
Andi segera memeluk Mikail dengan erat.
"Selamat ya nak, ayah bangga sama kamu"
Mikail tersenyum sambil mengangguk. Lalu pak Hermawan berdiri dan dengan cepat Mikail mencium punggung tangannya.
"Selamat ya le" ucapnya sambil mengelus kepala Mikail
Mikail lama mencium punggung tangan mbahnya itu, meresapi bagaimana rasanya dielus dengan mbahnya sendiri.
Karena seingatnya mbahnya tidak pernah mengelus kepalanya, bahkan dulu ketika kecil mbahnya selalu memandang sengit kearahnya
Lalu Mikail mencium punggung tangan Bu Mira, sama seperti suaminya, bu Mira mengelus kepala Mikail
Joni dan istrinya bahkan memeluk Mikail. Dan Laras pun melakukan hal yang sama.
"Selamat ya Le" ucap mereka
Mikail mengangguk lalu Andi menarik kan sebuah kursi untuknya duduk.
Mikail duduk di antara mbah kakung dan ayahnya.
"Ayo nak kita makan, dari tadi kami menunggu kamu"
Mikail mengangguk dan menerima piring yang diberikan ayahnya.
Semuanya langsung makan dan Mikail berkali-kali menatap kearah kedua saudaranya yang juga menatap penuh arti padanya
"Oh iya, teruskan dulu makannya. Aku mau ke toilet dulu"
Andi mengangkat kepalanya lalu mengangguk, sementara Adam dan Naura terus menatap tajam kearah Mikail yang berjalan meninggalkan meja makan
Aku yang duduk di luar karena bosan, lalu memainkan handphoneku. Membuka WA dan mengirimi abang dan ummi pesan, memberi tahu mereka jika Mikail lulus.
"Bun?"
Aku segera menoleh
"Maaf ya bun lama nunggunya"
Aku tersenyum dan bergeser untuk memberikan tempat pada anakku itu agar dia duduk
"Bunda ikut kakak masuk!"
Aku kembali bengong dan hanya menurut saja ketika dia memapah tanganku
Kami menaiki tangga, dan masih dengan hati-hati Mikail menggenggam tanganku.
Hingga sampai di depan sebuah ruangan dia melepas genggamannya dan membukakan pintu untukku
Masih dengan menoleh heran kearahnya aku masuk. Tapi ketika aku menoleh ke depan, langkahku langsung terhenti
Sama halnya dengan Indah, seluruh keluarga Andi terdiam dan menatap tak berkedip pada Indah yang mematung menatap tajam kearah mereka
"Ayo bun"
Aku bergeming. Tangan Mikail yang menggenggam tanganku tak bisa membuatku kembali melangkah maju
Aku menatap tajam kearah Naura. Pikiran buruk mulai berkelebat di kepalaku ketika aku menatapnya
Tidak mungkin ini tidak ada campur tangannya. Ini pasti ulah Naura, batinku
Lalu Adam???, bagaimana bisa dia juga ada disini?, kemarin ketika aku menghubungi ustadz nya, dia mengatakan tak bisa datang karena mengejar setoran tahfidz. Naura pun sama, dia mengatakan sedang sibuk mempersiapkan skripsinya.
Lalu apa ini semua???
"Ayo bund" kembali Mikail berniat menuntun jalanku
Dengan pasti aku melepaskan tangannya dan menatap tajam kearahnya
Kulihat mereka yang di meja makan menghentikan makan mereka dan terus menatap ke arahku
"Ngapain juga lo*****te itu disini!"
Dadaku bergemuruh mendengar ucapan Laras. Ku lirik mantan ibu mertuaku yang juga tampak bersungut-sungut
"Hilang selera makanku!" ucapnya sambil meletakkan sendok dan memasang wajah masam
"Bunda pulang saja nak, kalian jika mau terus disini, silahkan!" ucapku sambil melihat kearah ketiga anakku
"Bunda jangan, ayuk sengaja buat pesta kecil ini untuk kita"
Aku menoleh kearah Naura dan memandang tajam kearahnya
"Kita??" jawabku sambil tersenyum sinis
"Bunda kakak mohon, duduklah sebentar di sini"
Aku menarik nafas panjang lalu mendongak menatap kearahnya.
