Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Hp Baru


__ADS_3

Di dalam mobil Andi dan Afdal tidak saling berbicara. Andi fokus menyetir sedangkan Afdal sibuk dengan fikirannya. Dia benar-benar tidak menyangka jika bosnya sekarang ini telah mentalak istrinya.


Sesekali diliriknya wajah Andi yang fokus menghadap depan, tampak sekali ketegangan di sana. Afdal memandang tak percaya pada bosnya itu, jika orang yang ada di sampingnya saat ini lebih memilih selingkuhannya dibandingkan dengan istri yang sudah menemaninya dari nol


Lamunan Afdal terhenti ketika hp disaku celananya berdering tanda panggilan masuk


"Ya Pak?" ucapnya


"Kalian duluan, carikan counter hp yang paling bonafit di kota ini" ucap suara di seberang


"Baik pak" jawab Afdal


Lalu panggilan berakhir, dan Afdal memasukkan kembali hpnya kedalam saku.


"Kita cari counter hp paling bonafit di sini pak" ucapnya akhirnya setelah sekian lama mereka diam


"Buat apa?" tanya Andi tanpa menoleh


"Pak Tobias yang meminta"


"Mau ngapain?"


"Beli pulsa kali"


Andi diam tidak berkomentar lagi. Dia segera menyalip dua mobil yang ada di depannya sebagai guide


Mobil yang dikemudikan Andi berbelok kesebuah counter yang paling besar yang ada dikota Lubuklinggau ini.


Kedua mobil yang ada dibelakangnya juga ikut berbelok. Ketiga mobil itu tepat berhenti diarea parkir dan Afdal segera turun dari mobil, berjalan mendekat kearah mobil avanza hitam yang di dalamnya ada pak Tobias


Pak Tobias segera membuka jendela mobil begitu Afdal mendekat


"Disini pak" ucapnya sopan


Pak Tobias melihat sekitar dari dalam mobil sebelum memutuskan untuk turun


"Ayo mbak Indah" ajaknya


"Saya di sini saja pak" tolakku sopan


"Atau mbak perlu pengawalan saya?" tawar pak Abraham


Aku terkekeh.


Hp pak Tobias berdering, beliau segera mengangkatnya


"Ya pak Jonathan" jawabnya


"Bos meminta Indah sendiri untuk memilih" jawab suara di seberang


"Tapi dia menolak pak" jawab pak Tobias


"Paksa" ujar suara diseberang sambil tertawa


"Tidak mungkin pak, aku tidak bisa memaksa perempuan" jawab pak Tobias membalas sambil tertawa juga


"Kita kena marah bos nanti" lanjut pak Jonathan


"Resiko kita pak" ucap pak Tobias


Lalu panggilan terputus


"Ayolah mbak, tolong bantu kami" ucap pak Tobias sedikit memaksa


Indah mengerutkan keningnya. Andi yang menunggu dalam mobil merasa bosan karena dari tadi cuma Afdal yang keluar dari dalam mobil, sedang yang lain masih anteng di dalam


Pak Abraham langsung membuka pintu mobil depan, dan segera turun. Mata Andi langsung terbelalak ketika dia melihat siapa yang barusan turun dari mobil avanza hitam tersebut.


Dia menelan ludah, wajahnya menegang dan sedikit pucat. Dia teringat bagaimana lelaki itu membabi buta memukulnya ketika di Pekanbaru tiga bulan yang lalu.


Andi segera membuang muka ketika pak Abraham menoleh padanya. Tampak sekali Andi ketakutan. Sedangkan Pak Abraham hanya tersenyum sinis melihat Andi yang salah tingkah


Pak Abraham langsung membuka pintu mobil bagian tengah. Pak Tobias segera turun.


"Ayo mbak, kita tidak bisa lama" ucapnya lagi


Dengan bingung aku juga ikut turun. Pak Abraham langsung berjalan dibelakang kami. Kami masuk kedalam counter tersebut, dan segera disambut oleh seorang SPG.


"Saya minta Hp keluaran terbaru" ucap pak Tobias


SPG tersebut langsung mengeluarkan beberapa jenis hp keluaran terbaru berbagai merk.


