
Tiin tiinn...
Andi sengaja membunyikan klakson mobilnya ketika telah sampai di garasi rumah. Dia ingin melihat reaksi anak-anaknya. Benar saja, Naura dan Mikail langsung berhamburan keteras menyambut sang ayah.
"Horeee ayah pulang" teriak mereka berbarengan sambil melompat-lompat.
Andi segera turun dari mobil dan langsung memeluk kedua buah hatinya.
"Ayah bawa apa?" tanya Mikail
"Nggak bawa apa-apa kak" jawab Andi dengan raut menyesal
Mikail langsung menunduk lesu. Dengan sigap Andi langsung menggendong dan mencium pipinya.
"Weekend nanti ayah akan ajak jalan-jalan" janjinya agar sang anak tidak sedih lagi
"Horeee" Mikail bersorak
Lalu mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Aku yang sedang memberi asi Adam hanya diam saja ketika suamiku duduk di sebelahku. Diciumnya keningku tapi aku masih tidak ada reaksi.
"Loh, katanya ayuk mau dimandikan ayah. Kok ini ayuk sudah cantik" Andi baru tersadar tatkala melihat jika Naura telah rapih dan wangi.
Dibelainya kepala Adam sambil melirik ke arahku.
"Ayuk mandi sendiri apa sama bunda?
"Bunda"
Andi mengangguk sambil tersenyum. Lalu dia masuk kekamar dan mandi.
Aku masih di ruang keluarga tatkala suamiku keluar dengan wajah yang fresh. Kembali dia duduk di sebelahku dan mengambil Adam dari gendonganku.
"Buatin teh bun, tolong"
Aku segera beranjak ke dapur membuatkannya teh. Tak lama telah kembali lagi dengan secangkir teh di tanganku.
Butuh sekitar setengah jam lagi untuk masuk waktu maghrib. Me time itu dimanfaatkan oleh Andi untuk melunakkan hati istrinya.
"Masih marah bun?"
Aku memasang wajah cemberut. Tidak perlu jawaban aku rasa dia tahu kalau aku masih marah.
"Sumpah bun, ayah tidak ngapa-ngapain"
"Jangan bersumpah, nanti makan sumpah sendiri, tahu rasa" jawabku dingin
"Benaran bun"
Untunglah adzan maghrib menghentikan argumen kami sore ini. Aku segera mengajak kedua anakku untuk berwudhu, karena kebetulan nifasku sudah selesai.
Suamiku meletakkan Adam di dekat kami yang sedang shalat. Akhirnya dia kembali menjadi imam kami shalat setelah hampir tiga bulan dia tidak pernah menjadi imam untuk kami.
Dalam sujud terakhirku aku meminta pada Sang Penguasa Alam agar menjaga keutuhan keluarga kami dan menjauhkan dari segala marabahaya.
...****************...
Kedua anakku berlarian di sepanjang bibir pantai dengan riang. Week end ini suamiku menepati janjinya untuk mengajak kami jalan-jalan.
Aku yang duduk di bawah tenda yang disediakan petugas pantai memantau mereka bertiga yang berlarian.
Naura dan Mikail begitu girang ketika kaki kecil mereka terkena ombak yang sampai ke bibir pantai. Mereka berlarian sambil tertawa ketika air laut mengenai kaki mereka.
__ADS_1
Suamiku yang menjaga mereka juga turut tertawa bahagia. Apalagi ketika dia mengangkat Mikail untuk menghindari kakinya dari air pantai. Aku tersenyum melihat mereka bertiga. Aku berharap bahwa bahagia ini akan selamanya.
Ketika aku sedang asyik memperhatikan ketiga orang yang aku sayangi, ada penjual yang menjajakan makanan menghampiriku. Aku lihat dia menjual gorengan khas laut, aku memilih udang dan kepiting untuk kedua anakku. Setelah mengucapkan terima kasih, penjual itupun berlalu.
Aku melambaikan tangan kearah Naura ketika dia berteriak memanggilku. Ku angkat tadi gorengan yang aku beli, spontan Naura langsung berlari kearahku.
