiba ada pramugari nyuruh aku pindah terus aku diantar kekelas elit. Di sana beeeuuuu kalian nggak bakal nyangka" ucapnya takjub
Kami yang saat itu terus berjalan masuk ke dalam bandara terus mendengarkan kisahnya
"Aku seraya orang kaya" lanjutnya sambil tertawa
"Bahkan tadi aku sempat dengar pramugari yang mengantarku tadi bilang jika ada seorang konglomerat yang ngotot tukeran kursi sama aku karena istri dia ada di kelas kita, dan dia ingin membawa istrinya itu pulang"
Aku langsung menoleh kebelakang, menatap abang yang berjalan tak jauh di belakangku
"Orang yang dimaksud Mita pasti abang" batinku
Kami berlima celingukan, karena ini adalah pertama kalinya bagi kami menginjakkan kaki di Jeddah.
Kami memutar mata kearah penjemput yang berbaris tak jauh dari waiting room.
Kami membaca satu persatu tulisan kertas yang mereka angkat.
Ada seorang lelaki paruh baya yang mengangkat kertas bertuliskan namaku dan asal negaraku. Begitu juga teman-temanku yang lain
Kami segera menghampiri penjemput kami masing-masing. Sebelum berpisah kami saling berpelukan, dan saling berjanji jika ada waktu kami akan bertemu.
Tanganku ditarik, dan itu abang. Aku segera menghentikan langkahku. Mendongak kearahnya. Kudapati matanya yang sayu
"Please" ucapnya lirih
"Wait a moment sir" ucapku pada lelaki paruh baya yang bersamaku
Lelaki itu berhenti dan menungguku
"Jangan harapkan aku lagi bang, sama seperti aku yang tidak punya harapan lagi sama abang, tolong kita sama-sama saling melupakan, anggaplah kisah kita adalah kisah persinggahan" ucapku bergetar
"Abang tidak bisa Ndah"
Airmata sudah menggenang di mataku. Aku menggigit bibirku kuat, berusaha menahan luka hatiku
"Kembalilah pada Hatice, kembalilah dengan anak abang, bahagia abang adalah bahagiaku. Dibelahan bumi manapun abang berada, aku akan selalu mendokan abang"
Ariadi langsung menarikku kepelukannya. Kembali aku menangis.
"Maafkan aku bang. Aku tidak bisa jadi yang abang inginkan. Tapi aku yakin, Hatice bisa melakukannya" ucapku getir penuh kehancuran
Perlahan aku mendorong dadanya. Membalikkan badanku dan segera berjalan cepat meninggalkannya yang bergeming melihatku pergi.
Ariadi mengusap wajahnya berkali-kali, dia sedikit membungkukkan badannya ketika dirasa tubuhnya akan limbung.
Perasaan dan hatinya hampa, wanita tercintanya telah pergi membawa luka dan kecewa yang belum sempat dia obati.
Ariadi menarik nafas dalam-dalam, dalam keadaan yang hancur seperti itu, dia terduduk di kursi di waiting room. Pikirannya kalut, dunia serasa gelap baginya.
"Anne" gumamnya
Segera dia menuju loket dan memesan sebuah tiket penerbangan menuju Turki.
"Aku akan pulang Anne" bisiknya
...****************...
__ADS_1
Mobil yang membawaku dari bandara memasuki sebuah istana. Iya ini istana bagiku, karena besar dan megahnya bangunan itu.
Saat itu memang hari mulai temaram, hingga kemewahan rumah tersebut sanggup membuatku berdecak kagum
"Maa Syaa Alloh" gumamku takjub sambil keluar dari dalam mobil
"Mari saya antar ke dalam" ucap bapak yang menjemputku tadi yang kuketahui bernama Farhad
Mataku kian takjub ketika masuk kedalam. Rumah ini memang sangat istimewa
Di dalam telah duduk seorang perempuan yang sudah cukup berumur tetapi masih sangat cantik dan anggun di temani dua orang pelayan yang berdiri di belakangnya
Tampak pak Farhad menghampiri beliau dan berbicara sambil menunjuk-nunjuk kearahku
Beliau menatap kearahku, melihatku dari atas sampai bawah.
