
"Welcome Mr. Mihriban Kedirimin" ucap Tuan Yusuf Yilmaz menyambut teman koleganya, yang nota bene adalah ayahnya Hatice.
Wajah Nyonya Aylin langsung berubah tak suka ketika melihat lelaki itu datang.
Canan yang saat itu sedang mengobrol dengan tamu segera menghampiri ibunya.
"Anne, mengapa orang itu kesini. Apa Baba yang mengundangnya?" tanyanya berbisik
Nyonya Aylin mengangguk
"Semoga dia tidak membawa serta perempuan jahat itu" lanjut Canan
Ozlem yang saat itu juga sedang bergabung dengan kolega ayahnya melirik sekilas ketika dilihatnya Tuan Mihriban datang.
"Abi, tuan Mihriban" bisiknya di telinga Ozkan
Ozkan segera memutar badannya, dan didapatinya jika Babanya sedang berbicara dengan tuan Mihriban.
Ozkan seakan tak melihat dan terus saja mengobrol dengan kolega lamanya.
"Lama sekali anda meninggalkan Istanbul tuan Ozkan, kami kira anda tidak akan kembali" ucap salah satu koleganya sambil tertawa.
Nyonya Aylin segera mengajak Canan bergabung dengan istri kolega suaminya, dia tidak ingin jika perempuan-perempuan itu menggosipkan anaknya karena kehadiran tuan Mihriban.
"Acara penyambutan kembalinya tuan muda Ozkan Yilmaz, kita mulai" ucap sebuah sumber suara
Tampak para undangan riuh bertepuk tangan. Ozkan mengangkat gelasnya kearah para tamu undangan, di sambut mereka dengan meneriakkan
"Cheers...."
Lalu mereka menenggak isi gelas masing-masing.
Acara berlanjut hingga cukup larut, Canan yang saat itu bersama suaminya, Zeki Yildis dan dua anaknya lebih dulu meninggalkan pesta karena kedua anaknya mengantuk
Perlahan-lahan semua tamu undangan pulang, dan kini di ruangan itu hanya tinggal Tuan Yusuf Yilmaz, Ozkan, Ozlem dan Tuan Mihriban.
Mereka tampak tegang.
"Saya yakin anda tahu tujuan kami memanggil anda" buka tuan Yilmaz
Tuan Kaderimin menarik nafas dalam
Ozkan dengan wajah datar hanya memperhatikannya saja.
"Sebentar, saya menelpon dulu" ucap tuan Kaderimin
Tampak dia mengeluarkan handphone dalam saku jas mahalnya, dan berjalan agak menjauh
Ozkan dan Ozlem hanya memperhatikan gerak gerik tuan Kaderimin, sedangkan tuan Yusuf masih seperti tadi berwajah tegang
Tak lama tuan Kaderimin kembali duduk dan dari arah pintu masuk terdengar langkah sepatu seseorang masuk.
Tuan Yusuf dan kedua putranya menoleh, ingin melihat siapakah tamu yang terlambat hadir
Wajah Ozkan berubah merah ketika dilihatnya Hatice yang saat itu memakai gaun hitam dengan belahan yang tinggi berjalan dengan anggun. Rambut merah kecoklatannya ditata bergelombang, sangat cantik.
Ozlem mendengus
Tanpa ragu Hatice duduk di sebelah ayahnya. Matanya menatap tajam kearah Ozkan yang memasang wajah datar tanpa ekspresi
"Bisa kita lanjutkan?" tanya tuan Yilmaz
Tuan Kaderimin mengangguk
__ADS_1
"Mungkin anda sudah tahu maksud dan tujuan kami mengundang anda kesini" ulang tuan Yilmaz
"Kami ingin hubungan anak kita berakhir, harusnya ini kami lakukan empat tahun yang lalu ketika Ozkan pergi, tapi itu tidak kami lalukan karena kami pikir Ozkan akan menerima Hatice dengan ikhlas, tapi ternyata kami salah, Ozkan sangat marah dan kecewa"
"Dan itu juga adalah kesalahan besar kami mengapa menjodohkannya dengan Hatice"
Wajah Tuan Kaderimin berubah tak senang
"Bukankah perjodohan itu sesuai kesepakatan kita tuan Yilmaz" ucapnya
"Iya, kesepakatan kita. Kesepakatan bisnis lebih tepatnya"
Tuan Kaderimin mendengus kesal.
"Anda tidak punya hak untuk memisahkan Ozkan dari Hatice. Karena mereka ada anak, dan anda tahu itu tuan Yilmaz" ucapnya emosi
"Itu bukan anakku!" jawab Ozkan lantang
Mata tuan Kaderimin merah, ditatapnya Ozkan penuh marah
"Jaga kesopanan kamu tuan muda Ozkan" ucapnya sinis
Ozkan tersenyum sinis sambil mengusap dagunya, sementara Hatice masih terlihat tenang.
"Apapun yang kalian katakan, Kiral adalah anaknya Ozkan, kalian harus terima itu!"
Ozlem tertawa
"Anda ini bodoh atau naif, hem?" ucapnya dingin
Tuan Yilmaz langsung memegang paha Ozlem sambil menggelengkan kepalanya.
"Anda ingat, berapa umur pernikahan mereka, hem? dan tak berapa lama setelahnya Hatice melahirkan, coba anda pikir!" lanjut Ozlem
Wajah Hatice menegang mendengar ucapan Ozlem. Ozlem tersenyum sinis kearahnya.
"Dan saya juga tahu siapa ayah dari anak kamu!" lanjutnya
Hatice mulai gelisah
Ozkan hanya diam melihat adiknya marah-marah.
