Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Kesalon Jennifer


__ADS_3

30 Desember 2006


"Ayah hari ini meeting dengan CEO bun" ucap suamiku yang pagi-pagi telah rapi.


"Loh kan semalam sudah?"


"Malam tadi itu cuma meet and great saja, hari ini meeting, CEO yang langsung memimpin"


"Ohh" jawabku ber O panjang


"Lama nggak?"


"Biasanya bisa sampai sore"


Aku memanyunkan bibirku.


"Jalan-jalan sekitar hotel atau ajak bu Suryati shopping lagi aja bun"


"Nggak punya uang" jawabku


"Ini atmnya dan ini pinnya" suamiku membuka dompet dan mengeluarkan atm lalu meletakkannya di atas nakas.


"Sana mandi, dari tadi kok berbaring saja"


Aku bangkit dari tempat tidur, lalu berdiri di depan suamiku, membetulkan letak dasinya.


"Semalam yang nolong kamu siapa?" tanyanya saat aku sedang membetulkan dasinya


Aku diam, seolah tak mendengar


"Dia ganteng ya bun"


"He eh" jawabku tanpa mengalihkan dari perhatianku.


Wajah suamiku langsung berubah datar. Aku menatapnya, cukup lama.


"Apakah ayah cemburu?"


Suamiku diam.


"Sudah, ayah mau berangkat, nanti takutnya terlambat"


Andi lalu meraih tas laptop dan segera pergi.


Aku masih terpaku di tempatku saat suamiku telah berlalu. Tersenyum kecil dalam hati mengetahui jika ada cemburu dalam hatinya. Itu artinya masih ada cinta di hatinya untukku walau ada perempuan lain.


Aku lalu duduk di kursi balkon, melamun dan menerawang. Tiba-tiba aku teringat momen saat bang Ari menyelamatkanku dan memelukku. Aku tersenyum, lalu dengan cepat menutup wajahku yang tiba-tiba terasa panas.


"Astaghfirullah" ucapku tersadar.


Aku menarik nafas dalam lalu membuangnya dengan harapan dadaku yang tiba-tiba berdegup kencang jadi sedikit tenang.


Aku meraih ponsel yang tergeletak di meja, mendial nomor ibuku. Panggilan tersambung, dan tak butuh waktu lama terdengarlah suara anakku


"Bunda..."


Nyesss mataku langsung berembun demi mendengar suara si bungsu Adam.


"Kapan puyang?" tanyanya dengan khas bahasa anak-anak.


Terdengar teriakan si kakak dan suara ibuku. Pasti kedua anakku rebutan, pikirku.


"Bundaaaa, minta mainan" teriak kakak.


"Iya nak nanti bunda belikan, kasih dulu dengan nekno hp nya, bunda mau bicara sama nekno" kataku


"Ya nak? suara ibuku terdengar dari seberang


"Anak-anak nakal ya mak?, umak pasti capek" kataku sendu


"Kan ada Dian yang jagain mereka" suara ibuku terdengar tertawa


"Mbak Dian belum datang mak?" tanyaku. Aku melirik jam, sudah pukul delapan lewat.


"Ada, itu lagi sama Adam"


"Tolong jagain anak-anak ya Mak, maaf karena sudah merepotkan"

__ADS_1


"*iya, kamu hati-hati di sana"


"Assalamualaikum*" ucapku sebelum mengakhiri pembicaraan.


Selesai menelpon, aku membuka menu hp dan mencari galeri yang menyimpan lagu. Dari pada aku bengong sendiri, mending aku mendengarkan lagu saja fikirku.


Aku segera memutar lagu Hindi, karena dalam handphone ku memang penuh dengan lagu Hindi. Karena aku adalah Hindi lovers.


Pilihanku jatuh pada lagu Are re are, salah satu sound track film Dil to Pagal Hai. Kepalaku mulai bergoyang mengikuti nadanya, dan mulutkupun ikut bersenandung mengikuti lirik lagu tersebut.