"Come here" ucapnya
Aku dengan gugup berjalan kearahnya dan membungkukkan sedikit tubuhku ketika sampai dihadapannya
"Kita sama derajatnya di mata Alloh, jadi kamu jangan membungkuk di depanku" ucapnya
Aku tersenyum lega mendengar ucapannya
"Saya sudah membaca semua riwayat kamu, tapi saya ingin kamu sendiri yang menceritakan pada saya" ucapnya
Dengan gugup aku memperkenalkan diriku, menceritakan sekilas keluarga dan ketiga anakku dan riwayat pekerjaanku
Beliau tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kamu saya tugaskan menemani saya, kemanapun saya pergi kamu harus ikut saya. Tapi sekarang kamu istirahat dulu, kamar kamu sudah dipersiapkan oleh pelayan lain"
"Farhad panggilkan kepala pelayan di rumah ini, suruh kepala pelayan itu mengantarkan Indah kekamarnya"
Pak Farhad langsung masuk kedalam, dan tak lama telah bersama seorang wanita yang berwajah khas timur tengah.
"*Naeam 'ami?"
"Tafaham 'umiy" (Faham ibu*)
"Dia Adibah, mulai sekarang kalau kamu butuh apapun beritahu dia"
"Baik Nyonya" jawabku
Lalu Bu Adibah yang sudah paruh baya membawaku naik kelantai atas melalui lift.
Tak butuh waktu lama kami sudah dilantai tiga, sepanjang jalan menuju kamar bu Adibah memperkenalkan dirinya padaku
"Nama saya Adibah, saya sudah hampir tiga puluh tahun bekerja disini. Saya dari kota 'Asir. Dan ini kamar kamu, kamu bisa beristirahat. Satu jam lagi saya akan kesini dan kita makan malam bersama pelayan yang lain"
Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum kearahnya. Bu Adibah membukakan pintu kamar, bersama kami masuk.
Sumpah, kamar pelayan saja begitu bagus apalagi kamar majikannya, pikirku
"Pakaian kamu sudah saya siapkan di sini" tambah beliau sambil membuka lemari.
"Dan ini juga alat make up kamu, kita disini harus tampil cantik, karena 'Ummi sangat tidak senang jika pelayannya pucat. Terlebih kamu, karena sekarang kamu yang jadi pelayan pribadinya"
Aku menarik nafas dalam, hadeeh jadi babu saja ribet banget sih batinku.
Setelah selesai dengan penjelasannya bu Adibah keluar dari dalam kamar, lalu aku merebahkan tubuhku di kasur yang sangat empuk.
Pikiranku melayang, tentu saja tentang ketiga buah hatiku. Perlahan sambil bersandar di bantal, aku membuka galeri hp, melihat foto ketiga anakku.
Tanganku terhenti pada satu buah foto aku saat bersama abang. Disana terlihat abang memelukku dari belakang yang saat itu aku duduk di kursi.
Aku ingat, itu adalah foto malam terakhir kami dinner, sebelum akhirnya Hatice datang.
Abang? ya Rabb aku terlonjak, abang tadi aku tinggalkan di bandara. Bagaimana dia sekarang? dadaku berdegup kencang, rasa khawatir langsung memenuhi dadaku.
__ADS_1
Tadi aku lihat abang begitu sedih saat aku tinggalkan. Tak terasa buliran bening mengalir di pipiku
Abang, semoga abang baik-baik saja lirihku.
...****************...
Ozkan Yilmaz
Dua jam dia duduk termenung di waiting room dengan pikiran kalut dan wajah kusut.
Berkali-kali dia mengusap wajahnya. Ekspresinya tak bisa ditebak, kadang sedih, kadang tegang, kadang marah.
Handphone di tangannya tak lepas dari genggamannya. Wajahnya akan berbinar saat dia melihat foto dirinya dan Indah. Tapi tak lama akan berubah sedih karena teringat jika pujaan hatinya itu telah jauh darinya.
