Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Melamar


__ADS_3

Kembali Ozkan menoleh kearah Abraham. Dan Abraham menganggukkan kepalanya, layaknya memberikan sebuah dukungan dan semangat untuk bosnya itu


Dengan degup jantung yang berdebar kencang Ozkan berjalan masuk kehalaman sebuah rumah sederhana itu


"Kamu saja yang duluan!" perintahnya pada Abraham yang berjalan di belakangnya


Karena ini perintah, maka mau tak mau Abraham harus menuruti perkataan Ozkan


Dengan gagah dia maju kedepan dan berjalan di depan Ozkan


"Kapan lagi dikawal bos kalau tidak kaya gini" gumamnya dalam hati menahan tawa


Abraham segera mengetuk pintu yang tertutup


"Ucap salam!" ucap Ozkan dengan nada geram


"Tapi sayakan non muslim bos" jawab Abraham


"Jangan banyak tanya!" geram Ozkan lagi


Kembali Abraham menahan tawa di dadanya.


"Assalamualaikum" ucap Abraham


Masih belum ada sahutan, sekali lagi Abraham mengucap salam, tapi masih tidak ada jawaban


"Sepertinya bukan rumah ini bos, rumah ini kosong" jawab Abraham


Dada Ozkan seketika bergemuruh, dan dengan secepat kilat dia menarik bahu Abraham dan akan melayangkan sebuah tinju ketika pintu tiba-tiba terbuka


"Waalaikumussalam" ucap seorang lelaki paruh baya yang melebarkan pintu dan wajahnya tampak kaget melihat lelaki tinggi, berwajah tampan, dan berkulit putih bersih yang sedang mencengkram kerah baju lelaki besar tegap dan berwajah sangar yang lebih mirip dengan pemain wwf yang biasa ditontonnya di televisi


Dengan gugup Ozkan langsung melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Abraham


Dan Abraham yang niatnya hanya ingin bercanda tidak menyadari jika ulahnya tadi menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


Abraham langsung membenahi kerah bajunya yang kusut sedangkan Ozkan memasang senyum kaku


"Iya, ada apa ya?, kalian siapa?" kembali lelaki tua itu bertanya


Ozkan langsung mengulurkan tangannya dan segera mencium takzim punggung tangan lelaki tua yang baru pertama kali ditemuinya itu


Abraham ngempet tawa saat dilihatnya bos sangarnya berubah sangat manis di depan lelaki tua yang belum mereka kenal itu.


Ozkan melirik dengan tajam dan Abraham pura-pura tidak melihatnya


"Saya Ozkan, Ozkan Yilmaz" ucap Ozkan memperkenalkan diri setelah dia melepas jabatan tangannya


Lelaki tua yang tak lain adalah pak Ahmad, ayahnya Indah mengerutkan keningnya, dan melongokkan kepalanya melihat keluar pagar, yang didapatinya hanya sebuah mobil putih yang terparkir tepat di depan pagarnya


"Saya Abraham" ucap Abraham cepat sambil menarik tangan pak Ahmad mengajaknya bersalaman


Pak Ahmad tampak tersenyum kaku kearah Abraham yang tadi menarik tangannya, sedangkan wajah Ozkan berubah datar melihat Abraham yang sok akrab


"Siapa pak?" ucap sebuah suara


Ozkan tak mau kalah, dia segera meraih tangan bu Siti yang muncul lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya yang tampak bingung tersebut


"Ayo, silahkan masuk!" ajak bu Siti pada dua lelaki yang tidak dikenalnya itu


Dengan segera Ozkan masuk dan duduk setelah tuan rumah duduk terlebih dahulu


Pak Ahmad dan istri saling toleh melihat dua pria asing yang baru kali ini mereka temui


Kembali Ozkan gugup melihat pak Ahmad yang sejak tadi memandang kearahnya


"Come on Ozkan, kamu bukan menghadapi mafia atau penjahat" rutuknya dalam hati


"Cepat bos, penerbangan selanjutnya jam tiga" bisik Abraham


"Ehm.., saya Ozkan dan tujuan saya kesini ingin bersilaturahmi" buka Ozkan kaku


Bu Ahmad dan bu Siti mengangguk dan tersenyum kaku


"Cepat bos, waktu kita tidak banyak" kembali Abraham berkata yang semakin membuat Ozkan geram dan gugup


"Ini sebenarnya ada apa ya?" tanya pak Ahmad bingung karena sejak tadi Abraham tampak memaksa


Kembali Ozkan menarik nafas dalam mengatur nafasnya


"Saya dari Jeddah"


Mata sepasang suami istri di depan Ozkan saat ini langsung terbelalak kaget bahkan mata bu Siti sudah tampak berkaca-kaca


