Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Tolong, Maafkan Ayah Saya


__ADS_3

Dokter Malkan dan dua dokter yang lain yang terus berusaha menolong Andi hanya bisa saling toleh


"Yang sabar mbak Naura..." lirihnya sambil membantu Naura berdiri


Air mata Naura sudah tak karuan lagi bentuknya


"Katakan yang sejujurnya dokter, adakah harapan ayah saya untuk sadar?" tanya Naura sambil menarik tangan dokter Malkan


Dokter Malkan menarik nafas panjang dan diam


"Kami hanya dokter mbak, semuanya kita serahkan pada Yang Di Atas"


Naura langsung menutup wajahnya. Didengarnya jika Adam kembali membaca surah Yasiin


Kembali Naura merasakan sakit yang hebat di ulu hatinya ketika kembali menyaksikan bagaimana tegarnya Adam


Sambil sesekali menyusut air matanya Adam terus membaca surah Yasiin tanpa berhenti


Sedangkan Mbak Ningsih yang sudah keluar dari ruangan, tengah menelpon suaminya, menyuruh suaminya mengantarkan pak Hermawan ke rumah sakit


"Andi sekarat, mas.." lirihnya


"Innalilahi..." jawab mas Indra


"Ajak bapak kesini mas"


"Mana bisa kami pergi sekarang, di rumah sedang ada pak kades"


Mbak Ningsih langsung terhenyak di kursi


"Perjanjian kita sama mas Andri telah lewat sebulan, padahal kan awalnya mas Andri memberi waktu satu minggu, itu saja dia sudah banyak toleransi, jadi hari ini pak kades diutus mas Andri untuk menemui bapak"


Mbak Ningsih langsung sesenggukan


"Mintalah lagi waktu sama pak kades, mas. Sekarang saja Andi sekarat entah bisa selamat entah tidak"


Terdengar mas Indra menarik nafas panjang


"Kamu bicara sendiri saja ya buk sama pak kades"


Terdengar suara pak kades mengucap salam, dan mbak Ningsih langsung menyampaikan niatnya


"Kalau urusan itu saya tidak berani mbak Ning, mbak konfirmasi sendiri dengan pak Andri"


Sementara di dalam ICU masih terdengar suara tangisan. Karena tak ada pilihan lain dengan berat hati mbak Ningsih masuk dan mendekati Naura


Dengan pelan mbak Ningsih menyentuh bahu Naura yang refleks mengangkat kepalanya


"Bisa kita bicara sebentar di luar?"


Naura menoleh kearah ayahnya yang masih kejang dan bersuara tak karuan, lalu menoleh kearah mbak Ningsih, mengangguk


Mbak Ningsih menarik nafas panjang sebelum memulai pembicaraan dengan Naura


"Tolong hubungi uwakmu, mas Andri, yuk. Tolong bilang sama beliau untuk memberi waktu lagi, jangan hari ini"


Naura langsung faham kemana arah omongan budenya


Segera dia mendial nomor kak Andri, langsung tersambung dan diangkat


"Tolong wak jangan usir mbah kami hari ini, ayah kami sedang sekarat sekarang. Jika terjadi apa-apa sama ayah, mau kami bawa kemana ayah?" isaknya


Kak Andri diam mendengar suara Naura yang serak


"Wak... ayah kami sekarat, bisakah uwak kesini melihat sebentar?"


Kak Andri menarik nafas panjang


"Maaf yuk, uwak sibuk di kantor"


Naura faham, uwaknya sangat membenci ayahnya, itu karena kesalahan ayahnya sendiri, jadi wajar jika sekarang uwaknya tidak mau datang


"Tapi tolong ya wak, jangan usir mbah kami hari ini"


"Iya, uwak akan segera nelpon pak kades untuk pending lagi"


Naura lalu mengucap salam dan menganggukkan kepalanya kearah mbak Ningsih


"Uwak akan nelpon pak kades untuk pending lagi, buk"


Mbak Ningsih menarik nafas lega.


"Ra, telponlah seluruh kontak orang yang pernah ayahmu sakiti, mungkin kamu mengenal mereka" sambungnya


"Tante Lena?"

__ADS_1


"Punya kontaknya?"


