
"Happy graduation"
Naura tersenyum malu sambil mengambil buket yang diberikan lelaki yang tadi berlari kearahnya.
"Jazakumullah"
Lelaki muda tampan yang tak lain adalah Akmar tersenyum mendengar jawaban Naura
Lalu Akmar menyingkir dari hadapan Naura memberinya jalan agar gadis itu bisa kembali ke kursinya
"Akmar tak pernah putus asa" batin Naura menahan senyum
Aku dan Adam saling toleh
"Akmar...." lirihku
Walau tubuhnya sekarang jauh lebih berisi dan agak lebih tinggi dari empat tahun yang lalu aku yakin kalau itu Akmar
Karena Naura telah kembali ke kursinya, Akmar kembali ke kursi tamu. Tampak senyum selalu mengembang di bibirnya.
Penantian selama empat tahun akhirnya terbayar hari ini. Hari ini dia kembali bisa bertemu dengan Naura
Memang sudah jauh-jauh hari dia tahu jika hari ini adalah hari wisuda kampusnya Naura, untuk itulah, dia terbang langsung dari Malaka khusus menghadiri wisuda gadis idamannya itu
Selama ini mereka hanya berkomunikasi lewat media sosial, itupun sangat sulit bagi Akmar untuk mendapatkan respon dari gadis itu. Tapi Akmar tak putus asa, dia terus berusaha meyakinkan diri jika suatu hari nanti Naura akan menyadari jika dialah yang terbaik
Hingga akhirnya acara wisuda selesai tepat di saat matahari terik. Acara sesi foto antar wisudawan dan wisudawati adalah acara yang paling ditunggu.
Naura yang merupakan gadis idola di kampus tak luput dari ajakan para wisudawan untuk berfoto
Akmar yang melihat jika gadis impiannya banyak fans makin terbakar cemburu
"Dia pacar kamu ya Ra?" lirik seorang wisudawan jurusan hukum pada Akmar saat dia akan berfoto bersama Naura
Naura hanya tersenyum sambil menggeleng
Tak hanya para wisudawan, teman sejurusan Naura pun berebutan mengajak berfoto.
Akmar yang juga membawa kamera dengan senang hati membidik setiap pose Naura dengan teman-temannya.
Sampai akhirnya giliran mereka foto berdua Naura merasakan getaran aneh di dalam dadanya.
Aku yang melihat wajah canggung Naura saat berfoto dengan Akmar menangkap jika anakku itu mempunyai perasaan pada pria muda itu
"Ibu, boleh saya foto kan dengan Naura" sapa Akmar sopan
Aku tersenyum dan segera aku mengajak kedua orang tuaku dan Adam untuk berfoto dengan Naura
"Fotoin eyke dong"
Akmar tersenyum pada kak Jen
"Madame Jen?" tebaknya
Kak Jen menarik mundur tubuhnya begitu mendengar Akmar menyebut namanya
"Kok yeay kenal eyke?"
"Saya dari Pekanbaru juga Madame, dulu saya sering ngantar mama saya ke salon Madame Jen"
Kak Jen langsung memutar matanya dan tersenyum bangga padaku
"Tuhh benarkan kalau eyke itu very famous"
Aku mengangguk sambil terkekeh
Jadilah Akmar mengambil pose kak Jen dengan Naura
Selesai dari sana kami semua berjalan keluar dari dalam gedung
"Kamu kapan sampainya?" tanya Naura pelan saat berjalan dengan Akmar
"Tadi pagi, dan langsung menuju kesini"
Naura tersenyum kaku
"Aku kan sudah bilang, bahwa kita akan bertemu empat tahun lagi"
Naura menundukkan kepalanya, malu
"Aku akhir bulan ini wisuda, maukah kamu datang dihari wisudaku?"
Naura menghentikan langkahnya yang diikuti pula dengan Akmar
"Maaf, tapi aku tidak bisa pergi jauh tanpa mahram ku"
"Kamu boleh ajak keluargamu kok"
Kembali Naura menggeleng
"Belum saatnya keluarga kita bertemu Akmar"
Akmar tersenyum
"Itu artinya kamu bersedia jika suatu hari nanti aku mengajak keluargaku menemui keluargamu?"
__ADS_1
Naura diam menundukkan kepalanya lalu berjalan cepat meninggalkan Akmar yang tersenyum penuh arti
...****************...
Kembali kami pulang ke hotel, berganti baju lalu keluar lagi, masuk kedalam restoran, makan bersama
Aku juga mengundang Akmar untuk bergabung bersama kami karena ternyata dia juga menginap di hotel yang sama dengan kami
Handphoneku berdering tepat di saat kami makan
Aku segera menggeser icon video keatas
"Assalamu'alaikum bunda"
Aku menjawab salam anak keduaku yang aku yakin saat ini sedang berdinas
"Ayuk mana bun?"
