Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Perang Kembali Dimulai


__ADS_3

26 Oktober 2006


Di sepanjang perjalan pulang dari rumah mertua aku cuma diam. Ketiga anakku sejak tadi sudah tertidur. Aku sengaja memilih duduk di kursi bagian tengah dengan ketiga anak-anakku.


Suamiku sendirian duduk dikursi depan, menyetir. Sesekali dia melirik kami melalui kaca spion yang ada di depannya. Aku pura-pura tidak melihat dan hanya fokus menepuk-nepuk Adam agar dia makin terlelap.


"Ibu tunggu kabar baiknya"


Kata-kata ibu mertuaku tadi sewaktu suamiku mencium punggung tangannya masih terngiang-ngiang di telingaku.


"Apa ini maksudnya?" batinku.


Kembali terlintas bagaimana sumringahnya beliau ketika mengucapkan itu.


Begitu juga tadi, saudara-saudaranya tersenyum penuh arti saat ibu mertua mengucapkan kata itu. Hanya mbak Ningsih yang memasang wajah tak suka.


"Awas mereka" batinku marah


Kebencian ku pada suamiku kembali lagi seperti dua tahun yang lalu saat dia ketahuan selingkuh. Tapi benci ku kali ini jauh melampaui itu. Aku benar-benar marah. Bagaimana bisa dia dengan rapihnya menyembunyikan perselingkuhannya itu. Sejak kejadian kami jalan-jalan ke Bengkulu itu, dia benar-benar berubah. Pulangnya sesuai dengan jam kantornya, walaupun telat paling hanya sebatas setengah jam lebih, jadi lebih perhatian dengan ku. Uang bulananku yang semula enam ratus ribu jadi dua juta, makin sayang dengan ketiga anak kami, pokoknya benar-benar seperti Andi yang ku kenal dulu.


Tapi ternyata?? ya Rabb sesak nafasku menerima kenyataan jika itu hanyalah kamuflasenya untuk menutupi perbuatannya dan mengelabuiku.


"Dasar bodoh!!" aku memaki diriku sendiri.


Ya, aku memang bodoh, betapa bodohnya aku mempercayai seorang peselingkuh macam Andi. Betapa bodohnya aku begitu yakin jika Andi benar-benar meninggalkan perempuan itu.


Aku menutup wajahku dengan kalut, berkali-kali aku menghela nafas berat, gelisah. Sepertinya Andi menyadari itu. Karena ku lihat dia kembali melirik melalui spion. Aku menutup mataku, pura-pura tidur.


Aku membuka mataku ketika hp berbunyi nada panggilan masuk.


"Dimana say?"


"Di jalan pulang"


"Dari mana?"


" Rumah mertua lah"


Terdengar suara terkekeh dari seberang.


"Ada yang lucu apa say?" tanyaku heran mendengar tawanya.


"Aku tahu say gimana mereka sama kamu" kembali suara di seberang terkekeh.


"Begitukah?" tanyaku penuh selidik


"Aduh sayang ku, iparan kamu Maria itu kan nggak jauh dari rumahku. Mertuamu itu tiap kesini selalu ngomongin kamu" kembali suara di seberang terbahak.

__ADS_1


Aku memasang wajah cemberut.


"Aku nggak suka loh say" kataku


"Iya maaf" kembali suara itu tertawa.


"Biarlah ini menjadi rahasia kita berdua" kataku.


Andi langsung melirik ketika aku berkata penuh penekanan di kalimat terakhirku.


"*Maaf ya say kalau ceritaku kemarin buat kamu sedih dan sakit ati"


"I'm fine. All gonna be okey*" jawabku


"Yang sabar ya say, aku ada selalu buat kamu, aku nggak ingin kamu juga jadi korbannya Andi"


"Makasih ya say, makasih. Mungkin aku beruntung kenal kamu. Kamu bisa jadi teman curhat aku. Makasih atas suportnya buat aku"


"Apa sih yang nggak buat kamu" kembali suara di seberang tertawa. Akupun ikut tertawa.


"Eh kapan nih kita ketemuan?" sengaja aku mengatakan kalimat itu.


Andi langsung mengerem mendadak. Tubuhku langsung terhuyung ke depan karena kaget.


"Telponan sama siapa bun? tanyanya sambil memutar tubuhnya mengarah kebelakang.


" *What happen say?


"Aku tanya jawab bun"


"Call me later say. I think my husband unhappy look me *talking with you"


"Ok, see you soon say*"


Aku menutup hp ku dan menatap suamiku.


"Kenapa?" tanyaku dengan suara dingin


"Siapa yang nelpon?"


