Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Keluarga Andi Datang


__ADS_3

Seperti biasa, jika hari minggu maka kami akan bersantai di rumah, malas-malasan. Sama seperti sekarang, sudah jam sepuluh tapi anak-anakku belum ada yang mandi. Selesai sarapan tadi mereka langsung main di halaman dengan teman-temannya.


Dan aku selesai dengan mencuci pakaian dan masak, aku memilih merebahkan tubuhku sambil membaca dan membalas sms dari teman-temanku, termasuk sms dari Rian


Aku tersenyum membaca sms Rian. Ternyata dia masih ingat sama aku, walau aku bukan lagi istri bosnya.


Juga ada sms kak Jen. Ah, tiba-tiba rindu itu hadir. Sudah lama kami tidak saling menelpon. Aku sibuk dengan rutinitasku, dan akupun yakin jika kak Jen sibuk dengan salonnya.


Ada sms masuk, aku lihat dari Andi. Tanganku ragu untuk membukanya. Tapi tak apalah aku baca, siapa tahu dia menanyakan kabar anak-anaknya.


Pagi jandaku. Hahaha, sebenarnya jijik aku bertegur sapa sama kamu. Tapi ini aku lakukan karena aku cuma ingin memberitahu kamu, jika aku akan menikahi kekasih gelapku


Aku mengusap dadaku setelah membacanya.


Ada pesan masuk lagi, dan itu juga dari Andi


Kamu ingin tahu kenapa aku lebih memilih Tina dibanding kamu? padahal kamu sudah memberiku tiga anak. Itu karena kamu itu payah. Kamu tidak seperti inginku


Aku menahan amarahku membaca sms keduanya. Ada pesan masuk lagi, dan lagi-lagi Andi


Kamu tahu, Tina jauh lebih menggairahkan dibanding kamu. Kamar yang dulu kamu tempati sekarang menjadi kamar kami bercinta, kamu pasti tahu bagaimana liarnya aku.


Aku merasa jijik membaca smsnya. Tapi sepertinya itu bukanlah sms terakhir dari Andi


"Kamu tahu jandaku, ******* Tina itu betul-betul memabukkan. Itulah sebabnya aku akan menikahi dia, karena dia canduku


Aku menarik nafas dalam. Jadi serendah itu Andi menganggapku? atau Tina yang direndahkannya? Ah entahlah, aku rasa otaknya sudah geser


"Urus ketiga anak kamu, aku tidak mau mengurus mereka walau pengadilan memutuskan aku harus menafkahi mereka. Mereka ikut kamu, jadi sudah menjadi kewajiban kamu untuk memberi makan mereka"


Sakit sekali rasanya hatiku membaca pesannya yang satu ini, karena ini menyangkut ketiga anakku


"Dan iya, apa kamu bilang? kamu mau membangunkan istana untuk ketiga anakmu? hahaha.. mimpi jangan ketinggian wahai jandaku, bangun!!!


Semakin panas saja hatiku membacanya.


"Apa kabar selingkuhan kamu? apakah dia mau menikahi kamu? tidak kan??? apa kamu tidak ada kaca, sampai kamu lupa berkaca siapa kamu sebenarnya, hah? kamu itu tidak pantas dimiliki oleh lelaki, kamu itu pantasnya jadi wanita jal**g"


Airmataku menetes. Ya Rabb, stop Andi menghinaku


Jika kamu tidak punya kaca, maka aku akan membelikan kaca untuk kamu. Berkaca!!! jelek kok bermimpi mau dapat lelaki tampan dan kaya. hahaha, mimpi itu menyakitkan, makanya kamu harus sadar diri


Aku kembali menunggu sekian detik tiap smsnya, aku ingin tahu seberapa banyak lagi caci maki yang akan dia lontarkan padaku


Lelaki beruang itu tidak cukup dengan satu wanita. Contohnya aku, aku bosan sama kamu, aku cari perempuan lain. Apalagi lelaki impian kamu itu. Dia jauh lebih beruang dari pada aku, kamu itu hanyalah mainan untuknya


Aku tertegun membaca smsnya yang satu ini. Ah, Andi benar, lelaki yang sudah banyak uang pasti mudah berpaling kelain hati, bak kata pepatah harta, tahta wanita.


