
"Mengapa bos menyuruh kita ke Turki?" tanya Binsar ketika mereka bertiga duduk di waiting room
"Aku yakin ada tugas penting" jawab Abraham
"Kamu kan yang paling dekat dengan bos, masa kamu tidak tahu?" timpal Tomo
Abraham menarik nafas dalam sebelum menjawab
"Saya rasa ini ada hubungannya dengan Indah"
"Indah?" kening Binsar berkerut
Abraham mengangguk
"Kalian ingat tidak dengan perempuan yang kita kawal waktu di Pekanbaru 11 bulan yang lalu?"
Keduanya mengangguk dan menatap serius kewajah Abraham
"Perempuan itu sekarang di Arab, dan sewaktu bos tahu jika Indah pergi ke Arab, bos langsung meninggalkan rapatnya dengan kolega dari luar"
"Terus apa hubungannya bos dengan perempuan itu? Aku kira selepas dari Pekanbaru kemarin semuanya tamat" jawab Tomo
Abraham melototkan matanya kearah Tomo
"Jangan pernah kamu ucapkan kalimat itu di depan bos kalau kamu masih sayang dengan nyawamu!" geramnya
Tomo langsung menelan ludah dan mengusap lehernya
"Indah jauh lebih berharga di banding bisnis trilyunan yang bos kita rapatkan kemarin" lanjut Abraham
"Kupikir bos kita itu sedingin es dan sekaku gunung karang" kembali Tomo berucap
Mendengar kalimat Tomo, Binsar dan Abraham tersenyum
"Itulah kekuatan cinta, bos kita yang garang dan kejam sekalipun bisa takluk karena cinta" jawab Binsar
"Ngomong-ngomong, kalian sebelum jadi bodyguard tuan Ari kan jadi bodyguard anak kedua CEO Salam Group, pasti kalian sering keluar negeri" ucap Abraham
Binsar dan Tomo mengangguk.
"Tapi kita tidak pernah sejauh ini, paling hanya sekitar Asia Tenggara" jawab Tomo
"Dan ini adalah perdana kita terbang jauh" lanjutnya
"Apakah sebelumnya kalian mengetahui jika bos besar kita orang Turki?" tanya Abraham
Binsar dan Tomo menggeleng
"Aku juga baru tahu jika bos kita orang Turki" ucap Abraham
"Pantesan bos kita ganteng sekali, rupanya orang Turki" jawab Tomo
Kedua temannya terkekeh mendengar jawaban Tomo
Ketiganya lalu diam, masing-masing sibuk dengan handphone masing-masing
Abraham segera mengangkat handphonenya, ketika dilayar tampil nomor baru
"Iya, bos?" jawabnya percaya diri
"Kalian sudah ready?"
"Iya bos, ini kami sudah di bandara, sebentar lagi kami terbang"
"Kalian akan tiba di Istanbul tepat dini hari, saya akan mengirim orang kepercayaan saya untuk menjemput kalian di bandara Ataturk"
"Siap bos"
Akhirnya Abraham memasukkan handphone kesaku jaketnya dan segera mereka bertiga berjalan masuk ketika announcement yang menyatakan jika penerbangan menuju Istanbul akan bersiap untuk **t**ake off.
...****************...
Penerbangan panjang selama dua belas jam akhirnya berakhir di bandara Ataturk.
Segera Abraham cs keluar dari dalam bandara. Seorang lelaki berwajah tampan dan bermata biru segera menghampiri ketiganya
"Excuse me sir, I am Onur, I was ordered by Mr. Ozkan to take you to him" ucap lelaki itu pada mereka
__ADS_1
Abraham cs saling pandang
"Siapa diantara kita yang bisa bahasa Inggris?" tanya Binsar
Kedua temannya menggeleng
"Tapi dia tadi menyebut Mr. Ozkan, dan itu adalah nama asli bos kita" jawab Abraham
"Saya yakin, orang ini adalah orang suruhan bos untuk menjemput kita"
"Oke, oke, you can bring us to him" jawab Binsar terbata-bata
Abraham dan Tomo saling toleh dan mengulum senyum. Sedangkan Binsar tersenyum basi kearah keduanya
"Setidaknya saya sudah mencoba menjawab" elaknya demi melihat kedua temannya yang menahan senyum
Lalu mereka bertiga mengikuti lelaki tampan yang berpostur tinggi itu berjalan menuju mobil yang terparkir di luar bandara.
Keempatnya masuk, dan lelaki yang menyebutkan namanya Onur tadi yang mengemudikan mobil.
Saat itu tengah malam hampir dini hari, tapi ketiganya tetap antusias melihat gemerlapnya kota Istanbul.
Mobil masuk kesebuah bangunan hotel bintang lima. Setelah mobil berhenti, ketiganya turun sedangkan Onur melajukan mobilnya ke basemen.
Binsar cs menunggu di depan lobi, setelah Onur tiba baru ketiganya kembali mengikuti langkah Onur masuk ke dalam lift.
Lift berhenti di lantai tujuh. Keempatnya lalu masuk kesebuah kamar.
Ternyata di kamar itu telah duduk Tuan Ozkan yang sedang menghadap laptop
"Işte onlar patron" (ini mereka bos) ucap Onur ketika dia sudah berdiri di belakang Ozkan.
Abraham cs saling toleh mendengar ucapan Onur yang tidak mereka fahami
Ozkan segera menutup laptopnya dan menoleh kebelakang.
