Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Terbang ke Turki


__ADS_3

Lima belas orang bodyguard yang ada di dalam istana tuan Yusuf Yilmaz dengan cepat berlari dan melompat kedalam mobil


Mereka masuk kedalam empat mobil, lalu menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi


Sementara di depan Emaar Square Mall, Ozlem terus berteriak panik, Canan dan anne memeluk tubuh Ozkan yang bersimbah darah


"Abiiii...." Canan berteriak dengan air mata yang berhamburan


Ozlem kembali mengeluarkan smartphonenya


"Cepat!!!" teriaknya


Sepuluh menit berikutnya, dua mobil yang berisi para bodyguard datang, mereka langsung berlari dan menggotong tubuh Ozkan, memasukkannnya dalam mobil.


Satu orang bodyguard yang lain mengangkat tubuh anne, membimbing anne masuk kedalam mobil Ozkan, sedangkan Canan yang tampak shock di peluk erat Ozlem


"Abi, abi..." ucapnya nyeracau panik


Ozlem membelai rambut Canan dan berusaha menenangkannya. Lalu Ozlem mengangkat tubuh adiknya, membawanya masuk kedalam mobil.


Mobil yang semula dikemudikan Ozlem, diambil alih dengan bodyguard. Satu mobil yang berisi lima bodyguard mengawal mobil mereka dari belakang. Satu mobil lagi, telah sejak tadi melaju kencang melarikan Ozkan kerumah sakit.


Dan satu mobil yang lain segera menyebar mencari pelaku penembak Ozkan.


Sementara yang satu mobil lagi segera menyerbu masuk kedalam mall yang sudah nyaris gelap.


Binsar dan Tomo termasuk dalam tim yang mencari pelaku penembakan. Wajah sangar mereka makin angker.


Mall yang telah tutup, dipaksa mereka buka kembali karena mereka ingin melihat rekaman seluruh cctv yang ada di mall ini


Dengan ketakutan, permintaan empat bodyguard itu dituruti oleh petugas penjaga cctv.


Seluruh kamera pengawas di periksa. Tidak ada satupun yang terlewatkan.


"Zoom yang itu!" ucap seorang bodyguard Ozlem


Di video itu terlihat seorang lelaki yang memakai hoodie hitam berjalan hilir mudik di basement.


Dan terlihat dia seperti mengeluarkan sebuah pistol


"Zoom ke pistolnya!" perintahnya


Kembali petugas cctv menuruti perintah bodyguard itu


"Desert Eagle" desisnya


Bodyguard yang lain saling pandang, termasuk Tomo dan Binsar.


Karena si penembak wajahnya tertutup, sehingga mereka kesulitan mengetahui siapa dia sebenarnya.


Tapi ada satu cctv yang menunjukkan seorang lelaki persis seperti pelaku penembakan, itu bisa mereka pastikan dari celana jeans dan Hoodie yang dikenakannya, cctv di pintu masuk mall. Saat itu lelaki itu belum memakai penutup wajahnya.


"Zoom!" kembali bodyguard tadi memerintahkan petugas cctv menzoom wajah orang yang mereka curigai sebagai pelaku


"Kita kemarkas mereka!!" teriak bodyguard begitu wajah pelaku di zoom.


Mereka segera melesat keluar dari dalam mall, masuk kedalam mobil, lalu kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi


"Ke gedung di perbatasan, sekarang juga!!!" teriak bodyguard melalui panggilan telepon kepada bodyguard yang lebih dulu pergi


Tak butuh waktu lama, dua mobil masuk kedalam sebuah gedung yang nyaris tak terpakai.


Kedatangan mereka langsung disambut dengan sebuah tembakan, tak pelak lagi, terjadilah baku tembak di gedung itu.


Beberapa bodyguard yang memang dilengkapi dengan baju anti peluru, terus bergerak maju mengepung dan makin menyudutkan pihak lawan


Sampai akhirnya mereka bisa masuk kedalam markas.


Di dalam mereka mendapati tuan Kaderimin duduk santai sedang tertawa sinis kearah mereka


"Bagaimana, apakah bos kalian sudah tewas?"


Gigi Binsar langsung bergemeletuk mendengarnya


"Heeeiiiii....." teriaknya sambil melayangkan sebuah tendangan.


Pengawal yang ada di dalam ruangan sempit itu segera berbalik menyerang ketiga bodyguard Ozlem.