Selamat tinggal jandaku, kamu jangan pernah bermimpi untuk kembali sama aku, karena sampai mati aku tidak sudi kembali sama kamu


Aku meletakkan hp, setelah tidak ada lagi sms dari Andi yang masuk. Aku menarik nafas dalam, ya Rabb kuatkan aku, batinku


...****************...


"Bundaaaaa" Naura masuk kerumah sambil berlari saat aku menyetrika baju, saat itu sudah hampir sore, sekitar pukul tiga


Aku mendongak dari pakaian yang kusetrika, menatap kearahnya


"Ada embah" ucapnya riang


Aku membuang mukaku dengan malas mendengar ucapan anakku


"Mau apa sih mereka kesini" batinku


"Assalamualaikum" ucap satu suara, yang aku kenali itu suaranya pak Hermawan

__ADS_1


"Waalaikumussalam" jawabku sambil berdiri dan melepaskan colokan setrika dari stopkontak.


Aku segera meraih hijab instan dan keluar menemui mereka


"Masuk pak" ucapku sambil melebarkan pintu


Tampak bu Mira, Laras dan Maria. Firasatku sudah tidak enak melihat ketiganya yang memandang remeh sama aku


"Kami tidak lama, kami kesini cuma mau melihat apakah sudah ada istana seperti ucapan kamu" ucap bu Mira sinis


"Istana taik kucing!" jawab Laras remeh sambil diiringi tawa mengejek dari Maria


"Jual diri dulu biar bisa bangun istana" sambungnya masih dengan nada remeh


Aku tidak menggubris ucapannya. Sementara tetangga kontrakanku yang kebetulan duduk di beranda mereka tampak menoleh padaku karena memang saat itu mantan mertuaku di luar, tidak mau masuk


"Kami kesini cuma mau bilang sama kamu, bahwa Andi anak kami, lusa hari selasa akan menikah dengan Tina" ucap bu Mira


"Dan iya, kami kesini juga mau ngasih ini" Laras meletakkan kantong kresek besar di lantai


"Kami yakin anak-anak kamu membutuhkannya" timpal Maria


"Kamu kan kere sekarang, tidak punya uang buat beli baju anak-anak kamu, makanya ini kami bawakan baju bekas anak kami untuk anak-anak kamu" lanjut Laras


"Kamu tahukan, walaupun itu baju bekas, tapi itu baju mahal semua" ucap Maria sinis


"Iya, terima kasih" jawabku singkat


"Anakku akan menikah dengan wanita pilihannya, dan kamu tahu? kami sangat menyetujui pilihannya sekarang" ucap bu Mira dengan mata berbinar


Aku menampilkan senyumku demi mendengar ucapannya


"Alhamdulillah jika akhirnya Andi akan menikahi selingkuhannya, aku turut berbahagia" jawabku


"Ya harus dong dinikahinya, orang Andi mencintainya" timpal Laras angkuh


"Setidaknya mereka tidak berzina terus seperti binatang" jawabku


Merah wajah bu Mira mendengar jawabanku. Begitupun dengan Laras, dia langsung menatap tajam kearahku


"Sudah tidak ada keperluan lagikan?" ucapku mengusir halus mereka


Bu Mira mendengus kesal.


"Ayo pak, kita pulang!" bentaknya


Mereka berempat langsung meninggalkanku dengan wajah kesal.


"Embaaahhh" teriak Naura


Pak Hermawan berhenti diikuti yang lain


"Ayah mana, kok nggak ikut?" tanyanya polos


Aku memperhatikan mereka dari tempatku berdiri tadi


"Ayah kamu akan menikah lagi. Dan kamu harus ingat ya, itu bukan ayah kamu lagi. Kamu tidak punya ayah!" bentak bu Mira


Aku langsung berjalan cepat kearah mereka, aku segera memegang bahu Naura, ku lihat matanya sudah berkaca-kaca


"Ajari anak kamu!" bentaknya padaku


Aku menatap tajam kearahnya


"Jangan bicara kasar sama anakku, kalau kalian tidak suka dengan anak-anakku, jangan pernah kalian temui kami lagi" jawabku dengan geram

__ADS_1


"Hiii siapa juga yang mau nemui kamu" jawab Laras sambil menggedikkan bahunya, jijik.