"Pilih mbak" ucapnya padaku

__ADS_1


Aku masih bergeming, bingung.


"Diantara semua ini yang mana yang paling bagus?" tanya pak Tobias pada SPG karena melihatku masih tidak menjawab


"Yang ini pak" ucap spg itu sambil memberikan salah satu hp yang terletak di atas meja kaca


"Bungkus yang tipe ini kalau begitu" ucap pak Tobias


SPG tersebut dengan cekatan langsung memasukkan tipe hp yang tadi diminta pak Tobias kedalam tas cantik dan memberikannya pada pak Tobias


"Bayarnya di sana ya pak" tunjuknya sopan pada pak Tobias


Kami lalu berjalan menuju kasir. Pak Tobias langsung menyodorkan tas yang berisi hp tadi kearah kasir. Kasir langsung memeriksa kelengkapan lalu memasukkan kotak earphone kedalam tas tersebut


"Tiga juta lima ratus ribu rupiah pak" ucap kasir


Pak Tobias lalu membuka dompetnya dan memberikan sebuah kartu atm dan menyebutkan nomor pin.


"Terima kasih, silahkan datang kembali" ucap kasir sambil memberikan struk


"Ini buat mbak" ucap pak Tobias menyerahkan tas hp itu kepadaku lalu berjalan tanpa memperdulikanku yang bengong


"Masih mau lama-lama disini?" suara bariton pak Abraham menyadarkanku


Dengan gelagapan aku berjalan menyusul pak Tobias yang telah masuk kedalam mobil


Andi yang melihat Indah menenteng tas hp baru makin menguatkan suudzonnya jika antara pak Tobias dan Indah ada hubungan spesial.


Setelah semuanya masuk kedalam mobil, barulah supir menjalankan mobilnya mengikuti mobil yang dikemudikan Andi yang telah lebih dulu berjalan


...****************...


"Tidak seharusnya bapak memberikan hp ini buat saya" ucapku tak enak hati saat kami telah selesai dengan makan siang kami


Aku segera meletakkan hp itu di atas meja, tepat di depan pak Tobias


"Ini bukan dari pak Tobias mbak, ini dari Bos kami" jawab pak Jonathan


Aku langsung menoleh pada beliau. Apakah ini atas perintah abang? batinku


Andi mendengus kesal.


"Oh maafkan kami pak Andi jika kami lancang" pak Andreas menjawab demi mendengar Andi mendengus


Afdal tersenyum segaris melihat reaksi bosnya itu


"Lagian hp mbak Indah kemana? rusak?" tanya pak Miko


Aku menelan ludah, dan melirik kearah Andi. Ingin sekali rasanya aku membongkar borok Andi di depan para petinggi SALAM GROUP ini, tapi aku masih punya perasaan, aku tidak mau menjatuhkan Andi di depan mereka


"Rusak pak" jawabku pelan


"Come on pak Andi, hp ini jauh lebih murah dari gaji anda. Masa membelikan hp untuk istri sendiri tidak sanggup" sindir pak Miko


Andi tersenyum basi. Afdal makin kesal melihatnya.


"Jangan ditolak, jika mbak menolak kami yang kena marah" ucap pak Jonathan yang membuatku terpaksa tersenyum.


Lalu pak Tobias kembali menyerahkan hp tersebut kepadaku. Dengan perasaan campur aduk aku menerimanya.


Mata Andi makin menyiratkan kebencian.


Selagi kami mengobrol ringan, hp pak Andreas berdering.


Beliau segera meninggalkan meja makan lalu berjalan menjauh.


Tampak beliau mengobrol santai dengan yang menelponnya, sampai akhirnya beliau setengah berteriak memanggilku


"Mbak Indah, sini sebentar" panggilnya sambil melambaikan tangan kearahku


Aku segera menoleh dan berdiri dari kursiku, lalu berjalan kearah beliau


"Bos mau bicara sama mbak" ucap beliau sambil menyodorkan hpnya kearahku


Dengan gugup aku meraih hp itu dan meletakkan di telingaku


"Assalamualaikum Indah" ucap suara diseberang


Deg deg deg deg!!!!!


Jantungku langsung berdetak sangat kencang.