Abraham cs langsung menarik nafas dalam ketika bos besar mereka menatap mereka.
"Teşekkürler. Gidebilirsin" (terima kasih, kamu bisa pergi)" jawab Ozkan tanpa menatap kearah Onur
Onur segera keluar dari dalam kamar tersebut. Dan kini hanya tinggal mereka berempat di sana
"Tidakkah kalian ingin menanyakan kabarku?" ucap Ozkan dingin
Ketiga bodyguard itu langsung menarik nafas lega begitu mendengar ucapan Ozkan
"Ya Tuhan bos, kami sudah tegang duluan, maafkan kami" ucap Binsar mewakili kedua temannya
"Welcome di Turki, negeri kelahiran saya" sambung Ozkan
Ketiga bodyguard itu tersenyum senang.
"Saya ada tugas untuk kalian bertiga, dan sekarang kalian makan dulu. Makanan sudah saya pesankan satu jam yang lalu" ucap Ozkan menunjuk kearah meja yang memang telah tersaji makanan
Dengan sungkan ketiganya berjalan kearah meja itu
"Makanlah, saya tahu kalian lapar. Dua belas jam dalam pesawat saya yakin kalian lapar" ucap Ozkan setelah melihat ketiga bodyguardnya tampak canggung ketika akan makan
"Habiskan, jangan sampai tersisa" lanjut Ozkan sambil kembali membuka laptopnya
Karena sang bos kembali fokus menatap laptop, Abraham dan kedua temannya langsung melahap semua makanan tanpa ampun dan tanpa malu-malu lagi
Ozkan tersenyum segaris ketika melirik ketiga bodyguardnya makan dengan sangat rakus
...****************...
"Aunty hari ini jangan ikut nenek kekantor, please" rengek tuan muda Fadh ketika aku sudah siap menunggu ummi di ruang depan
Aku membungkukkan badanku mengelus kepalanya.
"Why sweety, why I can't go? ucapku
"Because I want you stay with me in home" jawabnya sendu
Aku memasang senyum manisku kearahnya
"Tell me, what you want? ucapku lagi
__ADS_1
"I want to be carried by aunty all day" jawabnya
Aku tergelak mendengar jawaban lucunya.
"Where is young master Emir and Khaled?" tanyaku
"*Brother Emir went to school, and Khaled was sleeping"
"Oh, okay, you want to be carried by me, right*?"
Tuan muda Fahd mengangguk. Lalu aku segera meletakkan tasku di atas meja lalu mengangkat tubuh besarnya.
"Yeayyyyy" teriaknya senang ketika aku memutar-mutar tubuhku sambil menggendongnya
"Kesana aunty, kesana" tunjuknya keluar
Aku mengikuti perintahnya. Aku membawanya keluar dari dalam rumah, terus menggendong dan berputar-putar di depan, di dekat taman.
Tuan muda Fahd tertawa tiap kali aku seolah-olah akan menjatuhkannya.
"Fahd.." teriak nona Alima
Aku menghentikan gerakan berputarku, langsung menoleh kearah beliau
"Mommy called us" bisikku
Tuan muda Fadh langsung memasang wajah cemberut. Aku berjalan kembali kearah rumah sambil masih menggendongnya
"Aunty want to go to office with grandma and you must take a bath, okay?" ucap Nona Alima pelan ketika kami sudah berdiri di depan beliau
Aku segera menurunkan Tuan muda Fahd dari gendonganku.
"If you reach home tell me aunty, okay?" ucapnya sambil mendongakkan kepalanya kearahku
"I promised" jawabku
"Yeaayyy" lonjaknya girang mendengar jawabanku
Lalu tuan muda Fadh segera masuk kedalam berlari kearah Ateefa yang sudah menunggunya.
"Maafkan ketiga anakku ya Ndah, mereka merepotkan kamu" ucap Nona Alima
Aku menggeleng sambil tersenyum
"Tidak sama sekali nona, saya senang. Mereka mengobati kerinduanku pada ketiga anakku"
"Kamu sudah menelpon mereka?" tanya nona Alima
Aku menggeleng
"Why?, why you not call them?"
"Saya belum mengganti kartu selular saya nona" jawabku gugup
Alima terkekeh
"Indah, Indah kenapa kamu tidak memberitahu ummi, tiap hari kalian melewati banyak gerai selular, mengapa tidak beli?"
"Saya takut nona" jawabku pelan
Lagi nona Alima terkekeh. Saat kami berdua sedang mengobrol, Ummi muncul dengan keanggunannya dalam balutan baju kerja yang mahal
"Ayo Indah, kita pergi" ucapnya
Aku menganggukkan kepalaku.
"Kamu tidak kerumah sakit?" tanya Ummi kearah Alima
"Sebentar lagi Ummi" jawab Nona Alima
"Oh iya Ummi, nanti tolong suruh pak Farhad membelikan Indah kartu selular, masa hampir sebulan disini dia belum sekalipun menelpon keluarganya" lanjut Nona Alima
"Betul?" tanya ummi sambil menatapku
Aku mengangguk takut
"Kenapa tidak bilang?" lanjut beliau
__ADS_1
"Ya sudah, nanti ummi suruh Farhad mampir ketoko, ayo kita berangkat"
Lalu aku dan ummi masuk kedalam mobil yang dikemudikan pak Farhad. Mobil melaju membelah jalanan kota Riyadh, kekantor utama Al Mursalat Ibrahim Holding.