"Ini apa bunda?" tanyanya ketika dia sudah memegang kepiting goreng
"Crabs" jawabku
Tampak wajahnya kaget dan aku tertawa melihat reaksinya
"Napa yuk?"
"Crabs yang di tivi itu bun?" tanyanya polos
Aku mengangguk sambil menahan tawa.
Dijulurkannya kembali kepiting tersebut ke tanganku.
"Ga mau"
"Loh, kenapa? enak loh yuk"
"Kasihan" jawabnya dengan wajah sendu
"Kenapa sayang?" suamiku yang tanpa kusadari telah berdiri di belakang Naura
"Ayuk ga mau makan tuan crabs, kasihan"
Aku dan suamiku langsung tertawa. Tawa yang sejak tadi aku tahan lepas begitu saja.
Naura dengan wajah bingung menatap kami. Aku segera menghentikan tawaku
Naura tampak mengangguk, entah dia faham atau tidak, tapi yang jelas segera diraihnya kembali kantong plastik yang tadi dikembalikan ketanganku. Berdua dengan adiknya mereka menikmati udang dan kepiting tersebut.
Suamiku mengelus kepalaku, lalu dia mengambilkan air mineral untuk kedua anak kami. Setelahnya dia duduk di sebelahku.
"Mau makan di mana bun?"
"Aku nggak tahu daerah ini. Ayah yang sering ke Bengkulu jadi fahamlah mana tempat makan yang enak di sini"
Suamiku tampak berfikir sejenak.
"Ah, ada bun tempat yang enak di sini, dekat lagi. Kita kesana saja"
Aku mengangguk setuju. Setelah membereskan cemilan dan membuang bekas bungkus cemilan anak-anak, suamiku menggendong Mikail dan memapah Naura menuju mobil. Aku berjalan mengiringi mereka.
Tak butuh waktu lama akhirnya kami telah sampai di sebuah restoran yang memang tidak jauh dari pantai. Suasana restonya sangat homy. Kami memilih di bagian atas, agar kami bisa leluasa melihat luasnya lautan.
Seorang waiters menghampiri dan memberikan buku menu. Setelah memilih menu the barbeque for 3 people, aku mengembalikan buku menu tersebut ke waiters.
Tak lama menunggu, hidangan yang kami pesan sampai. Aku sengaja memilih paket tersebut karena isinya komplit. Di hadapan kami kini tersedia Lobster, Fish, Squid, dan Prawns dalam porsi yang lumayan banyak. Pas lah untuk kami berempat, bisa lebih malahan.
Sedangkan untuk minumnya aku memilih raflesia flower ice untuk aku dan suamiku dan chocolate ice blend untuk kedua anakku.
Dengan lahap kami menyantap makan siang kami hari itu. Sesekali suamiku mengelap mulutku yang belepotan oleh makanan. Selain dengan aku, dia juga begitu telaten memperhatikan Naura dan Mikail dan terkadang dia juga menyuapi mereka.
Semoga suamiku benar-benar berubah bukan semata-mata ingin mengelabuiku, batinku melihat sikapnya.
...****************...
__ADS_1
Aku berdiri di balkon hotel malam ini sambil memejamkan mataku sebentar. Angin malam yang bertiup mengibarkan hijabku yang menjuntai. Aku hirup dalam-dalam udara malam untuk mengisi paru-paruku. Mataku tak henti-hentinya takjub memandangi pemandangan kota Bengkulu dikala malam.
Lampu-lampu yang bersinar warna-warni, mobil-mobil dan motor yang berlalu lalang, kedai makanan, pantai. Semuanya membuatku takjub. Kebetulan kami menginap di sebuah hotel yang memang tidak jauh dari pantai. Jadi dari tempatku berdiri, aku bisa melihat semua itu. Semua aktifitas malam yang seakan tak berhenti.
Aku terkejut ketika ada sebuah tangan melingkar di perutku. Suamiku.
