Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Lamaran


__ADS_3

Di hari pertama bekerja setelah libur hari raya tak membuat Andi santai. Setelah acara halal bihalal sesama pegawai kantor, Andi kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Begitupun dengan Indah, sepeninggalnya Andi, dia melanjutkan pekerjaannya yang lain. Rumahnya hari ini masih akan ramai dengan tamu-tamu, oleh sebab itu Indah harus sesegera mungkin merapikan rumahnya. Jangan sampai ketika tamu datang, rumahnya masih berantakan. Apa kata orang nanti, rumah anak gadis kok berantakan. haha


Berbeda tempat dengan kediaman orang tua Andi. Sepeninggal Andi bekerja orang tuanya masih membahas tentang hubungan Andi dan Indah.


"Wong dusun ki larang buk" ucap Laras


"Orang dusun itu mahal buk"


Sang ibu mengangguk tanda setuju.


"Kita ga bisa maksa kan kehendak kita buk, yang jalani hidup kan Mas Andi, kesian kalo Mas Andi di atur-atur" Joni membela sang kakak.


"Kita rembukan lagi nanti sama Andi kalo dia pulang, kalo dia memang benar-benar mau menikahi Indah, kita bisa apa buk? sebagai orang tua kita cuma wajib memberi restu" Pak Hermawan mencoba menenangkan hati istrinya. Bu Mira menghela nafas berat, jelas sekali terlihat kalau hatinya belum ikhlas.


...++++++++...


Sore ini Andi pulang ke desanya. Karena besok sabtu, dan kantor libur Andi memutuskan untuk pulang ke desanya. Hari itu tepat satu bulan setelah dia pulang membawa Indah untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.


Begitu jam kantor telah usai, Andi membereskan file-file di atas meja kerjanya, dan menyimpannya di filing cabinet. Setelah memastikan semuanya beres, Andi mulai keluar dari ruangannya. Saat di parkiran dia berpapasan dengan rekan-rekannya yang lain yang juga mau pulang kerumah. Mereka menganggukkan kepala mereka ke arah Andi yang di balas senyum hangat oleh Andi.


Andi melajukan motornya menuju rumah Indah. Dia memang sudah berencana pamitan dengan Indah. Dia mau memberitahu Indah bahwa weekend ini tidak bisa jalan karena dia ada urusan keluarga.


Tak butuh waktu lama, sekitar tiga puluh menit motor Andi telah berhenti di halaman rumah Indah.


Indah yang sudah hafal suara motor Andi segera berlari menyongsong sang pujaan hati. Matanya begitu berbinar ketika melihat wajah Andi. Segera diciumnya punggung tangan Andi, dan Andi seperti kebiasaannya akan mengacak-acak puncak kepalanya.


"Tumben kak kesininya sore?" tanya Indah setelah keduanya duduk.


"Kakak cuma mampir, sekalian mau pamit"


"Pamit?" Indah mengerutkan dahinya


"Iya, sore ini kakak mau pulang ke kampung, ada urusan"


"Ohh"


"Maaf ya, minggu ini kita ga jadi jalan" sesal Andi


"Its gonna be okay honey" jawab Indah dengan senyum termanisnya.


"Sejujurnya, kakak pulang kekampung pengen ngajak keluarga kakak buat melamar kamu Ndah"


Deg!! jantung Indah berdegup kencang tiba-tiba. Dia diam saja, bingung harus menjawab apa. Apakah dia harus bahagia ataukah harus bersedih.


Menyadari Indah diam, membuat hati Andi jadi tak karuan. Dia jadi bingung sendiri, apakah Indah shock dengan omongannya tadi.


"Are you okay?" tanyanya sambil menyentuh tangan Indah.


Indah gelagapan mendengar pertanyaan Andi, dia cepat-cepat menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"I'm okay" jawabnya.


"Kita akan sama-sama hadapi semuanya Ndah, jika keluarga aku tidak menyetujui hubungan kita, aku rela meninggalkan mereka"


Indah menggeleng cepat mendengar ucapan Andi. "No, big No kak, aku ga mau menjalani rumah tangga tanpa restu orang tua. Ridhoollaahi fii ridhoolwaalidain, wa sakhothulaahi fii sakhothilwalidain. Ridho Alloh ada pada ridho kedua orang tua, dan kemurkaan Alloh, ada pada kemurkaan kedua orang tua" Indah mencoba menjelaskan.