Pak Andreas berjalan meninggalkanku, beliau kembali lagi kemeja kami tadi.

__ADS_1


"Waalaikumsalam pak" jawabku kaku


"Abang, bukan pak" potong abang dari seberang


Aku tersenyum mendengar ucapannya


"Tapi saya tidak pantas memanggil abang pada bapak" jawabku


"Aku bukan atasan kamu Indah"


"Tapi pak?" ucapku lagi


"Abang, abang Ariadi. Bukan Bapak atau Pak. Apa aku setua itu sampai kamu panggil bapak?"


Aku menggeleng. Dan segera menjawab begitu sadar jika abang tidak bisa melihatku


"Tidak, bapak tidak tua. Tapi karena saya tahu siapa bapak, jadi wajar dong kalau saya memanggil dengan sebutan bapak" jawabku memberi alasan


"Indah, abang tidak suka kamu panggil abang dengan sebutan bapak"


Aku terkekeh.


Andi yang melihat Indah mengobrol dengan santai sambil tertawa-tawa membuatnya makin panas. Berkali-kali dia menoleh pada Indah dengan gelisah.


"Abang kangen sama kamu Indah" ucap abang yang membuatku langsung berhenti tertawa. Wajahku tiba-tiba memanas, mungkin saat ini berwarna merah karena malu


"Abang ingin selalu jaga kamu, untuk itulah abang kirim Abraham ke Lubuklinggau, biar dia bisa jagain kamu 24 jam"


Aku langsung menoleh kearah pak Abraham yang masih tampak mengobrol dengan rombongan pak Tobias.


"Abang tahu semua tentang kamu Indah. Kamu sekarang sudah janda kan?"


Aku langsung tercekat. Dengan susah payah aku menelan ludahku.


"Abang juga tahu bagaimana Andi yang bajingan itu mengusir kamu"


Aku menunduk diam. Aku tidak berani menjawab setiap perkataan abang


"Itulah sebabnya abang menyuruh pak Tobias membelikan kamu hp baru, karena abang tahu, hp kamu diminta kembali sama mantan suami kamu yang tidak tahu diri itu"


"Abang sudah pernah bilang sama kamu, kalau ada apa-apa kasih tahu abang, jangan ke Jennifer"


Aku terlonjak ketika abang menyebut nama kak Jen


"Abang tahu ini semua dari kak Jen?" tanyaku pelan


"Iya, dari ben***g matre itu"


Aku kembali terkekeh


"Jangan bilang kaya gitu bang, kak Jen baik kok" jawabku dengan nada merajuk


"Bisa tidak ngomongnya biasa saja?" tanya abang


Aku bengong. Apa ucapan aku tadi salah ya? batinku


"Dengar suara kamu seperti itu membuat abang jadi ingat ketika kamu mau pulang saat kamu mau menjenguk mantan suami kamu di rumah sakit dan suara manja kamu ini makin membuat abang kangen sama kamu"


Wajahku kembali memanas.


"Kamu terima hp itu, itu hadiah dari abang. Begitu sampai rumah langsung aktifkan, dan hubungi abang, ya?"


"Aku tidak punya nomor abang" jawabku


"Kalau begitu abang yang akan hubungi kamu"


"Emang abang punya nomorku?


"Apa yang abang tidak tahu tentang kamu Indah, semuanya abang tahu. Jadi mulai sekarang, kalau ada apa-apa kasih tahu abang, ya?"


"Baik bang, terima kasih untuk hadiahnya" ucapku lirih


"Jangankan hanya hp Indah, isi dunia ini jika kamu mintapun akan aku berikan" jawab abang


Tubuhku rasanya melayang mendengar jawaban abang.


"See you soon Indah" tutup abang


"So do I" jawabku


Lalu panggilan berakhir. Aku segera berjalan kearah meja, dan begitu sampai aku langsung mengembalikan hp itu pada pak Andreas


"Ini pak, terima kasih" ucapku

__ADS_1


"Wajah mbak Indah kok bersemu merah ya?" goda Afdal


Refleks aku langsung memegang pipiku. Yang lain langsung tertawa melihat reaksiku, kecuali Andi. Dia menatap sinis padaku


__ADS_2