Binsar yang termasuk di dalamnya, sangat kalap


"Seujung kuku saja terjadi apa-apa pada bos saya, akan kuhancurkan kauuuuu!!!" teriaknya ketika dapat mencengkram leher tuan Kaderimin


"Jika kau macam-macam dengan tuan Kaderimin, temanmu mati!!!" teriak sebuah suara


Dua bodyguard asli Turki yang mendengar segera menoleh dan menghampas tubuh anak buah tuan Kaderimin kelantai


Tapi Binsar tidak memperdulikannya, dia terus mencengkram kuat leher tuan Kaderimin


"Binsaaarrr, arghhh..." sebuah suara memaksa Binsar menoleh


Tomo sudah berdarah di pelipisnya. Dan saat ini moncong pistol tepat menempel di kepalanya


Wajah Binsar kian merah padam. Lelaki yang memakai Hoodie, persis seperti yang dilihatnya di cctv tersenyum licik

__ADS_1


"Pilih menyerah atau kepalanya aku hancurkan!!" ancam lelaki itu


Kedua bodyguard segera melempar pistol mereka, dan mengikuti perintah tuan Kaderimin untuk berlutut.


...****************...


Mobil yang membawa Ozkan ngebut di jalan kota Istanbul. Sampai di rumah sakit, tubuh Ozkan segera dilarikan keruang IGD.


Ozlem, Canan dan anne yang datang belakangan langsung berhamburan masuk rumah sakit, dan berlari kearah ruang penanganan


Canan sudah lebih mirip orang tak waras, dia terus menangis dan meraung


Anne terduduk lemah sambil berurai air mata. Ozlem bergantian menenangkan dua wanita yang sangat disayanginya itu.


Terlihat tuan Yusuf masuk kedalam rumah sakit dengan dua orang bodyguard


"Bagaimana Ozkan?" tanyanya ketika sampai di depan Ozlem dan istrinya dengan wajah panik


Canan segera berdiri dan memeluk erat tuan Yusuf


"Abi baba, abi..." ucapnya terputus-putus


Tuan Yusuf mendekap dan mengelus kepala Canan


"Ini salah Canan baba, ini semua salah Canan"


Ozlem menarik Canan dalam dekapan tuan Yusuf


"Jika saya tidak memaksa abi untuk menemani saya, ini tidak akan terjadi"


"Andai bodyguard tidak saya suruh pergi, abi pasti masih baik-baik saja" ucapnya sambil menangis


Anne menutup wajahnya, tampak dia sangat terguncang. Tuan Yilmaz menggenggam tangan sang istri dan mereka saling menguatkan


Selagi mereka duduk terpaku di depan ruang penanganan, sepuluh bodyguard masuk. Tampak diantaranya Binsar dan Tomo


"Apakah kalian sudah mendapatkan orang yang telah menembak abi saya?" tanya Ozlem dingin dengan mata merah sehabis menangis


Seorang bodyguard tampak berbisik di telinga Ozlem.


Tomo yang wajahnya berdarah, segera dibawa oleh bodyguard yang lain keruangan dokter, agar luka Tomo segera diobati


"Apa perlu kita kabari Abraham?" tanya Binsar yang sedang menunggui dokter menjahit luka Tomo


Tomo yang tampak diam karena dokter sedang menjahit lukanya hanya menjawab singkat


"Tidak usah"


"Tapi Abraham berhak tahu, karena dia adalah bodyguard terdekat bos"


"Telponlah kalau begitu"


Binsar segera keluar ruangan, dan mengambil smartphone di saku jeansnya


"Ada apa Binsar?"


"Bos kita..."


"Ada apa dengan bos?" terdengar suara panik dari Abraham


"Bos kita tertembak dan sekarang sedang dilakukan penanganan, sepertinya bos kritis"


"Apa kerja kalian, hah??!, tugas kalian itu melindungi bos. Jadi untuk apa ada kalian jika bos masih celaka. Awas kalian berdua, jika terjadi apa-apa sama bos, saya yang akan membunuh kalian berdua" geram Abraham


Binsar terdiam mendengar kemarahan Abraham.


"Beritahu calon istri bos, karena hanya kamu yang memiliki akses menghubunginya" jawab Binsar lemah


Obrolan terputus. Abraham yang saat itu sedang menunggui istrinya kontraksi makin terlihat tegang. Saat dia masuk kedalam ruangan persalinan, istrinya yang sedang mengerang kesakitan menangkap kekhawatiran di wajah Abraham. Tapi dia hanya berfikir jika suaminya tegang karena dia akan melahirkan


Abraham kembali menggenggam tangan sang istri, dan menguatkan istrinya yang saat itu sedang berjuang antara hidup dan mati


Pikiran kacau, satu sisi dia mengkhawatirkan keadaan Ozkan, satu sisi lagi dia mengkhawatirkan istrinya yang saat ini sedang berjuang melahirkan anaknya


"Terus sayang, terus. Yang semangat, saya ada disini" ucapnya tegang dengan terus menggenggam tangan sang istri


Satu jam setelahnya, lahirlah putra kedua mereka. Abraham menarik nafas lega dan segera mencium kening sang istri.


...****************...


Jam 00.05


Aku masih menangis ketika layar smartphoneku menyala. Kulihat di layar tertera nama PAK ABRAHAM.


