Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Sujud Syukur


__ADS_3

"Pulang ya Ndi, ajak anak istrimu, mbak mau pasaran anak mbak" sms mbak Ningsih pagi ini saat Andi membuka matanya.


Saat itu jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Karena hari libur, Andi jadi malas-malasan dan bangun siang.


Jika biasanya saat dia bangun, sarapan telah tersedia, maka sudah seminggu ini dia bangun membuat kopi sendiri dan sarapan dengan mie rebus atau mie goreng.


Sambil menguap Andi masuk kekamar mandi dan segera menyiram air ketubuhnya agar segar dan tidak mengantuk lagi.


Setelah itu, baru dia berganti baju dan kedapur membuat kopi. Rumah terasa sekali sepinya. Biasanya setiap libur dia akan mendengar ketiga anaknya ribut, suara Indah yang mengomel, suara anak mereka yang rebutan mainan, bahkan terkadang diselingi dengan tangisan.


Tapi minggu ini benar-benar berbeda. Andi tersenyum kecut demi menyadari bahwa itu tinggal kenangan.


Sambil membawa kopi keruang tamu, Andi membuka kembali hpnya. Dia kefikiran untuk membawa serta Tina kekampung halamannya. Ibu pasti senang jika aku bawa Tina batinnya.


Baru saja dia berniat hendak menelpon Tina, hpnya tiba-tiba berdering.


Di layar tertera nama Afdal.


"Ya ada apa?" jawabnya


"Besok tim audit dari pusat akan kekantor. Sekarang mereka masih di Bengkulu"


Wajah Andi berubah tegang


"Laporan yang mereka minta kemarin sudah selesaikan pak? tanya Afdal


"Iya, sudah" jawab Andi malas


"Oh, baguslah. Jika Bapak butuh bantuan, kirimkan saja laporannya ke email saya, biar saya cek lagi"


"Tidak perlu, sudah semua aku kerjakan mas, tiga hari aku lembur mengerjakannya" jawab And


Afdal terkekeh.


"Ya sudah pak, cuma mau nanya itu saja, have a nice day" tutup Afdal


"Sok romantis kamu bilang have a nice day segala ke saya"


"Kan biar bapak tidak tegang" jawab Afdal masih sambil terkekeh


"Maksudnya apa?"


"Nggak ada pak. Bercanda"


"Awas kamu"


Lalu panggilan berakhir. Andi segera berdiri dan masuk kekamar, mengambil laptop dan memeriksa laporan yang dibuatnya kemarin


"Ah, mudah-mudahan laporannya cuma diperiksa sekilas saja" harapnya sambil terus fokus menatap layar laptop.


Jam sebelas lewat Andi selesai memeriksa kembali seluruh file laporannya. Segera dimatikannya laptop lalu menyimpannya kekamar.


Setelah itu Andi mengambil kunci mobil lalu segera keluar dari rumahnya, masuk kemobil dan melajukan mobil dengan perlahan hingga sampai kejalan raya barulah dia melajukan mobil dengan sedikit ngebut.


...****************...


"Horeee Oom sampai" Dimas melompat kegirangan ketika dilihatnya mobil Andi masuk kehalaman rumahnya.


Semua yang hadir saat itu menoleh bahkan ada yang menyingkirkan kursi agar tidak terhalang saat mobil Andi hendak masuk.


Mobil Andi tepat berhenti di samping tenda, segera dia turun dan menyalami para pria yang saat itu sedang duduk-duduk setelah makan siang.


"Adek Ula mana oom?" tanya Dimas saat mencium punggung tangan Andi.


Andi mengusap kepala Dimas, semakin besar saja badannya, dan sekarang dia sudah kelas enam.


"Adek Ula mana oom?" ulangnya karena belum mendapat jawaban


"Nggak ikut"

__ADS_1


"Yaaaa" tampak kekecewaan di wajahnya. Dengan lesu dia mengikuti langkah Andi yang masuk kedalam rumah.


"Wehh anak lanang ibuk wis teko" ucap bu Mira dengan sumringah menyambut uluran tangan Andi


Lalu Andi bergiliran menyalami mbak Ningsih dan mbak Laras. Baru setelah itu dia menyalami ibu-ibu yang lain yang kebetulan ada di dalam ruangan itu.