Naura mengangguk. Segera dia mencari kontak Lena. Setelah dapat segera dia mendialnya


"Ya nak?, apa kabar?" sapa Lena ramah


"Kurang baik tante"


Lena tertegun mendengar suara Naura yang serak


"Kamu kenapa nak?"


Naura mulai terisak, dan Lena yang ada diseberang mengernyitkan dahinya


"Bilang sama tante, ada apa"


"Tante... ayah sedang sekarat sekarang"


Lena langsung kaget dan mulutnya ternganga mendengar jawaban Naura


"Sekarat?, ayahmu?"


"Iya tante, hampir dua bulan ini ayah koma dan beberapa hari ini sadar tapi kolaps lagi"


"Dan sekarang kondisi ayah makin memburuk"


Terdengar Lena menarik nafas panjang mendengar suara Naura yang terbata-bata


"Kalau Naura video call, tante mau lihat kondisi ayah?"


Lena diam


"Please tante, Naura tahu ayah banyak salah dan dosa sama tante, tapi ayah lagi sekarat ini tante"


"Maaf nak, tapi rasanya tante sangat sulit memaafkan ayahmu, terlalu sakit perbuatan yang ayahmu lakukan Nak"


Air mata Naura langsung mengalir


"Saya mohon tante"


"Maaf nak, jika kamu menelpon tante hanya ingin bilang ini, tante minta maaf sekali, tante nggak bisa"


Lena langsung memutus panggilan, sedangkan Naura menatap tak percaya pada hpnya yang telah gelap


Naura dengan cepat mengetik pesan


Terkirim, centang dua


Lena hanya melihat layar bilah notifikasi saja tanpa berniat membuka pesan dari Naura


Naura tak putus asa, kembali dia mengirim pesan


Naura mohon tante, setelah ini Naura tidak akan meminta apa-apa lagi dari tante


Naura hanya memohon sama tante untuk memaafkan semua kesalahan dan dosa ayah


Lena menarik nafas panjang dengan gelisah, disulutnya sebatang rokok dan menghembuskan asapnya ke udara


Kembali melintas di kepalanya bagaimana dulu dia memohon pertanggungjawaban Andi, bagaimana Andi tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya, bagaimana Andi menyuruhnya aborsi, bagaimana keluarga besarnya mengusirnya ketika tahu dia hamil diluar nikah, hingga akhirnya dia terjerumus ke lembah hitam


Tak terasa air mata Lena mengalir, dengan cepat dihapusnya air mata itu dan dengan cepat pula, dimatikannya rokok yang tadi dihisapnya dan dia segera pergi dari rumahnya


Naura menarik nafas kecewa karena pesannya tak satupun dibaca oleh Lena. Kembali Naura masuk dan kembali dia harus melihat ayahnya kejang-kejang


"Dosa apa yang telah ayah saya lakukan ya Rabbi sehingga sulitnya Malaikat pencabut nyawa mengambil nyawanya?" ratap Naura pilu


Adam yang masih duduk di sebelah Andi sekarang membimbing ayahnya mengucapkan kalimat syahadat


Tak henti-hentinya dia membimbing ayahnya, Naura hanya bisa menangis pilu


"Kakak sudah dikabari yuk? ucap Adam menoleh sekilas kearah Naura yang matanya sangat bengkak


Naura menggeleng lemah


"Tante, bimbing ayah dulu, aku mau video call kakak"


Nina mengangguk dan mengambil alih membimbing kakaknya mengucap kalimat Syahadat


Mikail segera mengangkat panggilan video dari adiknya, Adam


"Assalamualaikum dek"


"Waalaikumussalam, kak ayah sekarat dan sekarang kami semua telah berkumpul di ICU"


Wajah Mikail langsung kaget dan dia makin kaget ketika dilihatnya kondisi sang ayah yang begitu mengenaskan

__ADS_1


Tak jauh berbeda dengan kondisi mbah wedoknya ketika sekarat kemarin


Tanpa menunggu, Mikail segera meminta Adam mendekatkan handphone keatas kepala ayahnya


Lalu mulailah Mikail membaca surah Yasiin. Teman satu dinas Mikail yang memang mengetahui jika Mikail seorang hafidz hanya menatap dalam pada Mikail yang serius membaca Yasiin sambil menatap handphone