"Ajari anak kamu, untuk tidak memanggil kami embah dan memanggil anakku Andi dengan ayah. Aku tidak sudi memiliki cucu seperti mereka" ucapku bu Mira sinis


Nyeri sekali hatiku saat dia mengucapkan kalimat itu. Naura langsung memeluk pinggangku dan menangis


"Pergi kalian dari sini!" bentakku sambil membawa Naura menjauh dari sana


Kulihat Mikail dan Adam juga berlari kearahku. Aku segera membentangkan tangan kananku menyambut mereka. Berempat kami segera masuk ke dalam kontrakan.


"Awas kalian!" ucap Mikail menoleh sebelum masuk.


Aku segera menariknya, aku tidak ingin memori anakku tersebut rusak gara-gara hal ini.


...****************...


"Kok baju sama celananya kaya gini bun?" ucap Naura heran ketika malam harinya kami membuka kantong kresek yang tadi diberikan Laras


Aku menarik nafas dalam dan menggeleng-gelengkan kepalaku. Isi kantong kresek itu memang betul pakaian, tapi pakaian yang sama sekali tidak layak untuk dipakai.


Dan sepertinya memang sengaja mereka robek-robek dan guntingi.


"Laras laras" ucapku lirih sambil menggeleng-gelengkan kepalaku


Aku keluarkan semua isi kantong kresek itu, aku buka satu persatu. Dan tidak ada satupun dari pakaian itu yang bisa dipakai. Semuanya sudah sobek.


Ada sebuah amlop putih, aku segera membukanya


"Selamat anda mendapatkan hadiah baju sisa. Hahaha. Baju sisa robek dan sisa lap"


Aku melipat kertas itu, dan memasukkannya kembali dalam amplop


Aku menatap wajah ketiga anakku yang tampak sekali kecewanya


"Besok kalau bunda gajian, bunda akan belikan kalian baju baru" ucapku


Mereka langsung menatap kearahku dengan sumringah.


"Janji bunda?"


"Iya janjiii" jawabku


"Saaaayaangg bundaaa" ucap Mikail sambil bangkit dan memelukku dari belakang.


"Ya sudah, sekarang tidur. Besok ayuk mau sekolah kan, kan sebentar lagi mau SD, jadi harus sekolah yang rajin" ucapku sambil bangkit membimbing mereka kekamar mandi.


Saat mereka di kamar mandi, aku membersihkan tempat tidur kami, baru setelah ketiga anakku masuk, aku meletakkan bantal sesuai tempat mereka masing-masing


Tak lama ketiganya terlelap, aku segera bangkit dan keluar dari dalam kamar.


Aku kembali keruang tamu dimana tadi aku meninggalkan tumpukan pakaian sisa tadi.


Aku kembali memasukkan pakaian tersebut beserta suratnya kedalam kantong kresek. Lalu membuangnya kekotak sampah.


Lalu aku kembali kekamar, bersandar pada tembok. Teringat kembali bagaimana tadi mereka datang hanya untuk menghina dan merendahkanku. Bagaimana tadi Andi juga menghina dan mengata-ngataiku, hufffff aku menarik nafas dalam


Lalu pakaian tadi? Nyeri dadaku. Aku mengusap dadaku berkali-kali untuk melegakan nafasku yang terasa sesak.


Tak terasa mengalirlah airmataku. Ya Rabb, begini ya rasanya dihina orang, batinku.


"Awas kalian. Akan aku balas penghinaan ini. Lihatlah, akan aku buat kalian malu terhadapku" batinku marah


Aku mengusap sisa airmata di wajahku. Aku menoleh pada Mikail yang terlelap, aku perhatikan dia baik-baik, iya, dia nyenyak batinku, itu artinya dia tidak melihat aku menangis.


Aku bangkit dan keluar kamar, lalu kebelakang, mengambil kantong kresek yang tadi aku buang.

__ADS_1


"Ini akan aku simpan, dan suatu hari nanti ini akan aku kembalikan sama mereka" ucapku lirih menahan marah


Aku masukkan kantong kresek tersebut kedalam lemari. Kupandangi lagi "Kamu akan menjadi motivasiku untuk membalas mereka" geramku sebelum lemari tersebut aku tutup.


__ADS_2