"Bojomu ndi Oom? tanya mbak Ningsih


Sementara Laras kedapur mengambilkan teh hangat dan aneka kue


"Neng umah" jawab Andi singkat


"Loh kok ndak diajak?" mbak Ningsih sedikit kecewa


Andi diam, dia segera mengambil kue yang dihidangkan mbak Laras, dan segera mengunyahnya.


"Padahal Dimas sudah nunggu" sambungnya


Sementara wajah Dimas masih sedih karena Naura tidak datang. Dia duduk di sebelah ibunya sambil mengelus-elus pipi adik bayinya.


"Untuk apa pula diajak" sungut Laras


Mbak Ningsih memandang malas pada Laras


"Kok siang Le sampainya?" tanya bu Mira lagi


"Andi bangun kesiangan buk, terus tadi itu periksa laporan dulu, karena besok ada tim audit dari pusat"


"Istri kamu kemana sampai kamu kesiangan, jangan-jangan dia juga bangun siang" jawab bu Mira


"Jelaslah buk, wong waktu kita kesana saja dianya nyantai, apalagi ini hari libur" sahut Laras


"Hei, tante. Sini" panggil Laras pada Maria yang terlihat baru masuk depan pintu samping


Maria segera mendekat dan mengulurkan tangannya pada Andi dan segera disambut Andi.


"Aduh mantu kesayangan ibuk, dari tadi sibuk terus di belakang, sampai tidak ada waktu istirahat saking repotnya" puji bu Mira pada Maria yang segera duduk di sebelahnya


"Repot opo, wong cuma tingak tinguk wae kerjanane, merintah merintah wae ket mau. Njagong karo ngunyah tok" bisik mereka sambil cekikikan


"Lain dong ibu, ini Maria jangan disamakan dengan orang lain" lirik Laras pada Andi


Andi diam seolah tak mendengar omongan mbak Laras.


"Istri kamu tahu kalau kamu kesini?" tanya bu Mira


"Tidak" jawab Andi singkat


"Istri model apa kaya gitu, suami pergi kemana kok tidak tahu. Pantesan ditinggal selingkuh" Maria menimpali


Ibu-ibu di dalam ruangan langsung saling toleh. Mereka kaget mendengar omongan Maria. Mereka tidak menyangka jika Andi ternyata selingkuh di belakang istrinya


Mbak Laras langsung cepat tanggap, dia langsung mencolek Maria agar sadar karena ibu-ibu yang saat itu rewang saling bertatapan penuh makna


Maria segera mengerti apa maksud Laras, dia kembali diam pura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Kalo istri Andi sih memang begitu modelnya, bebal sih Andinya. Dari awal ibu memang tidak suka sama istrinya, masih saja dinikahi. Entah dengan cara apa biar anak ini sadar" ucap bu Mira enteng tidak perduli jika ibu-ibu yang rewang mendengar jelas omongannya


"Kita rukiyah saja buk Andinya, kayanya dia sudah termakan guna-guna istrinya itu. Kok ya sampai nurut seperti sapi dicucuk hidungnya" timpal Laras yang juga berani karena ibunya yang memulai


"Siram air comberan saja buk" timpal Maria sambil cekikikan.


Ningsih memasang wajah cemberut mendengar ibu dan Laras memojokkan Indah.


"Andi, Andi, bagaimanapun juga Indah itu istri kamu. Tiap dia kesinikan selalu sama kamu, jika tidak kamu ajak mana berani dia kesini" sela mbak Ningsih


"Dia loh untung-untung setahun sekali kesini. Apalagi ini, mbak selamatan, harusnya Indah kamu ajak. Makan nggak makan kumpul. Kamu kan tahu, Indah itu baik sama mbak, dan mbak juga sayang sama dia seperti adik sendiri. Sama ini, Dimas. Dia sudah dari kemarin menunggu kedatangan Naura, ehh malah tidak kamu ajak" sambung mbak Ningsih lagi


"Andi itu sudah benar Ning. Istrinya itu buat apa diajak kesini. Kamu tidak melihat bagaimana dia menampar wajah Laras di depan bapak sama ibu, ibu saja sampai saat ini masih sakit hati atas sikap kurang ajar dia" bu Mira menjawab dengan ketus