Sekarang sang milyarder telah duduk di dalam pesawat di kelas eksklusif, first class.
Butuh waktu sekitar tiga jam empat puluh menit untuk sampai di bandara Ataturk, Istanbul.
Sepanjang perjalanan tak satu detikpun sang milyarder bisa memicingkan matanya.
Tubuhnya hanya terhenyak di kursi, wajahnya kian kalut dan berkali-kali dia membuang nafas dalam.
Pesawat akhirnya landing. Sang Milyarder dengan lesu turun dari dalam pesawat lalu keluar dari bandara.
Di luar bandara telah banyak taksi yang menunggu. Tanpa pikir panjang, dia segera masuk kesalah satu mobil dan menyebutkan alamat rumahnya.
Mobil taksi tersebut langsung membelah kota Istanbul yang indah. Tapi keindahan kota yang sudah empat tahun ditinggalkannya itu sedikitpun tidak menarik perhatiannya.
Sepanjang jalan dia hanya termenung menatap keluar melalui jendela kaca yang tertutup karena saat itu hujan turun.
Taksi terus melaju dan berbelok kekawasan perumahan elit. Tepat disebuah bangunan megah taksi berhenti, dan Ozkan turun dari dalam taksi.
Ozkan segera membuka dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang merah.
"Bu para nedir hocam?"
Ozkan membungkukkan tubuhnya demi mendengar ucapan sang supir
"Bu para nedir hocam?" ulang supir tersebut yang menanyakan jenis uang apa ini
Ozkan tersadar, didompetnya hanya berisikan mata uang Rupiah, bukan Lira.
"Bekle bir dakika içeri girip lira alayım" (tunggu sebentar, saya akan masuk kedalam mengambil uang Lira)
Supir itu mengangguk. Ozkan segera menekan bel yang ada disebelah pagar, tak lama seorang lelaki membukakan pintu pagar. Dan wajah lelaki itu sangat terkejut demi melihat tuannya berdiri di luar dalam keadaan basah.
"Maşallah hocam.." (Maa Syaa Alloh tuan) ucap lelaki itu kaget bercampur bahagia sambil memberikan payung yang dipakainya pada Ozkan
Ozkan segera menepuk pundak lelaki tersebut yang membungkukkan badan kearahnya sambil tersenyum hangat
"Lütfen taksimin parasını öde" (tolong bayarkan taksi saya) jawab Ozkan sambil masuk kedalam
Penjaga yang bernama Mehmet tersebut segera membayar ongkos taksi lalu ikut masuk kedalam rumah setelah sebelumnya menutup pagar
Pelayan lain yang melihat kedatangan Ozkan yang sedang berjalan di halaman segera berlarian berteriak di dalam rumah
"Genç efendi yuvası, genç efendi yuvası, maşaAllah maşaAllah" (Tuan muda pulang, tuan muda pulang, Maa Syaa Alloh, Maa Syaa Alloh)
Teriakan pelayan mengagetkan Nyoya Yilmaz yang saat itu sedang tertidur pulas. Karena memang saat itu tengah malam.
"Ozkan?" ucapnya tak percaya.
Segera disibakkannya selimut, dan segera melesat keluar kamar, berlari menuruni panjangnya anak tangga.
Airmatanya segera tumpah ketika dilihatnya sang anak kesayangan tengah memeluk suaminya, Tuan Yusuf Yilmaz.
Ozkan yang sedang memeluk sang ayah, demi melihat ibunya yang berjalan tertahan segera melepas pelukannya pada sang ayah.
Lalu menyongsong sang bunda dengan merentangkan kedua tangannya. Dipeluknya dengan hangat sang bunda yang tak dapat berkata-kata karena harunya
"Aşkım, oğlum" ucap Nyonya Yilmaz tersekat (Sayangku, putraku)
__ADS_1
Ozkan tersenyum
"Anne seni çok özledim" (Ibu, aku sangat merindukanmu)