
"Kakak pulang ya, jaga diri baik². Insha Alloh suatu hari nanti kita akan berjumpa lagi" ucap kak Jen sebelum naik travel yang telah menunggu di depan hotel
Aku mengangguk dengan mata berkaca-kaca
"Jangan mewek, kakak benci lihat kamu nangis" lanjutnya memegang pundakku
"Entah kapan kak kita bisa ketemu lagi" jawabku lirih
"Buktinya kakak bisa kesini, itu artinya kamu juga bisa ketempat kakak"
"Sekali lagi terima kasih ya kak untuk bantuannya"
Kak Jen menganggukkan kepalanya. Lalu supir travel memasukkan koper dan kardus berisi oleh-oleh dari umakku.
Pak Abraham yang juga menginap di hotel yang sama turut mengantarkan kak Jen.
"Selamat jalan dan semoga selamat sampai tujuan" ucapnya pada kak Jen
"Terima kasih pak Abraham. Maafkan jika saya membuat bapak banyak masalah" jawab kak Jen
"Tidak sama sekali. Kita sudah satu rekan kerja. Sudah seharusnya kita bekerja sama dengan baik"
"Semoga kita bisa bertemu lagi ya pak"
Pak Abraham menganggukkan kepalanya.
Lalu kak Jen memelukku. Airmata yang sejak tadi aku tahan jatuh berderaian. Pundakku sampai berguncang karena aku begitu sedih ditinggalkannya.
"Kakak doakan yang terbaik untuk kamu Ndah. Kamu perempuan hebat. Kamu pantas bahagia" ucapnya sambil mengelus pundakku
Aku cuma bisa mengangguk, tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Ya sudah, kakak pulang ya, salam buat keluarga" ucap kak Jen sambil masuk mobil
Aku melambaikan tangan saat travel mulai berjalan dan menjauh. Airmataku masih bercucuran hingga travel yang membawa kak Jen ke Bengkulu tidak nampak lagi
Aku merogoh hp di tas yang terdengar berdering
Abang
Aku segera mengusap kasar wajahku
"Ya abang, assalamualaikum" jawabku
"Waalaikumussalam, Do you cry?
Kok ya tahu kalau aku habis nangis, batinku
"Nggak" jawabku
"Abang tahu dari suara kamu Ndah"
"Sedih karena kak Jen pulang" jawabku melow
Terdengar abang terkekeh
"Nggak lucu" rajukku
"Nanti abang akan bawa kamu ke Pekanbaru lagi kalau kamu kangen sama Jennifer"
__ADS_1
Aku diam tidak menjawab. Panjang urusannya jika aku pergi sama abang, bisa habis aku dimarah kakak-kakakku
"Sekarang pulang ya, Abraham bisa mengantarkan kamu"
"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri bang"
"Itulah kenapa abang kirim Abraham kesana, tugas dia itu menjaga kamu"
"Tapi bang?"
"Nggak ada tapi-tapian. Kita tidak tahu bahaya apa yang mengintai kamu"
"Iya bang" jawabku menurut.
...****************...
"Sidang dibuka untuk umum" pak hakim mengetok palu tiga kali.
Di sidang terakhir ini, bapakku ikut menghadiri bersama dengan kedua kakakku.
Dari rumah aku sudah mewanti-wanti kedua kakakku untuk tidak membuat keributan disidang terakhir ini. Walau sulit sekali bernegosiasi dengan mereka, toh akhirnya mereka menurut setelah bapakku yang berkata, jika beliau akan ikut dan tidak ingin kedua anak lelakinya membuat kekacauan.
Aku duduk bersebelahan dengan Andi berhadap-hadapan dengan hakim.
Kami berdua tampak tenang, dan masing-masing tidak saling toleh.
"Berdasarkan keterangan saksi dan juga bukti-bukti yang ada selama persidangan, maka hari ini Kamis, tanggal 31 Mei 2007, Pengadilan Agama Lubuklinggau memutuskan bahwa Sidang cerai talak antara penggugat saudara Andi Wijaya bin Hermawan dan saudari Indah Yuliani binti Ahmad kami nyatakan sah secara agama dan negara, dan kepada saudara penggugat diwajibkan memberi nafkah kepada ketiga anaknya yang diasuh saudari penggugat sampai mereka dewasa" hakim mengetok palu tiga kali
Aku menarik nafas panjang, dan ada airmata yang ikut mengalir bersamaan dengan hakim mengetok palu.
Tidak kusangka akhirnya perkawinan kami yang kami bina selama tujuh tahun, akhirnya hari ini resmi berakhir. Terlintas bagaimana pertemuan kami, bagaimana kami menikah, bagaimana kami membina rumah tangga dari nol, huffff aku menarik nafas dalam. Tidak, ini harus aku buang. Aku tidak boleh terlena dengan kenangan masa laluku. Aku harus menatap masa depanku bersama ketiga buah hatiku
Aku segera bangkit begitu pak Hotlan berdiri, dan aku mengikuti beliau bersalaman dengan hakim dan hakim anggota. Lalu setelahnya aku menyalami beliau.
"Ada kami, ada kami Sat. Kamu tidak sendiri" ucapnya sambil mengelus bahuku
Aku mengangguk. Sekuat tenaga aku menahan jangan sampai airmataku jatuh depan mereka.