Tapi kok makin lama lagunya seperti menarik badanku untuk berjoget ya? Ah, aku lupa kapan terakhir kalinya aku berjoget. Seingatku dulu waktu gadis jika sore hari aku akan memutar lagu India di rumah dan aku akan berjingkrak-jingkrak joget di kamar.


Tanpa ragu aku mulai berdiri dan berjoget di balkon mengikuti lagu yang sedang kuputar.


Gerakanku mengikuti iramanya. Ternyata walau sudah lama tidak goyang, badanku masih luwes juga.


Are re are yeh kya hua Maine na yeh jaana


Are re are ban jaaye na Kahin koi afsaana


Are re are kuch ho gaya Koi na pehchana


Are re are banta hai toh Ban jaaye afsana


Tubuhku terus bergerak bebas mengikuti lagu yang terkadang ikut aku senandungkan.


Aku ingat bagaimana gerakan aktrisnya pada lagu tersebut, jadi terkadang aku mengikuti gerakan aktrisnya.


Hatiku jadi gembira setelah aku bergerak mengikuti lagu itu. Peluhku keluar melalui pori-pori tubuhku. Tapi hal itu tidak menghentikan ku untuk melanjutkan ke lagu berikutnya.


Indah tidak menyadari jika di seberang kamarnya ada sepasang mata yang dari tadi memperhatikannya bahkan tersenyum ketika melihatnya berjoget. Bahkan sepasang mata itu begitu lekat menatap rambutnya yang tergerai dan lehernya yang terekspos.


Kurang lebih lima belas menit aku berjoget mengikuti lagu Hindi yang kuputar, nafasku ngos-ngosan dengan peluh yang keluar. Lumayan membakar lemak tanpa harus olahraga berat.


Aku duduk sambil menyibakkan tanganku di depan dadaku untuk mengusir rasa gerah yang hadir akibat keringatan.


Aku tersenyum sendiri sembari menggeleng ketika menyadari tingkahku yang berjoget pagi ini


"Indah, Indah," ucapku sambil menggelengkan kepalaku.


Tok tok tok


Wajah ku lap dengan cepat karena bekas peluh masih tersisa di sana. Setelah dirasa tenang aku mulai berjalan ke arah pintu.


Aku segera membuka pintu dan tampaklah di depanku tiga orang berbadan tegap dengan pakaian rapi berdiri dengan sikap siaga. Wajah mereka datar tak bersahabat belum lagi dengan tatapan tajam mata mereka yang makin membuat kesan sangar.


Degup jantungku tiba-tiba berdetak kencang demi melihat ketiga orang yang kini di depanku.


"Mbak Indah?" tanya salah satu dari mereka dengan suara berat


"I..iya" jawabku gugup


"Kami kesini untuk membawa anda" kata orang tadi. Sementara yang dua orang hanya diam.


"Kalian siapa?" tanyaku


"Kami tidak punya waktu untuk menjelaskan" jawabnya


"Tapi suamiku tidak ada. Kalian mau apa?" aku kembali bertanya dengan takut


"Nanti mbak akan tahu mau dibawa kemana" lanjutnya lagi


"Kalau saya menolak?" tanyaku


"Kami yang akan dihajar bos kami"


"Tapi saya tidak kenal kalian"


"Kami pengawal mbak Indah hari ini"


"What?" mataku terbelalak


"Ayo mbak" desaknya


"Tapi.."


"Tidak ada tapi-tapian, ambil handphone kita pergi"

__ADS_1


Saat aku bingung, handphone salah seorang dari mereka berbunyi


"Iya bos, ini sudah, siap"


"Ayo mbak, tidak ada waktu lagi" desaknya


Aku masuk dan mengambil hp, lalu mengikuti mereka dengan takut. Pikiran ku kacau, dan mulai menebak siapa mereka dan mau apa, serta aku akan dibawa kemana


Di luar hotel telah terparkir sebuah mobil mewah, salah satu dari mereka membuka pintu dan aku disuruh masuk. Tanpa perlawanan aku menuruti saja perintahnya


"Indah" sebuah suara menyambut begitu aku akan masuk mobil


"Ya Alloh, bu Suryati" aku segera masuk dan memeluk beliau


"Sumpah bu, aku takut banget tadi. Aku pikir aku diculik" kataku sambil tertawa


"Jalan pak" kata seorang dari tiga orang yang tadi membawaku pada supir.


