
Masih sambil terisak Naura mengirimi Adam pesan
Bunda marah dek sama ayuk gara-gara uang tabungan ayuk berkurang banyak
Emang berapa banyak sih dek kemarin biaya mbah?
Terkirim dan langsung centang biru, padahal saat itu sudah pukul dua belas malam lewat
Adam menepuk jidatnya sambil beristighfar
Ini salah adek juga kenapa nggak konfirm dulu sama ayuk
Kita sama salahnya dek karena nggak minta ijin dulu sama bunda
Oke deh yuk, besok kita video call sama bunda, kita minta maaf
Naura lalu mematikan data handphone, kemudian meletakkan handphone di lantai di bawah ranjang
Dan dia memejamkan matanya, tidur di sebelah Hanum
...****************...
Sebelum Subuh, Naura dan Adam telah bangun, berdua mereka mengaji dan setelah adzan, bersama mas Indra mereka shalat berjamaah
Setelah agak terang, keduanya ke rumah mbah mereka, niat mereka mau berpamitan pulang, karena Naura harus bekerja dan Adam harus menunggui ayahnya di ICU
"Malam besok kita niga hari mbahmu, tante harap kalian berdua bisa kesini"
"Iya tante"
Setelah berpamitan pada semua orang, Adam segera masuk kedalam mobil yang sebelumnya mesin mobil telah dipanaskan
"Mungkin suster sekitar semingguan di sini, nanti jika buk Ning sama kak Mas telah benar-benar sehat, aku yang akan jemput suster"
Kedua orang perawat itu menganggukkan kepala mereka mendengar penjelasan Naura
Lalu Naura segera naik ke mobil dan melambaikan tangan pada keluarga besar pak Hermawan yang mengantarkan sampai pintu mobil
Di perjalanan Naura banyak diam begitu juga Adam, keduanya larut dalam pikiran mereka masing-masing
Sampai akhirnya sebuah pesan masuk ke handphone Naura
Dimana yuk
*Jalan pulang wak
Nanti kalau sudah di klinik kasih tahu uwak, ya?
Iya wak
Adek juga nanti jangan suruh pergi dulu
Iya wak*
Lalu obrolan berakhir. Dan Naura menghembus nafas dalam
"Kenapa yuk?"
"Uwak, pasti uwak mau nanya masalah uang ayuk"
Adam ikut menarik nafas dalam
"Kita memang salah yuk, kita lancang"
"Ya kan ayuk nggak nyangka kalau bunda bakal semarah ini dek"
"Harusnya kita sudah menduga itu yuk, kan kita tahu bagaimana tidak sukanya bunda sama Mbah"
"Lebih tepatnya mbah yang tidak suka sama bunda"
"Ya itu juga yuk"
Lalu keduanya tersenyum.
"Kalau bunda ngamuk lagi gimana dek?"
"Ya kita terima akibatnya yuk, wong kita yang salah"
"Ah, andai ada kakak..."
Adam menoleh kearah Naura yang wajahnya langsung berubah sendu
"Kenapa yuk kalau ada kakak?"
"Karena cuma kakak diantara kita bertiga yang paling bisa merebut hati bunda, karena cuma kakak yang bisa meluluhkan kerasnya hati bunda dek"
Adam mengangguk setuju. Memang diakui olehnya bahwa hanya Mikail yang bisa meluluhkan hati bundanya.
__ADS_1
Dari kecil memang cuma Mikail yang memahami hati bundanya, dan Mikail lah satu-satunya anak yang mampu meredam amarah bundanya
"Nanti jika bunda marah, kita langsung video call sama kakak, biar kakak yang bujuk bunda"
Naura mengangguk. Lalu kembali keduanya diam, Naura mulai merasa ngantuk dan memejamkan matanya
"Ayuk tidur ya dek, adek jangan ngebut, nanti jika sudah sampai klinik bangunkan ayuk"
"Iya yuk"
Lalu Naura merebahkan kepalanya ke sandaran kursi yang telah dibuatnya rebah untuk membuatnya nyaman tidur
Adam tersenyum ketika melirik ayuknya yang mulutnya mangap
"Kalau tuan muda Emir atau Akmar melihat ini, pasti ngakak mereka" gumamnya sambil terkekeh
Karena Naura telah nyenyak, dan tak ada teman ngobrol, Adam melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sehingga satu setengah jam berikutnya, mobil yang dikendarainya telah masuk ke kawasan klinik yang telah ramai dengan barisan motor dan mobil keluarga pasien
Security yang melihat mobil Adam masuk segera mengarahkan mobil tersebut ke parkiran khusus karyawan klinik
Adam dengan pelan mengguncang bahu Naura yang membuat Naura kaget dan segera membuka matanya. Dia meregangkan ototnya sebentar, lalu turun dari mobil
"Pagi bu..." sapa security begitu Naura turun
Naura menjawab sapaan security tersebut sambil tersenyum. Begitupun ketika masuk ke loby klinik, perawat dan bagian administrasi segera menyapanya
"Dokter Viktor ada?"
