Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Naura Sakit


__ADS_3

5 April 2007


Hari ini aku kembali menitipkan kedua anakku saat aku akan mengajar. Seperti biasa, setelah mengantar Naura ke TK, aku akan berangkat kesekolah yang tak jauh dari kontrakanku.


Aku selalu bersemangat tiap kali bertemu dengan siswa-siswaku. Tingkah bandel dan centil mereka mengingatkanku dengan gayaku dan teman-temanku dulu ketika kami SMP.


Aku berusaha profesional, seberat apapun masalah pribadiku, ketika aku berhadapan dengan siswaku, maka masalah itu aku kesampingkan. Sama seperti sebelum-sebelumnya, aku memberikan dan menjelaskan materi pelajaranku dengan santai tanpa beban


Saat jam pelajaranku habis, aku pamit pulang. Teman sekantorku, yang sudah tahu masalahku, tidak mempermasalahkan aku yang pulang lebih awal. Bahkan terkadang merekalah yang mengingatkan jika aku belum pulang.


Dan saat ini, aku sudah di atas motor, melajukan si hitamku dengan perlahan. Begitu aku sampai di rumah orang tuaku, ternyata ada orang sedusun kami yang mengantarkan uang hasil jual karet kepada bapakku. Aku tersenyum ramah pada beliau saat aku masuk, lalu mencium punggung tangannya.


Melihat aku pulang, kedua anak lelakiku langsung berhamburan menyerbuku. Aku segera menggendong mereka berdua. Karena kalau aku hanya menggendong satu, yang lainnya akan cemburu. Kebetulan usia mereka dekat, jadi besar tubuh mereka hampir sama


"Ayuk mana?" tanyaku menahan berat badan mereka


"Bobok" jawab adek


Aku berjalan masuk kekamar ku, dan benar saja, aku mendapati Naura tertidur. Tidak biasanya tidur siang, batinku.


Segera aku turunkan kedua jagoanku, lalu menghampiri Naura yang tidur.


"Yuk" panggilku sambil mencium keningnya


"Astaghfirullah" pekikku.


Keningnya sangat panas.


Tampak Naura membuka sedikit matanya yang tampak merah. Aku segera memegang kening dan lehernya.


"Kamu demam nak?, mana yang sakit?" tanyaku khawatir


Umakku masuk


"Kenapa Ndah?" tanyanya


"Naura demam mak" jawabku sambil segera meletakkan kepala Naura kepahaku. Ibuku memegang kening Naura


"Ya Alloh" ucapnya


"Umak tidak tahu kalau Naura demam?" tanyaku


"Tadi saat pulang diantar mbak Dian memang dia kelihatan lesu, umak suruh makan tidak mau, katanya pusing. Terus tadi waktu umak gantiin baju belum panas, makanya tadi umak pijitin kepalanya sampai dia tidur, baru umak pindahkan kesini" jelas umakku


"Tolong jaga sebentar ya Mak, aku mau beli obat" ucapku sambil meletakkan kembali kepala Naura di bantal.


Aku segera keluar kamar dan berjalan cepat menuju warung yang tak jauh dari umakku.


"Diemut nak ya" ucapku sambil memberikan pil rasa jeruk penurun panas pada Naura.


Dia hanya mengangguk dan kembali memejamkan matanya. Ibuku kembali masuk dengan membawa baskom kecil berisi air dan handuk kecil.


"Kompres biar cepat turun" ucapnya


Aku mengangguk dan segera memeras handuk kecil tersebut lalu meletakkan di atas kening Naura.


Aku pijiti kaki dan tangannya dengan lembut, berharap dia akan lebih rileks.


"Ayah..." gumamnya sambil terpejam


Aku yang memijit kakinya langsung menatap wajahnya yang masih terpejam


"Mungkin dia bermimpi" batinku


"Ayah, ayah...." ulang Naura lagi


Aku segera mengambil handuk di keningnya, membasahinya lalu kembali menempelkan di keningnya.


