
Kami berdua sama-sama hanyut dalam perasaan masing-masing. Aku seperti kembali menjadi remaja umur belasan yang jatuh cinta.
Aku menikmati pelukan bang Ari. Lama. Entah sudah berapa menit ini kami lakukan. Aku yang semula takut, kini merasa nyaman. Omongan setan jauh lebih aku dengarkan. Aku sadar ini salah, tapi aku juga tak kuasa menolak.
Perlahan pelukan bang Ari mengendur, dia memutar tubuhku lalu membekapku kedadanya. Aku masih diam, bingung harus apa. Tanganku masih tergantung saat dia erat memelukku.
Perlahan ditariknya tanganku dan dilingkarkannya kepinggangnya. Dengan ragu aku memeluk pinggangnya. Ya Rabb, apa ini?? rutukku
Aku yang saat itu memakai heels sembilan centi akhirnya tepat berada di dadanya. Aku bisa mendengar deguban keras jantungnya. Dan diapun mungkin bisa merasakan degup jantungku yang juga sama cepatnya.
Dielusnya kepalaku dengan sayang. dan aku kian terbang tinggi.
Sudah lama sekali aku tidak merasakan pelukan sayang, bahkan aku lupa kapan terakhir kalinya aku dipeluk suamiku dan dimanja seperti ini. Pengantin baru dulu sepertinya. Setelah itu dia jarang sekali memelukku. Apalagi setelah dia gila seperti sekarang.
Saat kami sedang diam hanyut dengan perasaan masing-masing, hp di kantong bang Ari berdering. Seperti tersadar, aku segera melepaskan tanganku dari pinggangnya dan terburu-buru membenahi jilbab ku dan berbalik kembali memegang besi pagar pembatas.
Deg deg deg!!!
Jantungku kian berpacu cepat, rasa malu benar-benar menguasaiku. Aku merutuki kenapa aku terbawa perasaan. Dasar bodoh umpatku. Mungkinkah yang dikatakan Andi kemarin kalau aku murahan benar?
Berkali-kali aku mengusap wajahku. Penyesalan selalu diakhir, ya Rabb ampuni aku bisikku dalam hati.
Sementara aku menjauh ke pinggir pagar, bang Ari menerima panggilan di hpnya, dia masih ditempatnya tadi dan menoleh selintas pada Indah yang membelakanginya
"Evet anne?" ( ya, ibu?)
"Askim..."(Sayang)
"Yeni yılın kutlu olsun. Bu yıl eve gelebilmen için dua ediyorum" (Selamat tahun baru. ibu doakan semoga tahun ini kamu bisa pulang)
"Insha Allah"
"Anneme de mutlu yıllar. Umarım annem hep mutludur" (selamat tahun baru juga buat ibu. semoga ibu selalu bahagia)
"Anneye gelin getir" (bawalah menantu untuk ibu)
"Someday Anne, Özkan onu tekrar ikna etmeye çalışıyor" (Suatu hari Ibu, Ozkan lagi berusaha untuk meyakinkannya)
"Waiting for you Askim, see you soon"
"See you too Anne, I love you"
Setelah mengantongi kembali hp di saku celananya, Ariadi mendekati Indah yang masih berdiri di pinggir pagar.
"Ibuku" ucapnya ketika sudah berdiri di sebelah ku
Aku cuma menggangguk dan tidak berani untuk menoleh padanya. Rasa maluku begitu besar pada bang Ari.
"Maafkan kelancangan saya tadi" sambungnya seperti mengetahui kegugupanku
Degup jantungku masih berpacu cepat. Aku masih tak berani untuk menoleh padanya.
"Indah?"
"Eh, iya bang iya" aku menjawab dengan gugup
"Maafkan aku" sambungnya lagi
"Aku juga salah. Kenapa harus bawa perasaan" lirihku
Kami sama-sama membuang nafas dalam, dan menatap keindahan Kota Pekanbaru dari ketinggian.
"Sekarang sudah jam berapa ya bang?" tanyaku asal untuk membuang rasa canggung
__ADS_1
Ariadi melihat jam Rolex mewah di pergelangan tangannya.
"01.15" jawabnya
"What???" tanpa sadar aku berucap kencang saking kagetnya
"Ya Alloh" ucapku khawatir
Segera aku kembali kemeja dimana tadi tas kecilku kuletakkan. Aku segera memasukkan hp kedalamnya dan dengan buru-buru aku pergi dari tempat itu sampai akhirnya....
"Kamu mau kemana?" bang Ari menghentikan langkahku
Aku menoleh
"Pulang bang, suamiku bisa marah padaku" jawabku dengan panik
Ariadi berjalan mendekatiku
"Sudah sangat larut malam, kamu mau pulang pakai apa?"
Aku makin panik, benar apa yang dikatakan bang Ari, jam segini mana ada lagi taksi. Apalagi ini malam tahun baru, jalanan pasti masih macet.
Aduuhhhh bisa dipukuli lagi aku batinku frustasi.