"Kamu jangan ngarang Ozlem, ayahnya Kiral tentu saja Ozkan. Ya, walaupun selama empat tahun ini kalian tidak menerima keberadaan Kiral"
Kembali Ozlem tertawa mendengar ucapan Hatice
"Dan kamu Ozkan, kamu kembali dari Indonesia, tapi kamu tidak menemui kami, apa kamu tidak ingin bertemu Kiral?, Dia sangat merindukan Baba nya" ucap Hatice menatap Ozkan
Ozkan tersenyum segaris mendengar ucapan Hatice
"Kamu lebih tahu siapa Baba dari anakmu itu Hatice" jawabnya dingin
Hatice marah mendengar ucapan Ozkan
"Kamu melakukan ini kepadaku karena kamu mencintai perempuan Indonesia itu kan?, iya kan?" teriaknya
Tuan Kaderimin memegang bahu anaknya berusaha menenangkannya
"Kalau iya kenapa?" balas Ozkan tenang
Dada Hatice kian panas
"Apa yang kamu harapkan dari perempuan biasa seperti dia Ozkan?, dia tidak selevel dengan kamu. Dia hanya orang rendahan!" teriaknya
__ADS_1
Dada Ozkan bergemuruh mendengar Hatice menghina Indah
"Jangan pernah kau hina dia, dia jauh lebih berharga dari seisi dunia ini, mengerti kamu?!" jawab Ozkan penuh penekanan
Yang lain hanya melihat kedua orang ini yang bertengkar. Ozkan makin menunjukkan sikap tak sukanya pada Hatice
"Apa? apa yang kamu lihat dari dia, hah?, dia jauh di bawahku Ozkan, sangat jauh" tambah Hatice sengit
"Kamu tanya apa yang aku lihat dari dia, iya? yang kulihat dari dia adalah ketulusan. Dia mencintaiku tanpa tahu aku siapa, sedangkan kamu? kamu tertarik sama aku karena aku kaya"
Wajah tuan Kaderimin memerah mendengar jawaban Ozkan
"Tapi aku jauh lebih cantik dibanding dia!"
Ozlem dan Ozkan tertawa berbarengan
"Kualifikasi kamu apa, hah?, Kelebihan kamu apa?, berbakat? tidak. Kamu hanya punya wajah cantik, selebihnya kamu tidak memiliki apa-apa" jawab Ozkan
"Kamu tahu tidak? banyak orang kaya di dunia ini tetapi istri mereka tidak cantik. Orang biasa memandang kecantikan adalah hal utama, tapi bagi kami orang kaya, kecantikan itu tidak ada artinya"
"Ada istilah "istri jelek akan ditinggalkan" tetapi kenapa bukan "istri cantik yang akan ditinggalkan?" Karena kecantikan dari dalamlah yang paling penting" jawab Ozkan panjang lebar, Hatice yang mendengar jawaban Ozkan makin memasang wajah murka
"Wanita cantik selalu mengandalkan pernikahan untuk naik derajat, padahal kecantikan adalah hal yang sangat mudah untuk berubah. Aku masih bisa menghasilkan banyak kekayaan, masih bisa banyak bertemu wanita cantik, tapi bagaimana dengan kamu, hem?"
"Kecantikan kamu akan bertahan berapa lama? kamu mau memakai muda dan cantikmu yang hanya sesaat untuk ditukar dengan kekayaanku? menurut kamu itu adil?"
Hatice terdiam membisu. Dia tidak menyangka jika Ozkan akan mematahkan omongannya. Dia pikir, Ozkan akan menerimanya setelah berpisah empat tahun, tapi ternyata dia salah, bahkan hingga kini hati Ozkan masih tertutup untuknya
"Ini surat perceraian, kamu bisa tanda tangan disini" ucap Ozlem sambil meletakkan sebuah map di atas meja
Tuan Kaderimin dan Hatice saling pandang.
Setelahnya tuan Kaderimin langsung menatap tajam kearah tuan Yilmaz
"Saham saya di perusahaan anda akan saya tarik, dan saya pastikan usaha besar anda akan bangkrut karena ini" ucap tuan Kaderimin menahan emosi
Kembali Ozkan tertawa mencemooh
"Apa kamu bilang?, bangkrut? Baba saya akan bangkrut?" Anda lupa berapa jumlah usaha Baba saya?" ucapnya kembali tertawa
Wajah tuan Kaderimin makin murka
"Saham anda hanya ada satu di perusahaan Baba saya. Dan itu hanya 20%, silahkan anda tarik. Tidak ada ruginya untuk kami" lanjut Ozkan
Tuan Kaderimin langsung melirik kearah Hatice, dan Hatice faham apa arti lirikan baba nya itu
"Saya akan menanda tangani surat cerai ini, tapi dengan satu syarat" ucapnya menggantung sambil menatap kearah tuan Yilmaz
Tuan Yilmaz mengerutkan keningnya.
"Saya minta saham 60% di sepuluh perusahaan anda" ucapnya tajam
Mata tuan Yilmaz terbelalak.
Ozlem makin terbahak sedangkan wajah Ozkan berubah merah menahan marah
"Harga kamu yang murah terlalu tinggi Hatice" ucap Ozkan setelah tawanya berhenti
"Terserah kalian mau bicara apa. Jika kalian menginginkan saya menandatangani surat cerai ini, maka setujui syarat saya, jika tidak, saya tidak akan menandatanganinya" ucapnya dingin
"Ayo baba kita pergi" ajaknya mengajak tuan Kaderimin pulang
Mereka segera berdiri dan keluar dari dalam rumah besar itu dengan kemenangan
__ADS_1