
Istri Dimas langsung menangis sesenggukan ketika melihat Dimas yang terbaring lemas. Begitu juga dengan mas Indra.
Naura yang sejak tadi mondar mandir antara icu dan ruang perawatan ketika istri Dimas dan mas Indra datang, jadi lebih fokus duduk di depan ruang icu bersama Adam
"Sudah nelpon bunda yuk?"
"Astaghfirullah, sejak sampai rumah sakit ayuk sama sekali belum buka hp dek" jawab Naura sambil segera mengambil handphonenya
Dilihatnya banyak sekali panggilan tak terjawab dari bundanya bahkan ada juga panggilan dari dokter Viktor dan dokter Susi, serta panggilan dari tiga bidan senior di kliniknya
Begitupun dengan pesan yang masuk, banyak sekali. Bahkan nyaris seratus pesan
Yang dibukanya pertama kali adalah pesan dari bundanya
*Kamu baik-baik saja kan yuk?"
mengapa telpon bunda nggak diangkat nak? ☹️
Semoga kamu baik-baik saja ya nak, segera kabari bunda jika kamu sudah free*
Dengan cepat Naura mendial nomor bundanya.
Aku yang sejak subuh begitu mengkhawatirkan Naura begitu panggilannya masuk segera kuangkat
"Assalamualaikum, Maa Syaa Alloh nak, kamu hampir buat bunda mati"
"Waalaikumussalam bunda, maafin ayuk ya.."
Aku memiringkan kepalaku sambil memejamkan mataku mencoba menerka suara Naura.
"Kamu sakit nak?"
"Nggak bunda"
"Tapi suara kamu mengapa serak?"
Naura diam, aku segera mengubah ke mode panggilan video
"Kalian dimana nak?" ucapku begitu aku melihat ada Adam
Naura segera memutar handphonenya, menghadapkan kearah dalam icu
"Kalian di rumah sakit?, siapa yang sakit nak?" degup jantungku langsung berpacu cepat, aku takut jika itu adalah bapakku
"Ayah, ayah mengalami kecelakaan tadi pagi bun"
"Alhamdulillah, bunda pikir tadi itu nek nang" jawabku lega
Tapi aku segera meralat omonganku begitu sadar jika aku salah ngomong.
"Maksud bunda Inalillahi..."
Adam menahan senyum mendengar lanjutan omongan bundanya, sementara Naura datar tak merespon
"Kok bisa kecelakaan nak?"
"Nggak tahu bunda, kecelakaannya diperbatasan kabupaten"
"Ayah kalian sendirian?"
"Nggak ayah berempat sama buk Ning, buk Las dan kak Mas"
"Yang lain bagaimana keadaannya?"
Wajah Naura berubah mendung
"Buk Ning dan kak Mas luka parah, tapi buk Las meninggal di lokasi"
"Alhamdulillah, ehh Inalillahi..." jawabku sambil refleks menutup mulutku
Kembali Adam mengulum senyum
"Terus nak?"
"Sore tadi menguburnya bun, adek yang mengimami dan mengadzankan, bahkan sampai tahlilan tadi adek yang mimpin"
__ADS_1
"Alhamdulillah, anak bunda pinter"
Adam tersenyum sumringah
"Apa kata dokter tentang ayahmu?"
Naura menggeleng
"Nggak tahu bunda, tapi tadi adek sudah mendonorkan darah untuk ayah"
Mataku langsung membelalak kaget, ingin sekali rasanya aku marah saat ini. Tapi kembali aku melihat kedua wajah anakku, terlebih wajah Naura yang sangat sedih
"Kalau begitu adek istirahat, malam ini jangan begadang, toh ayah kalian masih juga nggak sadar, kan? jadi nggak usah kalian tungguin dengan mengorbankan waktu istirahat kalian, segeralah pulang, istirahat di rumah"
"Iya bunda, siap.."
"Yuk?"
Naura segera mengangkat wajahnya tergagap
"Pulanglah, istirahat. Tinggalkan saja nomor teleponmu pada dokter, jadi ketika ayahmu sadar, dokter bisa menghubungimu segera"
"Tapi bunda?"
