
Hari ini jadwal pembagian raport. Sejak pagi aku sudah siap buat kesekolah kedua putraku.
Mereka sebelum pukul setengah tujuh sudah dijemput dengan angkot sekolah, jadi aku kesekolah naik motor bebek kesayanganku
"Hitam ku sayang, kita berpetualang lagi ya" ucapku sambil mengelus motor kesayanganku yang masih terawat baik
"Nggak pakai mobil saja nak?" tanya bapakku
Aku menggeleng
"Pengen nikmati suasana Merasi di pagi hari pak, seperti jaman sekolah dulu" jawabku
Setelah memanaskan mesin motor aku lalu berpamitan dengan kedua orang tuaku.
Kurang lebih sepuluh menit aku sampai di madrasah kedua anakku. Di sana telah ramai dengan wali murid yang juga akan mengambil raport anaknya.
Aku masuk kekelas lima, kelas Adam, melihatku masuk Adam langsung berlari dan memelukku
"Oh, jadi ini bundanya Adam, kami kira yang gemuk itu" ucap salah satu dari wali murid begitu melihatku membalas pelukan Adam
Aku tersenyum padanya
"Yang itu saudara saya bu" jawabku
Tampak mereka menganggukkan kepala mereka
Di luar aku melihat Mikail melompat sambil melambaikan tangan kearahku. Aku balas melambaikan tangan kearahnya
"Bunda kekelas aku juga ya!" teriaknya
Aku mengangguk
Lalu wali kelas Adam masuk dan mulai mengumumkan keberhasilan peserta didik.
Ketika giliran menyebutkan hafalan tahfidz, si bungsuku menempati urutan pertama
"Juara pertama di tahfidz, diraih oleh Adam Dandi Wijaya, yang sudah hafal enam juz" ucap ibu guru cantik itu yang disambut tepuk tangan kami semua
Dengan bangga Adam maju dan menerima piala yang diberikan oleh wali kelasnya. Aku segera mengambil fotonya dan mengirimnya pada ummi
Lalu Adam berjalan kearahku, kupeluk dan kuciumi dia berkali-kali.
Selesai di kelas 5, aku pindah kekelas 6, kekelas Mikail yang ternyata pembagian raportnya sedang berlangsung
Mikail langsung berdiri dan memberikan kursinya padaku, lalu dia duduk di pangkuanku.
Aku menoleh keluar, menoleh pada Adam yang cemberut melihat aku memangku Mikail
Lalu aku berbisik ketelinga Mikail
"Adek iri karena bunda mangku kakak" bisikku
Mikail tersenyum menahan tawa dan menjulurkan lidahnya meledek sang adik
"Juara tahfidz kita yang pertama di raih oleh Mikail Dandi Wijaya dengan jumlah hafalan, 7 juz" ucap wali kelas 6
Sontak kami bertepuk tangan, saat mau kedepan mengambil piala, Mikail menarikku berdiri dan mengajakku maju
Jadilah aku menemaninya berdiri dibelakangnya mengambil piala yang diserahkan wali kelas setelah seluruh juara dua dan tiga maju.
...****************...
"Bunda sangat bangga sama kalian nak" ucapku saat kami di jalan pulang
"Kalian mau hadiah apa dari bunda?" tanyaku
Keduanya lalu rebutan menyebutkan berbagai macam mainan yang mereka inginkan.
Tepat di sebuah toko mainan terbesar di Merasi, Sabrina Toys aku segera membelokkan motor
"Pilih sesuka kalian" ucapku
Kedua anakku langsung melesat masuk, dan aku segera memegang kedua piala yang mereka berikan padaku.
Iseng aku mengambil kedua gambar piala tersebut, lalu mengirimkan dengan ummi
"Alhamdulillah ummi, kedua putraku juara pertama dalam tahfidz, yang bungsu 6 juz, dan yang tengah 7 juz" tulisku diketerangan kedua gambar
Tidak ada balasan, karena aku yakin ummi belum megang handphone karena di Jeddah saat ini masih pukul 6 pagi.
Biasanya jam segini ummi masih olahraga ringan di taman.
Sekitar setengah jam kedua putraku selesai memilih mainan yang mereka inginkan. Setelah membayar aku kembali menjalankan motor pulang menuju rumah.
