
Aku kembali tinggal di kontrakan setelah sah bercerai. Walau keluarga besarku menentang dan menginginkan aku tinggal di rumah orang tuaku, tetapi aku menolak dan dengan keras kepala tetap memilih untuk tinggal mengontrak.
Seperti malam ini, ini sudah bulan ketiga anakku tidak bertemu dengan ayahnya. Dan Naura anak tertua dan sangat dekat dengan ayahnya sepertinya mulai terbiasa tanpa ayahnya. Sedang kedua anak lelakiku, mungkin karena mereka masih kecil, jadi mereka belum terlalu merasakan kehilangan ayahnya.
Malam ini, kami berempat berbincang di kamar sambil tidur-tiduran.
Mataku menerawang kelangit-langit kamar sementara satu tanganku aku jadikan bantal
"Bunda, ayah kok tidak bersama kita lagi?" buka Naura
Aku diam, aku pura-pura tidak mendengar pertanyaannya
"Kata Deva, aku tidak punya ayah" lanjutnya
Aku menafik nafas dalam
"Iya bunda, teman aku juga ngomong kalau aku tidak punya ayah. Padahalkan kami ada ayah kan bun?" sambung Mikail
Nyeri rasanya dadaku mendengar ucapan mereka.
"Ayah kemana sih bun, kok tidak jemput-jemput kita?" tanya Naura lagi
Aku duduk, menatap wajah polos mereka bertiga. Tampak sekali wajah penasaran dari raut wajah Naura dan Mikail
"Kan bunda sudah bilang, ini sekarang tuh rumah kita" jawabku
"Bukan bunda, rumah kita yang ada mamaknya" jawab Mikail
Aku menarik nafas berat, aku bingung bagaimana caranya aku menjelaskan kepada mereka bertiga jika aku dan ayah mereka sudah berpisah.
"Ayah kemana sih bunda? tidak mungkin ayah sibuk terus" sahut Naura
"Teman-teman kakak mengolok-olok kakak, katanya kakak tidak punya ayah" kembali Mikail mengucapkan kalimat itu
Aku menatap wajahnya dengan iba. Ya Rabb ingin sekali rasanya aku menangis mendengarnya.
Adam hanya diam, matanya meredup. Karena dia masih tiga tahun, aku yakin dia tidak mengerti situasi ini.
"Kita kapan pulang kerumah kita bunda?
"Iya bunda, sudah lama kita tidak pulang. Ayuk juga kangen sekali sama ayah"
"Tapi ayah kalian tidak kangen dengan kalian nak" batinku
"Kata ibunya Mila bunda sama ayah cerai, cerai itu apa sih bun?" tanya Naura
Deg!! Aku kaget mendengar ucapannya. Aku yakin masalahku ini tidak mungkin tidak menjadi bahan gosip ibu-ibu di sekitar kontranku. Tapi kenapa ketika mereka bergosip, mereka tidak menyadari ada anakku yang mendengar omongan mereka
"Bunda, cerai itu apa?" desak Naura
Hatiku bimbang, apakah sudah saatnya aku menjelaskan kepada mereka bahwa kami sudah berpisah?
Apakah ini waktunya mereka harus tahu jika mereka cuma punya aku, tidak punya ayah lagi?
"Bun?"
Aku tergagap, dengan menghembuskan nafas dan degup jantung cepat, aku berbicara perlahan dengan kedua anakku.
"Kalian masih ada ayah, tapi sekarang ayah tidak bisa sama-sama kita lagi"
"Kenapa?" potong Naura dengan wajah sedih
"Karena ayah dan bunda tidak bisa sama-sama lagi"
"Iya kenapa tidak bisa sama-sama lagi?" desaknya
Aku menarik nafas dalam.
"Bunda sama ayah sudah berpisah"
Tampak wajah bingung dari mereka berdua. Adam merengek, aku segera menepuk-nepuk pantatnya agar dia kembali terlelap
"Mulai sekarang, ayuk, kakak sama adek cuma punya bunda. Bunda adalah ibu sekaligus ayah untuk kalian bertiga"
"Bunda kenapa berpisah sama ayah?"
__ADS_1
Aku kembali diterpa kebingungan mendapati pertanyaan anakku
"Karena memang harus berpisah nak" jawabku
"Tapi kami pengen kita sama-sama lagi kaya dulu" sambung Naura
"Kalian masih terlalu kecil nak untuk tahu alasan kenapa ayah sama bunda berpisah" jawabku
"Kenapa kita tidak tinggal di rumah nenek saja?" celetuk Kakak
"Nanti, nanti nak ya. Untuk sementara kita tinggal di sini dulu"
"Ayuk pengen tinggal di rumah yang besar, yang bagus, yang tingkat, yang ada kolam renangnya" jawab Naura dengan mata berbinar
Aku tersenyum kearahnya.
"Nanti ya nak, nanti kita buat rumah yang bagus" ucapku
"Benar bun?" sahut kakak antusias
Aku menganggukkan kepalaku.
"Kakak juga mau rumah yang besar bunda, yang banyak lampunya, dan ada kolam renangnya ya Yuk, biar kira berenang terus tiap hari"
Kedua anakku tertawa bahagia. Aku mengaminkan semua ucapannya mereka dalam hati.