"Teman aku"


"Laki-laki apa perempuan?"


"Terserah aku lah, suka-suka aku, kamu telponan bahkan tidur dengan perempuan lain apa aku marah?"


Andi diam, dia langsung kembali ke kemudinya. Segera melajukan mobil dengan kencang.

__ADS_1


"Kalau kamu mau mati, jangan ajak-ajak kami, kamu mati sendiri sana" kataku dengan nada marah


Andi tidak perduli, dia masih melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Tubuh kami berguncang-guncang di jalan buruk. Dengan geram aku tarik rambutnya dengan kuat. Hal itu membuat Andi melajukan mobil dengan pelan. Barulah jambakan dirambutnya aku lepaskan.


"Kalau kamu marah, aku jauh lebih marah, ayo turun mumpung di jalan sepi, kita selesaikan masalah kita di sini, jangan kamu korbankan anak-anak. Kamu memang tidak merasakan sakitnya melahirkan mereka, makanya kamu bisa berbuat seenak perut kamu sama mereka, ayo turun" nafasku naik turun saking emosinya.


"Kamu seenak kamu selingkuh Andi. Tiga tahun kamu berhubungan dengan perempuan itu. Siang kamu niduri dia, malam kamu niduri aku, ya Alloh alangkah kotornya kamu Andi, pintar sekali kamu ya membohongiku. Ini kamu yang pintar atau akunya yang bodoh yang tidak menyadari suamiku sendiri"


"Maaf bun, maaf"


"Stop, jangan pernah kamu ucapkan kata maaf lagi dari mulutmu itu. Berapa ratus kali hah kamu meniduri perempuan itu? atau jangan-jangan kalian telah menikah?"


Andi menghentikan laju mobilnya. Jalanan sepi, kiri kanan jalan hanya ada pohon sawit. Dia menghela nafas berat.


"Turun, kita selesaikan di luar" kataku sambil mendahului membuka pintu mobil.


Aku berdiri di sebelah mobil dengan nafas memburu. Aku benar-benar marah. Aku mengetuk kaca mobil karena Andi masih belum turun.


"Kita selesaikan di rumah saja bun" katanya pelan


"Kamu memang tidak punya rasa malu lagi, tapi aku masih malu. Asal kamu tahu, kemarahan aku sudah membuncah Andi, suara ku bisa meledak-ledak, aku tidak ingin tetangga tahu jika kita bertengkar, ayo turun!!" teriak ku


Dengan gontai Andi turun dari mobil, dan berdiri di depan ku.


PLAKKK!!!


Tanganku melayang ke pipi Andi. Dia diam tidak membalas dan hanya menunduk.


Ku tarik tangannya dengan kasar dan kutangkupkan kedua tanganku kewajahnya.


"Ngomong sama aku, apa salah aku Andi, apa salah aku, tiga tahun, tiga tahun Andi kamu berselingkuh di belakangku" kataku frustasi. Aku tidak lagi memanggilnya dengan kata "ayah" atau "kakak" melainkan langsung menyebut namanya.


"Parahnya lagi, orang tua mu seperti setuju dengan perbuatan salahmu ini. Bahkan kamu ingat, pagi ini ibumu menunggu kabar baik dari kamu" Aku mengusap kasar airmata di wajahku yang tiba-tiba mengalir dan tertawa basi.


"Hebat kamu Andi. Hebat kamu. Harusnya kamu dianugerahi piala nobel atas kehebatanmu ini"


"Jawab aku. Jangan cuma diam Andi. Aku sakit Andi, aku sakit" ucapku sambil terduduk di jalan tanah sambil menangis pilu.


Andi terdiam melihat istrinya. Dia bingung harus berbuat apa. Hendak merengkuh istrinya, bisa dipastikan dia akan mendapat penolakan bahkan bisa jadi tamparan bakal mendarat kembali di pipinya.


"Bun..."


Aku menutup wajahku, menangis tersedu-sedu. Aku benar-benar hancur, benar-benar sakit hati.


"Aku akan membalas semua perbuatanmu Andi. Pasti aku balas" tatapku dengan mata marah.

__ADS_1


Lalu aku berdiri dan masuk ke dalam mobil. Lalu merebahkan tubuhku di jok mobil, dan tak lama Andipun masuk kedalam mobil dan melajukan mobil dengan perlahan.


Berbagai pikiran berkecamuk dalam benak kedua makhluk Alloh itu. Keduanya larut dalam pikiran dan kekalutan masing-masing, tanpa ada suara dari masing-masing, hanya pikiran kacau dan sedih yang mendominasi keduanya


__ADS_2