
"Ruangan sudah siap?" tanya kepala cabang wilayah, pak Tobias pada Andi saat beliau masuk ke kantor stok poin cabang Lubuklinggau
Saat itu masih pukul sembilan pagi. Dan Andi tidak menyangka jika kepala cabang wilayah dan rombongan dari pusat akan sepagi itu datang.
"Sudah pak, tapi nanti saya cek dulu" jawab Andi sopan sambil mengajak rombongan tersebut masuk keruangannya.
Kepala cabang wilayah bersama tiga orang dari kantor pusat langsung duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut. Mata mereka mengitari ruangan tersebut dengan seksama.
Degup jantung Andi berdetak kencang saat keempat orang itu memandang seluruh ruangan kantor.
"Untung sudah dirapikan dengan Rian" batinnya
"Silahkan duduk dulu pak, saya mau memeriksa ruangan meeting, sudah ready atau belum" ucap Andi berpamitan.
Pak Tobias menganggukkan kepalanya.
"Ehm maaf pak Andi, pemeriksaan kali ini dilakukan dengan cara teleconference dengan anak CEO langsung, dan karena beliau orang asing, jadi kami minta ada yang mentranslatekan slide kebahasa Inggris" ucap salah satu dari tiga tim audit yang dari pusat
Wajah Andi menegang. Anak CEO??, Apakah itu artinya lelaki yang dibicarakan Afdal kemarin? batinnya
Andi lalu memutar kembali badannya dan berdiri menghadap keempat pimpinannya yang saat itu menatap kepadanya.
"Tapi kami di sini tidak ada yang bisa bahasa asing pak" sahutnya
Salah satu dari bapak-bapak tim audit itu tertawa
"Kebetulan waktu kita di Pekanbaru kemarin saya hadir. Bukankah wanita yang jadi mc malam itu istri anda?, beliau bahasa asingnya bagus"
Wajah Andi makin menegang. Kenapa disaat seperti ini kembali orang kantor membutuhkan Indah. Ini pasti akal-akalan mereka saja, kembali dia membatin
Disaat Andi belum bisa menjawab, pintu diketuk dan muncullah wajah Afdal.
"Ruangan sudah ready bapak-bapak" ucapnya sopan
Keempat orang itu saling bertatapan.
"Bagaimana pak Andi?" desak bapak itu lagi
Andi bingung harus menjawab apa.
"Ah, atau anda saja pak....." ucapnya menggantung sambil menunjuk kearah Afdal
"Afdal pak" jawab Afdal
"Ah iya, maaf pak Afdal, pak Afdal saja kalau begitu yang mentranslatekan slide nanti" sambungnya
Wajah Afdal tampak kebingungan
"Bisa bahasa Inggris kan?" tanya pak Tobias
Dengan cepat Afdal menggeleng.
"Saya itu cuma bisanya yes no yes no saja pak" jawab Afdal serius
Keempat orang itu tersenyum
"Pak Andi, mbak Indah saja. Kan dia yang bisa" bisik Afdal
Andi menoleh tak suka pada Afdal.
"Cepat jemput istri kamu kalau begitu pak Andi, kita tunggu setengah jam dari sekarang" pak Tobias memutuskan tanpa persetujuan dari Andi terlebih dahulu
Andi serasa mati kutu. Saat ini dia tidak ingin bertemu dengan Indah. Apalagi jika sampai Indah bertemu dengan keempat tamu pentingnya. Bisa-bisa Indah makin besar kepala karena merasa dibutuhkan
"Pak Afdal, jemput istri pak Andi kalau begitu" ucap pak Tobias agak keras karena tidak mendapat respon dari Andi
"Dia kalau pagi mengajar pak" potong Andi cepat demi melihat Afdal yang telah siap melangkah
"Telpon dulu kalau begitu. Tanyakan apakah beliau bisa datang sekarang atau tidak" timpal seorang bapak tim dari pusat yang tampak sudah berumur tetapi wajahnya sangat berwibawa
__ADS_1
Andi segera mengeluarkan hpnya dan mendial nomor. Dia bingung mau menelpon siapa. Karena dia tahu sendiri jika Indah tidak punya hp lagi
"Di luar jangkauan pak" jawabnya ragu.
Pak Tobias segera berdiri.
"Afdal, ikut aku jemput Indah!" ucapnya dingin
Afdal segera berjalan mengikuti langkah panjang pak Tobias.
"Kitakan tidak tahu dimana mbak Indah mengajarkan Pak?" tanya Afdal takut-takut
Pak Tobias mengeluarkan hp dari saku celananya. Memencet tombol disana dan langsung berkata
"Cepat kesini pak, kami menungggu"
Afdal hanya bengong dengan perkataan dan gelagat pak Tobias. Tapi dia berusaha tenang, tidak ingin atasannya itu ilfil padanya.
Sementara di ruangan Andi, ketiga tim audit itu mulai membaca dan memeriksa laporan. Sedangkan Andi tampak gelisah. Berkali-kali dia tersenyum kaku pada ketiga tim audit yang sedang membuka-buka dokumen.
Saat sampai di bawah, sebuah mobil avanza hitam telah terparkir. Plat mobil daerah Bengkulu. Bisa dipastikan jika itu adalah mobilnya pak Tobias.
Afdal dan pak Tobias segera masuk. Ternyata di dalam telah ada seorang lelaki yang bertubuh besar duduk tepat di sebelah supir
"Jalan" ucapnya pada supir dengan suara berat
Mobil mulai melaju cepat menembus jalan kota Lubuklinggau yang belum terlalu padat karena masih pagi
Afdal menatap lelaki yang duduk di sebelah supir dengan lekat. Dia berusaha mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu dengan lelaki besar itu.
