Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Kebaikan Ummi


__ADS_3

Aku terus menangis sementara abang masih dengan sabarnya memeluk dan menenangkan ku


"Sudah ya sayang nangisnya, kasihan anak-anak kita, nanti mereka ikut sedih"


Aku tak menggubris ucapan suamiku, aku masih saja meletakkan kepalaku di dadanya dan masih sesenggukan


"Jika kamu mau, besok abang pastikan ketiga anakmu di sini"


Aku menarik kepalaku, menatap abang tak percaya


"Biar kamu tidak sedih lagi" tambahnya


Aku tersenyum walau masih ada air mata di wajahku


"Mereka sekolah bang, apalagi empat hari lagi masa liburan mereka habis"


"Libur mereka bisa diperpanjang kan?, tinggal minta saja sama kepala sekolahnya untuk memperpanjang libur mereka"


Aku memutar mataku dengan malas, lalu mengusap kasar wajahku


"Sekolah punya aturan abang, nggak bisa seenak kita. Apalagi anakku yang kedua baru masuk SMP, Senin nanti dia mos, terus yang pertama juga sudah kelas sembilan"


"Nggak semuanya bisa ditukar pakai duit, ngerti suamiku?"


Abang tersenyum dan mencubit kecil hidungku


"Ya kan abang bilang gitu karena sejak tadi kamu nangis. Jadi pikir abang, datangkan saja mereka bertiga"


Aku tersenyum dan memeluk suamiku


"Terima kasih karena telah menerima mereka"


Ozkan mengelus pundak istrinya


"Jangan cuma mau sama ibunya, sama anaknya juga harus mau"


Aku makin mengeratkan pelukanku dan tersenyum bahagia.


...****************...


Mobil yang dikendarai kak Andri masuk kedalam garasi rumah bapak nya.


Lampu di ruang tengah masih menyala, itu artinya umak atau bapaknya belum tidur


Naura segera turun dari dalam mobil sambil membawa tas pakaiannya. Dia segera berjalan kearah pintu, setelah mengetuk dan mengucap salam, tak lama pintu dibuka, wajah nek nang nya muncul


Naura langsung mencium punggung tangan nek nang nya dan memeluknya erat


Pak Ahmad menatap kearah kak Andri yang hanya menganggukkan kepala.


"Makanlah, umakmu sudah masak banyak, kamu makan juga ya Yuk"


Kak Andri hanya mengangguk dan nyelonong masuk ke dapur


"Ayuk mau langsung tidur nek" jawab Naura


Naura segera masuk kedalam kamar neneknya.


Bu Siti yang sudah tidur, segera membuka matanya demi dirasakannya ada guncangan di atas ranjang


Saat dia membuka mata, Naura telah tidur di sebelahnya, memiringkan tubuhnya menghadap kearahnya dengan mata sembab


"Sudah sampai yuk?"


Naura tidak menjawab, melainkan segera memeluk nek ino nya. Lalu kembali air matanya mengalir


Dengan sayang, bu Siti membelai rambut Naura dan menggumamkan doa dalam hati


"Ayuk tidur sini ya nek?, tidur berdua nenek, biar nek nang tidur di kamar depan"


Bu Siti mengangguk.


Naura memejamkan matanya, diiringi dengan doa dan belaian sayang dari neneknya, membuatnya cepat terlelap.


Melihat Naura sudah nyenyak, perlahan bu Siti keluar, menemui kak Andri yang sedang mengobrol dengan pak Ahmad


"Bagaimana ceritanya?" tanya bu Siti sambil duduk di sebelah kak Andri

__ADS_1


Kak Andri menarik nafas dalam sebentar


"Alhamdulillahnya sesuai dengan rencana saya mak"


"Memang kamu merencanakan apa?"


"Ya aku yang menyuruh Mia mengundang temannya itu untuk datang ke trans"


"Maksudnya?" tanya bu Siti penasaran


"Ya, jadi rencananya itu aku nyuruh Mia untuk menghubungi orang di masa lalu Andi agar mau membantuku membongkar kebusukan Andi pada Naura"


"Aku sih tidak kenal sama orangnya, cuma kenal lewat sosmed saja. Itu pun lewat perantara Mia. Nah aku cerita lah ke Mia bagaimana caranya menyadarkan Naura yang selalu ingin menyuruh Pisat rujuk sama Andi"


"Entah kenapa, Mia malah punya ide untuk menyuruh temannya itu. Awalanya sih perempuan itu benci sama Naura mak, sampai Naura ketakutan dibuatnya"


"Akhirnya aku telpon Mia. Aku marahin balik perempuan itu" jelas kak Andri panjang lebar sambil tertawa


"Terus?"


"Ya, terus terbongkar deh. Malah Naura mendengar sendiri embahnya sama Laras punya rencana buruk"


Wajah bu Siti merubah tegang, tampak sekali kemarahan di sana


"Tapi umak tenang saja, semuanya sudah beres sekarang. Tinggal satu yang belum" lanjutnya menggantung


"Apa itu?"


"Memberi tahu Naura jika Pisat sudah menikah"


Bu Siti diam, dia tampak seperti berpikir


"Kalau kita beritahu besok?"