Segera aku mengangkat teleponnya


"Mbak Indah, bos Ozkan tertembak dan sekarang kritis di rumah sakit" ucap Abraham setelah sebelumnya berbasa basi sebentar


Tubuhku langsung ambruk, dan aku berteriak kencang. Aku menangis meraung. Pikiran buruk sudah memenuhi otakku


Pelayan yang kamarnya bersebelahan dengan Indah terbangun. Mereka langsung berlari ke kamar Indah dan segera menerobos masuk


Adibah kepala pelayan segera memeluk tubuh Indah yang tampak menggigil hebat

__ADS_1


"Cepat bangunkan ummi!" teriaknya


Pelayan itu langsung berlari kearah lift dan berlari kekamar ummi


Dia segera menggedor kamar ummi dan ummi keluar


"Indah...Indah.." ucapnya terputus-putus


Alima yang kamarnya berjarak sepuluh meter dari kamar ummi membuka pintu kamarnya


"Ada apa malam-malam menggedor kamar ummi?" tanyanya


"Indah, nona.. Indah" tunjuknya keatas


Alima tanpa pikir panjang segera berlari, meninggalkan ummi yang juga ikut berlari. Segera dia masuk kelift dan begitu lift berhenti, dia berlari cepat kekamar Indah


Melihat nona Alima masuk, Adibah melepas dekapannya pada Indah


Alima segera mendekap Indah, berkali-kali dia mengusap pundak Indah


"Ozkan.. Ozkan nona... Ozkan..."


Alima segera menangkup wajah Indah yang basah oleh air mata


"Ada apa dengan Ozkan?" suara Alima terdengar panik


"Dia tertembak, dan sekarang kritis"


Alima mendekap mulutnya. Segera dia berdiri, berjalan kearah telepon yang terletak di meja. Menekan tombol di sana dengan wajah tegang


Karena tak mendapat jawaban, Alima kembali berlari keluar, masuk lift dan kembali lari masuk kamarnya


"Honey, what's wrong?" tanya suaminya begitu melihat Alima masuk dengan wajah tegang


"Ini urgent honey, please help me!"


Suami nona Alima segera turun dari ranjang dan mengikuti Alima yang berlari


"Siapkan baju Indah beberapa lembar, cepat!!" perintahnya pada pelayan yang berdiri membeku kebingungan


Pelayan itu segera membuka lemari Indah dan menarik koper lalu memasukkan pakaian Indah kedalamnya.


Sementara ummi yang juga ada di dalam ruangan, sedang mendekap Indah yang menangis tersedu


"Siapkan pesawat sekarang juga, iya sekarang, cepat!!!!" teriak nona Alima


Lalu dia berjalan kearah Indah. Menggenggam tangannya


"Sekarang kamu ke Turki, susul Ozkan. Karena Ozkan sangat membutuhkan kamu"


Aku mengangkat wajahku tak percaya dengan ucapan nona Alima. Nona Alima menganggukkan kepalanya.


Dengan cepat aku berdiri dan segera menarik koper yang sudah terletak di pinggir pintu


"Indah tidak boleh pergi!" ucap ummi


Alima menoleh dan menatap tajam kearah ummi


"Indah harus pergi ummi, ini menyangkut nyawa Ozkan!"


"Tapi ini sudah larut, tidak ada pesawat yang akan terbang ke Turki"


"Ummi lupa Alima punya jet pribadi?"


Ummi diam, Alima segera menarik tangan Indah keluar. Mereka berjalan setengah berlari.


Alima segera menyambar kunci mobilnya lalu segera mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi


"Saya saja yang nyetir, honey" ucap suami Alima yang berdiri di sebelah Indah. Alima segera pindah tempat, setelah Indah masuk, mobil segera keluar dari dalam istana megah itu


"Faster honey, please" suara Alima panik.


Berkali-kali dia menoleh kebelakang, pada Indah yang terus menangis


Suami Nona Alima melajukan mobil dengan ngebut, dan akhirnya mereka masuk kedalam bandara


"Itu, di sana!" tunjuknya kearah pesawat jet yang sedang berputar


Mobil berhenti tepat di dekat pesawat jet pribadi milik nona Alima. Seorang pilot, memberi hormat dari tempatnya kearah Alima yang melambaikan tangan


Alima segera menggenggam tangan Indah


"Kamu jangan panik. Pesawat ini akan mengantarkan kamu pada Ozkan"


Aku mengangguk dengan air mata yang terus mengalir


"Jika sudah tiba di Turki, kabari saya"


Aku mengangguk, lalu mendekap nona Alima


"Berangkatlah, doaku selalu menyertaimu" bisik nona Alima sambil mengelus pundak Indah


Aku segera menaiki tangga pesawat lalu segera duduk.

__ADS_1


Tak lama pesawat mulai naik, dan aku sama sekali tidak takut. Ketakutanku hilang, sudah kalah dengan khawatirku yang sangat besar


"Ozkan, tolong bertahanlah" lirihku sambil menyusut air mata yang seakan tiada habisnya mengalir


__ADS_2