Aku menggerakkan sedikit kepalaku, suamiku meletakkan dagunya di atas kepalaku.
"Maafkan aku bun" ucapnya
Aku memejamkan mataku. Berusaha melupakan semua kesakitanku. Aku menghela nafas berat sebelum menjawab ucapannya.
"Maafkan aku, aku betul-betul menyesal"
Kembali aku menghela nafas berat. Mataku sudah panas, lalu mengalirlah air mataku.
Suamiku masih memelukku. Berkali-kali dia menciumi puncak kepalaku. Ku hapus air mata yang terus mengalir. Aku mulai sesenggukan.
Secepat kilat suamiku memutar badanku dan memelukku erat. Aku masih sesenggukan di dadanya.
"Maaf bun, maaf, maaf" ucapnya dengan suara bergetar.
"Aku mau tanya, apa salahku sampai kamu tega mencurangi yah? suaraku bergetar saat aku mengatakan itu. Kentara sekali sakit di sana.
Andi diam, bingung harus menjawab apa atas pertanyaan istrinya.
Aku segera mendorong pelan dada suamiku agar dia melepaskan pelukannya.
Kembali aku berdiri di tempatku semula, memandang bintang di langit yang gemerlap dengan bercucuran air mata.
"Aku sudah selesai nifas, jika kamu mau menceraikanku, silahkan"
Mulut Andi ternganga mendengar ucapan istrinya.
"Stop kamu berzina, karena zina itu adalah dosa yang sangat besar Walaa taqrabu zinaa innahuu kaana faahisyatan wasaaaaa a sabiila" ucapku masih dengan membelakanginya.
"Aku tidak mau menjadi penghalang antara ayah dan dia, aku rela mundur jika itu bisa membuat ayah bahagia. Kita hidup cuma sementara, jika kita tidak bahagia dengan pasangan kita, maka lepaskanlah dia dengan rela, karena kita tidak boleh egois memaksakan dia untuk tetap tinggal dengan kita sementara dia tidak bahagia. Dalam Islam juga haram hukumnya jika salah satu dari pasangan merasa tersakiti" Lagi aku mengatakan itu dengan suara bergetar.
Andi segera kembali memeluk istrinya. Ada beningan air mengalir di pipinya. Dia tidak bisa berkata apapun mendengar ketegaran hati Indah. Perempuan yang telah berjuang hidup bersamanya.
Aku diam tatkala suamiku kembali memelukku. Air mataku tak hentinya mengalir, malah semakin deras.
Jadilah malam ini kami lewati dengan air mata. Aku berkali-kali mengusap kasar wajahku, menghapus air mata yang tak hentinya mengalir.
"Sungguh, aku tidak apa-apa yah. Aku tahu siapalah aku, dari awal kita memang berbeda, kita memang ditentang. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk kamu melepaskan aku"
"Jangan ngomong gitu bun, sumpah aku benar-benar menyesal. Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku bersumpah"
Aku membuang nafas berat lalu menatap matanya cukup lama.
"Aku, aku sangat mencintaimu Andi, sangat. Sangat mempercayaimu. Tapi kamu telah menghancurkan kepercayaanku, kamu telah merampas cintaku, kamu telah merenggut bahagiaku" ucapku dengan menatap kosong wajahnya.
"Maafkan aku bun, aku mohon"
"Sekarang hanya kamu yang punya kendali. Jika kamu mau bertahan denganku, maka tinggalkan perempuan itu. Tapi jika kamu memilih dia, mumpung belum terlambat, mumpung saya masih muda"
Andi menggelengkan kepalanya. Diambilnya tanganku dan digenggamnya.
"Aku janji, aku janji"
Aku kembali terdiam mencoba menyelami mata sipitnya. Mencoba mencari jawaban apakah itu benar ataukah hanya janji semu.
__ADS_1
Angin yang bertiup cukup kencang kembali mengembalikan kesadaranku. Aku segera beranjak meninggalkan balkon dan masuk kekamar meninggalkan suamiku sendiri dengan berbagai macam pikiran kalutnya.