"Ayah bun, Ayah" ulangnya


"Ayah kerja nak, nanti ayah kesini, ya" jawabku pilu


Naura membuka matanya. Ditatapnya mataku dengan sayu


"Ayuk kangen ayah. Ayuk pengen ketemu ayah" ucapnya lemah


Aku mengangguk


"Nanti yuk ya, nanti ayah pasti kesini" jawabku


"Telpon ayah bun, sudah lama ayuk tidak dengar suara ayah. Telpon bun, telpon" rengeknya


Aku menarik nafas panjang. Bagaimana menjelaskan pada anakku jika kami sekarang tidak saling tegur sapa lagi.


"Nanti ya nak, ayah sibuk. Nanti ayah marah kalau diganggu" jawabku


Tampak Naura memalingkan mukanya, menatap langit kamar dengan mata yang sudah penuh dengan air.


"Ayuk rinduuuuu sekali sama ayah bun, kenapa sih bun ayah tidak pulang kerumah kita?"

__ADS_1


Aku diam mendengar ucapannya. Pilu sekali rasa hatiku mendengar curahan hatinya yang merindukan ayahnya. Memang Naura sudah lebih sebulan tidak bertemu ayahnya, jadi wajar jika dia sangat merindukan ayahnya.


Dan sejak kami pergi dari rumah, sekalipun Andi tidak pernah menemui anak-anaknya bahkan sekedar untuk menelpon menanyakan kabar mereka.


"Ayah kemana ya bun?" lanjutnya


"Kerja, ayah sibuk" jawabku


"Itu terus jawaban bunda. Bosan aku" ucapnya sambil memiringkan tubuhnya membelakangiku


Aku menghembus nafas dalam. "Ayahmu tidak akan pernah bersama kita lagi nak" batinku


Aku lalu membelai kepalanya, berdoa dalam hati untuk kesembuhannya. Lama, lama aku di kamar itu. Memastikan dia lelap, baru aku keluar.


...****************...


Jam sembilan malam semua anakku telah terlelap. Aku belum tidur. Aku membuka tas, memeriksa hasil ulangan harian siswa yang belum aku koreksi.


Jam sebelas lewat aku membereskan semua kertas ulangan siswaku, memasukkan kembali dalam tas dan segera membasuh muka, berwudhu.


"Ya Rabb, hamba tahu takdirMu itu pasti dan hamba juga tahu bahwa Engkau sangat menyayangi hamba. Hamba mohon berilah hamba tulang yang kuat agar hamba bisa berdiri di atas kaki hamba sendiri, berilah hamba hati yang luas agar hamba bisa memaafkan semua orang yang telah merenggut kebahagiaan hamba, hamba mohon lindungilah ketiga anak hamba, berilah mereka kesehatan dan panjang umur, dan jadikanlah mereka anak-anak yang berguna, aamiinn"


Aku segera mengakhiri sujudku, lalu melipat sajadah.


"Ayah..."


Aku segera menoleh. Naura. Kembali dia memanggil ayahnya. Dengan cepat aku melepas mukena, lalu segera menghampiri dan memegang keningnya. Panas lagi. Padahal, sewaktu aku ajak pulang tadi, panasnya sudah turun.


Aku segera menghangatkan air dan mengambil kain. Setelah air hangat aku segera mencelupkan kain, memerasnya lalu mengompres keningnya.


"Ayah... Ayah..." panggilnya.


"Iya nak, ini bunda"


"Ayah..."


Aku mulai panik. Aku basahi lagi kain, lalu mengompresnya lagi.


Aku segera mengambil pil penurun panas yang tadi aku beli, aku segera membuka mulutnya dan memasukkan pil tersebut.


Aku memijit-mijit kepalanya dengan lembut sambil menggumamkan ayat-ayat pendek.