"Jangan dulu mak, kata Pisat dia yang mau bilang, tapi biar kita saja yang ngomong dengan Naura. Tapi nggak besok juga mak, biarkan dia menyesali keegoisannya pada


Pisat, baru setelah itu kita kasih tahu dia perlahan"


"Kalau dia ngamuk?" nada suara bu Siti terdengar panik


Wajah bu Siti dan pak Ahmad berubah tak senang mendengar ide kak Andri


"Tidak lah mak, nggak mungkin aku bakal kasih Naura ke keluarga gila itu"


"Tadi di jalan Naura sudah telponan dengan Pisat, dan aku dengar sendiri jika dia ikhlas jika Pisat mau nikah lagi"


Bu Siti menarik nafas lega.


...****************...


Handphoneku berdering ketika aku sedang merapikan mukena, abang masih berdzikir sedang aku segera meraih handphone


Ummi


Dengan mengembangkan senyum aku menjawab telpon ummi


"Assalamualaikum ummi?"


Terdengar ummi menjawab salamku


"Hari ini kamu jangan pergi kemana-mana, karena pagi ini ummi mau mengunjungimu. Sejak kamu hamil ummi belum sekalipun menengok mu"


Aku tersenyum


"Siap ummi, setiap perkataan ummi adalah perintah untukku"


"Nggak usah masak apapun, karena ummi sudah menyuruh pelayan memasakkan makanan sehat untukmu"


Kembali senyumku mengembang


"Saya tunggu ya ummi, assalamualaikum" tutup ku


Ozkan yang telah selesai dengan dzikir nya segera mencium perut istrinya


"Twins daddy sedang apa sekarang?"


"Sedang tidur" jawabku

__ADS_1


Ozkan menegakkan badannya dan dengan gemas diciumnya berkali-kali wajah Indah


Aku terkekeh melihat kelakuannya


"Aku libur hari ini bang, ummi mau kesini"


"Wah, kedatangan tamu special kita"


"Ummi sudah seperti ibuku, beliau sangat menyayangiku"


Ozkan mengelus kepala istrinya


"Bicarakan juga untuk mengajukan cuti mu, ya sayang?"


Aku diam. Bukannya aku tidak mau cuti, tapi aku takut memintanya sama ummi.


"Ya sudah, abang buatkan dulu sarapan untukmu, pagi ini anak daddy mau makan apa?" kembali Ozkan berjongkok di depan perut istrinya


Aku segera mengambil tangan abang, meletakkannya di atas perutku


"Pengennya dielus terus"


Ozkan tersenyum lalu membawa istrinya ke atas ranjang lagi. Aku segera merebahkan kembali tubuhku.


Abang lalu mengelus-elus perutku. Tiap ada gerakan menendang, maka Ozkan akan tercengang hingga takjub tak terkira, bahkan sampai tertawa bahagia


...****************...


Suara bel di pintu membuat ku yang sedang santai di depan tivi berdiri bangkit dan berjalan membukakan pintu


Benar saja tebakanku, ummi yang datang. Bahkan ummi tidak sendiri, ada nona Alima dan tuan muda juga


Bergantian aku memeluk mereka. Bahkan tuan muda Fadh paling lama merangkulku


"Mereka yang paling antusias ketika tahu akan kesini" ucap nona Alima sambil duduk


Ketiga tuan muda segera duduk di sebelahku, sementara ummi masuk ke dapur, meletakkan makanan yang tadi di bawanya


Lalu ummi duduk berseberangan dengan ku


"Sudah berapa bulan?" tanyanya


"Jalan enam ummi"


Ummi dan nona Alima tampak menganggukkan kepala mereka


"Tapi kok sudah kaya sembilan bulan, Ndah?" tanya nona Alima


"Kalo menurut pemeriksaan usg, kembar nona"


Nona Alima segera pindah tempat duduk dan menggeser tuan Khaleed yang duduk di sebelahku, segera dia memelukku dari samping dengan erat


"Maa Syaa Alloh, selamat ya Ndah"


Ummi tersenyum lebar


"Makin banyak cucu ummi kalau begitu"


Aku tersenyum.


"Berhubung kamu hamilnya kembar, terus perut kamu sudah sangat besar juga, jadi ummi mau tanya sama kamu, kapan kamu mau cuti?"


Aku diam, tak berani menjawab


"Ummi bukan mecat kamu, tapi ummi memberikan cuti tak terhingga sama kamu. Ummi tujuh kali mengandung Indah, semuanya satu, itupun susah sekali. Lah ini sekarang kamu malah dua, apa tidak makin repot dan kelelahan kamu nya"


"Ummi tidak ingin terjadi apa-apa sama calon cucu kembar ummi, terutama kamu"


"Dan satu lagi, mulai besok ummi akan suruh satu pelayan di rumah untuk kerja di sini, kamu nggak usah ngapa-ngapain lagi. Kamu cukup duduk manis, olahraga khusus ibu hamil sama nikmati kehamilan kembarmu ini"


"Dan untuk gaji pelayan, ummi yang akan bayar, juga gaji kamu akan ummi bayar terus walau kamu cuti"


Aku menatap tak percaya pada ummi. Alima tersenyum melihat perhatian tulus umminya pada Indah


"Nanti, jika suamimu sudah pulang kerja, maka pelayan itu akan pulang kembali ke rumah ummi, terus besok paginya dia akan kesini lagi, begitu terus sampai ummi yang memutuskan kapan selesainya pelayan itu kerja di rumah ini"


Mataku telah berkaca-kaca. Entah jenis kebaikan apa yang telah aku buat hingga Alloh memberiku berbagai kemudahan dan kebahagiaan serta memberikanku orang-orang yang baik di sekitarku

__ADS_1


__ADS_2