"Nanti kalau kita sudah punya rumah besar, ayuk pengen kamar ayuk ada ranjang bagus sama nanti temboknya warna ungu"
"Aku yang ada spidermannya" Mikail tak mau kalah.
"Kalau adek?" tanya Naura pada adiknya yang terlelap
"Adek kamarnya dengan kakak saja" sahut Mikail
"Ayuk nggak mau. Ayuk mau punya kamar sendiri"
"Insha Alloh, Insha Alloh nak ya, doakan bunda biar bisa buatkan kalian rumah seperti yang kalian inginkan" ucapku haru
"Nanti kalau rumah kita sudah jadi, kita ajak ayah juga ya bun?" ucap Naura
"Iya bunda, biar kita sama-sama lagi" sahut Mikail
"Kamar aku juga yuk, kamar aku ada ranjangnya juga, kamar aku juga bagus yuk"
Kedua anakku sibuk berkhayal aku hanya tersenyum mendengar khayalan mereka.
"Khayalan ini suatu hari nanti bakal bunda wujudkan, nak" batinku
"Ayo tidur, sudah malam ucapku yang kembali merebahkan tubuhku
"Bunda, kalau ayuk mau jadi dokter boleh?" tanya Naura yang ternyata belum memejamkan matanya
"Boleh" jawabku
"Kalau kakak mau jadi tentara bun" celetuk Mikail
"Aamiinn" jawabku
"Ah, nggak jadi deng. Ayuk mau jadi bidan saja" timpal Naura
"Kakak mau tukar kaya ayuk nggak?" tanyaku
"Tidak, kakak tetap mau jadi tentara" jawabnya
"Ayuk mau jadi bidan, biar nanti kalau ada yang mau berobat bisa berobat sama ayuk, gratis"
"Itukan dokter yuk" protes kakak
"Bidan juga bisa nyuntik, ya kan bun?" jawab Naura
"Bisa, tapi khusus untuk ibu hamil sama anak kecil" jawabku
"Kalau begitu ayuk mau buat klinik, terus ayuk cari dokter biar bisa nyuntik orang sakit" jawabnya
"Nanti ayuk mau buat klinik, boleh kan bun?"
__ADS_1
Aku menganggguk
"Kalau aku pengen ada pistol" jawab Mikail
"Yeeee namanya tentara ya ada pistol, malah pistol panjang, ya kan bun?"
"He eh" jawabku
"Kakak mau menembak orang jahat yang buat bunda nangis" jawab Mikail tegas
Deg!!!
Aku terkaget mendengar jawaban anak keduaku itu. Aku menoleh dan menatap bengong padanya
"Kakak sering lihat bunda nangis" jawabnya
"Ya Alloh, dia masih empat tahun" batinku
"Kapan kakak lihat?"
"Kalau malam pas kakak terbangun, kakak lihat bunda nangis" jawabnya polos
Aku segera mengelus kepalanya.
"Kakak sayang sama bunda" ucapnya
"Bunda juga nak, sayaaanggg sekali sama kakak" ucapku sambil menciumnya
"Bunda, kok waktu embah datang, embah ngomong kalau aku bukan anak ayah lagi, kenapa ya bunda?" kembali Naura bertanya
"Sudah ah, tidur" jawabku
"Nanti bunda, ayuk mau tau kenapa embah ngomong kalau aku bukan anak ayah, dan buk Las juga ngomong kalau dia bukan ibukku lagi"
Aku memiringkan badanku menghadap kearahnya
"Kan tadi bunda sudah ngomong kalau bunda itu ibu sekaligus ayah untuk kalian, dan masalah embah jangan difikirkan, toh kalian ada nenek" jawabku
Naura tersenyum, dia menatap langit-langit kamar
"Kak, kalau ayuk sudah jadi bidan, ayuk mau beli mobil" katanya
"Aku juga yuk. Mobil aku warna merah"
"Ayuk juga warna merah"
"Adek nanti warna apa ya yuk?"
"Adek warna hitam, kan adek hitam"
Kompak mereka berdua tertawa
"Kita nanti punya rumah bagus ya yuk, ada kolam renang, kita renang terus yuk tiap hari, terus aku jadi tentara, ada tembakan"
"Iya kak, nanti rumah kita tingkat ayuk mau kamar ayuk di tingkat, nggak mau di bawah. Terus nanti ayuk ada klinik, kalau yang mau berobat, gratis"
"Ahhh rugilah yuk kalau gratis"
"Iya ya kak, ahh kita suruh saja mereka bayar sejuta"
Kembali mereka tertawa. Aku ikut tersenyum mendengarkan khayalan mereka.
"Adek jadi tentara juga seperti kakak ya bun?" ucap Mikail
"Iya" jawabku
"Jadi nanti, kalau yang jahat sama bunda banyak, kami berdua yang bakal nembak mereka"
"Kok kakak mau nembak mereka?" tanyaku sambil memiringkan tubuhku menghadapnya
"Karena kakak sayang sama bunda" jawabnya memelukku
Aku mengusap-usap kepalanya sambil membacakan surah-surah pendek.
Tak lama keduanya terlelap. Tinggal aku yang masih terjaga.
__ADS_1
Aku kembali duduk, menatap ketiganya dengan pilu
"Akan bunda wujudkan nak mimpi-mimpi kalian, akan bunda buktikan dengan ayah kalian, jika bunda bisa membawa kalian menuju cita-cita kalian"