Pak Hotlan berdiri di depan kami. Beliau menyalami keluargaku
"Terima kasih untuk bantuannya pak" ucap kak Andri menjabat tangan beliau dengan hangat
Pak Hotlan mengangguk.
"Indah, tugas saya sudah selesai. Saya berharap suatu hari nanti kita bertemu dalam keadaan dan suasana berbeda. Saya harap pertemuan kita nanti bukan di pengadilan tetapi di tempat yang berbahagia. Saya sangat mengharapkan kesuksesan kamu, dan saya yakin kamu bisa sukses. Pesan saya waraskan otak kamu. Jangan down, sesulit apapun hidup kamu punya keluarga dan yang pasti kita punya Tuhan. Yakinlah jika takdir Tuhan tidak pernah salah"
Aku menganggukkan kepalaku.
"Saya yakin pak. Dan oleh karena itulah makanya Andi pergi meninggalkanku karena Alloh tahu, ada sesuatu yang tidak baik jika aku meneruskan hubunganku dengannya, Alloh telah bukakan tentang siapa dia kepadaku, agar aku membuka mataku bukan dia yang terbaik untukku, cuma yang jelas yang harus aku yakini adalah bahwa Alloh tidak mungkin mendzolimi kita. Alloh tidak mungkin menyakiti kita, manusia boleh menyakiti kita, boleh mengkhianati kita tapi Alloh tidak akan pernah berkhianat pada hambaNya" jawabku
Pak Hotlan tersenyum dan ikut mengusap kepalaku.
"Kabari saya jika kamu butuh bantuan"
"Siap pak" jawabku
Kembali beliau menyalami kami dan setelahnya pergi bersama dengan enam pengawalnya.
"Kita pulang?" tanya bapakku
__ADS_1
"Iya pak" jawabku
Lalu kak Angga merengkuh bahuku, dan membawaku melangkah. Aku mendongak kepadanya dengan haru.
Dia tersenyum sambil terus melangkah.
"Mbak Indah..." teriak sebuah suara
Aku menoleh kesamping, kearah kursi tunggu. Kudapati Nina berlari kearahku. Kak Angga melepaskan tangannya dari pundakku
Nina langsung menubrukku, memelukku erat sambil menangis.
"Mengapa ini bisa terjadi?" isaknya
Aku ikut meneteskan airmata
Aku lihat Andi dan keluarganya seperti menunggu Nina.
"Sudah takdir mbak" jawabku
"Kasihan Naura dan adik-adiknya" lanjutnya masih terisak.
Aku membawa Nina duduk, kedua kakak dan bapakku berjalan kearah keluarga Andi. Aku tidak bisa mencegah karena saat itu Nina masih menangis
"Aku langsung pulang begitu dikasih tahu yuk Ningsih kalau hari ini sidang terakhir. Aku ingin ketemu mbak, karena aku yakin setelah ini kita tidak bakal ketemu lagi" lanjutnya
"Siapa yang bilang begitu?, mbak masih membuka silaturahmi antara kita Nin. Yang berpisah itu cuma mbak sama Kak Andi, sama kalian tidak. Apalagi ada tiga anak Kak Andi sama mbak sebagai tali penghubung kita" jawabku
"Jangan membenci kami ya mbak"
Aku tersenyum sambil menggeleng.
"Kamu dan mbak Ning seperti saudara kandung buat mbak, mbak tidak akan membenci kalian. Mbak pesan, walau mbak sudah cerai dengan kak Andi, tapi jangan lantas memutus silaturahim kita. Sering-seringlah menelpon Naura"
Nina kembali memelukku dan airmatanya masih mengalir.
"Maafin mas Andi ya mbak" ucapnya
Aku diam tidak menjawab, aku hanya mengelus pundaknya agar dia tenang.
Di lain sisi, melihat bapak dan kedua kakakku mendekat, pak Hermawan dan yang lain tampak gelisah.
"Terima kasih untuk cara kalian terhadap anak saya" ucap bapakku dingin
Pak Hermawan menunduk
"Kamu Andi, kamu meminta anakku dengan cara baik-baik. Tapi kamu mengembalikannya dengan kami dengan cara seperti ini. Sampai aku mati, aku tidak akan memaafkan kamu"
Andi menunduk. Kedua kakakku menatap mereka sinis.
Bu Mira terus menunduk tak berani menatap bapak dan kedua kakakku.
"Ayo Ndah!" teriak kak Angga
Aku memeluk Nina dan menghapus airmata di wajahku.
"Mbak doakan yang terbaik buat kamu Nin" ucapku sebelum melangkah
Di depan keluarga Andi yang duduk aku menoleh sesaat pada Andi yang tertunduk.
__ADS_1
"Ambillah oleh kamu rumah itu. Karena seperti kata kamu, aku harus tahu diri jika rumah itu adalah rumah kamu. Tetapi aku bersumpah dengan nama Alloh dan Rasulullah bahwa aku akan membangunkan istana untuk ketiga anakku" ucapku sinis
Kakakku kembali merengkuh bahuku dan membawaku berjalan. Sedangkan keluarga Andi sepatah katapun tidak ada yang bersuara