Kutatap ketiga anakku dengan pilu. Kembali rasa sakit dan marah pada Andi itu hadir. Kembali bayangan video mesumnya di kantor terlintas di benakku, tanda merah dilehernya, ko**om yang aku temukan di koper, rambut basahnya ketika keluar dari kontrakan Tina, saat mereka makan siang, tawa mereka, genggaman tangan mereka, ahhhhhh aku menutup wajahku.


Airmataku deras mengalir. Awas kamu Andi, awas kamu geramku menahan sakit.


Tangisku makin pilu saat aku melihat wajah pucat Naura.


"Aku bersumpah, akan aku balas kesakitan ini" batinku


Aku mencoba berbaring, memiringkan tubuhku sambil memeluk ketiga anakku. Tapi airmataku tidak jua berhenti mengalir.


"Jahat kamu Andi, jahat kamu" ucapku dalam hati


"Akan kubuat kamu membalas semua ini".


Entah berapa lama aku menangis, karena setelahnya aku terlelap dan tiba-tiba terjaga saat aku kembali mendengar Naura mengigau.


"Ayah... ayah...."


Aku dengan cepat duduk dan kembali mengompres keningnya. Panasnya sangat tinggi. Aku makin panik, karena pil rasa jeruk tadi sudah habis. Aku segera kedapur, mengambilkan air putih dan membantunya duduk.


"Minum dulu ya nak" ucapku bergetar


Dapat aku rasakan tengkuknya begitu panas. Naura meminumnya sedikit lalu terkulai lemah sambil menatap sayu kemataku


"Ayah..." lirihnya


"Iya nak, iya." jawabku


"Ayah... mau ayah" ucapnya lagi sambil menangis.


Aku segera memeluk tubuhnya dan berkali kali menciumi puncak kepalanya sambil ikut menangis.


"Ayah, ayuk rinduuuu"


Remuk rasa hatiku mendengarnya, seluruh tulangku rasanya lemas. Aku sangat hancur melihatnya begitu lemah.


Aku segera mengambil hp dan tanpa pikir panjang aku segera mendial nomor Andi. Tersambung, tapi tidak diangkat. Aku tidak putus asa, kuulangi lagi, tapi sama seperti tadi, tidak diangkat. Kuulangi terus hingga sepuluh kali tapi masih juga tidak diangkat. Sedangkan Naura saat itu makin lemah dan terus memanggil ayahnya.


"Sabar ya nak, ini bunda sedang mencoba telpon ayah" ucapku cemas


Hingga panggilan kedua belas kalinya Andi masih tidak juga menjawab. Dengan kecewa aku menggenggam hp di tanganku lalu menatap Naura.


Jam 02.11. seperti itu yang tampil di hp, wajar jika Andi tidak mengangkatnya, dia pasti tidur.


Tiba-tiba Naura muntah, dengan panik aku segera mendudukkan tubuhnya agar memudahkan dia untuk muntah.


Banyak sekali muntahnya, hingga badannya lemas. Aku sudah tidak punya pikiran lagi. Aku sudah menangis tersedu-sedu melihatnya muntah. Tanpa pikir panjang, aku segera keluar dan menggedor kontrakan mbak Mila.

__ADS_1


"Mbak, mbak!" panggilku panik


Tidak ada sahutan.


"Mbak" panggilku lagi kali ini dengan menggedor kencang pintunya


Airmataku sudah tidak berbentuk lagi. Cemas, takut, khawatir campur aduk.


"Mbak, tolong buka pintunya, mbak" panggilku sambil menangis.


Lampu diruang depan kontrakan mbak Mila menyala


"Siapa?" tanya sebuah suara. Suami mbak Mila


"Aku, Indah mas. Tolong mas, anak aku sakit" jawabku masih dengan menangis


Segera terdengar suara kunci yang terburu-buru di buka. Muncul wajah mbak Mila dan suaminya.


