
Satu minggu selanjutnya Adam kembali lagi ke Jawa Timur, karena akhir bulan nanti akan ada acara kelulusannya.
Abang Ozkan dan kedua anakku juga akan pulang ke Jeddah. Tentu saja itu membuatku sedih
Urusanku di tanah air belum selesai, klinik Naura baru jadi setengahnya, Adam akan lulus dan Naura pertengahan Juni akan wisuda
Aku bingung apa yang harus aku lakukan, tidak mungkin aku kembali ke Jeddah sekarang, namun tidak mungkin pula Defne dan Serkan mau berpisah dengan ku.
"Aku harus bagaimana bang?"
Ozkan yang tidur di pangkuan istrinya hanya memandang sambil tersenyum
"Ya sudah selesaikan saja dulu tugas di sini, jika sudah selesai baru pulang"
"Twins bagaimana?"
"Kan ada abang"
Aku menarik nafas dalam
"Iya sih ada abang, tapi kan abang tahu sendiri bagaimana Defne"
"Kamu lebih mengkhawatirkan anak kembar kita, tidak mengkhawatirkan abang?"
Aku terkekeh sambil mengusap wajahnya
"Abang itu sama seperti nafasku, tentulah aku sangat mengkhawatirkan abang"
Ozkan sedikit bangkit menarik tengkukku lalu mendaratkan ciuman lembut di bibirku
...****************...
"Are you serious not back home with us?"
Aku hanya menarik nafas dalam saat Defne mengatakan kalimat itu dengan menahan tangisnya
Saat itu kami sudah di bandara Silampari, seluruh keluargaku mengantarkan abang dan twins pulang
"Mama, when you go home?" tanya Serkan
"As soon as possible honey" jawabku lirih
Defne segera memeluk pinggang Ozkan.
Aku tahu dia pasti menangis. Aku menoleh kearah Naura, ingat bagaimana dulu dia meraung-raung saat pertama kali aku tinggalkan
Naura berjongkok di depan Defne, mengusap punggungnya
"I know you so sad, but it's just a moment. Next, when ukhti finished graduation, Mama will definitely return to Jeddah as soon as possible"
Defne membalikkan tubuhnya lalu memeluk Naura sambil berlinang air mata.
Tak urung hal itu juga membuatku sedih.
Aku memeluk Twins sebelum mereka naik ke pesawat NAM, lalu aku berpindah memeluk Adam
"In Syaa Alloh bunda akan datang waktu acara kelulusan adek"
Adam mengangguk, lalu dia menyalami seluruh keluargaku.
Abang pun melakukan hal yang sama, menyalami seluruh keluargaku.
Waktu twins menyalami keluargaku, kak Andri bilang
"Jangan nangis, orang Indonesia itu kuat, tidak cengeng"
Keduanya mengangguk
"Aku balek yo wak" (Aku pulang ya wak)
Kami tertawa mendengar Serkan pamitan dengan kak Andri. Rupanya dia menirukan kalimat yang tadi diucapkan Adam sewaktu Adam berpamitan dengan kakakku.
Aku mencium punggung tangan abang, dan abang memelukku erat. Cukup lama abang mencium puncak kepalaku.
Aku yakin abang begitu berat meninggalkanku
"Pulanglah secepatnya, abang bisa mati berdiri jika lama-lama berjauhan dengan mu"
Aku mencubit perutnya sambil terkekeh. Suamiku ini dia memang tak pernah bosan untuk menggombaliku
"Doakan semoga semuanya lancar"
Abang mengangguk. Dengan diiringi lambaian tangan kami, suami dan ketiga anak ku naik kedalam pesawat
Defne terus menoleh padaku sambil berlinang air mata
"Mama janji, secepatnya pulang" teriakku sambil memberi kode gesture padanya
__ADS_1
Karena Defne masih terisak, Pak Abraham mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di bahunya. Defne terkekeh kesenangan
Aku yang melihat ikut tersenyum. Serkan tak mau kalah dia melompat kearah pak Tomo yang dengan sigap ikut mengangkatnya pula
...****************...