Andi menarik nafas berat. Dia merenungkan hadits yang dibaca Indah barusan.


"Kalau sudah menjadi rezeki kita ga akan kemana, sesuatu yang sudah ditetapkan Alloh menjadi milik kita, seberat apapun jalannya, akan tetap menjadi milik kita. Sesuatu yang Alloh tetapkan bukan menjadi milik kita, semudah apapun jalannya tidak akan pernah menjadi milik kita. Alloh tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Kita cuma bisa berdoa, Alloh lah yang menentukan"


Andi terperangah dengan ucapan Indah. Dia benar-benar tidak menyangka akan sebijak itu jawaban Indah. Dia makin kagum dengan kepribadian Indah, dan semakin yakin jika Indah adalah perempuan terbaik untuknya.


Setengah jam sudah berlalu, jam pun telah menunjukkan pukul lima, Andi pun segera berpamitan.


Indah mengantarkannya sampai ke dekat motor. Setelah Andi pergi, Indah pun masuk kedalam rumahnya.


...+++++++...


"Jadi kamu benar-benar serius sama Indah?" buka suara pak Hermawan setelah seluruh anak dan menantunya berkumpul.


"Insha Alloh iya Yah" jawab Andi mantap


"Sudah benar-benar kamu pikirkan?" kali ini sang ibu yang berkata


"Sudah buk, Insha Alloh Andi yakin"


"Sayang ya waktu Indah kesini mbak tidak ada" sambung Ningsih kakak tertua Andi.


"Heleh, kan baru ketemu sekali. Dari mana kamu tahu dia baik" Laras cepat menyahut.


"Sudah dong buk jangan memperkeruh suasana" Rudi, suami Laras menimpali. Laras bersungut-sungut kearah suaminya. Kentara sekali dia tidak suka suaminya membela Indah.


Setelah rembukan panjang malam itu akhirnya keluarga Andi menyetujui jika Andi akan melamar dan menikahi Indah. Walau butuh waktu yang alot untuk membujuk sang ibunda yang masih keras hati menentang hubungan keduanya.


Malam ini akhirnya Andi bisa bernafas lega, akhirnya hati sang ibu bisa diluluhkan. Rasanya tak sabar dia menunggu Senin untuk memberi tahu kabar baik ini pada Indah.


...++++++++++++...


Karena hari ini Andi berangkat kerja dari rumah orang tuanya di kampung, jadilah setelah selesai sholat shubuh dia berangkat. Hari masih begitu pagi ketika Andi sudah siap akan berangkat. Sang ibu sudah menyiapkan bekal untuk Andi sarapan di kantornya.


Setelah mencium punggung tangan orangtuanya, Andi segera menaiki motornya.


Lebih dari dua setengah jam buat Andi tiba di kantor. Setiba di kantor, baru ada beberapa karyawan yang datang. Andi segera menuju ruangannya, dan membuka bekal yang tadi telah disiapkan oleh ibunya. Perlahan dia melahap masakan ibunya. Nasi putih dengan sambal tempe kering dicampur kacang tanah, ayam goreng dan ada tumisan sayur..


Sedang asyik melahap bekal, tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Andi menghentikan kunyahannya dan menoleh kearah pintu. Tampaklah olehnya, Rian, seorang Office Boy lengkap dengan sapu dan kain pel mengangguk hormat pada nya.


"Maaf pak, saya mau membersihkan ruangan Bapak" ucapnya sopan


Andi mengangguk dan segera menutup bekalnya lalu menenggak air mineral yang ada di meja.


Rian adalah seorang pemuda yang baru tamat SMA. Dia sudah hampir tiga bulan bekerja di kantor yang sama dengan Andi.

__ADS_1


Setelah dipersilahkan Andi untuk masuk, Rian dengan cekatan segera menyapu, mengelap dan mengepel ruangan itu. Sementara Rian membersihkan ruangannya, Andi mengobrol dengan temannya di ruangan lain.