...****************...
"Siapa yang hari ini mau ikut bunda jemput ayuk?" tanyaku kepada kedua jagoanku ketika mereka masih tampak nyenyak karena sehabis shubuh tidur lagi
Tidak ada sahutan, keduanya masih nyenyak
"Ya sudah, bunda berangkat ya..." ucapku lagi
"Ikuttt.." jawab Adam dengan suara khas bangun tidur
Aku menoleh tapi matanya masih terpejam. Aku mendekatinya dan menciumi pipinya berulang kali berusaha membangunkannya
__ADS_1
Mikail membuka matanya dan mengerjap-ngerjap kearahku
"Bunda mau kemana?" tanyanya
"Jemput ayuk, kan hari ini ayuk bagi raport" jawabku
"Mau ikut?" lanjutku
Dia mengangguk dan segera turun dari ranjang, melesat masuk kedalam kamar mandi, dan telah kembali dengan wajah segar
"Wah, cepat sekali mandinya" ucapku
"Tentara harus serba cepat bunda, kalau tidak nanti dihukum sama komandan" jawabnya sambil mengelap rambutnya dengan handuk
Aku tersenyum
"Masih mau jadi tentara?" tanyaku
"Iya dong bunda, kan itu cita-cita kakak dari dulu" jawabnya sambil segera membuka lemari dan berganti baju, juga sama cepatnya.
"Dek, bangun!!!" teriaknya
Adam membuka mata dengan kaget lalu melempar bantal kearah Mikail
"Berisik!!!" bentaknya
Mikail terkekeh, lalu mengambil minyak rambut dan sisir. Aku mengulurkan tanganku kearahnya mengambil minyak rambut dan sisir
Lalu aku meminyaki rambutnya dan menyisiri rambut pendeknya
"Komando latihan pertempuran
Disini para Raider di lahirkan
Dengan jiwa ksatria, infanteri namanya
Sapta Marga pedoman kita
Dia bersenandung lirih ketika ku sisiri
"Gunung hutan rawa laut ditempah
Itulah sahabat kita
Semangat membara,Tak kenal menyerah
Tri Dharma slalu siap sedia
Lanjutnya, aku tersenyum mendengar suara merdunya
"*Dimana kami berada, Merah Putih slalu dada
Untuk bangsa dan negara
Lebih baik gagal di medan latihan
Dari pada gagal di medan pertempuran
Mari kita berlatih bersama
Kalau tidak mau pulang nama*"
Sambung Adam yang masih berbaring, Mikail menoleh padanya, lalu keduanya berdiri tegap menghadap kearahku
Dibawah naungan ibu Pertiwi
Tri dharma tak pernah ingkar janji
Untukmu Bangsa dan negeri ini
NKRI HARGA MATI!!!
Ucap mereka berdua kompak. Aku bertepuk tangan memberi applaus atas aksi lagu mereka yang begitu bersemangat
"Wahh kalian hebat" pujiku sambil masih terus bertepuk tangan
"Prada Adam, cepat mandi. Kalau tidak kamu saya hukum push up seratus kali!" ucap Mikail dengan suara yang dibuatnya besar
"Siap komandan!!!" jawab Adam sambil memberi hormat dan berlari mengambil handuk lalu melesat berlari keluar kamar.
Aku berdua dengan Mikail terkekeh
"Ya Alloh, semoga kedua putra hamba benar-benar jadi tentara" doaku
"Aamiinn...." jawab Mikail sambil mengusapkan kedua telapak tangan kewajahnya
...****************...
Saat kami tiba suasana pesantren sangat ramai. Ratusan wali murid memadati halaman luas pesantren.
Bahkan untuk sampai di tempat parkirpun aku sampai kesulitan saking padatnya
Setelah memarkirkan mobil aku menoleh kanan kiri, bingung tujuanku kemana karena saking ramainya
"Indah, sini!" teriak sebuah suara
__ADS_1
Aku segera menoleh kesumber suara yang memanggilku
Andi!!!
