
Naura menerobos masuk dengan wajah marah, Laras yang berdiri di tengah bahkan sampai terdorong akibat dia tadi menerobos
"Bunda kita pulang"
Aku menggeleng
"Naura, lihat dulu tante kamu, kamu ingat nak, dia dulu sangat menyayangimu di saat mbah dan bukdemu membenci kita"
Naura menoleh kearah ranjang, lalu dia duduk di sebelah bundanya, menatap dengan iba
"Tante Nina mendapatkan karma atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan" lirihnya
Lalu dia berdiri dan menarik tangan Andi
"Ayah, bagaimana dengan sumpah serapah aunty Lena??"
Air matanya langsung mengalir deras dan matanya menatap nanar Andi
"Tidak nak, karma itu telah menimpa bukdemu Laras, tapi dia tidak menyadarinya" ucapku menatap sinis Laras
Laras langsung ternganga dan siap menjawab omongan Indah tepat disaat Adam bersuara
"Untung kejadian itu terjadi ketika kami masih kecil, jika itu terjadi sekarang, belum kakak yang akan marah pada kalian, aku duluan yang akan bertindak"
Aku segera mengusap kepala Adam yang masih duduk di dekat kakiku
"Semuanya telah dibalas oleh papa kalian, tepat di hari itu"
Wajah Andi menegang. Adam tersenyum.
"Naura, kamu punya kenalan dokter jiwa atau psikolog nak?"
Naura yang masih menatap Andi segera menoleh kearah bundanya
"Nanti ayuk hubungi pihak kampus bun"
Aku lalu mengusap kepala Nina, mencium keningnya
"Yuk, kami pulang. Kabari terus kesehatan Nina. Aku akan bantu biayanya"
Bu Mira tertunduk malu mendengar ucapan Indah. Tapi beda halnya dengan Laras, mendengar itu dia langsung nyolot
"Kamu nggak usah sok baik, kami ada kok biaya untuk ngobatin Nina"
Aku yang masih mengusap kepala Nina langsung menoleh
"Punya uang?, yakin?, jika kalian ada uang Nina nggak akan sampai kalian pasung dan sampai seperti ini keadaannya. Sudahlah kamu nggak usah sombong, udah kere masih aja sok"
Wajah Laras langsung terkesiap mendengar jawaban Indah
"Mama, we go home, I am uncomfortable in here"
Aku menoleh ke arah Defne yang tiba-tiba muncul.
Andi menatap kearah Defne sambil tersenyum lembut. Defne malah membalas dengan tajam
"Who are you?, why you looked me like that?"
"He is our father" jawab Naura pelan
"Your father?, your father is my Daddy ukhti, not him"
Aku tersenyum mendengar jawaban Defne
"Yes, our father is your Daddy, he is only our father on certificate of birth"
Andi terdiam mendengar jawaban Naura.
Lalu aku mengecup kening Nina dan beranjak berdiri
"Mbak Indah...."
Aku refleks menoleh mendengar Nina lirih menyebut namaku.
__ADS_1
Aku duduk kembali dan mengusap rambutnya lagi
"Ya Nin?, mbak disini, ada apa?"
Mata Nina membuka dengan pelan, tampak sekali sayu di mata itu.
Defne dan Naura mendekat
"Lihat, ini Naura. Kamu ingat, ini keponakan kamu Naura.." lirihku dengan mata yang kembali basah
Naura ikut duduk di dekat Nina. Dengan lembut Naura menyentuh tangan Nina yang tampak pucat
"Tante, ini Ula. Tante ingat?
Nina menatap kosong pada Naura, Defne menggenggam erat bahuku. Aku menoleh padanya dan memangkunya.
"She is Naura's aunty. Your aunty too"
Defne hanya mendongakkan kepalanya padaku
"Ula janji, Ula akan bawa tante berobat, Ula janji tante akan sehat seperti dulu lagi"
Sambil mengucapkan itu Naura memeluk tubuh ringkih Nina. Mbak Ningsih dan Dimas ikut menyusut mata mereka.
...****************...
Aku memeluk mbak Ningsih saat kami akan pulang. Istri Dimas dan Dimas turut memeluk kami.
Wajah Andi tampak murka melihat kearah Ozkan yang sejak tadi sangat memperhatikan Indah
"Indah sangat bahagia, aku bisa lihat dari matanya bagaimana dia sangat mencintai suaminya" batinnya
Bu Mira, Laras dan pak Hermawan hanya terpaku memperhatikan saat Ningsih dan keluarganya mengantarkan Indah sekeluarga sampai kemobil mereka
"Itu ya buk mobil Adam?
"He eh"
"Hemm banyak sekali sih uang perempuan sialan itu, awas dia"
Bu Mira dan Laras dengan cepat terdiam dan kembali menatap penuh iri pada keluarga Indah
"Bujuk Nina agar dia mau diajak berobat. Bila perlu mbak vc aku, biar dia lihat aku, In Syaa Alloh Nina bisa diajak kompromi bila mbak bilang mau dibawa ke rumah kami"
Ningsih mengangguk dan kembali dia memeluk erat Indah
"Terima kasih Indah, berkat kamu Nina hari ini bisa tenang walaupun hanya sebentar"
Trenyuh rasanya hatiku mendengar itu. Itu artinya Nina tiap hari mengamuk.
"Mbak akan bawa kamu berobat kemanapun Nin, bila perlu mbak akan bawa kamu ke nona Alima" batinku
...****************...
"Papa, boleh Naura satu mobil dengan bunda?"