Tak lama, dilihatnya Rian melewati ruangan tempatnya dan teman-temannya berkumpul, Andi bergegas meninggalkan teman-temannya setelah sebelumnya berpamitan pada mereka.


"Yan, Rian" panggilnya


Rian menghentikan langkahnya dan memutar badannya melihat Andi yang berjalan kearahnya.


"Ya pak?" jantung Rian tiba-tiba berpacu kencang, perasaannya pekerjaannya tadi baik-baik saja, lalu kenapa Andi memanggilnya?


Andi menepuk pundak Rian. "Ga usah gugup gitu" ucapnya terkekeh. Rian tersenyum kecut.


"Ini buat beli sarapan" Andi meraih tangan Rian dan menggenggamkan uang ketangan Rian.


Rian langsung tersenyum sumringah kearah Andi. Ini bukanlah kali pertama Andi memberinya uang tips. Di mata Rian, Andi adalah orang yang baik, ramah dan rendah hati. Walau jabantannya sudah tinggi, tetapi dia tak malu berteman dengan seorang OB macam dirinya.


"Terima kasih pak, terima kasih" ucapnya penuh bahagia.


Andi tersenyum lalu melambaikan tangan kearah Rian sebelum akhirnya dia kembali keruangannya.


Setelah Andi menghilang dari pandangannya, Rian membuka tangannya. Alangkah terkejutnya dia, dua lembar uang berwarna merah dengan gambar presiden ada di tangannya. Tak henti-hentinya dia bersyukur dan memuji kebaikan Andi.


...+++++++++...


Setelah diberi tahu oleh Andi bahwa orang tua nya akan melamar, Indah segera memberi tahu kedua orang tuanya. Orang tua Indah tentu saja bahagia. Tapi berbeda dengan Indah, Indah tahu betul bagaimana ketidak sukaan ibunya Andi terhadap nya.


Mendapati kegelisahan di hati anaknya, bu Siti memberi saran pada Indah.


"Istiqarah nak"


Indah mengangguk. Ya, saran ibunya betul sekali. Manusia bisa saja menganggap sesuatu baik menurut mereka, tapi belum tentu menurut Alloh.


Malamnya Indah istiqarah disepertiga malam. Malam pertama, kedua, ketiga belum juga dia mendapatkan petunjuk. Dia sudah pasrah saja akan ketentuan Alloh. Tapi semenjak istiqarah itu, hatinya bertambah sayang pada Andi. Hatinya makin mantap memilih Andi untuk menjadi pendamping hidupnya. Mungkinkah ini jawaban dari Alloh? Indah sendiri tidak tahu.


Untuk lebih meyakinkan hatinya, Indah memberanikan diri untuk curhat kepada Pak Fitriyan, kepala sekolah di sma tempatnya mengabdi. Dari beliau Indah diberi nasihat yang membuat Indah semakin yakin bahwa rasa sayang yang semakin bertambah bisa jadi adalah jawaban dari Sang Khalik.


...+++++++++++...


Malam ini adalah malam pertunangan Indah dan Andi. Andi menyematkan cincin di jari manis Indah sebagai tanda bahwa mereka resmi bertunangan. Dan untuk pertama kalinya pula kedua belah pihak keluarga bertemu.


Sambutan hangat pihak Pak Ahmad menyambut calon besannya begitu terasa. Selesai acara inti, kedua keluarga mengobrol hangat.


Hati Andi dan Indah jadi lega menyaksikan kedua orang tua mereka mengobrol. Kekhawatiran mereka beberapa hari ini mencair tatkala melihat betapa hangatnya kedua keluarga itu bercengkrama.


Sementara yang lain sedang menikmati malam malam, Andi dan Indah keluar dari rumah dan berdiri di halaman. Tangan keduanya saling menyatu bergandengan. Sesekali Andi mencium tangan kekasihnya. Senyum bahagia terkembang di bibir keduanya.


"Akhirnya" bisik Andi yang disambut Indah dengan tertawa geli.


"Alhamdulillah" sambung Indah.


Berdua mereka menatap rembulan separuh di atas langit malam itu. Langit begitu bersih, bulan bersinar dan bintang-bintang gemerlapan seakan ikut bahagia dengan harmoni dua insan yang sedang kasmaran tersebut.

__ADS_1


__ADS_2