"Ayuk sekarang punya tanggung jawab, ayuk sudah punya klinik sendiri, ayuk harus profesional. Jangan masalah pribadi dicampur aduk dengan pekerjaan"
"Kalian boleh mengunjungi ayah kalian, tapi di jam besuk"
Wajah Naura berubah cemberut
"Kasihan adek yuk, adek butuh istirahat" lanjutku melunak
Naura mengangguk, setelah obrolan berakhir, Naura dan Adam meninggalkan depan ruang icu.
Kembali ke rumah, beristirahat.
Sementara aku, setelah obrolan dengan Naura berakhir, aku segera meletakkan handphone dengan kesal
Ozkan yang sedang berbaring dan sejak tadi memperhatikan istrinya segera mengulurkan tangannya
"Kenapa, sepertinya suasana hati kamu sedang buruk"
Aku membuang nafas panjang.
"Sini, buang kesalnya sama abang, tumpahkan semua kekesalan di hati kamu sama abang, kamu boleh marah-marah, abang akan dengarkan"
Aku duduk memasang wajah cemberut
"Sayang...?"
Aku melipat kedua tanganku di depan dada
"Abang tadi tak sengaja dengar ada yang masuk rumah sakit, siapa?"
Dengan wajah yang masih kesal aku menjawab pertanyaan suamiku
"Andi kritis, dan aku berharap dia menyusul Laras mati"
Ozkan terkekeh, dia segera ikut duduk, dan meletakkan dagunya di pundak sang istri
"Lah terus kok kamu kesal kenapa?, kan yang kritis Andi, kok yang kesal kamu?"
Aku menoleh kearah suamiku yang hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahku
"Bagaimana aku nggak kesal bang, dia kritis terus butuh darah, malah Adam yang mendonorkan darahnya untuknya?, enak aja dia!!"
"Adam itu anak yang diragukan identitasnya oleh Andi. Dan sekarang saat dia kritis siapa yang nolong dia?, Adam bang"
"Kesal aku. Andai aku ada di sana, tidak akan kubiarkan Adam mendonorkan darahnya walau hanya setetes untuk Andi. Andi sudah keterlaluan sama Adam, dari kecil Adam tidak mengenal sosok ayahnya, setelah besar ternyata makin diragukan identitasnya sama ayah kandungnya. Ehhh, giliran mau mati, siapa coba yang nolong?, Adam!!!"
Ozkan terus setia mendengarkan omelan istrinya yang penuh amarah. Bahkan tak segan dia mengelus-elus punggung istrinya
"Aku itu berharap dia juga mati menyusul Laras, agar habis semua parasit dalam hidup anak-anakku"
Ozkan langsung membetulkan posisinya, duduk dengan menekuk kakinya
__ADS_1
"Laras meninggal?"
"He eh, tadi Naura bilangnya gitu. Bahkan yang mengimami, yang mengadzankan, memimpin tahlilan semuanya Adam, huhhh!, kesal aku tuh bang!!"
"Lagi-lagi aku menyesalkan mengapa aku nggak ada di sana. Andai aku ada, jangankan mengimami, datang melayat saja aku cegah anak-anakku"
"Laras itu sangat jahat bang, sangat jahat. Berkat hasutannya lah Andi sampai meragukan Adam, dan juga karena mulutnya lah makanya aku nekad menjadi TKW"
"Penghinaan dan caci maki memenuhi hidupku karena perempuan itu. Mengatakan aku jual dirilah, wanita murahan lah, tidak pantas menjadi bagian keluarganya lah, nauzubillah..."
Ozkan masih diam, dia masih tak ingin menyela omongan istrinya, dia terus membiarkan sampai semua amarah dan kesal di hati istrinya keluar semua, agar hatinya plong
"Dan aku bersyukur dia mati sekarang. Aku yakin saat ini dia sedang dipukuli Malaikat di alam kubur"
Lalu aku terkekeh. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku mengingat semua perlakuan Laras padaku dulu, cemoohan dan remehannya menjadi makanan pokokku bila sudah ke rumah mantan mertuaku.