Aku dengan cepat melengos, tapi Andi malah berjalan kearah kami. Dia mengulurkan tangan kearah kedua anakku dan kedua anakku menyambutnya dengan datar
"Saya sejak kemarin di Linggau, menginap di rumah saudara" ucapnya tanpa kuminta
Aku masih tidak menoleh padanya, masih melongokkan kepalaku mencari kira-kira ada tidak orang yang kukenal
"Kelas delapan khusus putri di sana kumpulnya!" tunjuknya kearah barisan santri berjilbab coklat
Aku segera menarik kedua tangan anakku dan meninggalkannya sendiri di parkiran.
Setelah sampai di barisan orang tua yang menyaksikan anaknya berbaris, aku segera melepaskan genggamanku pada kedua putraku
"Itu ayuk!" tunjuk Mikail pada Naura yang paling tinggi diantara santri yang lain
Aku melambaikan tangan kearahnya, dan Naura tersenyum padaku.
Setelah acara serah terima santri pada orang tua selesai diadakan, Naura segera berlari kearah kami.
"Loh ayah mana?" tanyanya begitu melepas pelukannya padaku
Wajahku langsung berubah kesal. Tampak Naura celingak celinguk seperti mencari sosok Andi
"Ayaahhh, siniiii!" teriaknya melambaikan tangan
Aku mengikutinya menoleh kearah selatan, tampak di sana Andi berjalan kearah kami sambil membawa sebuah boneka beruang besar
"Cihhh..." cibirku
Naura menoleh padaku lalu menyenggol pundakku dengan bahunya
"Nggak boleh gitu" jawabnya sambil nyengir
Andi lalu menyerahkan boneka besar tersebut pada Naura yang langsung mengambilnya dan langsung memeluk Andi erat
"Terima kasih ayah..." ucapnya manja
Berkali-kali aku istighfar dalam dada menahan marah yang meluap-luap
"Ayo pulang!" ajakku karena kesal sudah merajai hatiku
Naura langsung cemberut menatapku
"Tidak bisakah kita jalan dulu?" tanyanya
Aku menggeleng
"Ayo!" tarikku pada tangan kedua jagoanku
Dengan terpaksa Naura mengekor di belakangku dengan wajah masam
"Kalau boleh aku mau ajak anak-anak jalan" ucap Andi yang juga mengekor di belakang ku
"Boleh kan Ndah?" lanjutnya
Aku masih diam, dan makin menyeret kedua putraku
"Aku mau ikut ayah jalan!" ucap Naura setengah berteriak
Aku spontan menghentikan langkahku, menatap tajam kearahnya
"Kalau kata bunda pulang, pulang!!!" jawabku penuh penekanan
Naura makin berwajah masam
"Tolonglah Ndah, izinkan aku mengajak anak jalan. Aku juga punya hak atas mereka. Mereka juga anak aku. Kamu jangan egois" ucap Andi
Dengan mata berkilat aku menoleh padanya, dadaku turun naik karena emosi
"Pintar kamu ya!" sindirku sambil tersenyum sinis
Lalu aku menatap kearah Naura
"Pilih pulang atau jalan sama dia?" tanyaku dingin sambil menoleh kearah Andi
Naura segera menggandeng tangan Andi yang makin membuatku kesal. Aku menghembuskan nafas kasar lalu menoleh kearah kedua putraku.
"Kalian?" tanyaku
"Ikut bunda" jawab Adam cepat
"Aku juga!" sambung Mikail
Lalu aku kembali menggenggam tangan kedua putraku dan berjalan meninggalkan Naura dan Andi yang menatap kepergian kami.
Sampai di parkiran aku segera masuk kedalam mobil, dan berusaha meloloskan mobil dari padatnya antrian karena banyak wali santri yang juga memakai kendaraan roda empat
Dadaku terasa makin sesak ketika tak sengaja mataku menangkap Naura duduk di boncengan motor Andi, dan dapat kulihat jika Naura menempelkan kepalanya kebahu sang ayah.
Aku segera mengelus dadaku dan beristighfar berkali-kali
"Laa taghdob wa lakal jannah, janganlah kamu marah, maka bagimu pahala syurga" ucap Mikail sambil mengulurkan air mineral kearahku
__ADS_1
Aku segera menoleh kearahnya dan memaksakan sebuah senyuman
"Terima kasih ya nak, terima kasih" ucapku sambil mengambil botol minuman yang diberikannya lalu mengelus kepalanya