"Ada bu, di ruangannya" jawab perawat sopan
Naura tersenyum sambil memegang pundak perawat tersebut
"Naura... bukan ibu, berapa kali aku harus bilang sama mbak semua, jangan panggil aku ibu, panggil aku Naura saja. Kan aku jauh lebih muda dibanding mbak semua"
"Tapi nggak sopan bu kalau kami nyebut nama"
Naura kembali tersenyum
"Call me Ukhti Naura saja bagaimana, atau ayuk Naura seperti keluarga besar ku memanggilku?" usul Naura sambil cekikikan
"Nah boleh tuh, kami panggil dengan sebutan ayuk bos saja, bagaimana?"
Naura memutar matanya sambil segera meninggalkan karyawannya yang terkekeh
"Uwak tadi ngomong jika sudah di klinik, kasih tahu beliau"
Adam segera mengeluarkan handphonenya menelpon uwaknya
"Kami sudah di klinik wak. Uwak dimana?"
"Lima menit lagi uwak akan sampai"
Adam lalu meletakkan handphonenya di atas meja memandang kearah Naura dengan wajah tegang
"Apa kata uwak dek?"
"Lima menit lagi uwak sampai"
Wajah Naura ikutan menegang. Keduanya duduk gelisah, mereka yakin jika tidak ada tujuan penting, tidak mungkin uwaknya sampai meninggalkan pekerjaannya di kantor dan memilih menemui mereka
Benar adanya, lima menit selanjutnya pintu ruangan Naura diketuk dan muncul wajah kak Andri sambil mengucap salam
Adam dan Naura menjawab salam uwak mereka, dan dengan segera keduanya berdiri mencium punggung tangan kak Andri
Kak Andri langsung duduk berhadap-hadapan dengan kedua keponakannya yang berwajah tegang
"Kalian pasti sudah tahu apa tujuan uwak kesini"
Keduanya langsung menunduk dalam
"Kasih tahu uwak, ayuk kemana kan duit sebanyak itu dalam sehari?"
Naura menelan ludahnya tak berani menjawab. Memang suara kak Andri bertanya dengan nada pelan, tapi mereka tahu bahwa suara itu menahan amarah
"Adek saja yang jawab kalau ayuk nggak punya mulut"
Naura makin menundukkan kepalanya
"Adek...?, apa adek nggak punya mulut juga sama kaya ayuk?"
Dengan degup jantung berdebar kencang, Adam mengangkat wajahnya
"Maafkan kami wak, kami akui kami salah. Disini yang salah itu adek bukan ayuk"
Kak Andri mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Adam
__ADS_1
"Ceritakan semuanya pada uwak!"
Adam lalu menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, semuanya tanpa ada yang ditutupi
"Oleh karena itulah wak, makanya atm yang ayuk titipkan adek kasih sama dokter untuk membayar biaya perawatan mbah selama di Palembang"
Kak Andri terdiam mendengar penjelasan panjang lebar Adam, lama dia terpekur.
"Sudah minta maaf sama bunda?"
Keduanya menggeleng
"Kenapa belum?"
"Semalam bunda nelpon, dan bunda ngamuk wak, bunda sangat marah" jawab Naura takut-takut
Kak Andri menatap dalam Naura yang tertunduk
"Menurut kalian, wajar tidak jika bunda marah?"