"Ayuk, kakak.." ucapku sambil memberikan handphone pada Naura yang duduk berseberangan dengan ku
Wajah Naura langsung sumringah, segera dia mengelap mulutnya dengan tissue
"Assalamu'alaikum kak.."
Akmar yang duduk paling ujung langsung melirik kearah Naura yang wajahnya sangat berseri
Terdengar jawaban Mikail
"Selamat ya yuk, akhirnya jadi S.Keb"
Naura terkekeh
"Jadikan yuk buka klinik, terus yang berobat bayarnya sejuta"
Aku yang mendengar ikut tersenyum sementara kedua anakku saling tertawa
"Mana nenek yuk?"
Naura langsung memutar handphone memamerkan orang-orang sekeliling meja
Akmar tertegun ketika dilihatnya jika yang sedang diajak mengobrol dengan Naura seorang lelaki berseragam loreng
Dia menarik nafas dalam
"Dulu cowok Arab, sekarang loreng. Haduhhh makin berat ini saingan saya" batinnya
Saat Naura sedang sibuk mengobrol dengan Mikail, handphone miliknya berdering. Dapat kutangkap jika wajah Naura menyiratkan kekagetan
"Sini yuk handphonenya, bunda saja yang ngobrol dengan kakak"
"Angkat saja yuk..."
Naura menoleh ragu pada bundanya
"Kalau nggak mau, sini aunty aja"
Naura tersenyum kearah kak Jen
"Siapa yang nelpon ayuk bun?"
Aku menatap ke layar hp ku
"Nggak tahu kak, ayuk kaya bingung mau ngangkatnya"
"Tuan Muda Emir mungkin"
Mendengar jawaban Mikail aku langsung menatap kearah Naura yang mengangguk ragu
"Angkat jika itu dari tuan muda" ucapku
Naura menarik nafas dalam, mengambil handphone yang diletakkannya di sebelah piring lalu berjalan agak menjauh dari kami
Akmar yang mengetahui jika itu adalah telepon dari Emir makin terbakar cemburu, hatinya makin gelisah. Apalagi ketika dilihatnya Naura berkata sambil tersenyum
"Mabruk altakharuj Naura, natamanaa 'an takun almaerifat mufidatan. asf lam 'astatie alqudum , faqad tarakum eamali lidha lam 'astatie muqabalatak lakin atmayina , salati dayiman mae saeadatik wanajahik"
(selamat untuk kelulusannya Naura, semoga ilmunya bermanfaat.
maaf saya tidak bisa datang, pekerjaan saya menumpuk sehingga membuat saya tidak bisa menemuimu
tapi yakinlah, doa saya selalu menyertai kebahagiaan dan kesuksesan kamu)
"Shkraan jzylaan lak ya Emir, ealaa alduea'i. kama 'adeu allah 'an takun 'akthar njahan"
(Terima kasih banyak Emir untuk doanya. Saya juga berdoa semoga kamu tambah sukses)
Aku menoleh kearah Akmar yang tampak gelisah. Jujur saja saya menyukai keberanian anak lelaki ini. Sudah dua kali dia menunjukkan sikap gentle nya, dan itu merupakan point plus untuk saya padanya.
Tak banyak cowok yang berani menahan malu di tengah keramaian menunjukkan rasa cintanya, tapi Akmar telah melakukan itu dua kali.
Tapi aku tak tahu, siapa yang akan dipilih Naura. Karena kulihat Naura juga sama manisnya bersikap pada Emir
...****************...
Besoknya kami belanja oleh-oleh untuk kami bawa pulang ke Lubuklinggau. Tiga bodyguard begitu setia mengawal kami, sepertinya mereka tak mengenal lelah.
__ADS_1
Naura dan Nina karena lama di Jawa Tengah jadi mereka berdua lah yang menjadi tour guide kami, khusus untuk Nina, karena anaknya telah selesai semua urusannya aku juga menyarankannya untuk membelikan baju seragam dan baju koko banyak-banyak karena Adit akan sekolah di pesantren di Lubuklinggau.
Akmar yang belum kembali ke Malaka juga ikut kami berbelanja. Dia berjalan bersama Adam, dari Adam lah dia tahu jika yang berbaju loreng kemarin adalah kakaknya Adam, adiknya Naura
Dalam hati dia tersenyum lega, setidaknya saingan terberatnya cuma Emir
Naura mendekat kearah Akmar dan Adam
"Kamu mau tidak menemani saya beli makanan khas Jawa Tengah?, bisa juga buat oleh-oleh kamu untuk teman-temanmu"
Akmar mengangguk cepat. Lalu mereka berjalan bertiga, Adam menggenggam erat tangan Naura yang membuat iri Akmar
Naura banyak sekali membeli lumpia dan wingko babat, serta tak lupa pula dia membeli Bandeng Juwana.