Perlahan Ozkan merangkul bahu istrinya, mengusap-usap lengannya
"Maafkanlah Laras sayang, ampuni semua kesalahannya, biar jalannya lurus, biar siksa kuburnya berkurang, bukankah memaafkan jauh lebih mulia dibanding meminta maaf"
"Perlakuan Laras sangat menyakiti ku bang, hingga kematiannya pun rasanya tak cukup membalaskan sakit hatiku"
"Abang tahu kamu dendam sama Laras, tapi sudahlah sayang, toh orangnya udah nggak ada. Orang yang sudah meninggal itu yang harus kita ingat adalah kebaikannya bukan keburukannya"
Aku menggeleng
"Satupun tak ada kenangan baik dari diri Laras padaku bang, semuanya menyakitkan, semuanya"
Ozkan menarik nafas dalam, dia tak ingin berdebat dengan istrinya yang saat ini sedang marah.
Jika dia terus menanggapi, yang ada mereka yang akan berantem
"Satu lagi itu Andi, aku berdoa semoga setelah ini dia yang akan menyusul"
Ozkan segera mengusap kepala istrinya
"Kamu harusnya bangga pada kebesaran hati Adam. Adam loh yang paling disakiti oleh Andi, tapi dia rela mendonorkan darahnya untuk Andi. Dan tidak sembarang anak akan melakukan itu sayang, tapi kita lihat sendirikan, Adam melakukan itu"
"Kita doakan semoga Andi segera sadar dari kritisnya, dan saat dia sehat semoga dia menyadari bahwa anak yang selama ini diragukannya justru anak tersebut yang menolongnya"
Aku menarik nafas panjang, menoleh kearah suamiku yang tersenyum bijak.
"Entah aku akan jadi apa tanpa abang" lirihku sambil meletakkan kepalaku di pundaknya
Ozkan tersenyum sambil menciumi kepala istrinya
...****************...
Tiga hari pasca kecelakaan, Dimas dan mbak Ningsih mulai bisa membuka mata mereka dengan sempurna, tapi luka dan patah tulang ditubuh mereka masih dalam perawatan intensif
Di tangan Dimas dan mbak Ningsih terpasang arm sling, sedang dikedua kaki mereka masih dipasang gips.
Sementara Andi masih belum juga sadarkan diri. Kemungkinan besar Andi mengalami koma, mendengar hal itu hati Naura semakin hancur dan sedih
Benturan keras di kepalanya mengakibatkan otaknya mengalami cedera.
Selama di icu, Andi mendapatkan perhatian ekstra dari beberapa dokter. Terlebih ketika dokter Viktor, dokter yang membuka praktik di klinik Naura yang turun langsung menemui dokter yang selama ini menangani Andi
Bersama dokter Viktor yang membesuk ayahnya, Naura diizinkan masuk keruang ICU. Dengan memakai pakaian khusus, akhirnya Naura bisa bertemu langsung dengan ayahnya yang selama beberapa hari ini cuma bisa dilihatnya melalui balik kaca
Air mata Naura tumpah semakin deras ketika ayahnya tidak merespon sedikitpun sentuhannya
"Ayah, bertahanlah ayah... Ayah harus kuat, ada ayuk disini... " isaknya
Naura duduk di dekat ayahnya melantunkan ayat suci Al-Qur'an sambil terisak
Secara tak sadar, air mata Andi mengalir. Sambil terisak Naura mengusap air mata ayahnya dengan tissue.
"Ayah harus kembali sehat. Ayah harus lihat adek. Adek yang telah mendonorkan darahnya untuk ayah"
"Ayah tahu tidak, bahwa cuma adek anak ayah satu-satunya yang memiliki darah yang sama dengan ayah"
Kembali air mata meleleh di mata Andi yang terpejam
"Ayah sadar ya Yah, kami semua sayang sama ayah..." lirih Naura terisak sambil meletakkan kepalanya di pundak Andi
__ADS_1
Air mata Andi terus mengalir, sementara Naura yang mulai tenang kembali melantunkan ayat suci Al-Qur'an untuk ayahnya