"Jika bukan bahagia karena kelulusanmu, demi Alloh bunda tidak mau duduk bergabung dengan mereka"
"Siapa pula yang mau bergabung dengan perempuan sialan seperti kamu!" teriak bu Mira
__ADS_1
Aku memandang tajam kearahnya. Mikail memegang bahuku
Aku kembali membuang nafas kasar dan dengan menggelengkan kepala aku menuruti Mikail yang sudah sejak tadi memegangi tanganku
Mikail menarikkan kursi untukku, dan meletakkannya di sebelah Adam. Aku duduk tanpa menoleh sedikitpun pada kedua anakku yang membuatku kecewa itu
"Ayo kita kembali makan" ucap Andi
Aku bergeming, aku memasang wajah datar dan bersikap cuek seakan tak mengenal mereka
Suara hentakan sendok garpu dari piring Laras begitu kuat. Kentara sekali kekesalan di wajahnya. Aku masih cuek.
Piring yang sudah terisi nasi diserahkan Mikail padaku
"Apa bunda mau kakak ambilkan juga lauknya?"
Aku menggeleng. Lalu aku memanjangkan tanganku meraih lauk sendiri.
PRANGGGGG!!!!
Bu Mira membanting sendoknya kelantai. Seluruh mata langsung kaget menatap kearahnya
"Ngapain sih kamu ajak lo****te ini kesini, gara-gara dia selera makan mbah jadi rusak!" bentaknya
"Tau ni anak Andi. Katanya cuma makan sama kita saja, taunya ada lo*****te murahan ini disini!" sambung Laras
BRAAAKKKKK!!!
Meja langsung ambruk dan seisi meja jatuh berserakan di lantai.
Aku sedikitpun tidak menggeser kakiku, kubiarkan nasi beserta lauk dan minum jatuh berserakan bahkan ada pecahan piring dan gelas mengenai kakiku.
Air dan kuah dari lauk bahkan menciprati kaki dan gamisku.
Jika yang lain begitu meja ambruk langsung kaget dan spontan berdiri menjauh, maka tidak denganku.
Aku masih duduk di tempatku memandang dingin kearah semua yang ada di ruangan ini
Aku hanya melirik sekilas kearah Mikail yang tadi menggebrak meja. Dadanya turun naik, matanya menyala merah
Seumur hidupku baru kali ini aku melihatnya marah. Aku sangat menikmati kemarahan di wajahnya, bagiku kemarahannya sangat indah
"Jaga mulut kalian!!!" bentaknya
"Sekali lagi kalian menyebut bundaku dengan sebutan kotor itu maka aku tak segan akan menghancurkan mulut itu!!" geramnya
Aku melihat kearah wajah bu Mira dan Laras yang pucat. Begitu juga dengan wajah Maria
"Ayah!!!, tidakkah ayah sekali saja membela bundaku? sekali saja ayah, sekali!!!" ucapnya sambil mengangkat telunjuknya di depan dada menatap kearah Andi yang terpaku
Andi menunduk
"Saya mau tanya, apa alasan kamu menyebut bunda saya dengan sebutan keji itu, hah?, apa kamu ada buktinya?"
Laras memiringkan wajahnya karena Mikail berteriak tepat di depan wajahnya
"Dan mbah, jangan membuat saya lupa bahwa mbah adalah mbah saya, jika sekali saja diantara kalian menghina bundaku, aku yakinkan, aku akan melupakan jika kalian adalah keluarga ayahku!"
"Oh, jadi kamu sekarang berani ya, mentang-mentang kamu sudah lulus jadi TNI jadi kamu menganggap kamu hebat dan seenak hati kamu melawan sama kami?"
Mikail menoleh kearah mbah kakungnya.
"Bukan masalah aku jadi TNI atau bukan, tapi ini masalah harga diriku sebagai anak yang memang harus melindungi ibunya!"