Pagi ini saat aku sedang beraktifitas di dapur dibantu Naura, handphone yang ku letakkan di atas meja makan berdering
Mbak Ningsih
Dengan cepat aku menggeser keatas tombol video dan meletakkan handphone ku di depan tudung saji agar bisa mengobrol dengan mbak Ningsih tanpa harus memegang hp
"Ya mbak?" sapa ku saat melihat wajahnya
"Ini Nina manggil kamu terus"
Wajahku langsung sumringah.
"Mana dia mbak?"
Tampak wajah Nina yang kulihat lebih segar dari kemarin
"Nin, Nina..." panggilku
Nina menatap layar hp dengan mata yang terus berkedip bahkan sesekali dia menoleh kearah mbak Ningsih
"Iya, itu mbak Indah. Nina kangen?"
Nina mengangguk lalu menatap layar ponsel lagi.
"Mbak juga kangen sama kamu Nin.." ucapku sambil sudah terisak
Naura mendekat dan duduk di sebelahku
"Tante Nina..." Naura melambaikan tangannya
Spontan Nina menangis sambil menunjuk-nunjuk kearah hp.
"Iya, itu Ula, Adek Ula" ucap Dimas pelan sambil mengelus bahu Nina
"Tante mau kesini?, mau ketempat Ula?"
Nina menganggukkan kepalanya.
"Biar kakak Mas ya yang nganter?"
"Sudah ada dek dokternya?"
"Ada kak, kebetulan beliau sudah pulang dari Jakarta, kemarin beliau sampai Linggau. Dan saat aku hubungi, kata beliau besok sudah praktik"
"Benar bulek mau tempat adek Ula?"
Nina mengangguk lagi sambil menarik-narik tangan Ningsih
"Iya, sore nanti kita tempat Ula. Sabar, sekarang bulek makan dulu ya?" bujuk Ningsih
Nina menggeleng
"Nina sayang, makan ya. Katanya mau ke rumah mbak. Kalau mau ke rumah mbak, Nina harus makan. Nanti mbak bingung loh kalau Nina nggak mau makan."
Nina menatap ke arahku
"Nina mau mbak masakin apa?, nanti mbak akan siapkan?"
Nina kembali menoleh kearah Ningsih yang duduk di sebelahnya
"Nina dulu paling suka makan pecel lele, sekarang masih suka nggak mbak?"
"Masih, hampir tiap hari dia minta lele"
"Nah, kalau begitu nanti mbak akan masakkan pecel lele, khusus untuk Nina. Sekarang Nina makan dulu ya?, selesai makan istirahat terus nanti sore bakal diantar Dimas kesini"
Nina mengangguk, dengan sabar mbak Ningsih menyuapinya. Sementara obrolan pindah antara Dimas dan Naura
"Kita besok bawa dulu tante periksa kak, sama dokter mau di periksa dulu parah tidaknya penyakit tante. Kalau menurut Ula sih tante itu cuma depresi aja, nggak gila. Mbah aja sembarangan, tante kok malah dipasung"
"Kamu kan nggak kenal mbah dek, mbah kita itu yang harusnya dipasung bukan bulek"
Naura dan Dimas kompak terkekeh.
"Terus tumor mbah gimana kak?, sudah parah kah?"
"Nggak tahu dek, itu kemarin kan mbah sering sakit kepala, sudah lama dek, tapi nggak dirasanya. Tiap sakit minum obat warung terus. Terus ketahuannya itu pas mbah drop, nggak bisa jalan ngomongnya nggak nyambung"
"Di bawalah mbah berobat kesana sini, sampe ke alternatif dan orang pintar"
"Terakhir di bawa ke rumah sakit karena mbah makin buruk kondisinya, adek tahu sendirilah jaman covid, jadi nggak berani ke rumah sakit"
__ADS_1
"Terus beberapa bulan ini agak baikan, terus kumat lagi. Malah tiga hari yang lalu mbah sampai pingsan karena sakit kepalanya"
"Bawa ke rumah sakit aja lagi kak"
"Nggak ada uang lagi dek, kamu tahu sendiri kebun mbah sudah habis terjual"
Naura menarik nafas panjang
"Nggak tahu lagi dek, bulek sakit mbah sakit, beruntun banget musibahnya"
Naura tersenyum masam mendengar penjelasan Dimas
"Mbah sudah city scan?"