"Ada apa dengan anak saya?" tanya pak Ahmad dengan suara gemetar


Digenggamnya tangan sang istri yang sudah tampak gugup dan pucat


Ozkan yang melihat kekagetan di wajah kedua orang tua Indah jadi makin kebingungan

__ADS_1


"Indah baik-baik saja" jawabnya bingung


"Lantas kenapa anda kesini?, jika tidak terjadi apa-apa dengan anak saya, tidak mungkin anda datang kemari" sahut pak Ahmad


Abraham yang melihat kejadian ini makin geram karena bosnya masih belum mengutarakan tujuan mereka datang


"Kami berhak tahu apa yang terjadi pada anak kami" lirih bu Siti dengan suara tercekat menahan tangis


Ozkan menggaruk kepalanya yang tak gatal dan melirik kearah Abraham yang memberi kode dengan memajukan sedikit wajahnya


"Saya kesini ingin, ehm.. ingin, Oh God, come on..." ucap Ozkan kesal pada dirinya sendiri


"Apa saya saja bos yang berbicara?" sela Abraham


Ozkan menghembus nafas dalam, sedangkan wajah kedua orang tua Indah makin tegang


"Saya kesini ingin melamar Indah!!" akhirnya kata itu meluncur juga dari bibir Ozkan


Abraham langsung menarik nafas lega mendengar bosnya mengucapkan kalimat yang sejak tadi dia hafalkan


Kembali kedua orang tua Indah kaget


"Jadi ini maksudnya apa?" pak Ahmad makin bingung


"Saya dari Jeddah, terbang ke Indonesia hanya ingin melamar putri bapak dan ibu untuk menjadi istri saya, dan saya mohon agar bapak dan ibu merestui niat baik saya" lirih Ozkan


Kedua orang tua Indah saling toleh, bahkan bu Siti menghapus air mata yang lolos di pipi


"Jadi kamu terbang jauh-jauh demi untuk melamar anak saya?" tanya pak Ahmad


Ozkan menganggukkan kepalanya dan memandang wajah kedua orang tua Indah dengan sendu


"Apakah kamu sudah lama mengenal anak kami?" tanya bu Siti


Kembali Ozkan mengangguk


"Saya mengenal Indah sejak saya di Indonesia"


Kening pak Ahmad berkerut


"Ceritanya panjang pak, intinya saya kemari ingin meminta restu kepada bapak dan ibu dan saya harap bapak merestui kami"


Pak Ahmad menarik nafas panjang


"Apakah kamu tahu status anak saya?" tanyanya sedih


"Tahu pak, saya tahu semuanya" jawab Ozkan cepat


Pak Ahmad menoleh kearah istrinya di saat yang bersamaan Mikail masuk dengan adiknya, Adam


"Ada siapa nek?" tanyanya setelah mengucap salam


Lalu mereka berdua mendekat dan mengulurkan tangan mereka, menyalami Ozkan dan Abraham


"Wahhh.. bapak ini pasti tentara ya?" ceplos Adam ketika melihat badan besar Abraham


Abraham tersenyum ramah kearahnya


"Adek!!" sergah Mikail


Lalu mereka berdua duduk dipangkuan neneknya


"Anak lelaki Indah, yang perempuan di pesantren" ucap pak Ahmad seperti faham saat melihat Ozkan menatap kedua cucunya


Ozkan memasang senyum bersahabat pada dua bocah lelaki itu


"Kenalkan nama oom Ozkan, oom dari Jeddah, tempat bunda kalian"


Mata Adam dan Mikail langsung berbinar ketika Ozkan menyebut Jeddah


"Pernah ketemu bunda kami?" tanya Adam cepat


Ozkan mengangguk


Adam langsung turun dari pangkuan neneknya dan duduk di sebelah Ozkan


"Bunda saya sehat kan oom?" tanyanya menatap mata Ozkan


Ozkan mengangguk


"Oom naik pesawat dari Jeddah?" tanyanya lagi


Kembali Ozkan mengangguk


"Saya juga pernah naik pesawat oom, enaakkk"


Ozkan tersenyum mendengar jawaban polos Adam


"Oom, kalau oom memang dari Jeddah, tolong jaga bunda saya oom" ucap Mikail pelan

__ADS_1


Ozkan langsung menatap dalam kemata anak berusia 12 tahun tersebut


"Bunda saya sendirian di sana, tidak ada yang menjaganya, jadi jika memang oom orang baik, tolong jaga dan lindungi bunda saya selama bunda saya di sana. Jangan sampai ada orang jahat yang mengganggunya"


Dada Ozkan serasa sesak mendengar ucapan polos Mikail


"Jika oom meminta izin sama kamu dan adik kamu buat menjaga dan melindungi bunda apakah kamu memperbolehkan?" tanya Ozkan pelan


Mikail mengangguk


"Saya mohon tolong jaga bunda saya. Saat saya besar nanti tugas itu akan saya ambil dari oom, biar saya yang akan menjaganya"


