Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Joni Mau Menikah


__ADS_3

Ketika umur Dinda Naura sudah masuk tiga bulan, Indah dan suami kembali ke kontrakan mereka. Tetangga kiri kanan berdatangan ke kontrakan mereka untuk melihat anak mereka.


Kegiatan mengajar Indah pun sudah dijalankannya jauh sebelum mereka kembali kekontrakan. Tepatnya ketika anaknya berusia dua minggu. Sang Kepala sekolah dan teman-temannya sampai dibuat kaget ketika dia datang ke sekolah.


Kelas X.a kembali gaduh ketika Indah masuk ke kelas. Mereka berebutan menyalami dan memeluknya memberikan ucapan selamat. Jadilah hari itu materi yang seharusnya disampaikan, dipending gegara mereka sibuk bertanya dan Indah bercerita.


"Cowok apa cewek Miss?" tanya Ferdi


"Ehmmmm..." gantung Indah


Mereka semakin penasaran, dan mulai gaduh dengan menyebut cowok, cewek, cowok, cewek berebutan.


"Cewek, alhamdulillah anak Miss cewek" jawab Indah


"Yeayyyy" Agustina segera berdiri dan melompat-lompat kegirangan.


Indah terkekeh melihat kelakuannya. Sementara anak-anak yang lain lesu.


"Yaaaaaaa" jawab mereka lemas


"Hayo, sini buruan bayar!" ucap Agustina menengadahkan tangannya


"Ijin ya Miss, mau nagihin mereka, karena kalo ga ditagih sekarang mereka bakal kabur" ucap Indah bersemangat


Indah menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat kelakuan siswa-siswanya.


Jadilah Agustina berkeliling satu kelas meminta uang taruhannya karena dia yang menang. Setelah selesai, dia kembali ketempat duduknya dengan wajah sumringah. Di tangannya telah terkumpul uang yang cukup banyak.


"Lumayan Miss, 39.000 Rupiah" pamernya sambil mengipas-ngipaskan uang.


Indah lagi-lagi tertawa.


"Miss mau aku traktir ga?, nanti aku traktir deh Miss, ga usah khawatir" sambungnya yang makin membuat iri kawan-kawannya yang lain.


Indah menggeleng "Makasih Tin, ajak aja teman-teman kamu"


"Nah, setuju buk" timpal mereka


"Ihhh,, ogaaahh!" jawab Agustina cepat.


Bel istirihat berbunyi, setelah menutup pertemuan Indah berjalan keluar kelas yang diikuti oleh peserta didiknya yang mau ke kantin.


...++++++++±++...

__ADS_1


Hari raya Idul Fitri kedua tahun 2001


Pagi-pagi sekali Andi beserta keluarga kecilnya sudah siap hendak mudik. Sejak selesai acara syukuran Dinda, sekalipun mereka tidak pernah bertemu dengan keluarganya. Dan ini adalah lebaran pertama dan pertama kali pula buat Dinda kerumah embahnya.


Indah telah siap dengan tas pakaian yang berisi baju-baju mereka. Segera di letakkannya tas tersebut dekat motor. Sementara Andi memakaikan gadis kecilnya sebuah jaket dan kaos kaki.


Indah kembali ke dapur, mengisi rantang susun dengan nasi, sayur rendang, dan aneka lauk lainnya. Sudah tradisi di keluarganya kalau ke rumah orang yang dituakan, terlebih orang tua atau mertua, harus membawa rantang.


Bismillah semoga tidak seperti tahun lalu, ucapnya dalam hati. Setelah selesai mereka segera berangkat. Kali ini perjalanan cukup repot, karena mereka membawa si kecil, beruntunglah sepanjang jalan Naura tidur.


Dua jam sampailah mereka di rumah orang tua Andi. Dengan sedikit malas Indah mengikuti langkah kaki suaminya. Dia sudah bisa menerka apa yang akan terjadi, penolakan, penghinaan, dan cibiran.


Setelah mengucap salam mereka memasuki rumah yang pintunya terbuka. Pak Hermawan segera keluar menemui mereka, Nina langsung menghambur memeluk Indah dan dengan cepat mengambil keponakannya.


Indah segera meletakkan rantang di dapur, dan menyusul sang suami untuk sungkem dengan mertuanya. Lama Andi berkata-kata dalam bahasa Ja** halus yang tidak dimengerti Indah ketika sujud di kaki ayahnya. Dan sekarang giliran Indah tiba ketika sang suami bergeser ke ibunya. Dengan takzim Indah berlutut di kaki ayah mertuanya.


"Taqobballahu minna wa minkum Pak, Indah minta maaf lahir bathin atas semua kesalahan Indah, maafin Indah karena belum bisa jadi anak yang baik buat Bapak"


Sang mertua menjawab dengan ucapan yang sama ketika tadi Andi bersujud padanya. Indah hanya menangguk, karena jujur saja dia tidak mengerti sama sekali.


Kini gilirannya sujud pada ibu mertua, dengan takzim Indah berlutut dan mengucapkan kata yang sama dia ucapkan seperti ketika sujud pada ayah mertuanya.