Bu Mira tersenyum sinis kearah Mikail
"Anak kamu semuanya menurun sifat buruk ibunya"
Andi menunduk
"Sekali lagi mbah berkata buruk tentang bunda saya, saya pastikan jika mbah akan menerima amukan saya"
"Ayah dengar!!" ucap Mikail menarik bahu ayahnya
"Ayah tahukan bagaimana perjuangan bunda, ayah tahukan bagaimana kami besar tanpa kalian?, sakit ayah.. sakit..."
Air matanya mengalir.
"Semua temanku waktu TK ditunggui ibunya, saat istirahat disuapi ibunya, tapi bagaimana dengan kami, hah?, bagaimana dengan kami ayah???"
"Mamak yang nungguin kami, saat SD begitu juga, ketika SMP sampai SMA kami bahkan jauh dari keluarga kami. Kami harus beradaptasi dengan lingkungan yang selalu berubah-ubah. Apa ayah tahu bagaimana rasanya??"
"Tidak ayah, ayah tidak akan merasakan itu!!"
Air mataku telah mengalir saat Mikail menceritakan kesedihannya.
"Nyaris lima belas tahun kami jauh dari bunda. Apa ayah tahu bagaimana perasaan kami?, bertemu hanya sekali-kali, dan itu pun hanya sebentar"
"Aku iri melihat teman-temanku dikunjungi orang tuanya, lah kami? siapa yang mengunjungi?, nenek, uwak bahkan bodyguard papa kami yang mengunjungi"
Aku makin terisak mendengarnya
"Ayah tidak tahu bagaimana dulu ketika aku kecil, aku sering melihat bundaku menangis di tengah malam, aku masih kecil saat itu ayah. Tapi kenangan buruk itu begitu membekas di memori ku"
__ADS_1
"Aku bersumpah, akan menghancurkan semua manusia yang membuat bundaku menangis. Karena orang tidak pernah melihat bagaimana bunda ku berjuang untuk kami, jika bukan karena hinaan ayah dan juga embah, aku yakin bundaku tidak akan pergi jadi TKW"
"Apa ayah lupa bagaimana dulu ayah mengatakan jika ayah bukanlah ayah kami lagi?, jadi tak heran jika adek lupa jika mempunyai ayah"
"Dan sekarang saat kami besarpun mbah masih membenci bundaku, sebenarnya dosa apa mbah yang bundaku perbuat sampai kalian sangat membencinya? sampai dengan kami bertiga pun mbah benci"
"Mbah selalu memuji Nicholas, bahkan untuk menyentuhku saja mbah rasa jijik"
"Nicholas memang cucu kesayangan mbah, jadi wajar jika mbah sangat menyayanginya"
Mikail tertawa menyeringai mendengar jawaban mbah kakungnya
"Cucu kesayangan yang sekarang mendekam di penjara? hahaha"
Aku yang masih menangis segera memandang kearah Mikail
"Sembarangan. Anak oom tidak dipenjara, dia kuliah di Lampung"
"Oom apa lupa jika uwak saya BNN?, semua pemakai dan pengedar dia tahu. Bahkan uwakku sendiri yang mengurusi berkas rehab untuk Nicholas, tapi sepertinya Nicholas tak bisa direhab, karena dia pengedar dan juga pemakai"
Wajah Maria dan Joni memerah. Aku tersenyum sekilas kearah mereka
Adam berjongkok dan membersihkan kakiku dengan tisu, sementara Naura memelukku dari samping
"Ayuk mengajak kalian kesini karena kami ingin menunjukkan pada kalian yang dulu meremehkan kami dan merendahkan kami, bahwa kami sekarang jauh lebih sukses dari kalian. Kami jauh lebih hebat dari cucu-cucu mbah"
"Hebat apa kalian!" sungut bu Mira
Ingin sekali rasanya aku menampar mulutnya.
"Ketiga anakku hafid dan hafidzah!!!" jawabku sambil berdiri menatap tajam kearahnya
"Halah apa bangganya jadi hafidz, nggak berguna!"
Aku tertawa sinis
"Iya nggak berguna dimata kalian, tapi sangat agung di mataku!"
