
Pak Abraham langsung memarkirkan mobil di tempat semula. Segera dia turun dan dengan kencang membanting pintu mobil sehingga Afdal yang masih ada di dalam terlonjak kaget
Dengan nafas memburu dia berjalan menuju meja dimana masih ada rombongan pak Andreas di sana.
Bugh!!!
Tinju besarnya segera melayang kewajah Andi. Andi yang mendapatkan serangan tiba-tiba dari Pak Abraham langsung tersungkur jatuh dari kursinya.
Pak Andreas dan yang lain kaget melihat Pak Abraham yang datang langsung melayangkan pukulan.
"Hei, apa-apaan ini?" ucap pak Jonathan kaget.
Afdal sambil berlari segera ikut memegangi tangan pak Abraham yang telah terlebih dahulu dipegangi oleh pak Tobias.
Tapi mereka kalah postur, sekali hentakan dengan menarik lengannya, cekalan tangan pak Tobias dan Afdal terlepas.
Dengan beringas, Pak Abraham menarik kerah baju Andi yang masih terduduk di lantai sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Bugh!! sekali lagi pukulan melayang.
"Ini untuk tangisan anak-anakmu" ucapnya sambil terus melayangkan bogem mentah kewajah dan perut Andi.
Afdal dan yang lain kelimpungan menahan amukan pak Abraham.
"Ini untuk air mata istri kamu" ucapnya sambil melayangkan tendangan salto kearah kepala Andi
Yang lain melihat pak Abraham melayangkan kakinya segera mundur.
Tubuh Andi ambruk di lantai. Masih dengan emosi yang meluap ditariknya kerah baju Andi.
"Aku bersumpah akan membunuhmu jika sekali lagi airmata ketiga anakmu jatuh karena ulahmu" ucapnya dengan gigi gemeletuk
Setelah berkata seperti itu, dia menghempaskan tubuh Andi kelantai.
Dengan santai dia mengambil tissue yang ada di meja lalu mengelap tangannya. Lalu diraihnya botol air mineral, menenggaknya hingga tandas lalu berjalan meninggalkan rombongan pak Tobias yang sibuk menolong Andi yang sudah babak belur.
Tenyata pak Abraham berjalan kearah kasir.
"Buatkan empat porsi ikan bakar besar, ayam panggang utuh serta minumannya, antarkan kealamat ini" ucapnya memberikan secarik kertas
Kasir itu segera membaca kertas yang tadi diberikan pak Abraham lalu memanggil seorang pelayan laki-laki
"Kamu tahukan alamat ini? tanyanya
Pelayan itu mengangguk.
Pak Abraham segera membayar keseluruhan tagihan dan juga memberikan dua lembar uang merah ketangan pelayan tadi.
Pelayan tadi langsung terbelalak mendapatkan uang tips yang demikian banyaknya
"Terima kasih pak, terima kasih" ucapnya dengan mata berbinar
Pak Tobias menepuk pundaknya
"Antarkan dengan segera, katakan dari pak Abraham"
"Baik pak" jawabnya
Pak Abraham langsung mengambil hp di saku celananya, mendial nomor pak Andreas
"Saya tunggu di parkiran pak. Kita segera pulang. Biarkan bajingan itu mati"
Tak lama rombongan pak Andreas muncul, tampak Afdal dan pak Tobias membimbing Andi berjalan. Pak Abraham tersenyum melihat Andi yang sudah lemah tak berdaya. Andi yang melihat pak Abraham membuang wajahnya.
Segera pak Miko membuka pintu mobil, dengan hati-hati pak Tobias dan Afdal meletakkan tubuh Andi ke kursi bagian tengah. Afdal langsung mengambil kemudi, dan segera menjalankan mobil dengan pelan
Pak Abraham berjalan santai masuk kedalam mobil dimana telah duduk pak Tobias
Pak Andreas menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kearah pak Abraham yang santai seolah tidak terjadi apa-apa
"Bahaya juga itu bodyguard bos" lirih pak Jonathan yang disambut tawa kedua rekannya.
"Bonyok pak Andi dibuatnya" sambungnya yang juga ikut terkekeh
Mobil mereka melaju pelan, sedangkan mobil Andi yang tadi dikendarai Afdal telah berjalan jauh karena Afdal akan membawa Andi kerumah sakit.
...****************...
"Bundaaaa ada embah" teriak Naura kegirangan.
__ADS_1
Aku yang sedang berada di dapur segera mematikan kompor dam bergegas berjalan keluar
Tampak olehku mertuaku, mbak Laras dan Maria turun dari mobil.