Ozkan menarik nafas dalam


"Tidak boleh ada satu manusiapun yang boleh menyakiti bunda saya"


Ozkan terdiam mendengar jawaban Mikail


"Kalau oom meminta bundamu untuk menjadi istri oom, apakah kamu bersedia?" tanya Ozkan takut


Mikail dan Adam saling toleh lalu menatap kearah kedua neneknya


"Jangan ambil bunda dari kami, karena bunda itu cuma milik kami" sahut Adam


Ozkan kembali menarik nafas dalam


"Oom tidak akan mengambil bunda kalian dari tangan kalian. Bunda kalian akan terus jadi milik kalian. Oom cuma meminta sama kalian berdua untuk merestui oom menikahi bunda kalian" Ozkan mengucapkan kalimat itu dengan perasaan campur aduk


Adam dan Mikail kembali saling toleh


"Apakah itu artinya bunda tidak akan kembali lagi?" tanyanya


"Oh tidak, justru bunda akan sering pulang, karena dengan begitu dia akan sering pulang menjenguk kalian. Atau jika kalian mau, nanti begitu oom dan bundamu menikah, kalian bisa tinggal di Jeddah atau Turki"


Mata Adam dan Mikail langsung berbinar


"Itu artinya kami akan selalu dekat dengan bunda?" tanyanya


Ozkan mengangguk


"Bolehkan oom menikahi bunda kalian?" kembali Ozkan bertanya dengan takut


"Boleh tidak nek, kalau saya menurut apa kata nenek saja" jawab Mikail menatap kearah pak Ahmad


Pak Ahmad menganggukkan kepalanya dan Ozkan refleks mengepalkan tangannya


"Yesss!!" ucapnya dengan semangat


Abraham yang melihat tersenyum simpul


Segera Ozkan meraih kedua anak lelaki Indah dan mendekap mereka kedadanya


"Oom janji, oom akan menjaga dan melindungi bunda kalian sampai nyawa terakhir oom"


Mikail dan Adam mengangguk, pak Ahmad dan istrinya menarik nafas lega


"Jika sekali saja bunda saya terluka, oom akan berhadapan sama saya" ucap Mikail setelah Ozkan melepas dekapannya


"Oom akan ditembak sama kakak saya. Karena nanti dia akan menjadi tentara yang kuat dan hebat" jawab Adam


Ozkan mengembangkan senyum di bibirnya mendengar ucapan kedua anak lelaki yang sangat menyayangi Indah tersebut


"Jadi bapak dan ibu juga merestui saya?" toleh Ozkan pada kedua orang tua Indah


Pak Ahmad dan bu Siti mengangguk, kembali Ozkan mengepalkan tangannya dengan senang yang luar biasa


"Waktunya habis bos, kita harus pulang" ucap Abraham


Ozkan kembali melirik jam di tangan kirinya yang menunjukkan angka 1.


"Saya harus pulang lagi ke Jeddah pak, maaf jika saya tidak bisa lama" ucapnya


"Kamu langsung terbang ke Jeddah?" tanya bu Siti heran


"Iya bu, jam 3 ini saya terbang dari sini menuju Jakarta. Nanti jam 4 lewat saya sudah tiba Jakarta. Terus jam 6 atau 7 saya terbang langsung ke Jeddah, dan besok pagi saya sudah tiba lagi di Jeddah"


Mulut bu Siti ternganga mendengar penjelasan Ozkan


"Oom pamit ya, nanti jika waktunya oom menikah, oom akan mengajak kalian terbang ke Jeddah" ucap Ozkan yang kembali berjongkok di depan kedua jagoan Indah itu.


Adam dan Mikail mengangguk. Lalu Ozkan kembali mendekap mereka dengan hangat


Lalu setelahnya Ozkan kembali mencium punggung tangan kedua orang tua Indah


"Tolong jangan beri tahu Indah dulu, saya ingin memberi kejutan padanya" ucap Ozkan


Pak Ahmad dan istri mengangguk sambil tersenyum. Lalu Ozkan berpamitan dan mengeluarkan sebuah benda dalam saku jas mahalnya, dan memberikannya ketangan Mikail


"Ini adalah liontin yang oom dapatkan ketika dulu oom ke Netherland, dan ini oom berikan sama kamu, oom yakin kamu bisa menjaganya" ucap Ozkan sambil memberikan kotak perhiasan tersebut ketangan Mikail

__ADS_1


Mikail mengambil benda tersebut dan menganggukkan kepalanya.


Lalu Ozkan melangkahkan kakinya dengan ringan. Sangat ringan hingga dia bagai berjalan di atas awan. Seluruh kekhawatiran di dadanya lenyap yang ada kini adalah kebahagiaan.


__ADS_2