"Sudah dek, berkat city scan itulah ketahuan kalau mbah mengidap tumor di kepalanya"
"Sudah lama?"
"Setahun yang lewat"
"Ya Alloh kak, sudah lama lah kalau begitu. Bisa jadi tumor mbah makin parah"
"Halah mbah itu kaya nggak dirasa dek sakitnya, masih aja nggak berubah"
"Sudah mendarah daging kak jahatnya mbah itu"
"Benar kata kamu dek"
Kembali mereka tertawa
...****************...
"Mau kalian bawa kemana Nina?!"
Ningsih memandang tajam kearah Laras
"Bukan urusan kamu, kamu kan memang tidak pernah mengurusi Nina, jadi terserah dong mau kami ajak kemana"
"Ibuk!, Jangan jatuhkan harga diri bapak sama ibuk dengan menerima tawaran Indah"
"Indah itu hanya di depan saja baik, dalam hati dia mentertawakan kita!"
"Terserah kamu mau ngomong apa, yang penting aku mau bawa Nina ketempat Indah. Apa kamu tidak sadar, sejak Indah datang, Nina jauh lebih baik, dia mulai bisa merespon tiap diajak berbicara"
"Halah mbak saja yang lebay"
"Terserah mau lebay kek, mau melambai kek, yang penting aku mau bawa Nina ke rumah Indah. Besok kami akan bawa Nina ke dokter jiwa, Naura sudah menghubungi dokter itu"
"Ibuk!!"
"Jangan berteriak Ras, kepala ibuk sakit dengar kalian berdua ribut"
Tanpa memperdulikan kemarahan Laras, Ningsih memapah tubuh Nina masuk kedalam mobil pak Hermawan yang sudah dipanaskan oleh Dimas
"Pokoknya Nina nggak boleh pergi!!!" Laras menarik tubuh Nina
Tubuh Nina yang lemah langsung sempoyongan begitu di tarik Laras. Dengan cepat Ningsih kembali menarik tangan Nina
Jadilah Laras dan Ningsih berebutan menarik Nina. Ningsih yang sudah sejak tadi emosi melepaskan tangan Nina, lalu dia mendorong tubuh Laras dan menamparnya dengan kuat
PLAAAKKK!!!
Mata bu Mira terbelalak melihat kedua anaknya bertengkar. Apalagi ketika dilihatnya pipi Laras yang merah bekas tamparan Ningsih
"Sekali lagi kamu menghalangi langkahku untuk mengobati Nina, kamu akan aku tampar lagi!!"
"Disini itu yang sebenarnya gila itu kamu Laras. Kamu yang sudah gila!!!"
Laras yang dimaki Ningsih tak mau tinggal diam, dia segera melawan dengan menarik rambut Ningsih
Dimas yang masuk segera mendorong tubuh Laras hingga terjengkang dan bu Mira yang kepalanya kian sakit langsung ambruk di lantai
"Ibukkk!!!" teriak pak Hermawan panik
"Ayo cepat kita masukkan ibu kalian ke mobil, kita bawa sekalian ibumu berobat"
Dengan panik, Dimas segera berlari membuka pintu mobil, ikut membantu mbah kakungnya mengangkat tubuh bu Mira.
Lalu dengan pelan Ningsih memapah tubuh Nina membawanya masuk kedalam mobil pula
"Aku ikut!"
Ningsih langsung memandang tajam kearah Laras
"Nggak tahu malu, aku tahu kamu ikut karena kamu penasaran kan ingin melihat rumah Indah"
Laras cuma diam tak menggubris omongan Laras. Dia segera naik ke mobil, memangku kepala ibunya yang masih pingsan
__ADS_1