Selesai semua dengan belanja, kembali mereka memasukkan belanjaan ke dalam mobil.
Pak Abraham cs menggeleng-gelengkan kepala melihat nyonya bos mereka yang kalap berbelanja
"Bunda, di pesawat kan dibatasi barangnya, kok bunda belanja banyak sekali?"
"Tetangga kita banyak dek, bunda mau ngasih tetangga sama keluarga besar kita"
"Kita pulang naik kapal?"
Aku menggeleng
"Barang ini bunda suruh ekspedisi yang bawanya atau kalau tidak nanti kita bayar jasa pengiriman barang"
Adam menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan bundanya
Hingga akhirnya keesokan harinya kami pulang. Nina dan kedua anaknya mampir dulu ke rumah mereka. Tampak kesedihan di raut wajah Nina saat akan meninggalkan rumah tersebut
"Kamu harus berani melupakan masa lalu Nin, jalan kamu masih panjang" ucapku sambil merengkuh pundaknya
Nina yang sejak tadi matanya berkaca-kaca langsung terisak
Dua jam berikutnya, kami sampai di bandara Soekarno Hatta. Aku mengucapkan banyak terima kasih pada ketiga bodyguard kami yang telah menjaga Naura dan Nina serta menjagaku dan keluarga besar ku saat kami di Jawa Tengah
Terutama terima kasihku atas bantuan mereka mengembalikan kedua anak Nina
Nina menyalami ketiga bodyguard kami, tak hentinya dia terisak mengucapkan ribuan terima kasih pada mereka
"Hanya Alloh yang bisa membalas kebaikan bapak bertiga"
Ketiga bodyguard kami mengangguk pelan dan tersenyum pada Nina. Adit dan Alan menyalami ketiganya, dan Adam memeluk mereka
"Tahun depan ke Jakarta lagi ya dek, ikut tes Kopassus"
Adam mengangguk pasti kearah pak Binsar
"Bapak siap mengantar kemanapun sampai adek sah jadi Kopassus"
Aku tersenyum bahagia mendengar janji pak Binsar
Akmar menyalami umak bapakku dan aku. Begitupun pada ketiga bodyguard kami.
Adam menjabat tangannya dengan hangat, saat akan berjalan kearah Naura tampak sekali rasa canggungnya
"In Syaa Alloh bunda dan Naura akan datang waktu kamu wisuda" ucapku
Akmar langsung menoleh ke arahku, tersenyum bahagia
"Terima kasih bunda" jawabnya yang membuatku tersenyum karena dia memanggilku dengan sebutan itu
"Hati-hati Akmar, beri tahu aku jika kamu sudah sampai" lirih Naura
"Pasti, pasti Ra. Aku pasti mengabari kamu"
...****************...
Tiga jam berikutnya kami sudah sampai di rumah. Mbak Ningsih yang kuberi tahu jika kami hari ini akan pulang begitu kami sampai di rumah ternyata dia sudah ada, dia berempat dengan mas Indra dan Dimas beserta istrinya
Tangis haru tak terelakkan ketika mbak Ningsih bertemu dengan kedua anak Nina
Malamnya tampak Dimas menelpon pak Hermawan memberitahu jika Nina sudah bersama kedua anaknya
Tapi telingaku langsung panas ketika aku mendengar jawaban Laras
"Nggak usah bawa pulang Nina dan anak-anaknya, di rumah saja makan susah, kok malah ini bawa anak segala"
Nina yang mendengar itu langsung mendekat ke hp Dimas yang memang di loud speakernya dan hp diletakkannya di atas meja
"Kalau bukan pulang ke rumah bapak ibuk, aku harus pulang kemana mbak?"
"Terserah kamu mau kemana, ke neraka kalau kamu mau, pergi saja, tapi yang pasti jangan pulang rumah. Di rumah ini telah banyak isinya. Ditambah kamu bertiga lagi"
"Tapi mbak?"
"Nggak ada tapi-tapian, pokoknya awas kalau kamu pulang ke rumah"
"Nina nggak akan kemana-mana, Nina dan anak-anaknya akan tinggal bersama kami di rumah ini, ngerti kamu?!" bentakku
Nina yang sudah terisak segera memelukku. Aku mengusap pundaknya
"Jangan pikirkan perkataan Laras, pokoknya yang mbak tahu, kamu tinggal saja di rumah anak-anak mbak, mbak lebih merasa yakin kamu tinggal di sini dibanding kamu tinggal di trans"
__ADS_1
Nina mengangguk sedangkan mbak Ningsih menunduk malu