Beberapa dari mereka saling sikut dan berbisik


"Ayahnya sekarat" jawab Budiman pelan


Temannya ber O panjang, lalu mereka semua diam mendengarkan dengan khusyuk Mikail yang membaca surah Yasiin, bahkan ada diantara mereka yang juga ikut mengiringi bacaan Mikail


Kemudian Mikail membaca surah Al-Ra'd dan mengucapkan syahadat berkali-kali


Matanya mulai berembun ketika dia melihat bagaimana susahnya ayahnya menarik nafas


Kalimat Syahadat tak berhenti diucapkannya. Naura kian terisak mendengar suara parau Mikail


"Ayah, kakak minta maaf jika selama ini berdosa dan bersalah sama ayah" ucapnya tercekat


"Begitu juga dengan kesalahan dan dosa ayah, kakak sudah ikhlas memaafkannya dunia akhirat" sambungnya sambil dengan cepat menyusut air matanya yang telah mengambang di pelupuk matanya


Marko dan Dua temannya yang lain segera mendekat dan menggenggam pundak Mikail dan menepuk-nepuk nya


Mikail hanya menarik nafas panjang melihat kearah mereka


"Adek sudah minta maaf belum?"


Adam menggeleng


"Minta maaflah, siapa tahu kasusnya sama seperti mbah, begitu kita minta maaf dan memaafkannya, mbah jadi mudah jalannya"


Naura menggeleng cepat, air matanya kian deras mengalir.


"Ayuk belum siap kehilangan ayah, kak" timpal Naura serak


Adam menarik nafas dalam mendengar jawaban Naura, begitupun Mikail, diapun menarik nafas dalam


"Apa ayuk tega melihat ayah tersiksa seperti ini terus yuk?" tanyanya


Naura tak menjawab pertanyaan Mikail.


Dari dalam ruang ICU, Adam melihat ada mbahnya bersama pakdenya dan Dimas berdiri di luar


Adam menoleh kearah mbak Ningsih yang segera keluar bersama Nina


"Nanti adek kabari kakak lagi ya, itu ada mbah dan pakde sama kak Dimas diluar, adek mau keluar, gantian sama kak Dimas"


Setelah berkata seperti itu, Adam mengucap salam yang dijawab dengan Mikail. Lalu dia keluar, memberikan baju khusus yang tadi dipakainya pada Dimas


Setelah menerima baju khusus dari Nina dan Ningsih, Pak Hermawan dan mas Indra masuk, lalu menyusul Dimas


Begitu masuk, Pak Hermawan langsung memeluk tubuh Andi dan langsung menangis tersedu-sedu


"Asyhadu an laa ilaha Illallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah" ucap mas Indra ketika dia berdiri di dekat Andi


Mas Indra terus mengucap syahadat sambil mengusap-usap kepala Andi, sedangkan Dimas duduk membaca surah Yasiin melalui aplikasi Al-Qur'an yang ada di handphonenya


Naura yang tak sanggup melihat penderitaan ayahnya kembali mengambil hp dan menelpon uwaknya, kak Angga


"Ya Ra?"


"Wak, ayah kami sekarat"


Kak Angga terdiam


"Wak, Naura mohon maafkanlah segala kesalahan dan dosa ayah kami ya wak, biar jalan ayah mudah wak" isaknya


Kak Angga masih tak menjawab


"Mau kan wak maafin ayah kami?"


Terdengar kak Angga menarik nafas panjang


"Ra, dulu uwak pernah bersumpah akan membunuh ayahmu karena perlakuan jahatnya yang telah menyiksa bundamu, saat itu uwak, dan uwak Andri sangat marah dan kami benar-benar terluka atas perbuatannya"


"Tapi Ayahmu sama sekali tidak pernah meminta maaf pada kami, malah dia menuduh bundamu yang selingkuh, hingga kami sampai detik ini masih sakit hati dengan ayahmu"


Naura mulai terisak.


"Naura mohon wak..."


Kak Angga menarik nafas panjang


"Nanti ya Ra, uwak pikir-pikir lagi"

__ADS_1


Naura kembali menatap kecewa pada hpnya sambil berurai air mata


"Ya Alloh ayah... dosa apa yang telah ayah perbuat, hingga orang-orang tidak mau memaafkan kesalahan ayah" ratapnya pilu


__ADS_2