Aku sudah mau menangis saat itu. Jujur aku takut jika Andi mengamuk dan menyiksaku lagi
Aku celingukan dengan panik sambil menggigit bibirku berusaha bagaimana caranya agar aku bisa pulang
"Menginaplah di hotel ini" usulnya
Aku menatap bang Ari dan dengan cepat menggeleng
"Abang pasti bercanda" jawabku sambil tertawa basi
Aku kembali menggeleng
"Ya Alloh bagaimana ini" lirihku makin panik
Aku sangat panik membayangkan kemarahan Andi. Kemarin saja aku pulang jam 11 malam aku habis dipukulinya. Lalu ini jam 01 lewat?? bisa melayang nyawa aku olehnya.
"Tolong aku bang" pintaku memelas dengan air mata yang sudah mengalir
Ariadi segera membuang wajahnya demi melihat airmata Indah yang sudah membasahi wajahnya
"Suamiku bisa marah sama aku" ucapku sambil terisak
Ariadi membawa Indah kekursi di dekat mereka berdiri saat ini.
"Kamu tenang ya" bujuknya
Bagaimana aku bisa tenang, suamiku bisa menghajarku batinku. Aku semakin sesenggukan.
"Aku mau pulang bang, aku takut" lirihku
"Suami kamu tidak ada di Jatra, dia ada tugas ditempat lain" jawabnya
Aku mengangkat wajahku dan melihat kearah bang Ariadi
"Kok abang bisa tahu?" tanyaku heran
"Dari bodyguard yang tadi mengantarmu" jawabnya berbohong
Aku melihat manik matanya. Dia bohong nggak ya? batinku
__ADS_1
"Serius" ucap Ariadi meyakinkan Indah
Aku diam, mungkin dia benar. Karena tadi ditempat pestapun aku tidak melihat suamiku. Mungkinlah memang dia sibuk revisi laporan seperti yang tadi juga dikatakan Pak Alam.
"Tapi aku tetap mau pulang bang, aku tidak mau sekamar dengan abang" jawabku
Ariadi terkekeh.
"Kamu takut aku akan macam-macam sama kamu, heh?" ucapnya setelah berhenti tertawa
Aku mengangguk pelan
Dielusnya kepalaku.
"Aku bukan orang seperti itu"
Aku tersenyum lega.
"Baiklah, kalau kamu takut sekamar dengan aku. Kita habiskan malam ini di sini saja" ucapnya akhirnya sambil berdiri dari kursi.
Aku menguap
"Tuh kan ngantuk" ucap bang Ari lagi saat aku menguap
"Ah, nggak kok bang" elakku
"Yakin mau disini semalaman? tanyanya
Aku mengangguk dengan ragu.
"Okayy" jawabnya
Lalu kami menarik dua kursi dan duduk di pinggir pagar pembatas. Memandang jauh kedepan, kehamparan kota Pekanbaru yang menyala.
Berkali-kali aku menguap dan menyembunyikan kantukku dengan terus mengobrol ringan sama bang Ari.
Sampai akhirnya aku tidak ingat apa-apa lagi.
Ariadi mengelus kepala Indah yang menempel di pundaknya. Dilihatnya dengan dalam wajah perempuan itu yang sekarang telah terpejam
Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Dengan ragu dielusnya wajah Indah yang terasa dingin. Hanya sebentar tangan itu diwajah Indah, karena menyadari jika Indah kedinginan Ariadi segera mengangkat tubuh Indah, menggendongnya dan membawanya turun dari sana.
Dengan susah payah dia menuruni anak tangga. Tubuh Indah dibawanya dengan sangat hati-hati. Ketika telah sampai di luar, dia lalu menuju kekamar dengan nomor 2112. Dengan memasukkan card, pintu lalu terbuka dan dia menutupnya dengan kakinya.
Lalu dengan sangat hati-hati, diletakkannya tubuh Indah di atas ranjang, kemudian dilepasnya heels yang masih menempel di kaki Indah.
Matanya tertegun saat melihat bekas cambukan di kaki dan betis Indah yang tak sengaja dressnya sedikit terangkat.
Dikepalkannya tangannya dengan marah. Dadanya turun naik menahan emosi.
"Awas kamu Andi, kubuat kamu menyesal" geramnya
Ditatapnya lagi wajah Indah dengan dalam. Rasa aneh menjalar di dadanya. Segera dibuangnya nafas dengan kasar. Lalu masih dengan hati-hati diselimutinya tubuh Indah agar tidak kedinginan. Lalu dia masuk kekamar mandi, membasuh wajahnya lalu berganti pakaian.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, diambilnya bantal dan selimut yang terletak di dekat Indah.
Kembali dia tertegun menatap wajah Indah yang pulas, dielusnya perlahan.
"Be mine" lirihnya
Lalu dia beranjak menuju sofa dan berbaring di sana.
"Berhentilah berputar waktu. Biarkan malam ini panjang" gumamnya seraya memejamkan matanya
__ADS_1