__ADS_1


"Mbak bela terus saja adik ipar kesayangan mbak itu. Mbak tidak merasakan sakitnya" Laras menjawab dengan wajah cemberut


"Indah marah pasti karena kalian memang salah. Tidak mungkin dia menampar kamu, kalau kamu tidak kelewatan" balas mbak Ningsih


"Mbak kan tidak tahu ceritanya mbak. Kalau mbak tahu, mbak pasti juga bakal marah sama Indah"


"Siapa yang mau disebut lon**e Ras. Coba kamu dibilang gitu kamu pasti marah juga"


Akhirnya mbak Ningsih dan mbak Laras saling kejar omongan. Masing-masing sibuk dengan argumen mereka.


"Stop!!! jangan ribut, Indah sudah aku talak dan aku usir dari rumah!" jawab Andi keras


Sontak Laras dan Ningsih yang sedang adu argumen spontan berhenti.


Airmata mbak Ningsih langsung mengalir demi mendengar ucapan Andi.


Berbeda halnya dengan bu Mira, Laras dan Maria. Mereka kaget juga, tapi mata mereka berbinar bahagia.


"Serius Ndi kamu talak Indah?" tanya bu Mira


Laras dan Maria langsung berpegangan tangan.


"Iya" jawab Andi singkat


Sontak Laras dan Maria langsung mengangkat tangan mereka yang tadi berpegangan. Mereka langsung berseru bahagia.


"Alhamdulillah ya Alloh" ucap bu Mira sambil sujud syukur


Ibu-ibu yang ada di ruangan itu keheranan. Sebagian mereka geleng-geleng kepala, sebagian lagi saling berbisik melihat tingkah laku bu Mira dan Laras yang tampak sekali bahagia.


Berbeda dengan Ningsih. Dia langsung memegang dadanya yang tiba-tiba dirasa nyeri. Airmatanya tanpa bisa ditahan langsung tumpah. Dia segera meletakkan anak bayinya dan segera memeluk Dimas yang duduk di sampingnya sambil menatap bengong tak mengerti


"Tega kamu Andi. Tega kamu" ucap Mbak Laras tercekat


Bu Mira langsung berdiri keluar dari dalam rumah dan celingukan mencari suaminya


"Pak.. pak" panggilnya


Pak Hermawan yang sedang duduk santai dengan bapak-bapak di dalam tenda langsung menoleh.


Bu Mira dengan cepat berjalan kearah suaminya


"Cepat bapak cari kambing" ucapnya dengan mata berbinar


"Kambing?" tanya suaminya dengan wajah bingung


"Iya pak, kambing. Cepat bapak cari kambing di SP 1 biasanya banyak. Bapak beli disana" ucapnya sambil memberikan uang merah yang lumayan banyak ketangan suaminya


"Untuk apa buk?" pak Hermawan masih tampak kebingungan.


"Ya untuk disembelih, dimakan" jawabnya cepat


"Kan Indra sudah beli buat akikahan anaknya yang ini" jawab pak Hermawan masih bingung


"Ini bukan untuk akikahan, tapi ini untuk bayar nazar ibu"


"Nazar? nazar apa?"


"Akhirnya Andi mentalak Indah pak, mereka cerai, dan ibu sangat bahagia"


"Astaghfirullah" terdengar gumaman istighfar dari bapak-bapak yang ada di dalam tenda


Tapi bu Mira cuek dan tidak perduli


"Ayo pak, cepat cari kambingnya. Setelah itu suruh pak ustadz tadi untuk menyembelihnya" jawabnya sambil segera berlalu dari sana


Pak Hermawan tampak termangu. Dia tentu saja kaget mendengar berita jika Andi telah mentalak istrinya. Tapi dia juga tidak habis fikir dengan nazar aneh istrinya itu.


Tapi jika dia tidak mencari kambing yang diinginkan istrinya bisa-bisa istrinya akan marah padanya.

__ADS_1


Maka dengan ragu dia pergi mencari kambing dengan ditemani dua anak buahnya.


__ADS_2