"Ada apa Ndah?" tanya mbak Mila yang kedengaran cemas


"Naura, Naura" jawabku terputus-putus karena tangisanku


Tanpa menunggu lebih lama suami mbak Mila langsung masuk kedalam kontrakan kami disusul oleh aku dan mbak Mila.


Naura terbaring lemah dengan rambut dan wajah yang berantakan. Aku segera mengambil lap, lalu membersihkan bekas muntahnya. Mbak Mila segera mengelap wajah dan mulut Naura pakai kain bekas ngompres tadi.


"Kita bawa ke puskesmas" usul suami mbak Mila


Aku mengangguk cepat.


Segera aku memakaikan Naura sweater panjang dan menguncir rambutnya. Aku menyambar hijabku lalu segera mengeluarkan motor.


"Biar aku yang antar" ucap suami mbak Mila


Aku tertegun.


"Sudah jangan kelamaan mikir, Naura harus cepat dirawat" jawab mbak Mila.


"Anak-anak biar aku pindahkan ke tempat kami" jawab mbak Mila seperti tahu kebimbanganku


Aku menganggukkan kepalaku, lalu segera aku menggendong Naura, lalu kami naik keboncengan.


Tanpa menunggu lama, suami mbak Mila segera mengegas motor. Cuaca pagi sangat dingin, aku memeluk erat Naura agar dia hangat.


Airmataku mengalir sepanjang jalan menuju puskesmas


"Yang kuat ya nak, yang kuat" ucapku sambil terus memeluknya


Aku makin panik karena Naura kembali muntah-muntah. Suami mbak Mila dengan kencang menjalankan motor saat mengetahui Naura kembali muntah.


"Cepat mas" ucapku cemas sambil menangis.


Laju motor kian kencang. Sekitar lima belas menit kami sampai di puskesmas.


Aku segera menggendong Naura, sedangkan suami mbak Mila langsung masuk kedalam Puskesmas menuju kebagian piket.


Tak lama dua orang perawat membawa brankar, aku segera meletakkan Naura di atasnya. Segera mereka mendorong brankar masuk keruang IGD.


Aku mengikuti mereka masuk sambil terus menggenggam tangan mungilnya.


"Ayahhhh..." kembali Naura mengigau


Salah satu perawat mulai menyiapkan alat untuk memasangkan selang infus. Aku memalingkan wajahku saat jarum infus masuk keurat kecil Naura.


Setelah infus terpasang, tampak wajah Naura sudah merah, tidak sepucat tadi. Aku jadi sedikit lega melihatnya sudah tenang.


Segera aku keluar menemui suami mbak Mila yang masih menunggu kami di luar IGD.


"Naura dirawat mas, terima kasih karena sudah mengantarkan kami" ucapku tulus


Tampak beliau menarik nafas lega.


"Syukurlah kalau begitu. Aku pamit ya mbak, kalau ada apa-apa telpon saja" jawabnya


"Pasti mas" jawabku


Lalu beliau segera bangkit dari kursi


"Titip anak-anakku ya mas, Insha Alloh pagi-pagi besok aku akan jemput mereka"


"Iya mbak, tenang saja. Untuk Mikail dan Adam jangan difikirkan, ada kami" jawabnya


Aku menarik nafas lega. Setidaknya kedua jagoanku dini hari ini ada yang menjaganya.


Sepeninggal suami mbak Mila, aku segera masuk kedalam IGD, duduk di kursi sambil memeluk tubuh Naura.


"Bunda tahu ayuk kuat, jadi tolong kuatlah demi bunda ya nak" lirihku dengan airmata yang kembali mengalir


Aku memejamkan mataku saat aku melihat jam di tembok yang saat itu menunjukkan hampir jam 4.

__ADS_1


Aku tidur sambil menggenggam tangan Naura, dan berharap bahwa panasnya cepat turun dan dia segera sehat


__ADS_2