Ozkan yang sudah siap masuk mobil bersama Indah dan twins mengurungkan niatnya
Dipandangnya Naura sambil tersenyum manis. Dengan mengusap kepala Naura dia mengangguk
Andi yang masih memperhatikan makin merasa sakit hati karena Naura juga dekat dengan ayah sambungnya
"Tomo, kamu bawa mobil!"
Pak Tomo mengangguk hormat pada Ozkan, segera dia mengambil kunci mobil yang diulurkan Ozkan, lalu dia segera mengeluarkan mobil dari parkiran
Aku memandang kearah Naura yang menatapku dalam. Aku tahu mengapa dia tiba-tiba ingin satu mobil denganku
"Aku di mobil satunya sayang ya, sama Adam dan pak Binsar" ucap Ozkan sambil mencium puncak kepala istrinya
Andi melengos melihat itu. Terlebih ketika dilihatnya Indah mendongakkan kepala kearah Ozkan sambil tersenyum manis
"Kurang ajar. Mereka sepertinya sengaja membuatku panas"
__ADS_1
Ozkan lalu mengusap kepala Serkan dan Defne lalu dia berjalan kearah mobil putih yang tadi telah keluar dari area parkir
Aku dan kedua anakku segera naik, Naura yang masih berdiri kembali memeluk Dimas
"Mungkin ini adalah terakhir kalinya Ula kesini kak"
Dimas menarik Naura, menatapnya sambil menggelengkan kepala
"Jangan bilang begitu dek, kita akan terus bersaudara terlepas dari apa yang terjadi dimasa lalu antara oom Andi dan bundamu"
Naura menyusut air matanya
"Aku terpukul dengan kenyataan pahit yang kembali harus aku telan kak, aku telah jadi manusia naif dengan selalu menyayangi ayah dan tak mempercayai perbuatannya. Tapi hari ini aku mendengar sendiri dari mulut bunda, hal yang selama ini sangat ingin aku ketahui"
Dimas dan mbak Ningsih menarik nafas dalam
"Buk, secepatnya Ula akan kasih kabar dokter yang bisa ngobatin tante, nanti jika telah ada, Ula minta kak Mas antar tante ketempat kami"
Mbak Ningsih mengangguk. Lalu Naura memeluk erat mbak Ningsih dan istri Dimas dan menyalami mas Indra, baru setelahnya dia masuk mobil
Mobil yang dikemudikan pak Abraham segera keluar dari area parkir. Sebelum melaju, pak Abraham membunyikan klakson kearah Andi dan keluarganya
Pak Abraham menatap tajam kearah Andi, melihat itu Andi segera membuang muka dengan khawatir, sementara pak Hermawan beserta istrinya dan Laras hanya diam terpaku tanpa ekspresi
Lambaian tangan dari Ningsih sekeluarga mengantarkan Indah dan keluarga besarnya pergi
Ozkan tersenyum dalam hati mengingat bagaimana tadi tatapan iri dari mata Andi
"Kamu bukan level saya" batinnya
Sementara di mobil yang dikemudikan pak Tomo, Naura yang duduk bersama bundanya dan Twins segera menempelkan kepalanya di bahu sang bunda
Aku mengusap kepalanya. Aku tahu saat ini hatinya sedang tak baik-baik saja. Aku membiarkan Naura memejamkan matanya, aku ingin Naura tenang
Defne juga menempelkan kepalanya di bahu kiriku, bergantian aku mengelus kepalanya.
Aku tersenyum kearah Serkan yang duduk di sebelah pak Tomo
"Mengalah ya sayang sama sisters"
Serkan mengangguk.
"Bunda, apa ayuk terlalu naif ya jadi anak?"
Aku menggeleng
"Tidak yuk, ayuk nggak salah. Dari awal memang bunda yang salah yang tidak mengatakan sebenarnya mengapa ayah dan bunda berpisah"
"Itu bunda lakukan karena bunda tak ingin kami membenci ayah kan?"
Aku diam.
"Karena bunda tak ingin kami mengetahui keburukan ayah yang akhirnya merusak kepercayaan kami pada ayah, iya kan?"
"Tapi akhirnya bangkai yang disimpan itu tercium juga bunda"
Aku menarik nafas dalam lalu mencium kepalanya
"Bunda bangga sama kamu nak, walau bagaimanapun jahat dan buruknya sifat ayahmu tapi kamu tetap menyayanginya. Sebenarnya itulah yang harus kalian lalukan nak. Tanpa ayah, kalian tidak akan ada di dunia ini, walau ayah kalian hanya sebentar menafkahi kalian, tapi dulu dia juga banting tulang memberi kehidupan yang layak pada kita"
Mataku menerawang jauh, mengingat bagaimana dulu Andi berjuang dari karyawan biasa sampai jadi kepala cabang. Dari kami mengontrak sampai punya rumah sendiri
Aku menarik nafas dalam, kenangan manis dan pahit bersama Andi seakan terlintas di kepalaku
"Ma, I am sleepy"
Lamunanku buyar, suara Defne mengembalikan kesadaranku jika Andi adalah masa laluku
Aku meletakkan kepalanya di pangkuanku, dan meluruskan kakinya. Dengan pelan aku mengusap kepalanya lembut sampai akhirnya Defne terlelap
Naura masih menempelkan kepalanya di bahuku. Aku tahu dia menangis dalam diam
"Jangan menangis, semua itu telah bunda lewati, ayuk harusnya bersyukur karena bunda mempunyai mental dan fisik yang kuat. Coba kalau bunda lemah, mungkin bunda akan sama nasibnya seperti tante Nina"
__ADS_1
Naura menyembunyikan wajahnya di lenganku, dia makin sesenggukan