Keduanya mengangkat kepala dan kompak mengangguk cepat
"Nah, tuh kalian tahu, kenapa kalian nggak minta ijin dulu sama bunda, bertanya dulu. Memang itu duit kalian nak, tapi kalian harus ingat asal duit itu dari mana"
Kembali keduanya menunduk
"Bukan mentang-mentang itu duit kalian, terus kalian seenaknya menghambur-hamburkannya, boleh kalian membelanjakan uang itu karena itu memang uang kalian, tapi kalian harus ingat bunda kalian sangat tidak suka dengan keluarga besar Andi, ehhh ini kok malah uangnya dipakai untuk ibunya Andi"
"Orang yang sangat membenci bunda kalian, orang yang sampai dia meninggal tidak menyukai bunda kalian, bahkan sampai dia meninggal tidak sepatah kata maaf pun terlontar untuk meminta maaf pada bunda kalian"
"Kalian pikir adik uwak itu batu?, tidak punya perasaan??!"
Naura sudah terisak
"Uwak tahu Naura, niat kamu baik, kamu ingin menolong, tapi disini kamu salah karena tidak meminta izin dulu pada bundamu"
Handphone kak Andri berdering, segera dia meraih handphone yang diletakkannya di atas meja
"Ya sat?"
Kepala Adam dan Naura langsung terangkat mendengar uwaknya menyebut kata "sat"
"Iya ini kakak lagi dengan mereka"
Lalu kak Andri menekan icon video karena Indah mengubah panggilan suara ke panggilan video
Kak Andri meletakkan handphonenya dengan posisi tegak agar memudahkan Adam dan Naura melihat wajah bunda mereka
"Ayo, siapa yang mau jelasin sama bunda?"
Naura mengusap kasar wajahnya lalu menoleh pada Adam
"Adek yang salah bunda bukan ayuk"
"Kalian berdua itu sama saja. Sama-sama buat bunda struk mendadak!!!"
"Ngapain juga adek berani-beraninya bayar pakai atm ayuk?, emang itu duit adek??"
Adam menunduk sambil menggeleng
"Tatap bunda kalian berdua, jangan nunduk!!!"
Keduanya mengangkat kepala sambil melirik takut kearah bundanya
"Sepertinya kalian berdua harus bunda hukum biar kalian berdua nggak macam-macam lagi"
"Cepat serahkan atm kamu Naura pada uwak, dan adek, nanti pulang kerumah ambil buku tabungan kamu sama ayuk, kasih juga keuwak, biar uwak yang pegang atm sama buku tabungan kalian, dan mulai detik ini kalian tidak dapat jatah uang sawit lagi, juga uang-uang yang lain, uang SPBU, uang toko, uang sewa ruko, semuanya bunda stop!!!"
Naura dan Adam kembali menunduk dalam
"Naura, kamu telah bekerja, kamu dapat gaji dari klinik yang dikelola uwakmu, jadi mulai sekarang kamu pakai uang hasil keringat kamu sendiri!!!"
"Dan kamu adek, memang kamu belum kerja, dan nggak ada penghasilan, bukan berarti bunda memaafkan keteledoran kamu. Kamu sama kaya ayuk, nggak akan bunda kasih uang lagi, kalau kamu mau uang kamu kerja"
Adam hanya mengangguk pelan. Lalu obrolan hening, sampai akhirnya Adam dan Naura mengangkat kepala mereka ketika mendengar suara isak tangis bunda mereka
"Bundaaaa... maafkan kami bundaaa...." teriak keduanya turun dari kursi dan duduk dilantai, menelungkupkan wajah mereka dimeja menangis sesenggukan
"Kalian telah memaksa bunda memarahi kalian nak, kalian telah membangunkan setan yang selama ini bunda berusaha kalahkan, sesakit dan sepedih apapun derita sanggup bunda hadapi nak, tapi ketika kalian mengkhianati bunda, sakit nak hati bunda, sakiiittt..."
Naura dan Adam makin terisak.
"Keluarga ayah kalian itu telah sangat menyakiti bunda nak, hingga bunda tidak bisa memaafkan mereka"
Lalu tanpa mengucap salam aku segera memutus obrolan yang membuat Adam dan Naura mengangkat kepala mereka dan kembali berteriak
"Bundaaaa..."
__ADS_1
Dengan cepat keduanya bangkit menubruk uwaknya dan menangis tersedu-sedu