"Dari sini belok kiri, terus saja" lelaki tinggi besar itu memberi arah kepada supir.
Sang supir kembali melajukan mobilnya dengan cepat.
"Belok kanan di depan sana" kembali lelaki tinggi besar itu memberi petunjuk.
Afdal yang duduk di belakang berfikir keras bagaimana lelaki ini bisa tahu tempat Indah mengajar
Mobil berjalan pelan ketika memasuki area sekolah. Saat itu jam pelajaran masih berlangsung, jadi keadaan halaman sekolah lengang.
Mobil berhenti tepat di bawah pohon. Pak Tobias dan Afdal segera turun.
Saat mereka turun seorang penjaga keamanan sekolah datang menghampiri
"Assalamualaikum bapak-bapak, selamat datang di sekolah kami. Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya sopan
Pak Tobias melepas kacamata hitamnya. Beliau memasang senyum ramah pada satpam tersebut
"Kami dari Linggau, bisa bertemu dengan kepala sekolahnya?" tanya beliau ramah
"Oh, mari pak saya antar" jawab satpam itu dengan tak kalah ramah
Akhirnya Pak Tobias dan Afdal berjalan mengikuti satpam tersebut.
Guru-guru yang saat itu ada di kantor saling bertatapan ketika melihat ada tamu yang datang
"Mari pak masuk" ajak pak satpam
Semua guru yang saat itu ada di dalam ruang guru mengangguk hormat pada Afdal dan pak Tobias.
Afdal dan pak Tobias segera duduk, dan tak lama, pak Suparno, kepala smp swasta tempat Indah mengabdi keluar setelah dipanggil oleh salah satu guru
Bertiga mereka saling bersalaman
Akhirnya pak Tobias menjelaskan alasannya datang kesekolah ini. Pak Suparno menyambut dengan baik dan mengizinkan untuk Indah tidak mengajar sampai selesai hari ini.
Pak Suparno segera mengambil hpnya, lalu menelpon Indah. Tetapi tidak tersambung
"Bu Yaya tolong panggil mbak Indah, hpnya di telpon nggak nyambung" ucapnya akhirnya
__ADS_1
Bu Yaya segera meninggalkan ruang guru dan segera berjalan kekelas tempat dimana Indah sedang mengajar
Tak lama beliau sudah kembali lagi berdua dengan diikuti Indah
Mata Indah nampak kaget begitu melihat ada Afdal di sekolahnya
"Mas Afdal?" ucapku kaget
Afdal langsung tersenyum ramah.
"Ini benaran Pak Tobias?" ucapku tak percaya saat melihat ada pak Tobias juga
Pak Tobias tersenyum dan membalas uluran tanganku. Dengan takzim aku menaruh punggung tangan beliau di keningku.
"Maaf mbak Indah, kita tidak punya waktu lama. Sekarang juga kita berangkat" ucapnya setelah kami bersalaman
Aku memasang wajah bingung, tidak faham apa maksudnya
"Ada meeting lewat teleconference di kantor dengan anak CEO. Dan beliau orang asing, jadi kami meminta mbak untuk menjelaskan slide pada beliau" jawab pak Tobias seperti tahu kebingunganku
Mataku terbelalak. Ya Rabb, itu artinya aku akan bertemu Andi, batinku
"Tapi pak" jawabku ragu
"Tolong bantuannya mbak, di kantor tidak ada yang bisa bahasa Inggris" kali ini Afdal yang berbicara
Aku menoleh pada guru-guru yang saat itu juga menatap kami.
Mereka menganggukkan kepala mereka padaku sambil mengepalkan tangan dan mulut mereka mengisyaratkan "Semangat"
Aku tersenyum kecut. Karena tak ada pilihan lain aku menganggukkan kepalaku.
"Semangat adek" ucap bu Kris saat aku menyalaminya untuk berpamitan
"Naik mobil saja mbak, biar motor mbak tinggal disini" ucap pak Tobias
Aku menurut dan masuk kedalam mobil
"Mbak Indah" sapa suara berat saat aku duduk di barisan kursi tengah
Aku segera melongokkan kepalaku maju untuk melihat siapa yang menyapaku
"Bapak???" tanyaku kaget
Lelaki tinggi besar itu tersenyum kearahku.
Beliau mengulurkan tangannya. Aku dengan senyum mengembang menyambut tangan beliau
"Sehat mbak?" tanyanya
Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Ya Alloh, mimpi apa aku semalam bisa ketemu bapak lagi" ucapku senang
"Nama saya Abraham, panggil nama saja mbak" tolaknya
"Tidak sopan itu namanya pak" jawabku masih dengan tersenyum
"Ohhh, aku ingat sekarang. Bapak ini yang mengantarkan kami kebandara waktu mau pulang" Afdal menimpali sambil tersenyum.
Pak Abraham juga tersenyum mendengar Afdal mengingatnya juga.
"Semua atas izin yang Maha Kuasa mbak Indah. Siapa sangka kita akan ketemu lagi" jawab pak Abraham
"Benar itu pak, semua atas izin Alloh" jawabku
"Ehmmm, by the way apa ada yang urgent ya Pak sampai aku dibawa? tanyaku pelan pada pak Tobias yang sedari tadi hanya tersenyum melihat aku dan pak Abraham mengobrol akrab
"Kita lihat saja nanti mbak, yang pasti misi kami kesini itu penting" jawabnya
__ADS_1
Aku diam mendengar jawabannya. Pikiranku mulai mengembara, menebak apa misi mereka.
Sepanjang perjalanan kami mengobrol. Tak kusangka, ternyata pak Abraham enak juga orangnya untuk diajak ngobrol. Padahal waktu di Pekanbaru beliau sama sekali tidak ramah padaku. Bahkan aku dan kak Jen takut padanya