Aku segera mengambil dan menyusun mainan anak-anakku yang berserakan di lantai.
"Assalamualaikum" ucap bapak mertuaku
"Waalaikumussalam" jawabku sambil berdiri dan menyambut mereka.
Aku mengulurkan tanganku dengan niat hendak bersalaman, tapi cuma bapak mertua yang menyambut tanganku. Yang lain membuang muka dan mencibir sinis
" Duduk Pak buk" ucapku mempersilahkan mereka duduk.
Dengan pandangan jijik Maria dan Laras duduk di lantai.
Mikail dan Adam segera masuk dan duduk di pangkuanku.
Sedang Naura duduk di sebelahku.
"Salim sana sama mbah" ucapku pada ketiga anakku
"Tidak usah" jawab ibu mertuaku cepat
Ketiga anakku yang sudah siap hendak berdiri duduk lagi.
"Aku buatkan teh dulu ya pak" ucapku sambil meletakkan Adam dan Mikail di lantai
"Tidak perlu. Waktu jadi menantu kami saja kami tidak sudi meminum teh buatanmu, apalagi sekarang kamu bukan menantu kami lagi" jawab ibu mertuaku lagi
Aku diam dan tersenyum kecut kearahnya
"Bagaimana? enak diusir anak saya hah?" lanjutnya dengan sinis
Aku menelan ludah.
"Ayuk, ajak adik-adiknya main keluar dulu ya, bunda mau bicara sama embah" ucapku pada Naura yang menatap bengong pada ibu mertuaku
Naura mengangguk, dan segera mengajak kedua adiknya kembali bermain di halaman.
" Jadi jandakan kamu sekarang,emang enak" ucap Laras sambil tertawa mencemooh
Bergemuruh dadaku mendengar ucapannya. Sabar Indah, sabar bisik hati kecilku.
"Kenapa diam? hah? nggak punya mulut?" sambung Laras
Aku menoleh padanya.
"Ups, takutttt" ucapnya meledek demi melihatku menatap tajam kearahnya
"Kami akan pastikan untuk Andi segera mendaftarkan gugatan kepengadilan. Karena kami tidak ingin Andi lama-lama menduda, kami akan segera menikahkan dia dengan Tina" lanjut ibu mertuaku lagi
"Kasihan kamu Indah, sok suci sih" tambah Maria.
Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum sinis pada mereka
"Kalau tujuan kalian kemari hanya untuk menghina dan memaki saya, silahkan kalian pergi dari sini" ucapku penuh penekanan
"Hiii nggak tahu diri, siapa juga yang mau lama-lama disini" jawab Laras
"Kamu camkan satu hal Indah. Kamu tidak berhak atas seluruh harta anak saya. Jadi saat kalian bercerai nanti, kamu keluar hanya dengan baju di badan" ucap ibu mertuaku lagi
"Ah iya buk, kan Andi ada anak-anaknya, bagaimana mereka bisa hidup ya buk? kan selama ini mereka hidup karena hasil dari jerih payah Andi?" tanya Laras yang sengaja dibuat-buat untuk menghinaku lagi
"Itu bukan urusan kita. Karena kita tidak ada urusan lagi dengan mereka. Yang menjadi urusan kita adalah Andi, kalau anak-anaknya terserah Indah" jawab pak Hermawan
Aku menatap tak percaya pada bapak mertuaku. Tidak kusangka sepicik itu cara berfikirnya
"Benar kata bapakmu, anak-anak Andi bukan tanggungannya lagi. Semua biarlah jadi tanggungan Indah. Mau mereka makan, mau kelaparan, apa perduli kita" jawab ibu mertuaku
"Ya Alloh bapak sama ibu tega ya berkata seperti itu" jawabku
"Hei, stop memanggil kami bapak dan ibu, karena kami bukan mertuamu lagi. Tidak sudi saya dipanggil ibu lagi sama kamu"
Aku menarik nafas panjang.