"Hemm" hanya itu jawaban ibu mertuanya. Indah tidak ambil pusing, biarlah. Toh setidaknya dia sudah meminta maaf.


...++++++++++...


"Joni mau nikah Ndi" ucap Pak Hermawan ketika mereka berkumpul seusai makan malam.


Naura bermain dengan Dimas dan tantenya, Nina. Kebetulan usianya mau tujuh bulan dan sudah belajar duduk. Dimas dan Nina begitu gembira bermain dengan Naura.


"Dengan siapa pak, orang mana?" timpal Andi


"Tidak jauh dari sini, dengan Maria" yang menjawab adalah bu Mira


"Maria?"


"He eh, itu loh anak toke sawit kampung sebelah, yang cantik anaknya" sambung Bu Mira.


"Astaghfirullah buk, yang anak toke sawit yang rumahnya di Blok B itu? dia kan beda dengan kita agamanya buk" sergah Andi.


"Tapi setidaknya dia selevel dengan kita, dan yang paling penting sesuku sama kita" Laras menoleh sinis pada Indah.


Indah diam saja melihat kelakuan Laras. "Awas kamu" ucapnya dalam hati.

__ADS_1


"Kalian ini lucu, yang dipikirkan hanya level dan suku, tapi agama tidak" Andi tertawa hambar


"Sekarang ini uang yang berkuasa Ndi, agama nanti" Bu Mira menjawab ketus.


"Astaghfirullah haladzim" Indah mengelus dada.


Laras dan Bu Mira langsung menoleh tak senang mendengar Indah beristighfar.


Ningsih tak memperdulikan obrolan mereka, dia terus sibuk bermain dengan keponakan dan anaknya. Sementara sang suami sedang menonton tivi dengan suaminya Laras yang sambil menggendong Raffa.


Saya pernah membaca sebuah hadits yang berbunyi "dari Abu Hurairah Radiallahhu Anhu, Rasulullah SAW bersabda "Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Namun dari empat itu yang paling utama yang harus jadi perhatian adalah masalah agamanya. Maka perhatikanlah agamanya, kamu akan selamat" ucap Indah panjang lebar.


Mereka semua yang ada di sana terdiam setelah mendengar Indah menyampaikan Hadits tersebut. Dan Andi dalam hati semakin memuji kepintaran istrinya.


"Hallaahhh prett lah" jawab sang ibu.


"Jangan sok-sokan kamu Ndah, jangan mentang-mentang kamu pakai jilbab, lantas menganggap kalau kamu itu alim" sambungnya emosi.


"Saya tidak alim buk, saya hanya menyampaikan kebenaran" Indah membela diri.


"Halah sudah-sudah, pokoknya lusa kita lamaran, dan ibuk ga mau tau ya Ndi, di pernikahan adik kamu nanti kamu harus bantu uang dua puluh juta" ucapnya makin emosi


"Loh kok Andi buk?, kan ibuk tahu sendiri, Andi sudah punya keluarga, punya tanggung jawab sendiri, tidak bisa dong buk kalau sebanyak itu" jawab Andi terkejut


"Gaji kamu kan delapan juta sebulan, banyak itu Ndi. Tabungan kamu waktu bujang kan banyak, pakek itu, jangan pelit kamu" sambung sang ibu


"Sawit kita kan luas buk, kemana uang sawitnya? tiap bulan banyak juga kan hasil sawitnya?" tanyanya


"Nina mau kuliah, bapak kamu juga mau beli mobil truck, jadi perlu banyak biaya. Halah kamu, timbang diminta bantuan dua puluh juta aja perhitungan" Laras menyela


"Beli mobilnya nanti-nanti sajalah pak, jangan sekarang" nasehat Andi


Sang ayah diam saja. Dia juga bingung. Tapi semenit berikutnya dia menjawab


"Ibu kamu benar Ndi, timbang dua puluh juta loh, dulu waktu nikahkan kamu kami kan tidak minta uang sama kamu, walau permintaan istri kamu besar" ucapnya.


Deg, Indah kaget. Haduhh saya lagi ucapnya dalam hati.


"Tapikan waktu saya nikah uangnya banyakan uang Andi pak, uang Bapak hanya berapa juta yang terpakai, itupun untuk membeli makanan untuk menjamu orang-orang yang mau ikut mengantar Andi menikah." jawabnya


"Pokoknya ibuk ga mau tahu, ibuk minta dua puluh juta. Uang bapak mu mau dibelikan mobil dan biaya kuliah Nina. Titik" sang ibu bersikeras.


"Nantilah buk saya fikirkan lagi. Tidak bisa saya jawab sekarang, saya mau rembukan dengan istri saya" jawab Andi

__ADS_1


Indah hanya menonton saja perdebatan suaminya dan mertuanya. Dalam hati sebenarnya dia juga kesal dengan sikap semena-mena mertuanya terhadap suaminya itu. Tapi dia bisa apa, kalau dia menolak bisa-bisa dipecat dia jadi menantu.


__ADS_2