"Cuihhh"
Aku kembali terkekeh
"Mbah lebih bangga dengan cucunya yang menjadi pemakai dan jadi artis yang memakai baju tank top dan joget berlenggak lenggok di aplikasi tok tok" timpal Naura
"Ohhh, hebat ya didikan kamu pada anak-anakmu Maria. Nanti mereka akan menuntut mu karena kelalaian mu dalam mendidik mereka"
Maria dan Joni tertunduk dalam
"Buk Las, ini peringatan pertama dan terakhirku, jika sekali lagi buk Las menyebut bundaku dengan sebutan keji itu lagi, aku tak segan-segan akan melaporkan buk Las dengan pasal pencemaran nama baik"
"Ayah, benar apa yang dikatakan kakak, tujuan ku mengajak kalian kesini untuk menunjukkan pada kalian semua keberhasilan kami. Tanpa bantuan dan dukungan ayah, ayah bisa lihat sendirikan jika kami berhasil menjadi apa yang kami cita-citakan dulu. Sekarang di Merasi, tukang sedang membangunkan kami istana. Istana ayah, bukan rumah. Dulu ayah mengusir kami dari rumah hingga kami tinggal di rumah bedengan, sekarang istana yang bunda kami janjikan dulu sedang di bangun. Dan In Syaa Alloh, setelahnya menyusul klinik pribadiku, dan apakah kalian tahu mobil siapa yang kalian bawa kesini?, itu adalah mobil kakak. Hadiah dari bunda, bukan hal yang tak mungkin, jika besok aku dan adek akan punya mobil yang sama seperti kakak"
"Sekarang kalian lihat kan, ejekan dan cacian kalian pada bunda kami, kami balas dengan kesuksesan kami"
"Mbah mungkin tidak lupa kan dengan kebun sawit bundaku?"
Wajah pak Hermawan menegang
"Walau harganya tak stabil tapi karena jumlahnya ratusan hektar, jadi tak masalah buat kami"
"Mungkin kalian mengecam dalam hati jika kami sombong. Iya, kami sombong. Karena seperti itulah dulu kalian. Kalian menyombongkan harta kalian pada bundaku, dan sekarang harta kalian tak ada bandingannya dengan milik bundaku"
"Ayo bunda kita pulang, biar ruangan ini kakak suruh pelayan yang membersihkannya!"
Aku bangkit dan dengan sigap Adam menggenggam tanganku.
"Terima kasih ayah untuk tes DNA nya" ucap Adam setelah sejak tadi hanya diam tak bersuara
Aku segera berhenti berjalan dan menggenggam tangan Adam, menatapnya tak percaya
"Tes DNA? Maksudnya apa nak, bilang sama bunda?" ucapku bergetar
Adam menoleh kearah Andi yang menundukkan kepalanya
"Waktu adek di pondok, ayah datang dan mengajak adek ke rumah sakit untuk berobat katanya"
"Tapi ternyata sampai di sana, tidak ada yang berobat malah dokter mengambil air liur adek"
"Adek tanya untuk apa?, kata dokter untuk tes DNA antara adek dan Ayah"
Aku segera melepaskan tanganku yang sejak tadi digenggamnya, melewati meja yang masih terguling, dan melangkahi piring dan gelas yang pecah, berjalan kearah Andi dengan dada bergemuruh
PLAAAKKKKK!!!!!
Tanganku melayang ke wajahnya. Tanganku terasa panas setelahnya. Dadaku bergemuruh dan degupnya kencang tak beraturan
"Keterlaluan kamu Andi!!! jadi kamu meragukan Adam anak kandung kamu?? kamu lebih mempercayai mulut ibumu dan Laras yang menuduhku selingkuh??"
"Seumur hidupku aku tidak akan pernah memaafkan kamu Andi. Kamu boleh menghinaku, tapi jika sudah menyangkut ketiga anakku..." ucapku sambil menggelengkan kepalaku tak percaya
"Mana kunci mobil anakku??!" bentak ku
Dengan terburu Joni mengeluarkannya dari kantong celana jeansnya, lalu memberikannya padaku
__ADS_1
"Tak tahu malu. Kalian menghinaku dan anak-anakku, tapi kalian duduk manis dalam mobil anakku!" ucapku sinis