"Kenapa? bingung ya mikir bagaimana anak-anak kamu hidup?" ucap Laras sambil mencibir
"Jual diri saja kamu" sambungnya
__ADS_1
Aku menatap tajam kearahnya
"Jaga mulut kamu Laras. Apa kamu masih mau aku tampar? ucapku marah
Laras dan Maria terkekeh
"Miskin saja sok-sokan. Halaaahhh sudahlah Indah, bagaimana kamu mau menghidupi ketiga anakmu hah? gaji kamu sebagai honorer mana bisa ngidupin tiga anak. Jadi saya sarankan untuk kamu menjual diri saja" sambungnya masih dengan tertawa santai
"Terima kasih untuk sarannya. Tapi aki tidak serendah yang kamu bayangkan" jawabku dengan dada turun naik menahan emosi
"Terserahlah Ras, dia mau jual diri kek, mau jadi pengemis kek, bukan urusan kita" jawab bu Mira
"Nikmatilah hidup susahmu Indah. Nikmati semua sengsaramu ini. Saya doakan semoga kamu makin sengsara dan menderita" ucap Laras padaku dengan sinis
Maria tampak terkekeh mendengar ucapan Laras
"Jangan terlalu kalian menghina orang. Karena tidak selamanya yang miskin itu akan miskin, dan yang kaya itu akan kaya" jawabku
"Oh tidak bisa. Kami memang banyak uang, kamu tahukan berapa banyak paket sawit kami?, sepuluh paket, itu artinya ada dua puluh hektar, dan kami juga punya dua mobil" jawab bu Mira bangga
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Dan kamu juga tahukan, Maria ini anak tauke, itu artinya dia juga kaya, lah kamu?? apa yang kamu punya?" ucap Laras lagi
"Saya memang tidak punya harta. Yang banyak harta itu orang tua saya" jawabku
"Ah terserah, kami tidak perduli. Pokoknya anak-anak itu urusan kamu. Dan sekarang kami mau kerumah Andi, kami mau mengajak dia mengurus surat gugatan kepengadilan" jawab bu Mira sambil berdiri
"Ayo pak kita pulang, tidak ada untungnya kita di sini" lanjutnya
Mereka semua berdiri dan segera keluar dari dalam kontrakan kami.
"Embah mau pulang ya?" ucap Naura segera menghampiri ketika dilihatnya pak Hermawan dan yang lain berjalan kearah mobil
Bu Mira tidak menjawab, dia terus saja berjalan tanpa menoleh pada ketiga anakku
"Mbah, suruh ayah jemput kami ya" sambung Naura
Bu Mira menghentikan langkahnya
"Itu bukan ayah kalian lagi, kalian tidak punya ayah" jawabnya sambil melototkan matanya kearah Naura
"Bu Mira stop. Jangan bicara seperti itu sama Naura. Dia masih kecil, dia belum tahu apa-apa" jawabku cepat
"Naura, ayah kamu sekarang sudah cerai dengan bunda kamu. Dan kamu tidak punya ayah lagi. Jadi mulai sekarang jangan mencari ayah kamu lagi ya" ucap Laras sambil berjongkok dihadapan Naura
Hancur rasanya hatiku melihat perbuatannya pada anakku. Aku yang hampir dua minggu ini menyembunyikan dari anak-anakku sekarang harus berusaha menjelaskan lagi pada mereka kemana ayahnya
Naura menatap polos pada Laras.
"Ayah ada tempat ibuk?" tanyanya polos
"Saya bukan ibuk kamu lagi. Jadi jangan panggil saya dengan sebutan ibuk ya" lanjutnya dengan pelan
"Laras, kalau kamu mau pergi, silahkan pergi. Jangan racuni otak anak saya" ucapku geram
Laras segera berdiri dan menatap tajam kearahku
"Selamat menjadi janda Indah. Dan selamat jadi lon**" ucapnya sinis lalu berjalan pergi menyusul yang lain
Gigiku gemeletuk menahan marah mendengar ucapannya.
"Dadah mbah, dadah mbah" teriak Mikail sambil melompat-lompat saat mobil mulai berjalan
Aku segera masuk kedalam, terduduk lemas di lantai. Menunduk menahan tangis dan marah yang memenuhi dadaku
"Bunda, cerai itu apa?" tanya Naura yang tiba-tiba masuk dan duduk di depanku
Aku menatap dalam matanya sambil menggeleng.
"Kok mbah ngomong kalau ayah bukan ayah kami lagi" ucapnya lirih
"Maksud mbah itu karena ayah tidak sama kita yuk" jawabku berusaha tenang
"Tapi ayahkan memang tidak sama kita bunda"
"Ayah sibuk nak" jawabku
Tampak Naura tercenung.
__ADS_1
"Tapi ayuk kangen ayah, bunda" lirihnya
Aku segera memeluknya erat. Air mata telah siap jatuh dipipiku. Kamu boleh membenciku Andi, tapi jangan dengan ketiga anakmu, mereka tidak tahu apa-apa, batinku sambil memejamkan mata yang membuat airmataku sukses mengalir