Mobil melaju membelah jalanan kota, dan tak lama berhenti tepat di sebuah salon kecantikan. "Jennifer Spa N' Salon" begitu tulisan yang kubaca saat kami turun dari mobil.


Ternyata bukan mobil kami saja, di belakang ada satu mobil lagi yang berisikan dua orang yang tadi menjemputku.


"Ini maksudnya apa sih buk?" tanyaku pada bu Suryati yang telah berdiri di sebelahku.


"Mana ibu tahu Ndah. Tahu-tahu ibu dibawa masuk mobil" jawabnya


"Sama bu, lihat saja aku, mandi aja belum" sahutku


"Jorok kamu"


Aku nyengir.


Bodyguard yang ada di mobil belakang turun dan memuka pintu salon menyilahkan kami berdua masuk.


"Aw aw aw.... ya ampuuunnn.. atm berjalan eyke sudah dataaang" Jennifer keluar dari dalam dan menyambut kami dengan centilnya.


Aku tersenyum ramah padanya. Dia langsung memeluk dan cipika cipiki padaku. Aku kaget dan bengong saja.


"Ihhh, eyke cewek juga kalii" sambungnya demi melihat aku bengong.


Lepas dariku, Jennifer berpindah memeluk dan cipika cipiki pada bu Suryati.


"Gimana cyn semalem, sukses kaaann?" tanyanya sambil membimbingku untuk duduk.


"Alhamdulillah" jawabku


"Yeay belum mandi?" tanyanya sambil mundur sedikit dari duduk disebelahku


Aku terkekeh.


"Ihhh jorsek" jawabnya sambil menutup hidung


"Ya ampun kak, nggak gitu juga kali" jawabku cemberut


"Ahhh bagus deh yeay belum mandi, jadi bayarannya tambah mehoooongg" jawabnya cekikikan


"Aku nggak faham deh kak" tanyaku


"Sudah, yeay diem aja, nurut aja ya.. jangan rumpi dehh..Tau yeay, yeay cantik dan kinclong begitu keluar dari salon eyke"


"Monitaaaa" Jennifer berteriak kencang, sampai-sampai aku dan bu Suryati menutup telinga kami


Keluarlah seseorang yang sama gemulainya dengan dirinya.


"Yeay permak ni atm berjalan eyke, ingat yaaa buat dia secantik-cantiknya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ingat jangan sampe lecet. Kalau yeay salah dikit, eyke potong yeay punya barang"


Sontak Monita langsung membekap bawah perutnya. Aku dan bu Suryati yang melihat tak urung jadi tersenyum.


Tiba-tiba hp yang ada dalam saku celana hot pantsnya berbunyi. Dengan lentiknya dia mengeluarkan hp tersebut dan wajahnya makin berbinar-binar


"Iya ganteeengg, iya sudah di sini. iya iya, iya eyke sendiri yang akan permak, iya yeay jangan khawatir. iyaaa.. bawel ahh.. Apa?? ah nggak mau, iya saya nurut"


Lalu Jennifer menatapku dengan cemberut.


"Kenapa kak?" tanyaku bingung dengan perubahan sikapnya


"Tuh laki kepingin eyke langsung yang permak yeay, kalau tidak eyke di dorr sama dia" jawabnya masih dengan muka masam

__ADS_1


"Monita, yeay permak ni ibu ya, biar ni atm berjalan eyke, eyke yang permak" katanya.


Tanpa komentar Monita langsung mengangguk. Sedangkan aku dan bu Suryati masih bingung dengan apa yang terjadi saat ini.


__ADS_2